Sunday, December 16, 2018

Kamus Pemali Banjar



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (daring terbaru) pemali diartikan sebagai pantangan atau larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.

Hutari (2010, dalam Jamali & Dalle, 2013:1055) berpendapat istilah pemali/pamali berasal dari bahasa Sunda, makna katanya sama dengan pantrang (pantang) dan cadu (tabu), yang artinya pantangan atau larangan tentang suatu tindakan yang dilakukan sehari-hari yang apabila dilakukan akan dapat mendatangkan kesialan dalam hal kesehatan, keselamatan, jodoh, rezeki, keturunan, dsb.

Menurut teori folklor, pemali termasuk dalam kelompok kepercayaan rakyat yang lazim disebut takhayul (Danandja, 1984:153-155). Namun, ada juga ahli lain yang memasukkannya dalam kelompok ungkapan tradisional (Effendi dkk, 1994:27), dan (Jamali & Dalle, 2013:1055).

Effendi, dkk (1994:27) menyebut pemali dengan istilah kata-kata tabu (ungkapan larangan), yakni sebuah kalimat imperatif atau bisa juga sebuah kalimat pernyataan. Susunan kalimat dalam ungkapan tabu ada dua macam, yakni: (1) terdiri dua bagian, yakni berupa sebuah frase kerja ditambah dengan modalitas jangan, dan (2) tanpa modalitas jangan yang bermakna larangan ditambah dengan sebuah frase  (frase kerja, frase sifat, atau frase benda) yang mengandung makna hukuman atau sanksi.

Pemali dalam masyarakat Banjar berarti ungkapan-ungkapan yang mengandung semacam larangan atau pantangan untuk dilakukan, di mana dalam masyarakat Banjar, pemali memiliki posisi sekaligus berfungsi sebagai kontrol sosial bagi seseorang dalam berkata, bertindak, atau melakukan suatu kegiatan (Jamali dan Dalle, 2013). Kamus Banjar Indonesia) mengartikan pamali sebagai pantang (Hapip, 2001:132).

Sementara Tajuddin Nor Ganie sebagai penyusun Kamus Pemali Banjar sendiri merumuskan pemali Banjar sebagai ungkapan tradisional berbahasa Banjar yang berisi paparan tentang siapa saja yang tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan tertentu pada waktu-waktu tertentu di tempat-tempat tertentu dan akibat-akibat tertentu yang melekat sebagai hukuman yang diancamkan kepada siapa saja yang berani melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang tidak boleh dilakukan itu.



Contoh Pamali Banjar adalah seperti di bawah ini.

Kakanakan nang hanyar basunat pamali bajalan ka luar rumah kalu talangkahi tahi hayam kaina lukanya lambat waras. 

Artinya: Anak-anak yang baru berkhitan terlarang berjalan-jalan di luar rumah jika sampai terlangkahi tahi ayam, maka luka bekas khitanan akan lama sembuhnya.

Nah, untuk lebih mengenal lebih jauh pemali Banjar beserta artinya, Anda perlu membaca Kamus Pemali Banjar yang disusun Tajuddin Noor Ganie. Bagaimana mendapatkannya? Anda bisa memesannya langsung ke nomor 08195188521 

Friday, December 14, 2018

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan Z S



Di Bawah Purnama

bayangbayangku makin memanjang
setiap aku menjauh bagai sauh
membelah laut jadi dua
lalu kuberi jalan untukmu
agar pergi dari pantai yang kian amis
oleh cangkang

di bawah purnama
tubuhku jadi hitam
dan cahayamu saja
tetap kurasa
sebagai penanda
ke mana aku mesti berhenti
bayangbayangku memanjang
mengukur perjalanan
yang masih separuh
padamu berlabuh



Pinjami Aku

beri aku kapak itu
akan kutebas kepala
patung dalam tubuhku

pinjami aku tongkat
yang pernah membelah laut
dalam diri yang tak mau diam

kasih aku kekuatan mata
untuk menatap kilatan
di batu tursina
agar kupandangi kau
tak berkejap
antar kelembutan sang lelaki
hingga aku mampu
menyujudkan congkakku



