Friday, December 7, 2018

Percayakah Anda dari Lima Tema Ini Terbit Buku-Buku Antologi Bersama?


1. Ibu
Siapa yang tak tahu sosok ibu. Setidaknya mengetahui bahwa berbulan-bulan kita berada dalam rahimnya yang damai. Sebagian diasuh dan dibesarkan juga olehnya. Dan, telah banyak karya tulis yang terinspirasi dari sosok itu.  Di bawah ini contohnya berwujud buku antologi puisi bersama dengan judul Ibuku Mendaki Badai. 



2. Bahasa
Secara mudah bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan konvensional. Dengan bahasa, kita dapat berkomunikasi, bekerja sama, serta melakukan hal-hal lainnya, termasuk menulis tentunya. Tak sedikit tulisan yang terinspirasi dari bahasa. Hal ini dapat kita temui contohnya dalam buku antologi Senja di Teluk Wondama.



3. Persaudaraan
Hidup akan terasa indah jika ada kedamaian. Dan kedamaian melahirkan persaudaraan antarumat manusia. Begitu pula dengan persaudaraan di antara negara-negara Asia Tenggara ini. Pada tahun 2011, setelah adanya Dialog Sastra Borneo di Samarinda, tercetus pembuatan antologi puisi lima negara yang terinspirasi dari persaudaraan sesama bangsa serumpun. Alhasil, terbitlah antologi puisi Suara 5 Negara. 




4. Sungai
Sebut saja Indonesia. Di negara kita ini sangat kaya dengan sungai, baik besar, maupun kecil. Banyak penduduk Indonesia yang kehidupannya—mulai dari urusan bersih-bersih hingga urusan perut—tidak bisa terlepas dari sungai. Kenyataan seperti itu menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi banyak penulis. Misalnya saja dalam buku antologi puisi berjudul Arus Puisi Sungai.


5. Hutan
Ketika kita membahas hutan, tidak menutup kemungkinan yang terbayang dalam otak sebagian orang adalah hewan liar yang menakutkan semisal ular, singa, dan lainnya. Meski demikian, hutan telah terbukti menjadi inspirasi dalam menulis. Contohnya antologi puisi dengan judul Puisi Peduli Hutan.


Dari berbagai sumber


                                   Klik Iklan Buku
Klik Iklan Buku

Generic Banner

Wednesday, December 5, 2018

Satu Puisi Korrie Layun Rampan tentang Nasionalisme Suku Dayak



DAYAK, DAYAK, DI MANAKAH KAMU?
karya Korrie Layun Rampan

Dayak, Dayak, di manakah kamu
Suaramu sunyi waktu
Di manakah kamu, Saudaraku
Masihkah di ranah nenek-moyang, dahulu?

Ini aku selalu di Indonesia Raya
Kau dengar suaraku ada di mana-mana
Kau lihat tarianku meliuk di manca negara
Tarian negeri kita, tarian terkasih Nusantara

Lagumu, merdu seantero buana
Senyummu mengurai rindu dari dasar kalbu
Kata-katamu kearifan nenek-moyang kita
Cinta yang bersuara dari dasar sukma

--Dayak, Dayak, di manakah kamu?
+ Ini aku di belantara Nusantara
--Dayak, Dayak, di manakah kamu?
+ Ini aku ada di mana-mana tapi tak ke mana-mana!

+--Kami ada di mana-mana tapi tak ke mana-mana!

Indonesia, 10 Mei 2012
Dibacakan pada Rakernas MADN 10 Mei 2012


Tentang Penyair
Korrie Layun Rampan (lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953--meninggal 19 November 2015 pada umur 62 tahun) adalah seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia. Korrie merupakan pencetus penyusun buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang memuat lebih dari seratus sastrawan, terdiri dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra.

Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay-Edau Rampan, beretnis Dayak Benuaq. Semasa muda, Korrie tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub, sebuah klub sastra yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadu A.G., Achmad Munif, dan Ebiet G. Ade.
Pengalaman bekerja Korrie dimulai pada 1978 di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos. Berbagai karya telah ditulisnya berupa novel, cerpen, puisinovel, cerita anak, dan esai.

Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo TolstoyKnut HamsunAnton ChekovO'Henry, dan Luigi Pirandello. Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap, meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah, dan Manusia Langit (1997).

Sumber biografi: wikipedia.
Sumber foto: 
https://www.wego.co.id


Tuesday, December 4, 2018

Dunia Sastra Kembali Berduka

NH Dini (https://id.wikipedia.org/wiki/Nh._Dini)

Hari ini, 4 Desember 2018, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dkenal dengan nama NH Dini meninggal dunia di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, Jawa Tengah, pukul 16.00 waktu setempat. Sastrawan yang ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali (29 Februari) ini mengembuskan napas terakhirnya pada umur 82 tahun setelah mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di ruas Tol Banyumanik Semarang KM 10. Sebelum wafat, NH Dini tinggal di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran.


Berita meninggalnya sastrawan  peraih SEA Write Award dari Pemerintah Thailand (2003) ini telah menyebar melalui pesan pendek dan juga media sosial. Sejumlah sastrawan dengan beragam kata menuliskannya di status mereka masing-masing. Sedang Jenazah NH Dini akan dikremasi di pemakaman Kedungmundu Semarang pada Rabu, 5 Desember 2018 pukul 12.00 WIB.

Monday, December 3, 2018

Serba-Serbi Reuni Akbar Mujahid 212, Inspirasi dalam Bersastra



Mahmud Jauhari Ali


“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.
1966

Beberapa larik di atas merupakan penggalan dari puisi berjudul Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya karya Taufiq Ismail. Puisi tersebut tidak lahir dari angan-angan kosong belaka. Seorang Taufiq menuliskan puisi perjuangan demi cinta tanah air dan bangsa Indonesia itu dari peristiwa bersejarah. Sebuah aksi fenomenal masa lalu, yakni unjuk rasa mahasiswa kepada pemerintah untuk menurunkan harga-harga. Tak bisa dielakkan, dalam aksi itu memang ada yang meninggal. Akan tetapi, perjuangan mereka tidak sia-sia. Harga-harga pun berhasil diturunkan semisal harga bensin kala itu. Singkat cerita, aksi massa mahasiswa telah menginspirasi Taufiq Ismail dalam berkarya sastra.  

Lalu, apakah hal yang demikian berhenti sampai di situ saja? Tentu jawabannya tidak. Setiap peristiwa selalu menjadi inspirasi bagi siapa saja yang peka dan mau berkarya. Dan sebenarnya, saya teringat puisi Taufiq itu juga dari sebuah aksi yang baru saja dilakukan oleh sejumlah massa pada tanggal 2 Desember 2018 kemarin. Mereka menyebutnya dengan Reuni Akbar Mujahid 212. Setidaknya saya menangkap beberapa hal yang dapat dijadikan inspirasi dalam menulis karya sastra berkaitan dengan aksi tersebut. Apa sajakah itu?  

Perjuangan.
Siapa yang berani menyangkal kebenaran bahwa para peserta aksi damai itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia? Bahkan, ada yang dari luar negeri. Mereka berdatangan dengan menggunakan uang sendiri menuju Jakarta, tepatnya di Monas sebagai titik kumpulnya. Kawasan itu pun menjadi lautan manusia. Ada jutaan orang, baik sebagai peserta maupun panitia aksi di sana. Mungkin bagi mereka yang materialisme akan berpikir perbuatan para pelaku aksi tersebut tidak rasional. Untuk apa misalnya mengeluarkan uang untuk aksi semacam itu? Dibayar saja tidak. Malahan harus mengeluarkan uang pribadi. Tapi bagi mereka yang masih memiliki semangat perjuangan membela agama (Islam) dalam jiwa persaudaraan, tentulah hal itu adalah sesuatu yang lumrah dilakukan. Perjuangan mereka inilah yang dapat menginspirasi sebagaimana terciptanya puisi Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya  pada puluhan tahun lalu itu.

