Saturday, August 8, 2020

Mungkinkah Ledakan Beirut Ada Campur Tangan Asing? Lebanon akan Menyelidikinya!



Kebakaran di sebuah gudang pada Selasa di Pelabuhan Beirut menyebabkan ledakan besar yang menewaskan sedikitnya 154 orang tewas dan melukai sekitar 5.000 lainnya serta menyebabkan kerusakan material besar-besaran di beberapa lingkungan ibu kota.

Demikianlah yang dilaporkan Anadolu Agency, Sabtu (8/8/2020). Dan, Presiden Lebanon pada Jumat mengatakan penyebab ledakan besar di pelabuhan ibu kota Beirut belum diumumkan, tanpa mengesampingkan kemungkinan adanya campur tangan asing.

Presiden Michel Aoun mengatakan dalam konferensi pers di Istana presiden bahwa dirinya meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memberikan gambar ledakan itu melalui satelit.

Masih dari sumber yang sama, dia menambahkan bahwa jika gambar seperti itu tak tersedia di Prancis, dia akan meminta dari negara lain, tanpa menyebutkannya.

Aoun mengatakan penyelidikan atas ledakan itu akan melibatkan petugas pelabuhan dan tidak ada perlindungan hukum bagi siapa pun yang terbukti bertanggung jawab.

Pemerintah Lebanon mengumumkan pembentukan komite investigasi untuk menyelidiki insiden maut itu dalam kurun waktu lima hari.

Mengutip media itu, ledakan tersebut mengguncang Lebanon saat negara yang pernah dijuluki Swissnya Timur Tengah ini mengalami krisis ekonomi terparah, termasuk penurunan drastis nilai pound Lebanon terhadap dolar AS.


Friday, August 7, 2020

Berikut Pernyataan Konsulat Jenderal AS Hong Kong pada 7 Agustus 2020 tentang Efek Mengerikan dari Undang-Undang Keamanan Nasional


Ternyata pemberlakuan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong membawa efek negatif bagi banyak pihak.

Dikutip dari laman Konsulat Jenderal AS di Hong Kong dan Makau (hk.usconsulate.gov), berikut adalah pernyataan Konsulat Jenderal AS Hong Kong dan Makau pada 7 Agustus 2020 tentang Efek Mengerikan dari Undang-Undang Keamanan Nasional tersebut. 

Sejak Beijing memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional yang kejam di Hong Kong pada tanggal 30 Juni, kami telah berulangkali menyampaikan keprihatinan besar tentang dampak dari undang-undang yang tidak jelas, samar-samar ini, dan jangkauan luasnya terhadap Hong Kong. Hong Kong dulunya adalah model kebebasan, transparansi, dan supremasi hukum, yang menjadi dasar kesuksesannya. Kami sangat prihatin dengan efek dingin yang mungkin ditimbulkan oleh undang-undang ini terhadap masyarakat sipil, media, dan pada kemampuan publik untuk menggunakan kebebasan berbicara, berekspresi, dan berkumpul yang mereka nikmati sebelumnya, yang semuanya dijanjikan kepada mereka oleh Beijing dalam Deklarasi Bersama Sino-Inggris, perjanjian yang terdaftar di PBB.

Para diplomat yang ditugaskan di Konsulat AS Hong Kong dan Makau bertemu dengan semua orang: tokoh pro-kemapanan, tokoh oposisi, bersama dengan orang-orang dari seluruh masyarakat Hong Kong. Pertemuan ini tidak rahasia atau misterius. Tugas diplomat kita adalah memahami tuan rumah kita dan membantu mereka memahami Amerika Serikat. Untuk melakukannya, kami bertemu dengan berbagai lawan bicara seluas mungkin. Saran bahwa mereka yang bertemu dengan perwakilan konsulat terlibat dalam "kolusi" adalah menggelikan. Tuduhan ini menggarisbawahi fakta bahwa UU Keamanan Nasional tidak pernah tentang keamanan, melainkan dimaksudkan untuk membungkam para pendukung demokrasi dan mengancam mereka yang terlibat dalam bentuk kebebasan berbicara yang paling rutin sekalipun.

Undang-Undang Keamanan Nasional berupaya menciptakan suasana ketakutan dan penyensoran sendiri. Ini akan menjadi tragedi besar jika menghancurkan keterbukaan, keragaman, dan vitalitas yang menjadi jantung dari apa yang membuat Hong Kong begitu unik. Kami menyerukan kepada pemerintah Hong Kong untuk tetap setia pada cita-citanya dan untuk memajukan semangat toleransi, pertukaran berpikiran terbuka, dan dialog antar individu dari semua lapisan masyarakat.

Kebijakan AS terhadap Hong Kong telah konsisten selama beberapa dekade. Sama seperti kami telah berulang kali mengakui bahwa Hong Kong adalah bagian dari China, demikian pula kami telah menekankan dukungan kami untuk kerangka Satu Negara, Dua Sistem dan tingkat otonomi tinggi yang dijanjikan kepada Hong Kong oleh Beijing. Kami sekali lagi menyerukan kepada Beijing untuk menghormati komitmen yang dibuatnya kepada rakyat Hong Kong, dan kepada komunitas internasional, dalam Deklarasi Bersama Sino-Inggris.


Bahasa Daerah Segera Punah? Para Orang Tua dan Guru Bahasa Wajib Bertanggung Jawab?

 

Bahasa daerah di Indonesia bisa dikatakan sangat kaya dalam hal jumlah. Dari hasil penelitian pemetaan bahasa-bahasa daerah yang dilakukan pihak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tercatat setidaknya ada 400-an bahasa daerah di Indonesia.

Itu angka yang bukan main-main dan menjadi khazanah kekayaan negeri ini. Tapi, akankah angka tersebut dapat terus terjaga? 

Eksistensi bahasa tergantung penggunanya. Jika sebuah bahasa sudah tidak ada yang mengggunakannya lagi dan dilupakan, maka hilanglah sudah bahasa itu dari muka bumi. Sedang yang masih "dikenang" dan dijadikan bahan kajian, sebutlah bahasa Sanskerta sebagai contohnya. 

Berangkat dari sejarah, agaknya kita perlu mengambil sikap positif terkait persoalan bahasa daerah saat ini. Kita juga perlu meniru langkah negara lain dalam menghadapinya. Pemerintah Taiwan telah berusaha mempertahankan eksistensi bahasa-bahasa daerah di sana. 

Seperti kita ketahui, Taiwan, khususnya di Pulau Formosa, dihuni suku-suku asli yang sejatinya satu rumpun dengan sebagian besar penduduk Indonesia, yakni rumpun Bangsa Austronesia. Ada Suku Amis/Ami, Atayal, Bunun, dan lainnya lengkap dengan bahasa masing-masing yang masih eksis hingga sekarang.

Lalu, apa yang perlu dilakukan?

Konon, secara sederhana digambarkan bahwa segala peristiwa di dunia terjadi dari rangkaian sebab-akibat-sebab-akibat, dan seterusnya. Dengan kata lain, hukum kausalitas sangat kuat di dalamnya. Maka, langkah pertama adalah memperhatikan penyebab punahnya bahasa itu sendiri. 

Dalam situasi kekinian, kita dapat melihat adanya sebagian anak kecil yang lancar menggunakan bahasa Indonesia lisan di masyarakat. Dari sisi ini, kita boleh bahagia dan bangga bahwa generasi penerus bangsa ini mahir berbahasa Indonesia.

Meski demikian, kita juga tidak boleh larut dalam kondisi tersebut. Mengapa? Nah, ini pertanyaan yang mendekati faktor penyebab punahnya bahasa daerah seandainya didiamkan saja. 

Bayangkan sejenak, anak-anak kecil menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sosialnya di masyarakat. Lalu, jika ini terus-menerus terjadi, bagaimana nasib bahasa daerah di tempat anak-anak tersebut hidup?

Misalnya saja, di tempat mereka itu sebenarnya ada bahasa A (kode) sebagai bahasa daerah yang difungsikan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat setempat. Maka, idealnya anak-anak di sana pun menggunakan bahasa tersebut dalam keseharian mereka. 

Sementara itu, bahasa Indonesia digunakan dalam ranahnya tersendiri, seperti saat proses belajar-mengajar berlangsung (bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar pendidikan) di sekolah.

Lantas, apa penyebab anak-anak lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah setempat?

Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dulu, sasaran tembak atas hal ini ialah kawin campuran. Sebutlah si bapak orang Jawa dan si ibu orang Ambon. Mereka memutuskan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan di dalam dan luar rumah. Kemudian, anak-anak mereka turut serta menggunakannya.

Tapi sekarang, realitas itu hanya menjadi salah satu sebab di antara sebab-sebab lainnya. Tidak percaya? Kini, anak-anak disuguhi beragam tontonan yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia,  selebihnya adalah bahasa asing dan sedikit sekali bahasa daerah. Bisa dikatakan, bahasa daerah hampir tidak ditayangkan dalam tontonan modern, baik di televisi, maupun media elektronik lainnya. 

Selanjutnya, sebab yang lainnya lagi malah lebih "waw". Saya sebut waw karena ada unsur menghilangkan bahasa daerah yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Apakah itu? 

Entah sadar atau tidak, sebagian orang tua era kekinian saat ini lebih cenderung mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia tanpa alasan yang mendesak.

Perhatikan ilustrasi ini. Si bapak adalah orang Suku A (kode) dan si ibu juga sama. Mereka hidup di lingkungan yang masyarakatnya menggunakan bahasa A, tapi mereka menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak (mereka) di rumah dan masyarakat. 

Penggunaan bahasa Indonesia yang demikian termasuk berlebihan atau melampaui batas kewajaran. Idealnya kita menggunakan bahasa sesuai pada situasi dan kondisinya. Kalau memang suami dan istri sama-sama sesuku dan bisa menggunakan bahasa daerah suku tersebut, lalu mengapa malah menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari?

Faktor-faktor penyebab seperti di atas itulah yang sebenarnya secara perlahan "meruntuhkan" atau menggerus eksistensi bahasa-bahasa daerah di negara ini. Buktinya sudah terlihat. Di Pulau Jawa, khusus wilayah perkotaannya, sebagian anak sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa kromo inggil. Kalaupun berbahasa Jawa, hanya sebatas ngoko.

Ini tentu kesedihan tersendiri mengingat bahasa daerah adalah kekayaan yang dimiliki Indonesia sebagai negara adidaya dalam budaya di dunia. Pertanyaannya, apakah kita rela jika suatu ketika nanti hanya ada bahasa Indonesia dan bahasa asing di Indonesia? 


Thursday, August 6, 2020

Yachiyo Kato, 91, Yakin Dia Bisa Selamat dari Lemboman Atom di Hiroshima Berkat Keputusan Gurunya, Bagaimana Kisahnya?

Yachiyo Kato sedang membuat peluru senapan mesin di sebuah pabrik Hiroshima ketika bom atom meledak. | PENGADILAN YACHIYO KATO / VIA CHUGOKU SHIMBUN - The Japan Times

Hari ini, tepat 75 tahun bom pertama digunakan di dunia. Ya, Pada 6 Agustus 1945, pesawat pembom AS menjatuhkan bom uranium di atas kota Hiroshima, menewaskan sekitar 140.000 orang.

Pada hari ini orang-orang Jepang memperingatinya. Dan, ada kisah sejarah yang dituturkan oleh seorang saksi hidup tentang insiden tersebut, yakni Yachiyo Kato, 91. 

Mengutip Chugoku Shimbun melalui The Japan Times (6/8/2020) berikut artikel yang ditulis Miho Kuwajima berkenaan dengan kisah dari saksi tersebut. 

Yachiyo Kato, 91, yakin dia bisa selamat dari pemboman atom di Hiroshima berkat keputusan gurunya.

Dengan pemikiran bahwa dia diizinkan untuk selamat dari bom atom untuk menyampaikan pengalamannya kepada orang-orang muda, dia telah mengabdikan separuh hidupnya untuk meneruskan kisah siswa dari Sekolah Putri Kota Pertama Hiroshima (sekarang Sekolah Menengah Funairi).

Kato (nee Tominaga) masuk sekolah pada bulan April 1941 dan melanjutkan ke kursus lanjutannya, yang didirikan selama perang pada musim semi tahun 1945. Dia membuat peluru senapan mesin sebagai siswa yang dimobilisasi setiap hari di pabrik Japan Steel dan berlokasi di Nishikaniya-cho (sekarang bagian dari Bangsal Minami). Tanggal 6 Agustus, hari terjadinya pengeboman, jatuh pada satu hari setiap bulan ketika pabrik ditutup karena kekurangan tenaga listrik.