Menit yang Memburu

bergegas kutinggalkan menit-menit yang memburu
di keriuhan petang, di saat hibuk orang-orang
mengacungkan pedang
ke tubuh bayang; ke hasat setan
aku tak mau tumpas, mati bersimbah prahara
sebelum sampai di rumahmu

di rumahmu
yang juga rumahku
kini dan akan nanti

aku tak ingin
jangan terjadi
terbunuh di luar rumahmu

- perkenankan -



Tak ada Kau

tak ada kau di pintu
tapi aku tetap masuk
ingin berindurindu
hingga malam telingsut

aku tetap masuk
meski kau tak menyambutku
di depan pintu
karena kutahu kau ada dalam diriku

aku ingin berindurindu
di antara kesibukanku
tapi kau tak ada di depan pintu
cuma kuyakin kau ada di dalam

: hatiku yang selalu basah oleh namamu



Tadarus

sebaris ayat mengalir
bagai anak sungai
menuju ayatayat lain
ke laut, ke pulaupulau,
berlabuh di dermaga

lahir di penghulu bulan
mengingatkanku
pada peristiwa, jutaan
kisah: menghatukan
ruh dan jiwa

di mahligai
tanpa lambai
tiada abai

dari ayat ini
aku berperahu
ke ayat berikutnya

malam lengang
kurasakan dengung
di hati ini

"aku telah sampai
tapi tak pernah khatam."





Orang mengenalnya sebagai Isbedy Stiawan ZS. Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan hingga kini masih menetap di kota yang sama. Dia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Zakirin Senet (alm) bersuku Bengkulu dan Ratminah (Winduhaji, Sindanglaut, Cirebon). Menjadi pengarang adalah pilihan hidupnya.

Selain menulis karya sastra (cerpen, puisi, esai sastra), kini dia aktif di Dewan Kesenian Lampung dan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung. Sehari-hari, mulai Juli 2010, bekerja di Lampung TV (LTV)--grup MNC--sebagai produser New Cekal (berita-berita kriminal dan hukum). Pernah diundang ke berbagai pertemuan sastra dan budaya di Tanah Air dan luar negeri seperti Malaysia, Thailand, dan Brunai. Sempat membacakan puisi-puisinya di Utan Kayu Internationan Binnale (2005), Ubud Writers and Readers Festival (2007), dan lain-lain. Karya-karyanya dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Republika, Horison, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Lampung, Riau Pos, Jurnas Nasional, Harian Global (Jurnal Medan), dll. Blog http://isbedystiawanzs.blogspot.com

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)

Tuesday, December 11, 2018

Puisi-Puisi Asrizal Nur




Jangan Tanya Lagi

Jangan tanya lagi
muasal air direguk
bila hujan asal satu langit
laut
gunung
jarak
hanya memisah badan
sedang kalbu dapat terbang dijulang angin
mengantar rindu hati satu

jangan tanya lagi
muasal darah netes
bila tanah
dari satu bumi
tanyakan kemana tujuan?

Ini hari
kita masih berlari dilangkah semula
terseret waktu lalu
dengan dada luka
lantaran letih toreh nama diri
sementara di lebuh raya
kita tak mampu menebak tapak siapa
sembraut mengacak jejak
dulu pernah digores darah
airmata

sudah lama kita ditipu muslihat nanah
berbau darah
sekarang pekikkan kembali
tanah air dengan hati satu

bedakan mana darah
mana nanah

bila kau darah
kemarilah!

bila kau nanah
berambuslah!

jangan tanya lagi
muasal darah netes
tanyakan hati
aku :
darah
atau
nanah?

Depok, 7 Mei 2008
  


Ziarah Diri

Ziarah diri
jiwaku pucat
matakalbu raba gelap

di padang debu
kelahiran usung diri
ke bui tubuh musim

lalu aku sepakati upacara hidup
sebagai narapidana waktu
bab demi bab karma usia

Pemilik pintu
menitip kunci jalan kembali
sering aku patahkan jadi abu

pada setiap bab hidup
aku merindu jalan muasal
dipandu kunci jalan kembali

bila lonceng terakhir menjemput
aku bergegas pulang
kebebasan itu piala
  


Sipengerajut

Anak-anakku pandanglah jubah lebar ini
aku merajutnya dengan darah airmata
berpuluh benang waktu
berjutakali helaan napas

jangan hanya pandang indah sulamnya
bagai emas berkilau
lalu orang memuji rajutannya

tapi lihat sipengrajut itu
jemari hidupnya penuh lobang
jarum yg ditusukan penguasa
lewat darahnya berharap warna
memberikan debar negeri
dari denyut jantungnya