Damai
Adakah kerusuhan yang terjadi dalam aksi tersebut? Perkelahian antardua orang pun tidak ada. Aksi itu sangat jauh dari sikap permusuhan, apalagi peperangan yang brutal. Para pelaku aksi begitu menunjukkan kesantunan yang beradab sebagai salah satu akar dari terciptanya damai itu sendiri. Ini pun sebenarnya menginspirasi dalam penulisan karya-karya dengan tema perdamaian antarumat manusia.  Kita tahu, di luar sana ada saja yang menjadikan perang sebagai santapan sehari-hari. Lewat karya sastra diharapkan Indonesia akan terus dalam keadaan damai (tanpa perang kata, terlebih kontak fisik) sebagaimana damainya aksi 212 tersebut. Jika kita kaitkan dengan puisi Taufiq di atas, begitu terasa damainya antara pak tukang rambutan dan para mahasiswa yang sedang berunjuk rasa.  

Kesosialan yang Tinggi
Tanah lapang tak pernah menjadi hutan meski ada sebuah pohon besar yang hidup di sana, ‘kan? Mungkin begitulah kira-kira gambaran tentang hidup dan kehidupan ini. Tidak memenuhi syarat ideal seandainya manusia atau makhluk lainnya hidup tanpa berinteraksi dengan sesamanya. Sebagai manusia, bersosial itu bisa dikatakan wajib hukumnya meski tidak tertulis dalam kitab undang-undang sekalipun. Dengan kata lain, sudah menjadi konvensi bersama. Dalam aksi 212 kemarin itu pun berlaku hal yang demikian. Ada yang menyediakan menu-menu makanan dan minuman misalnya. Jadi, bukan sekadar rambutan dalam puisinya Taufiq, tetapi lebih daripada itu. Ini merupakan wujud nyata kesosialan peserta aksi.  Tentunya dapat menjadi inspirasi yang sangat bagus dalam berkarya sastra. Jiwa sosial idealnya memang ditumbuhkembangkan. Salah satunya melalui sentuhan bahasa sastra yang halus dan indah.

Tertib
Dari pantauan melalu drone dan berita-berita terpercaya, pergerakan peserta aksi 212, baik saat menuju, maupun meninggalkan Monas sangatlah tertib. Tidak ada yang saling mendahului. Alhasil, tidak ada pula aksi dorong-mendorong. Bagi sastrawan, kenyataan ini sangat menginspirasi untuk  tulisan-tulisan yang menghibur dan bermanfaat dalam menggugah banyak jiwa menjadi pribadi-pribadi tertib. Ketertiban tersebut bisa dituangkan dalam bentuk puisi, cerpen, dan lainnya.   

Persatuan
Alangkah mustahilnya aksi itu dapat terlaksana jika tak ada semangat persatuan umat dalam jiwa peserta dan panitianya.  Dengan kata lain, aksi 212 terwujud karena semangat tersebut yang berkobar dalam jiwa mereka. Sebagaimana yang telah terjadi di lapangan, aksi itu juga tidak sekadar melibatkan umat Islam, tetapi  panitia turut mengundang tokoh-tokoh lintas agama. Hal terakhir tadi membuktikan persatuan yang dibangun dalam aksi itu merupakan eratnya hubungan antaranak bangsa di negara ini. Persatuan yang demikian sangatlah menginspirasi dalam sastra selama sastrawan yang bersangkutan  peka terhadapnya.

Kebersihan
Setelah aksi 212 itu usai, kawasan Monas dan sekitarnya pun bersih kembali seperti sediakala. Artinya, para peserta dan panitia aksi begitu mengutamakan kebersihan lingkungan. Hal ini sangat menginspirasi dalam berbagai bentuk karya sastra dengan harapan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam puisi Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya itu pun digambarkan kebersihan, yakni para mahasiswa tidak membuang kulit rambutan sembarangan. Adapun puisi lengkapnya sebagai berikut.

Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya

karya Taufiq Ismail

“Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutani”
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.


1966


Sumber gambar: www.pixabay.com (gratis)

Saturday, December 1, 2018

Inilah 5 Puisi tentang Sungai Paling Mengharukan




SUNGAI. Apa yang terbayang di benak Anda dengan kata itu? Mungkin air yang mengalir dari hulu ke hilir, anak-anak yang berenang riang saat sore tiba, para pemancing mania duduk di tepinya sambil memegang joran, atau mungkin juga yang lainnya semisal sampah rumah tangga mengapung di permukannya. Dan pernahkah Anda menuliskan apa yang terbayang di benak masing-masing berkenan dengan sungai itu? Dalam puisi misalnya? Berikut adalah lima puisi bertema sungai paling mengharukan.    


Sangkan Paraning Dumadi

Karya Bambang Widiatmoko (Bekasi)


Setiap kali mengingat aliran sungai
Yang bersumber dari kaki Merapi
Inilah sungai yang penuh  misteri
Menyimpan mitos dengan rapi
Sangkan paraning dumadi
Manunggaling kawula Gusti.

Batu tak akan habis dicari
Pasir tak akan surut digali
Sebagian menjadi candi
Berkah melimpah  letusan Merapi
Menyuburkan tanah kami
Keringat leluhur menjadi saksi.

Jika malam hari terdengar air tersibak
Tak perlu jiwa ikut merebak
Kereta melesat lewat tak beriak
Menjadi pertanda akan datangnya bencana
Lewat penguasa laut selatan yang bau dupa
Dan kita pun bersiap tanpa rasa duka.

Yogyakarta tetap setia menjaga sungai jiwa
Membelah kota dengan segenap rasa cinta
Mengalir tenang dan kadang menghanyutkan
Menjadi saksi zaman yang tak bisa diciutkan
Mengalir di sisi timur istana membawa harapan
Lalu lurus menuju muara laut selatan.

Kali Code, 2016


BAMBANG WIDIATMOKO. Penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki buku kumpulan puisi tunggal Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014). Sajaknya terhimpun dalam antologi puisi antara lain Negeri Langit  (2014),  Negeri Laut (2015). Kumpulan esainya  Kata Ruang  (2015). Peneliti tradisi lisan dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).  Alamat: Jalan Meranti Raya H 200, Bekasi Timur 17515. Pos-El: bwdwidi@yahoo.com.
_________________________ 



Aku Ingin Selalu Bisa Berkaca di Permukaanmu

Karya Yuditeha (Surakarta)


sejak dipisahkan dari wana dan pelangi
menjauh ke sisi bukit yang penuh dengan batu terbelah
musim tiba-tiba tersesat kala ingin pergi ke sana
lupa akan rute dan tanda
karena segala warna hijau telah menghilang

kau tak lagi terlihat melingkar-lingkar
dari langit kau tampak tersendat-sendat
terputus-putus seperti garis marka di tengah jalan
dengan isyarat boleh menyalip
di manakah airmu?

mengapa orang-orang diam saja?
tidakkah mereka rindu untuk membasuh muka denganmu?
Di manakah mereka akan berkaca?
tidakkah mereka ingin hidup sehat?

aku ingin menghirup udara segar yang kau alirkan
aku ingin berlari-lari mengelilingimu di bantaranmu
aku ingin kau tetap menyertai buah padi muda hingga menguning
aku ingin selalu bisa berkaca di permukaanmu
terlebih sebelum waktunya bertemu dengan kekasihku tiba


Yuditeha. Penulis puisi, cerpen, dan novel yang hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Pegiat Komunitas Sastra Alit Surakarta. Fb: Yuditeha. Laman: yuditeha.wordpress.com.
_________________________ 



Cisadane

Karya Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)


mencintai engkau
pada musim yang tak mengenal penghujan dan kemarau
tentang pohon salak yang merimbun
tentang gemerisik daun bambu yang mengalun
tentang hulu dari selatan yang menawan

di remang cisadane, seutas kenangan berjatuhan
berderai lepas dari deras arus ingatan
melambung pada gemerlap peh cun di tepi sungai
pada lentur tarian barongsai
dan gadis-gadis bergincu merah yang aduhai
bak lampion menari dengan gemulai

telah tercatat semua gemuruh
hingga tiba saatnya airmu meluruh; keruh

Tangerang


Keterangan:

Cisadane adalah nama sungai terpanjang di Tangerang, mengalir dari selatan dan bermuara di Laut Jawa.

Peh Cun adalah festival mendayung perahu naga yang dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Pada saat ini dipercaya bahwa matahari, bulan dan bumi berada pada satu garis orbit.



Novy Noorhayati Syahfida lahir di Jakarta pada tanggal 12 November. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di beberapa media cetak seperti Pikiran Rakyat, Suara Pembaruan, Sulbar Pos, Lampung Post, Haluan (Padang), Koran Madura, Harian Cakrawala (Makassar), Solopos, Posmetro Jambi, Fajar Sumatra, Tanjungpinang Pos, Majalah Islam Annida, Jurnal Puisi, Buletin "Raja Kadal", Majalah Sastra "Aksara", Buletin “Jejak”, Majalah Budaya “Sagang” dan Buletin “Mantra”
Puisi-puisinya juga terangkum dalam lebih dari 70 buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin (Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta.
_________________________ 



Dongeng Kali Mati

Karya Mukti Sutarman Espe (Kudus)


engkaulah kali mati itu
tak mengalir ke mana-mana
berhulu di langit bermuara di bumi

tak ada alir apalagi ricik apalagi riak apalagi ombak
dari tepi ke tepi permukaan sedatar cermin
dalam dan hening berkelindan memendam dingin

tiada alur alir
hanya hujan sesekali memberi kelimpahan air
hanya alun sesekali dikirim angin semilir
yang  sesudah deras dan sepoinya terperam
dayanya kau bagikan kepada ikan
                             kepada udang
                             kepada siput
                             kepada lumut
kapada segala yang terpaksa tinggal di lendut

engkaulah kali mati itu
mengada sebab musim yang keliru
    sebab  pohon hayat menjelma jadi debu
    sebab banjir bandang tiba salah waktu
              
tetapi kodrat kali tetaplah sebagai kali
sungguhpun hanya sedikit berarti
dharmamu kepada bumi adalah mengairi
hingga leladang bertanah pecah berubah basah
             kebun-kebun tak kehilangan warna daun
             persawahan kembali berlumpur gembur
             karangkitri bermakna indah bagi petani utun

dharmamu
menjadikan bumi  lebih memberi
setenggat pengabdian yang harus kau jalani

Kudus, 2016.

Mukti Sutarman Espe lahir di Semarang. Alumnus IKIP PGRI Semarang (sekarang UPGRIS) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karya puisinya tersiar di Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Republika, Suara Merdeka, Solo Pos, Kedaulatan Rakyat, dan belasan buku antologi puisi bersama. Di antaranya, Antologi Puisi Jawa Tengah, Jentera Perkasa, Mahaduka Aceh, Hijau Kelon&Puisi, Jogya 5,9 Skala Richter, dan Negeri Laut. Buku puisi tunggalnya adalah  Bersiap Menjadi Dongeng. Tinggal di Kudus, Jawa Tengah.
_________________________  


Nyanyian Sungai

Karya Ariadi Rasidi (Temanggung)


Berawal dari kaki gunung rimba perawan
melewati kelokan demi kelokan
sungaiku mengalir
meliuk-liuk dari hulu ke hilir

Batang-batang padi senang
ikan-ikan menari-menari riang
bersama dendang air sungai yang datang
harapan petani jadi mengawang-awang

Gemercik air melahirkan simfoni
terus mengalir menderas menuju samudera biru
sesekali menerpa batu-batu
memberi berkah makhluk Ilahi.

Temanggung, 2016

Ariadi Rasidi lahir di Purwokerto pada tanggal 15 April 1959.  Menulis puisi sejak tahun 1980-an. Puisi-puisinya terdokumentasi di beberapa antologi puisi bersama di antaranya, Menoreh 2 (1995), Menoreh  3 (1996), Progo 1, Tangan-tangan Tengadah (2015), Progo 2  (2008), JenteraTerkesa (1993 ), Progo 3 (2015), antologi puisi penyair Jawa Tengah (2011), Antologi Puisi Tifa Nusantara 2 (2015), dll.
Tahun 2015 mendirikan komunitas Sastra bernama KSS3G (Keluarga Studi Sastra Temanggung). Bertempat tinggal di Dusun Kampung RT 01/RW 1 Desa/Kec. Kaloran, Temanggung, 56282. Pos-El:  ardiras53@gmail.com. 



Sumber tulisan: buku antologi Arus Puisi Sungai
Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)

AIR BERTUAH MAGIS DALAM SISTEM KEPERCAYAAN TRADISIONAL NENEK MOYANG ORANG BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN


Tajuddin Noor Ganie

Air dalam bahasa bahasa Banjar di Kalimatan Selatan (Kalsel) disebut banyu. Air merupakan benda cair yang tersedia dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah di Kalsel. Julukan daerah Kalsel sebagai negeri seribu sungai sudah menggambarkan dengan tegas topografi daerah Kalsel sebagai daerah yang akrab dengan air. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi, cuci, dan kakus, air juga lazim digunakan sebagai sarana pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit yang diderita oleh pemakainya.
Hasil penelusuran yang penulis lakukan menunjukkan setidak-tidaknya ada 8 jenis air yang digunakan sebagai sarana pengobatan atas suatu jenis penyakit, yakni banyu burdah, banyu buyu, banyu pilungsur, banyu pidara, banyu safar, banyu singgugut, banyu wafak tampurung nyiur, dan banyu Yaasin.

1. BANYU BURDAH
Bahasa Banjar artinya air Burdah. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Syair Burdah. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Burdah difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasi, hantu sangkala). Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Burdah dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).

2. BANYU BUYU
Bahasa Banjar artinya air buyu. Buyu adalah nama sejenis siluman ular pengisap darah yang berasal dari alam gaib. Selain itu, buyu merujuk kepada kulit ular puraca yang terlepas setelah terjadinya proses ganti kulit (bahasa Banjar, baganti salumur ular).
Banyu buyu adalah air rendaman kulit ular puraca. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu buyu difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diisap buyu yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit diisap buyu adalah penyakit dengan gejala tubuh kurus kering, bola mata melorot ke dalam, dan perut buncit (seperti orang kurang gizi).

Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang didiagnosa sedang mengidap penyakit diisap buyu dengan air rendaman kulit ular puraca.

3. BANYU PALUNGSUR
Bahasa Banjar artinya air pelancar persalinan. Banyu palungsur dibuat oleh seorang bidan kampung dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu palungsur difungsikan sebagai sarana untuk memperlancar proses persalinan seorang wanita yang sempat terhambat selama beberapa saat. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu palungsur kepada wanita yang mengalami kesulitan dalam proses persalinannya.

4. BANYU PIDARA
Bahasa Banjar artinya air antipidara. Banyu pidara dibuat dari seember air tawar yang dicampur dengan rendaman beberapa lembar daun pidara. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pidara difungsikan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kapidaraan (sakit panas) yang diderita oleh seorang anak balita. Penyakit kapidaraan adalah penyakit yang berasal dari gangguan makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala, roh para leluhur). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memandikan anak balita yang bersangkutan dengan banyu pidara.

5. BANYU SAPAR
Bahasa Banjar artinya air Safar. Banyu Sapar adalah air tawar yang diberi bacaan doa penolak bala (mantra penolak bala). Pembuatannya dilakukan menjelang tibanya hari Rabu terakhir di bulan Safar (Arba Musthamir atau Rabu Wekasan). Di kalangan masyarakat Banjar di Kalsel ada semacam keyakinan bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar adalah hari yang paling berbahaya. Pada hari itu, para pemilik ilmu hitam akan melepaskan ilmu hitamnya untuk mencari mangsa di alam bebas.
Sehubungan dengan itu, maka setiap orang harus melakukan segala cara agar terhindar diri dan keluarganya dari segala marabahaya. Salah satu upaya di antaranya adalah membuat banyu Sapar. Banyu Sapar diminum bersama oleh segenap anggota keluarga pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.
 
Banyu Sapar difungsikan sebagai sarana imunasi untuk menambah kekebalan tubuh peminumnya supaya tidak jatuh sakit jika sekali waktu terlanjur memakan makanan atau meminum minuman yang sengaja dibubuhi atau ditaburi orang dengan racun pujaan (racun magis milik para penganut ilmu hitam). Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminum banyu Sapar

6. BANYU SINGGUGUT
Bahasa Banjar artinya air singgugut. Banyu singgugut dibuat oleh seorang juru sembuh dari secangkir air tawar yang kemudian dibacakan doa-doa tertentu.
Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak. Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul.

Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu singgugut difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul.

Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu singgugut kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut. Tidak lama setelah meminum banyu singgugut maka singgugut yang sudah mati akan keluar darah berbentuk cecak dari rahim wanita yang bersangkutan (bercampur dengan darah haid).

7. BANYU WAPAK TAMPURUNG NYIUR
Bahasa Banjar artinya air wafak tempurung kelapa. Wapak (wafak) merujuk kepada daun, kain, kertas, kulit buah-buahan, kulit hewan, logam pipih, tempurung kelapa, dan aneka jenis media lainnya, yang .ditulisi atau dirajah dengan teks-teks doa atau mantra tertentu dalam bahasa, huruf, dan angka Arab.

Wapak tampurung nyiur merujuk kepada tempurung kelapa yang diberi tulisan atau rajahan teks doa atau mantra dalam bahasa, huruf, dan angka Arab. Air tawar yang dituangkan ke dalam tempurung kelapa semacam ini disebut banyu wapak tampurung nyiur. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai obat penyembuh penyakit singgugut. Singgugut adalah binatang gaib sejenis lipas yang bila masuk ke dalam rahim seorang wanita akan berubah menjadi cecak.
Singgugut diyakini sebagai binatang gaib yang membuat seorang wanita menjadi mandul. Banyu wapak tampurung nyiur difungsikan sebagai sarana untuk membunuh binatang gaib bernama singgugut. Tujuannya supaya wanita itu dapat dibuahi oleh suaminya (hamil), tidak lagi mandul.

Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara meminumkan banyu wapak tampurung nyiur kepada wanita yang didiagnosa sebagai pengidap penyakit singgugut.

8. BANYU YAASIN
Bahasa Banjar artinya air Yaasin. Dibuat dari air tawar yang dibacakan Surah Yaasin.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu Yaasin difungsikan sebagai sarana untuk melindungi janin yang sedang berada dalam kandungan seorang calon ibu yang baru pertama kali hamil (bahasa Banjar, tian mandaring) agar jangan diganggu oleh makhluk gaib berwatak jahat (dangsanak gaib, hantu baranak, hantu karungkup, hantu kuyang, hantu pulasit, hantu sangkala).

Upaya untuk mencapai tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara mencampurkan banyu Yaasin dengan air yang akan digunakan untuk memandikan wanita hamil yang bersangkutan dalam upacara ritual mandi tujuh bulan kehamilan anak pertamanya (bahasa Banjar, mandi baya).

AIR BERTUAH MAGIS JENIS LAIN
Masih ada air bertuah magis lain yang dikenal dalam tradisi etnis Banjar di Kalsel. Hanya saja air bertuah magis jenis lai ini tidak difungsikan sebagai sarana pengobatan alternatif, tetapi digunakan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi (disebut banyu randaman amas, dan banyu randaman pirak), dan untuk menangkal gangguan roh jahat pada saat orang-orang menanak nasi dalam jumlah besar untuk keperluan konsumsi pesta perkawinan (air jenis ini disebut banyu pangawahan).

BANYU RANDAMAN AMAS
Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman emas. Banyu randaman amas dibuat dengan cara merendam perhiasan emas ke dalam seember air tawar. Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman amas difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan. Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman amas ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

BANYU RANDAMAN PIRAK
Bahasa Banjar artinya air bekas rendaman perak. Banyu randaman pirak dibuat dengan cara merendam perhiasan perak ke dalam seember air tawar.
Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu randaman pirak difungsikan sebagai sarana untuk menyuburkan tanaman padi di persawahan. Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memercikkan banyu randaman pirak ke arah daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

BANYU PANGAWAHAN
Bahasa Banjar artinya air juru masak. Kawah, bahasa Banjar artinya wajan besar untuk keperluan menanak nasi, memasak sayur mayur, atau lauk pauk dalam jumlah banyak. Pangawahan adalah istilah untuk menyebut orang-orang yang bertugas sebagai juru masak di dapur umum pada saat diselenggarakannya pesta perkawinan atau perhelatan besar lainnya. Banyu pangawahan dibuat oleh seorang ulama dari air putih yang kemudian diberi kekuatan tuah magis tertentu dengan cara membacakan doa-doa tertentu, antara lain Ayat Seribu Dinar (teks doa yang terdapat dalam buku Senjata Mukmin karangan Husin Qadri Martapura).

Di kalangan etnis Banjar di Kalsel, banyu pangawahan difungsikan sebagai sarana untuk menangkal kedatangan makhluk gaib yang berwatak jahat ke lokasi dapur umum. Jika tidak ditangkal maka makhluk gaib yang berwatak jahat itu akan berbuat onar di dapur umum. Mereka akan ikut memakan nasi, sayur-mayur, dan lauk pauk yang sedang ditanak atau dimasak di dapur umum itu. Akibatnya fatal, para tamu undangan banyak yang tidak kebagian makanan, karena persediaan makanan di dapur umum akan habis dalam waktu yang relatif singkat.

Upaya pencapaian tujuan fungsional itu dilakukan dengan cara memasukkan banyu pangawahan ke tempat persediaan air yang akan digunakan untuk menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk. Kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk dalam jumlah banyak memang sangat riskan (penuh risiko). Sehingga untuk menyukseskannya perlu dilakukan upaya-upaya penangkalan tertentu.
Tujuannya supaya kegiatan menanak nasi, memasak sayur mayur, dan lauk pauk di dapur umur dapat berjalan dengan lancar tidak mengalami hambatan apa-apa. Nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang ditanak atau dimasak akan mencukupi untuk dihidangkan kepada para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan itu (berkecukupan, tidak kurang, apa lagi habis) (bahasa Banjar, harakat). 

Tanpa campuran banyu pangawahan, bisa saja terjadi, nasi, sayur mayur, dan lauk pauk yang disediakan dalam jumlah banyak bahkan melimpah ruah, ketika ditanak dan dimasak ternyata malah tidak cukup untuk menjamu para tamu undangan yang datang. Hal itu bisa saja terjadi jika di antara para tamu yang datang, banyak di antaranya adalah tamu tak diundang yakni makhluk gaib yang datang secara berbondong-bondong dari alam gaib sana.

Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Sastrawan dan dosen ilmu-ilmu sastra. Seorang peminat yang berusaha mengakrabi dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan tradisional etnis Banjar di Kalsel

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)