Kato punya rencana untuk pergi ke Pulau Miyajima bersama teman-temannya. Dia meninggalkan rumahnya, yang terletak di Mukainada-nakamachi (sekarang bagian dari Lingkungan Minami), pagi-pagi sekali, dan ketika dia sedang menunggu teman-temannya di depan Stasiun Koi (sekarang Stasiun Hiroden-Nishihiroshima) sekitar jam 8 pagi, dia tiba-tiba terlempar sekitar 10 meter oleh ledakan bom atom dan kehilangan kesadaran.

Meskipun Kato berada sekitar 2½ kilometer dari pusat gempa, dia tidak ingat kilatan cahaya bom atau raungannya. Ketika dia sadar, dia menemukan kotak makan siang dan bakiak kayu berserakan, dan siswa di kelas yang lebih rendah yang bersamanya terluka oleh pecahan kaca yang menusuk pipi dan bahu mereka. Dia menerima pertolongan pertama di Sekolah Nasional Kusatsu (sekarang Sekolah Dasar Kusatsu), yang berfungsi sebagai pos bantuan sementara, dan menuju ke rumahnya, menghindari kebakaran di rute tersebut.

Dalam perjalanan pulang, dia dihadapkan pada "hujan hitam" yang tebal setelah ledakan itu, dan melihat orang-orang yang kulitnya bergaris-garis, murid-murid yang pakaiannya compang-camping dan wanita dengan rambut berdiri tegak kemana pun dia pergi. Ketika dia tiba di rumah, sudah lewat jam 8 malam

Dua hari kemudian, seorang wanita yang terlibat dengan kelompok wanita yang mengambil bagian dalam upaya penyelamatan di Sekolah Nasional Aosaki (sekarang Sekolah Dasar Aosaki) di lingkungan itu, datang untuk memberi tahu Kato bahwa teman sekelasnya, Tsuneko Yoshimoto, tinggal di sana. Yoshimoto adalah salah satu teman Kato yang telah dia rencanakan untuk pergi ke Miyajima. Yoshimoto terkena ledakan di trem saat melintas di dekat halte Dobashi, dan kemudian dibawa ke sekolah.

Kato memutuskan untuk membawa Yoshimoto ke rumahnya sendiri untuk merawatnya sampai ibu Yoshimoto datang menjemputnya. Dia membaringkannya di kasur dan mencoba memberinya mentimun parut dan tomat yang dihancurkan, tetapi dia segera membuangnya. Bagian dalam mulutnya berwarna kuning cerah, yang jika dipikir-pikir mungkin karena efek paparan radiasi. Beberapa hari kemudian, Yoshimoto dibawa ke rumahnya sendiri di Midori-machi (sekarang bagian dari Distrik Minami) dengan kereta roda dua dan meninggal sekitar 24 Agustus.

Sekolah Putri Kota Pertama Hiroshima kehilangan 676 orang, termasuk 10 guru, dalam serangan bom atom. Sebanyak 541 siswa tahun pertama dan kedua, yang dimobilisasi untuk menghancurkan rumah-rumah untuk membuat jalur api di selatan tempat yang sekarang menjadi Hiroshima Peace Memorial Park di Naka Ward di kota itu, terkena panas bom A dan meledak sekitar 500 meter. dari hiposenter. Semuanya mati.

“Faktanya, ada saran, pada awalnya, bahwa siswa tahun ketiga dan keempat, serta mereka yang berada di kelas lanjutan harus dimobilisasi untuk menghancurkan rumah untuk membuat jalur api pada 6 Agustus,” Kato kata. “Tapi almarhum Yoshiyuki Kutsuki, seorang guru yang bertanggung jawab atas murid yang lebih tua, telah mencegahnya, mengatakan bahwa murid-muridnya lelah dan perlu istirahat. Jika saya ikut serta dalam penghancuran rumah, saya juga akan mati.”

Kursus lanjutan dihapuskan pada akhir perang, dan Kato menikah ketika dia berusia 20 tahun. Saat sibuk membesarkan keempat anaknya, dia membantu dengan upacara peringatan bagi para korban bom atom yang diadakan setiap tahun pada 6 Agustus. Pada peringatan 40 tahun pemboman atom, dia memeriksa dengan cermat daftar sekolah dengan Sakamoto dan lainnya, dan serikat alumni membuat tugu peringatan bertuliskan nama-nama para korban dan mendirikannya di dekat monumen bom atom di sekolahnya.

Kato mulai membagikan akun bom atomnya di kelas pendidikan perdamaian di Sekolah Menengah Funairi tahun lalu, ketika dia berusia 90 tahun.

“Semua orang melayani negara kami dengan panik dan mati,” katanya. "Begitu perang dimulai, hak asasi manusia kami dirampas dan semuanya dihancurkan."

Dia berencana untuk membagikan akunnya dengan “juniornya” di Sekolah Menengah Funairi, yang merupakan generasi dari cicitnya, musim panas ini juga.


Wednesday, August 5, 2020

Siapa Pihak yang Diuntungkan dan Dirugikan dari Ledakan Dahsyat di Beirut?



Ledakan besar telah terjadi di Pelabuhan Beirut, Lebanon Selasa lalu(4/8/2002) dan menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai empat ribu lainnya.

Meski tidak diketahui apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, jika ditinjau dari segi dampaknya dan konsekuensinya, insiden itu mengarah pada sebuah "langkah strategis” mengingat Lebanon disorot sebagai wilayah konflik kekuatan-kekuatan regional dan mengalami masalah ekonomi belakangan ini. Diperkirakan juga akan merusak berbagai kerja sama politik.

Lalu siapa pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari ledakan dahsyat di Beirut ini?

Anadolu Agency melaporkan bahwa pada 3 Agustus, yakni sehari sebelum ledakan, Menteri Luar Negeri Lebanon--Nassif Hitti--mengajukan pengunduran dirinya kepada Perdana Menteri Hassan Diab.

Kemudian, pada 7 Agustus mendatang, Pengadilan Swasta Internasional Lebanon akan mengumumkan hasil kasus pembunuhan berencana terhadap Rafik Hariri pada 14 Februari 2005 silam.

Masih dari sumber yang sama, menurut beberapa pihak, pengadilan akan mengumumkan kepada dunia bahwa "Hizbullah telah membunuh Rafik Hariri". Hizbullah diketahui berpengaruh dalam pemerintahan Lebanon saat ini.

Dalam review yang diterbitkan di pusat penelitian Al-Marsad Al-Masry yang berbasis di Mesir, peneliti politik Mesir Dr. Muhammed Mujahid al-Zayyad mengungkapkan bahwa perkembangan sebelum ledakan di Beirut mengarah kepada Hizbullah.

Dalam artikelnya yang berjudul "Operasi intelijen yang bersih dan bertujuan untuk memperburuk situasi internal", Zayyad memperkirakan bahwa Israel akan menjadi negara yang paling mengambil keuntungan dari ledakan ini.

Menggarisbawahi bahwa Hizbullah akan lebih ditekan di Lebanon setelah ledakan itu dan Nasrallah akan semakin mengalami kesulitan di arena internasional, Zayyad berpendapat bahwa Saad al-Hariri juga menjadi sasaran dalam serangan itu.

Mengutip media tersebut, Beberapa pengamat memperkirakan bahwa perkembangan pahit dan krisis politik di Lebanon akan menjauhkan negara itu dari Iran dan keadaan tersebut membawa Lebanon lebih dekat ke Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Para pakar sepakat bahwa Hizbullah akan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam periode mendatang di Lebanon. Mereka juga memperkirakan dukungan politik domestik terhadap Saad al-Hariri akan meningkat.

Mengenang Masa Kecil, Ada Beragam Permainan yang Dapat Menjadi Ide untuk Berkarya Sastra



Tengoklah ke belakang barang sejenak. Akan kau temukan kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang dapat menjadi pembelajaran. 

Terkadang kalimat-kalimat itu diletupkan oleh orang-orang tua kepada generasi muda. Tak sekadar basa-basi, tetapi memang mengandung nasihat untuk memantapkan langkah ke depan. 

Kata orang bijak, masa depan dibangun dari masa lalu. Tanpa pengetahuan masa yang telah lewat, maka saat di masa kini kita tak bisa berbuat apa-apa dan masa depan pun hanya akan menjadi sebuah kekosongan.

Secara lebih mudah, dapat dipahami bahwa manusia memerlukan dasar ilmu pengetahuan sebelumnya untuk membangun kebaruan. Itulah sebabnya, orang berilmu lebih mudah dalam hidup daripada sebaliknya meski beruang melimpah sekalipun. 

Ini juga berlaku dalam menggarap karya sastra semisal novel. Penggalan-penggalan masa lalu dapat menjadi bahan penting dalam pembuatan sebuah cerita. Dan, termasuk di dalamnya adalah masa kecil. Ada beragam permainan pada masa itu. 

Sebutlah permainan melipat kertas. Sebagian orang sering menyebutnya origami atau seni melipat kertas. 

Dulu, sewaktu kecil, saya senang membuat perahu, pesawat, dan lainnya dari kertas tanpa tahu namanya adalah origami. Setelah selesai, hasilnya dijadikan bahan permainan bersama teman-teman dengan penuh suka cita.

Nah, di bawah ini ada dua video membuat origami, yakni kodok dan perahu jukung. 

Video origami kodok.


Video origami perahu jukung.


Selain, origami tentu masih banyak permainan yang membuat hati riang gembira. Permainan-permainan tersebut dapat diolah menjadi cerita yang menarik. Bisa menjadi bagian kehidupan tokoh dalam novel, misalnya, atau cerita anak yang disertai ilustrasi-ilustrasinya.

Kalau Anda belum percaya, bisa segera dipraktikkan. Selamat mencoba dan buktikan hasilnya!


Tuesday, August 4, 2020

Tantangan Memublikasikan Foto Sampul Buku Cetak di Medsos! Lantas, Antara Buku Cetak dan Digital, Anda Pilih yang Mana?




Mungkin sudah hampir dua tahun lebih bermunculan tantangan semacam yang saya tulis pada judul di atas. Ini langkah yang menarik. Ketika banyak pihak mengatakan bahwa orang Indonesia malas baca buku, aktivitas ini hadir di tengah-tengah kita.

Artinya, ada upaya untuk menggairahkan geliat membaca buku. Terutama sekali dimulai dari diri sendiri. Maka, dipublikasikanlah foto sampul buku-buku yang pernah dibaca. Dengan itu, diharapkan orang lain pun mengikutinya. Ya, bukan hanya orang-orang yang ditantang selanjutnya, tetapi juga siapa saja dan di mana saja dalam kondisi dan situasi yang memungkinkan.

Lantas, apakah cara seperti ini efektif? 

Saya tidak berani menjawabnya. Agaknya, hal terpenting adalah upaya itu sendiri sebagai wujud perhatian pada dunia tulis-baca atau orang sekarang menyebutnya literasi. 

Dunia literasi memang perlu digalakkan, khususnya sejak usia dini. Orang tua lah yang menjadi motor utama dalam menggerakkan minat baca anak. Membaca di hadapan anak sebenarnya bentuk pamer yang ideal. Anak-anak ibarat kertas putih dan pulpen. Ia meniru apa yang diinderanya, terlebih berupa audio dan visual. 

Itulah sebabnya, memulai dari diri sendiri teramat penting sebagai upaya dasar menanamkan minat baca anak dan kepada yang belum berminat dalam membaca. 

Video di bawah ini memperlihatkan rekaman pembacaan puisi oleh presiden penyair Indonesia--Sutardji Calzoum Bachri--dalam acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II, Jakarta.

Kemudian, fenomena lainnya yang sedang terjadi saat ini adalah, adanya dua jenis buku. Ada versi cetak dan digital atau buku elektronik (bisa berupa versi web, PDF, dan e-book). Nah, antara buku cetak dan digital, Anda pilih yang mana?

Bagi yang memilih versi cetak dengan alasan-alasannya yang masuk akal semisal, ramah terhadap mata dan dapat lebih menikmati proses pembacaan, silakan. Bagi yang menyukai versi digital dengan segala wujudnya, ya silakan. Ini artinya, keduanya bersifat pilihan. 

Kembali ke publikasi foto sampul buku di medsos, memang rata-rata yang dipublikasikan berupa versi cetak. Kadang rak bukunya juga ikut terfoto. Dalam hal ini, saya pikir perlu perluasan. Maksudnya, versi digital pun turut diunggah. Lebih baik lagi jika dilengkapi tautan (link) web baca buku atau web pengunduhan buku pdf dan e-book. Yang terakhir ini dapat membantu orang lain untuk turut serta membaca buku-buku yang sampulnya dipublikasikan tersebut.