Sedangkan sipengrajut setiap waktu
napasnya tinggal satu dua, tiada yang tahu

Bila ia pergi
tanpa terompet pelepasan
hanya doa dari orang-orang pernah berselimut jubah indahnya
dan kenangan nama : "Sipengrajut" di batu nisan pusara

  

Pintu

Di pintu
ada sepatu
tapaknya berdarah
bernanah

tak ada penjaga ramah
cuma pemintaminta
tak ada penawar bunga
hanya penjaja duka

pintu
tak lagi mudah diketuk
bila diketuk
dia mengetuk
bila ditanya
dia bertanya
bila diharap
dia mengharap
bila kau sedih
kau yang diperih
bila kau masuk
kau diluar

kemana pintu
tempat masuk itu?
tinggal jejak
berdarah
bernanah

Depok, September 2009
Generic Banner


ASRIZAL NUR. Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler  di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan  : Tari, Teater, Musik, audiovisual, diberi nama nama Konser puisi Multimedia Asrizal Nur.

Membaca puisi dalam dan luar negeri, antara lain pembacaan Sajak Melayu Asia Tenggara di Kepulauan Riau (2006), baca Sajak Panggung Apresiasi Presiden Penyair di TIM ( 2007), baca Sajak Panggung Apresiasi Temu Sastrawan se-Indonesia di Jambi (2008), baca Sajak Internasional di JILFEST, Jakarta (2008) membaca Puisi Portugal, Indonesia, Malaysia di Universitas Indonesia (2009). baca puisi Radio Televisi Brunei Darussalam pada Pertemuan Penyair Nusantara IV (2010), membacakan puisi dan pemutaran Video Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010), sebagai pembimbing/pengajar Bengkel Pelestarian Budaya Melayu di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010). Konseptor, Sutradara Teaterrikal Puisi Islam Multimedia di Radio Televisi Brunei (2010). Baca Puisi pada Malam puncak Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang (2010). Baca Puisi di Panggung Puisi Multimedia Pertemuan Penyair Nusantara di Palembang 2011, Pembacaan Puisi Internasional di Jakarta Internasional Literary Festival – JILFEST (2011), Baca Puisi di Hankuk University dan Kota Hansan Korea Selatan ( 1-3 Juni 20012), ), Baca Puisi Malam Puncak Dialok Teluk Brunei di UBD (11 Juli 2012), Baca Puisi di Sekolah Menengah Yayasan Hasanal Bolkiah Brunei Darussalam (18 Juli 2012),   Baca Puisi Pada Kongres Bahasa(2013),Baca Puisi di Festival Wayang dan Topeng Internasional di Bandung (2014) Pertemuan Penyair Nusantara VII di Singapura (2014), Festival Pulara 2014 di Pangkor, Malaysia.

Bukunya yang telah terbit Percakapan Pohon dan Penebang (YPM, 2009). Antologi puisi bersamanya antara lain Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (2008), Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V (2011),  Kumpulan Puisi dan Cerpen Internasional Jilfest : Ibu Kota Keberaksaraan (2011), Lambaian Nusantara Dari Kota Singa, Antologi puisi bersama Pertemuan Penyair Nusantara VII (2014)

Kini mengelola Rumah Seni Asnur, Ketua Yayasan Panggung Melayu, pendiri dan Sekretaris Jenderal Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)


Saturday, December 8, 2018

MUKTAMAR SASTRA 2018

Generic Banner
Sastra kian marak. Mungkin demikianlah kira-kira tiga kata yang mewakili kehidupan sastra di Nusantara dewasa ini. Salah satunya adalah Muktamar Sastra yang insya Allah akan berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur pada 18—20 Desember 2018. Acara ini mengangkat tema Menggali Kenusantaraan Membangun Kebangsaan. Adapun ketentuan dari panitia dapat Anda baca berikut ini.  

Seleksi Peserta Mandiri (kuota terbatas)
Peserta mandiri adalah peserta umum yang berinisiatif secara mandiri untuk mengikuti Muktamar Sastra 2018 melalui jalur kurasi karya.

Syarat dan ketentuan khusus:

  1. Mengirimkan karya puisi, cerpen, novel, atau esai sastra baik yang sudah atau belum pernah dipublikasikan.
  2. Karya tidak mengandung kontens yang bertentangan dengan hukum, etika, dan SARA. 
  3. Bagi yang belum menerbitkan buku puisi, cerpen, esai sastra, atau novel mengirimkan naskah 10 (sepuluh) puisi, atau 5 (lima) cerpen, atau 5 (lima) esai sastra, atau potongan novel (minimal lima bab awal). 
  4. Bagi yang telah menerbitkan buku puisi, cerpen, esai sastra, atau novel mengirimkan soft copy buku termaksud (tidak termasuk buku yang ditulis bersama penulis lain).
  5. Melampirkan salinan KTP/passpor yang masih berlaku, surat pernyataan keaslian karya dan ditandatangani, surat pernyataan sanggup mengikuti seluruh kegiatan Muktamar Sastra dan ditandatangani, serta curriculum vitae atau biodata berikut foto berwarna (ukuran 4 X 6). 
  6. Semua persyaratan dikirim melalui surat elektronik (surel) Panitia Muktamar Sastra 2018 “Seleksi Karya Mandiri_Nama Peserta”, muktamarsastraid@gmail.com, cc. , , dan .
  7. Bagi yang tidak melengkapi persyaratan dan ketentuan, tidak akan diikutsertakan dalam kurasi.
  8. Mengikuti dan menyukai akun Instagram dan Twitter “@muktamarsastra” serta Facebook “Muktamar Sastra” untuk memperlancar alur informasi dan proses komunikasi terkait muktamar.
  9. Peserta yang lolos kurasi karya (berformat buku), wajib menyerahkan 3 (tiga) eksemplar buku termaksud kepada panitia, untuk dihibahkan ke perpustakaan Pondok Pesantren Sukorejo.
  10. Peserta yang lolos kurasi karya namun belum pernah menerbitkan buku, wajib membawa 3 buku (baik yang memuat karyanya, maupun karya sastrawan lain) untuk dihibahkan ke perpustakaan Pondok Pesantren Sukorejo.
  11. Peserta yang lolos kurasi karya akan diundang mengikuti muktamar, ditanggung akomodasi dan konsumsi selama acara serta fasilitas transportasi sbb:
  •  Untuk peserta dari luar Jawa/Madura/Bali mendapat transportasi pesawat ekonomi    (swasta domestik) ke/dari di Surabaya
  •  Untuk peserta dari Jawa/Madura/Bali mendapat transportasi bus/kereta ekonomi        ke/dari Surabaya
  •  Surabaya-Situbondo P/P disediakan bus panitia (info detil menyusul).
12. Keputusan dewan kurator bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Waktu:
  1. Kurasi karya dibuka tanggal 5 Desember 2018, ditutup tanggal 13 Desember 2018 (pukul 23.59 WIB). 
  2. Hasil kurasi karya akan diumumkan tanggal 15 Desember 2018 melalui akun resmi media sosial Muktamar Sastra 2018.
Dewan Kurator: Sosiawan Leak, Mashuri, Raedu Basha, Zaenul Walid, dan Rosie Jibril

Catatan:
Peserta muktamar terdiri dari peserta undangan, peserta peninjau, peserta tuan rumah, dan peserta mandiri.

Narahubung:
Rossie Jibril (0823 1922 1526)
Raedu Basha (0819 0306 1988)

Cermati juga poster di bawah ini dan segera kirimkan karya sastra/esai sastra Anda selambatnya tanggal 13 Desember 2018. Sebarkan informasi ini agar lebih banyak yang tahu dan mendoakan keberhasilan Muktamar Sastra 2018.





Semoga Muktamar Sastra 2018 lancar, sukses, bermanfaat untuk bangsa, dan berkah. Amin.


Sumber: https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1826172357512500&set=a.269478213181930&type=3&theater


Friday, December 7, 2018

Percayakah Anda dari Lima Tema Ini Terbit Buku-Buku Antologi Bersama?


1. Ibu
Siapa yang tak tahu sosok ibu. Setidaknya mengetahui bahwa berbulan-bulan kita berada dalam rahimnya yang damai. Sebagian diasuh dan dibesarkan juga olehnya. Dan, telah banyak karya tulis yang terinspirasi dari sosok itu.  Di bawah ini contohnya berwujud buku antologi puisi bersama dengan judul Ibuku Mendaki Badai. 



2. Bahasa
Secara mudah bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan konvensional. Dengan bahasa, kita dapat berkomunikasi, bekerja sama, serta melakukan hal-hal lainnya, termasuk menulis tentunya. Tak sedikit tulisan yang terinspirasi dari bahasa. Hal ini dapat kita temui contohnya dalam buku antologi Senja di Teluk Wondama.



3. Persaudaraan
Hidup akan terasa indah jika ada kedamaian. Dan kedamaian melahirkan persaudaraan antarumat manusia. Begitu pula dengan persaudaraan di antara negara-negara Asia Tenggara ini. Pada tahun 2011, setelah adanya Dialog Sastra Borneo di Samarinda, tercetus pembuatan antologi puisi lima negara yang terinspirasi dari persaudaraan sesama bangsa serumpun. Alhasil, terbitlah antologi puisi Suara 5 Negara. 




4. Sungai
Sebut saja Indonesia. Di negara kita ini sangat kaya dengan sungai, baik besar, maupun kecil. Banyak penduduk Indonesia yang kehidupannya—mulai dari urusan bersih-bersih hingga urusan perut—tidak bisa terlepas dari sungai. Kenyataan seperti itu menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi banyak penulis. Misalnya saja dalam buku antologi puisi berjudul Arus Puisi Sungai.


5. Hutan
Ketika kita membahas hutan, tidak menutup kemungkinan yang terbayang dalam otak sebagian orang adalah hewan liar yang menakutkan semisal ular, singa, dan lainnya. Meski demikian, hutan telah terbukti menjadi inspirasi dalam menulis. Contohnya antologi puisi dengan judul Puisi Peduli Hutan.


Dari berbagai sumber


                                   Klik Iklan Buku
Klik Iklan Buku

Generic Banner

Wednesday, December 5, 2018

Satu Puisi Korrie Layun Rampan tentang Nasionalisme Suku Dayak



DAYAK, DAYAK, DI MANAKAH KAMU?
karya Korrie Layun Rampan

Dayak, Dayak, di manakah kamu
Suaramu sunyi waktu
Di manakah kamu, Saudaraku
Masihkah di ranah nenek-moyang, dahulu?

Ini aku selalu di Indonesia Raya
Kau dengar suaraku ada di mana-mana
Kau lihat tarianku meliuk di manca negara
Tarian negeri kita, tarian terkasih Nusantara

Lagumu, merdu seantero buana
Senyummu mengurai rindu dari dasar kalbu
Kata-katamu kearifan nenek-moyang kita
Cinta yang bersuara dari dasar sukma

--Dayak, Dayak, di manakah kamu?
+ Ini aku di belantara Nusantara
--Dayak, Dayak, di manakah kamu?
+ Ini aku ada di mana-mana tapi tak ke mana-mana!

+--Kami ada di mana-mana tapi tak ke mana-mana!

Indonesia, 10 Mei 2012
Dibacakan pada Rakernas MADN 10 Mei 2012


Tentang Penyair
Korrie Layun Rampan (lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953--meninggal 19 November 2015 pada umur 62 tahun) adalah seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia. Korrie merupakan pencetus penyusun buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang memuat lebih dari seratus sastrawan, terdiri dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra.

Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay-Edau Rampan, beretnis Dayak Benuaq. Semasa muda, Korrie tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub, sebuah klub sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadu A.G., Achmad Munif, dan Ebiet G. Ade.
Pengalaman bekerja Korrie dimulai pada 1978 di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos. Berbagai karya telah ditulisnya berupa novel, cerpen, puisinovel, cerita anak, dan esai.

Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello. Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap, meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah, dan Manusia Langit (1997).

Sumber biografi: wikipedia.
Sumber foto: 
https://www.wego.co.id