Tuesday, August 4, 2020

Tantangan Memublikasikan Foto Sampul Buku Cetak di Medsos! Lantas, Antara Buku Cetak dan Digital, Anda Pilih yang Mana?




Mungkin sudah hampir dua tahun lebih bermunculan tantangan semacam yang saya tulis pada judul di atas. Ini langkah yang menarik. Ketika banyak pihak mengatakan bahwa orang Indonesia malas baca buku, aktivitas ini hadir di tengah-tengah kita.

Artinya, ada upaya untuk menggairahkan geliat membaca buku. Terutama sekali dimulai dari diri sendiri. Maka, dipublikasikanlah foto sampul buku-buku yang pernah dibaca. Dengan itu, diharapkan orang lain pun mengikutinya. Ya, bukan hanya orang-orang yang ditantang selanjutnya, tetapi juga siapa saja dan di mana saja dalam kondisi dan situasi yang memungkinkan.

Lantas, apakah cara seperti ini efektif? 

Saya tidak berani menjawabnya. Agaknya, hal terpenting adalah upaya itu sendiri sebagai wujud perhatian pada dunia tulis-baca atau orang sekarang menyebutnya literasi. 

Dunia literasi memang perlu digalakkan, khususnya sejak usia dini. Orang tua lah yang menjadi motor utama dalam menggerakkan minat baca anak. Membaca di hadapan anak sebenarnya bentuk pamer yang ideal. Anak-anak ibarat kertas putih dan pulpen. Ia meniru apa yang diinderanya, terlebih berupa audio dan visual. 

Itulah sebabnya, memulai dari diri sendiri teramat penting sebagai upaya dasar menanamkan minat baca anak dan kepada yang belum berminat dalam membaca. 

Video di bawah ini memperlihatkan rekaman pembacaan puisi oleh presiden penyair Indonesia--Sutardji Calzoum Bachri--dalam acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II, Jakarta.

Kemudian, fenomena lainnya yang sedang terjadi saat ini adalah, adanya dua jenis buku. Ada versi cetak dan digital atau buku elektronik (bisa berupa versi web, PDF, dan e-book). Nah, antara buku cetak dan digital, Anda pilih yang mana?

Bagi yang memilih versi cetak dengan alasan-alasannya yang masuk akal semisal, ramah terhadap mata dan dapat lebih menikmati proses pembacaan, silakan. Bagi yang menyukai versi digital dengan segala wujudnya, ya silakan. Ini artinya, keduanya bersifat pilihan. 

Kembali ke publikasi foto sampul buku di medsos, memang rata-rata yang dipublikasikan berupa versi cetak. Kadang rak bukunya juga ikut terfoto. Dalam hal ini, saya pikir perlu perluasan. Maksudnya, versi digital pun turut diunggah. Lebih baik lagi jika dilengkapi tautan (link) web baca buku atau web pengunduhan buku pdf dan e-book. Yang terakhir ini dapat membantu orang lain untuk turut serta membaca buku-buku yang sampulnya dipublikasikan tersebut.

0 comments: