Tuesday, January 19, 2021

57 Hektar Tanah Wakaf yang Dikelola PP Muhammadiyah sebagai Ladang Sayur dan Buah


Pertanian menjadi sektor terpenting, bukan hanya di Indonesia, tetapi di setiap negara. Bagaimana mungkin manusia bisa menikmati menu-menu makanan jika sektor yang satu ini diabaikan. Untuk itulah, sudah menjadi rahasia umum bahwa petani adalah pahlawan pangan dunia.

Mengutip Laman Muhammadiyah, menggerakkan kedaulatan pangan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mulai menanam sayur dan buah-buahan di tanah wakaf seluas 57 hektar di Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Ahad (17/1/2021).

Terkait hal ini, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan pengolahan tanah wakaf harus dioptimalkan untuk kesejahteraan Persyarikatan, umat, dan bangsa.

Dirinya berharap, pengelolaan tanah wakaf berjalan produktif sehingga menjadi contoh bagi pengelolaan tanah wakaf di tempat lainnya.

Masih dari sumber yang sama, selain itu ia juga memiliki harapan lain, yakni mudah-mudahan ada sejumlah tenaga kerja yang terekrut dan terlibat di dalam pengelolaan lahan ini. Anwar yakin Insyaallah lahan ini secara pelan tapi pasti akan bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Di samping itu, Amirsyah Tambunan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia menambahkan bahwa pengelolaan tanah wakaf sebagai kebun produktif sangat dibutuhkan di tengah kesulitan pandemi Covid-19.

“Semoga Allah memberikan anugerah kepada kita semua khususnya warga persyarikatan dengan tanah yang subur ini. Kita butuh ketahanan pangan apalagi di tengah Covid-19,” ujarnya seperti terlansir media tersebut.

Dikabarkan pula bahwa tanah seluas 57 hektar tersebut merupakan wakaf dari Sutrisno, salah seorang warga persyarikatan. 


Monday, January 18, 2021

Puisi-Puisi Ibramsyah Amandit tentang Alam dan Kita


LINGKUNGAN

Kehidupan kitakah yang beranjak jauh
tanpa embun tanpa kuntum bunga dan burung-burung
lentur dahan-dahan di pagi sunyi
kedamaian dan nyaman alam sekitar?

Kehidupan kitakah yang beranjak jauh
salam yang jarang dan tegur sapa
dirangkul kasih sayang
dari lengan-lengan hutan yang rindang?

Kehidupan kitakah yang beranjak jauh
dari bisik nurani hati yang teduh
dari sepi dan gaduh yang membunuh diri
dari gelisah dan resah yang mati?

Kehidupan kitakah itu;
          - dari nikmat yang tiada mendekat
          dari hakikat yang tiada makrifat
yang belum menemukan
kemesraan
di mana-mana?

Tamban, 1973


PUNTIK: 1 LITER AIRMATA

Berbilang tahun jejak hujan
meracun lidah daratan
ragi meragi cuka

Kabut tanah rawa
kabut kekalkan duka
wajah kelam tungku benua

Medan kelakai *) di rumpun galam
dibunuhnya tekad peladang
tapi petarung tangguh;
oo, takkan mati dari dalam!

Pejuang-pejuang piring nasi
memasak 1 liter airmata
bersimbah rintih dengan doa
di Puntik, di Puntik...

Tamban, Mei 2005
*) sejenis pakis


MERATUS BERPESTA

cucu Buanca anak Imbi
mengotak-atik arti Bupati
disangkanya barang langka
permata berlian di etalase
terkurung di toko intan Martapura

Orang-orang ramai berdalih
yang di Belimbing yang di Remo
yang di Tihan yang di Angkipih
Siapakah mau menginjakkan kakinya;
"jalan kita berdanau berduri rumpun salak"

"Tumit sepatunya 30 tahun tak dikenali
raut wajahnya, bulat panjangnya
batang hidung dan bulu matanya"

Bulan Juni beredar kandidat nama
mereka amati susun hurufnya
mereka ramal jengkal langkahnya

Tebing jurang masih menganga
sebentar lewat pesan dan janji
bagai bumbu penyedap diusung baki

Bulan Juni;
Meratus pesta daging landak
bulunya ke matahari menjadi tombak!

Maninim, April 2005


HUTAN WANA RAYA

Hutan Wana Raya: air asam pepohon galam
pakis kelakai lahan-lahan bengkalai
purun tikus harapankah pupus?

ia masih di sana
tangan-tangan yang merana
tegang melambai lambaikan tegang
meski ladang-ladang ditinggal punya
meski jera-jera kecewa dera si punya

maka kaukah
juga melihat tangan-tangan melambai
mendengar jerit-jerit
berderai
bersahutan bersahutan bersahutan
di pinggir hutan di tengah hutan di ujung hutan
pilu iba disimpan simpanan hutan
membibir iba membagi pesan
seperti jerit-jerit iba seperti lambaian-lambaian iba

karena:
derita hutan sudah mengiba-iba
!

Tamban, Februari 2008


Tentang Penyair


Bernama asli H. Ibramsyah. Dalam dunia puisi ia menggunakan nama pena Ibramsyah Amandit dan di kalangan sastrawan Kalsel dirinya lebih dikenal dengan sebutan si Janggut Naga.

Mulai menulis sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1971 ia aktif dalam diskusi dan pembacaan puisi Persada Club Yogyakarta di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi. 

Di samping rajin menulis puisi ia juga rajin mendalami ajaran tasawuf melalui guru-gurunya yaitu: KH Gusti Abdussamad, KH Ramli Tatah Daun, KH Ahmad Arsyad, KH Muhammad Nur Tangkisung, KH Sam’ani, Guru H. Basman Tinggiran, KH Abdul Mu’in yang membaiatnya dalam Thariqat Akhirul Zaman, dan KH Muhammad Zaini Ghani yang membaiatnya dalam Thariqat Syamaniah.

Keakrabannya di dunia tasawuf membuat hampir seluruh puisinya kental dengan pemikiran tasawuf. Hal ini dapat kita lihat dalam setiap puisinya yang pernah dimuat dalam berbagai media.. Di antaranya yang dimuat di Mercu Suar Yogya (1971), Sampe Balikpapan (1978), Banjarmasin Post Banjarmasin, (1980-an).

Puisi-puisinya juga pernah dimuat dalam antologi puisi bersama antara lain Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Rumah Sungai (1997), Jembatan Asap (1998 ), La Ventre de Kandangan (2004), Sajak-Sajak Bumi Selidah (2005), Seribu Sungai Paris Berantai (2006), Cinta Rakyat (2007), Tarian Cahaya di Bumi Sanggam (2008), Doa Pelangi di Tahun Emas (2009), Konser Kecermasan (2010), Menyampir Bumi Leluhur (2010), Seloka Bisu Batu Benawa (2011), Kalimantan Dalam Puisi Indonesia (2011), Sungai Kenangan (2012), Tadarus Rembulan (2013), dan dalam Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014). Buku kumpulan puisinya Badai Gurun dalam Darah (Penerbit Tahura Media, Banjarmasin, 2009).

Ibramsyah Amandit juga telah menerima beberapa penghargaan antara lain, Penghargaan Seniman Sastra dari Kantor Wilayah Dep. Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan (1990), Penghargaan Seniman Sastra dari Bupati Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan (2006), Penghargaan Hadiah Seni bidang Sastra dari Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (2009), dan Penghargaan Astaprana dari Kesultanan Banjar (2013).

-------------------------------------

Sumber tulisan: buku Badai Gurun dalam Darah
Sumber foto penyair: Facebook
Sumber ilustrasi: Pixabay


Sunday, January 17, 2021

Hal-Hal yang Harus Anda Perhatikan saat Banjir



Hidup dan kehidupan tak lepas dari hukum-hukum yang berlaku secara tegas di alam nyata. Hukum kausalitas, misalnya, si A meninggal dunia karena serangan jantung. Atau, dapat kita saksikan daun mangga yang jatuh sampai di tanah sebagai contoh hukum gravitasi. Begitu pula banjir terjadi oleh sebab-sebab seperti penebangan hutan secara besar-besaran, penyempitan sungai, pendirian bangunan yang tidak ramah lingkungan, dan lain sebagainya.



Semua itu menjadi akar permasalahan yang harus dicabut jika ingin mengatasi banjir secara maksimal. Tentu saja mencabutnya bukanlah perkara mudah. Nah, sebagai langkah sederhana, ada hal-hal yang harus Anda perhatikan saat banjir terjadi. 

Pertama, sampah. Agaknya setiap kali terjadi banjir, sampah menjadi gerbong utama yang tertarik oleh permasalahan alam ini. Betapa tidak? Air yang menggenang membuat sampah-sampah mengapung. Ditambah adanya arus air, maka sampah menyebar ke mana-mana. Bukan sekadar merusak pemandangan, sampah juga menjadi permasalahan tersendiri bagi korban banjir. Mulai dari gatal-gatal hingga penyakit yang lebih serius. Tak ada jalan lain, Anda harus mengatasinya jika tak ingin terdampak penyakit-penyakit seperti itu.

Kedua, barang-barang elektronik. Ini tidak hanya terkait listrik, air saat banjir dapat menyebabkan kerusakan barang-barang elektronik Anda. Segera pindahkan ke tempat aman. Seandainya sudah terlanjur basah, keringkan hingga benar-benar kering sebelum menggunakannya kembali. 

Ketiga, tanaman. Meski ada tanaman yang tahan air, ada tanaman-tanaman yang sangat tidak tahan air. Sebutlah tanaman cabai, tomat, dan seledri. Untuk menyelamatkan tanaman-tanaman tersebut, Anda dapat meletakkan semuanya di tempat yang lebih tinggi. Jerigen, kursi, atau rak bunga menjadi pilihan yang dapat Anda gunakan sebagai upaya penyelamatan ini.

Keempat, alas kaki. Sandal atau sepatu Anda menjadi sasaran empuk oleh banjir. Bisa jadi sandal Anda larut terbawa arus banjir sampai jauh. Ada dua kemungkinan, tidak dapat ditemukan atau masih bisa menjadi alas kaki Anda. Maka, segera amankan di tempat yang semestinya.

Masih banyak lagi yang perlu Anda perhatikan saat banjir, khususnya kesehatan agar tidak sakit. Jaga daya tahan tubuh Anda dengan pola hidup sehat semisal tetap berolahraga teratur dan mengonsumsi makanan yang sehat. 


Saturday, January 16, 2021

Puisi-Puisi Sus S. Harjono dalam Jentera Terkasa



DESEMBER

Kutemukan kini, tempat paling sunyi
kulabuhkan segala perjalanan
tetapi, perahu itu ah
mengingatkan aku pada tempat-tempat jauh!

Tetapi kini, telah kulipat layar
menjadi alas peraduanku, kini dan entah nanti
bersamamu,
kuronce bunga-bunga meski tak lagi punya warna
dan aroma itu ah, mengingatkan aku
pada taman-taman

Kudapati di sini pada Desember
kau pinang segala musim-musim lalu, kini
lewat cakrawala kuterima pesan burung-burung
yang lama terbang tinggalkan
tinggal di tempat ini,
bayangan serpihan pengabdian
membunuhku dalam kuning janur-janur
menghiasi tidurku

sementara aku istirahat di sini
menemukan kasih-Mu
akan kuubah segala penderitaan
dengan kekuatan doa
antara kepasrahan dan kenisbian
di sisi dua manusia mencoba melampaui batas-batas
langit dan cakrawala
dan akan kukembalikan kebimbangan ini
pada-Mu ya Rabbi

Kucari api-Mu
menghangati gigil nurani
perkawinan ini
dengan matahari-Mu
di beku musim Desember-Mu

Sragen, Februari 1998


SAJADAH I

Adalah daun-daun-Mu
ranting-ranting-Mu
akulah burung-burung yang menggigil
terperangkap Musim
Sunyi dan Kegelapan
langit di tanahku berbaring
kabut asap menyesak
Dadaku sesak
Burung-burung yang menggelap
menggelepar mencari ranting kering
kubaringkan resah dan gelisah
di bebatuan-Mu
candi-candi-Mu
kuusung doa-doa
kubawa kembang dan dupa
membumbung tinggi ke Langit bencana

Kubentangkan sajadah ini
di atas permadani rerumputan tak lagi hijau
di atas iga-iga menancap tonggak-tonggak
baja di dada kami
dan ladang-ladang yang hilang
kebun-kebun tumbuh bunga uang
utang-utang tak terlunaskan
tak lagi biru warna langit kami
airmata mengalir perih


DONGENG

Antara tidur dan jaga
Sunyi menemani malam
sayup terdengar
kau mendongengkan tentang kelicikan kancil
dan kerakusan srigala

menelan malam-malammu,
memakan lautmu, gunung, tanah, darah, keringat
dan seluruh suaramu itu,
hingga kau cuma diam dan berpasrah diri
menyerah di tikar Ilahi
karena segala tangkas dan kaki
terjerat janji,
termakan hutang-hutang tak terlunaskan

sampai malam tenggelam
kau masih dalam buaian Bunda
yang perkasa
hutan, gunung, sawah, lautan
di Rahimnya,
tetapi mengapa tak bisa menyembuhkan Duka
bulan pasi menemani
seekor kancil berlari-lari dalam Taman
aku berusaha mengusirnya pergi
sebelum pergi
tetapi di ujung pagi, ganti Srigala melumat bulan

Bulan hilang,
Jagat tanpa caya
gelap
kancil dan srigala muncul di dada berlumur darah
merah segar habis melumat Bulan
cerita tak pernah berakhir, dongeng-dongeng Ibu menjelang
tidur kita

Sragen, Maret 1998


Tentang Penyair


Sus S. Harjono lahir di Sragen. Puisinya dimuat di berbagai media massa, di samping terikutsertakan dalam antologi Refleksi Setengah Abad, Indonesia Merdeka, Antologi Puisi Indonesia, Kepodang, dan lain-lain.

-----------------------------------------------------

Sumber tulisan: Jentera Terkasa (Kumpulan puisi penyair Jawa Tengah)

Sumber foto penyair: Facebook

Sumber ilustrasi: Pixabay






Puisi-Puisi Ariadi Rasidi dalam Jentera Terkasa




KETIKA SEMBAHYANG

Ketika muazin meniup peluit panjang
maka roda pun meninggalkan jejak
menuju mu
hapus segala keluh kesah angkara murka

senyap merambat di kamar pengapmu
dari atas sajadah tua
untaian doa menyapamu
sepanjang perjalanan

lalu lintasan peristiwa mengalun dalam desah
panjang-panjang sekali
melengking-lengking
menguak matahari dari genggaman rembulan

aku hadir Bapak
setelah sekian lama
melupakan mu


CATATAN DI TENGAH KOTA

Ingin kutumpahkan tentang gelisah hati
ketika berseling tanya pada angkasa raya
mengapa udara kelihatan cerah berseri
lalu turun ke kota jadi bencana
sedikit udara bersih bagi umat manusia

kumencari jawab pada semilir angin
pada tiupan warna jelaga dari knalpot dan
cerobong pabrik lalu kuingat gagahnya pegunungan
yang menjulang
mengenang pohon-pohon dan rerimbunan daun

Oi, burung-burung pun menukik membagi warta
dari pohon dan gemerisik daun awal kehadirannya
kian banyak kian sempurnalah angkasa raya
lalu kusadari kotaku pun harus hijau
betapa sehat anak bangsa menghirup semilir anginnya

Temanggung, 1998


Tentang Penyair



Ariadi Rasidi lahir di Purwokerto. Menulis sejak 1985, dimuat di Bahari, Suara Merdeka, Mutiara, Swadesi, dan lain-lain  Antologi puisi yang memuat karyanya antara lain, Menoreh 1,
Menoreh 2, dan Antologi Puisi Kaliprogo. 

----------------------
Sumber tulisan: Jentera Terkasa (Kumpulan puisi penyair Jawa Tengah) 

Sumber foto penyair: Facebook

Sumber ilustrasi: Pixabay



Thursday, January 14, 2021

Rosyidi Aryadi, Penyair Isen Mulang dari Bumi Seribu Sungai


Judul di atas mungkin sangat kental dengan lokalitas. Benar saja demikian karena menyangkut dua tempat atau wilayah di Pulau Kalimantan. Tempat pertama adalah Kota Palangka Raya yang bersemboyan "Isen Mulang". Semboyan Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah ini diambil dari bahasa Sangen yang berarti 'pantang mundur'. 

Sementara yang kedua adalah julukan untuk Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki banyak sungai dengan multifungsi bagi kehidupan penduduknya. Lantas, bagaimana ceritanya sehingga penyair yang satu ini dihubungkan dengan kedua wilayah tersebut?

Berikut hasil wawancara dengan Rosyidi Aryadi. Artikel ini agak panjang, tapi yakinkan diri Anda untuk membacanya sampai tuntas.

Secara singkat, bagaimana alur migrasi aktivitas bersastra Bapak dari Kalimantan Selatan hingga di Ibukota Kalimantan Tengah?

Awalnya di Kota Banjarbaru. Kemudian aktif seutuhnya di Banjarmasin. Waktu sekolah sudah menempel puisi di mading (majalah dinding), lalu ke koran lokal, kemudian ibukota (Jakarta). Sekarang di media sosial dan di Palangka Raya.

Hampir sepuluh tahun saya tinggal di Palangka Raya dan baru aktif akhir 2019, yakni dengan berpuisi kembali. Saya hampir tenggelam, namun dari titik nol akhirnya bisa bangkit dan perlahan dengan pasti di jalan sastra ini. 

Tepatnya Januari 2012, saya mulai menetap di Palangka dan akibat kesibukan yang tak berhubungan dengan sastra, menjadikan keterampilan bersastra saya tumpul dalam rentang waktu hampir sepuluh tahun itu. Ya, terbuang energi dan sia sia. Beruntung ada suntikan para penyair Kalimantan Selatan yang menjadi pemicu lagi buat saya untuk berkarya. Doakan semoga tetap bersastra sampai kapan pun jua.

Apa saja aktivitas perpuisian yang Bapak lakukan sebagai kerja sastra selama di Palangka Raya?

Saya pernah tampil jadi bintang tamu di SMA Muhammadiyah 1 dekat dengan kampus UMP (Universitas Muhammadiyah  Palangka Raya) dalam acara Pentas Seni dan Bincang Sastra ke 17. Saat itu saya tampil bersama dua Narsumber yang dipandu oleh Cak Iful dan Kartika, serta ada Luwis YB Band. 

Selain di sastra, saya juga punya kawan di komunitas lukis, tari, teater, dan musik. Misalnya, saya punya kawan bernama Luwis YB. Ia pemusik yang sering tampil di Cafe 031 Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya. Nah, dalam pertemanan tersebut, muncul rencana puisi saya akan digubah ke musik menjadi musikalisasi puisi. Saat ini masih dalam tahap penjajakan dan pembahasan lebih lanjut.

Di samping itu, saya sudah mendirikan Komunitas Pegiat Literasi Palangka Raya. Kemudian, saya menjadi Ketua/Koordinator HP3N (Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara) Provinsi Kalimantan Tengah, Pusatnya di Batu, Malang, Jawa Timur. 

Sedang dalam media sosial selama di kota ini, saya menjadi anggota grup medsos Habar Kalimantan Tengah. 

Apa yang paling berkesan bagi Bapak selama bersastra?

Pembacaan puisi karya saya oleh penyair-penyair andal. Contohnya, dengan diiringi musik sape'/sampek Dayak Ngaju dan latar tempat Palangka Raya, penyair Fahmi Wahid dan Ali Syamsuddin Arsy dari Kalsel berkolaborasi membacakan puisi karya saya. 

Pernah juga dua puisi saya, yakni Tumbang Keabadian dan Kota Cahaya, dibacakan penyair Kotawaringin Timur, Dyah Nkusuma.

Lalu, sudahkah terhimpun puisi-puisi Bapak sejak di Kalimantan Selatan hingga saat ini?

Banyak arsip dahulu sudah tidak ada lagi. Sebutlah puisi karya saya pada tahun '80-an. Arsip yang ada beberapa puisi saja. Meski demikian, saya masih menelusuri arsip lainnya seperti lewat dokumentasi koran-koran yang pernah memuat puisi saya dulu.

Selama di Palangka Raya, sudah berapa sastrawan Kalimantan Tengah yang menjadi teman/rekan Bapak dalam bersastra?

Ada enam orang, yakni Deddy Setiawan dari Kabupaten Sukamara, Mbak Dyah Nkusuma dan Marselina dari Kabupaten Kotawaringin Timur, Karim dan Almuna dari Kabupaten Murung Raya, serta M Alimulhuda dari Palangka Raya. 

Sebenarnya saya tahu ada lagi sastrawan dari Kabupaten Kapuas, tapi belum kenal.

Sebagai penutup, harapan apa yang menjadi impian Bapak dan idealnya dapat diwujudkan dalam kehidupan sastra di Kalimantan Tengah?

Saya rasa harus ada kegiatan sastra paling tidak seperti di Mingguraya Banjarbaru, Panggung Seni khusus untuk seniman yg ada di Palangka Raya dan Kab/Kota se-Kalimantan Tengah untuk menampilkan kreasinya agar tercipta suasana yang harmonis bagi pegiat seni dan pemerintah daerah.

Demikianlah hasil wawancara dengan Rosyidi Aryadi, penyair Iseng Mulang dari Bumi Seribu Sungai. Semoga bermanfaat. 


Wednesday, January 13, 2021

Sastrawan Kalsel Generasi 1990—1999 (Pewaris Zaman Orde Baru 1990—1998 hingga Awal Reformasi 1998—1999)


Oleh Tajuddin Noor Ganie

 

Fenomena Sastra Pers 

Selama kurun waktu 1990—1999, pelampiasan gairah bersastra di Kalsel didukung oleh 3 buah koran yang membuka rubrik sastra secara berkala, yakni.
1.    SKH Banjarmasin Post, 1970—kini
2.    SKH Media Masyarakat 
3.    SKH Dinamika Berita 

Semua koran terbitan Banjarmasin di atas, tanpa kecuali, secara langsung maupun tidak langsung telah menciptakan situasi yang kondusif bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel generasi perintis zaman orde lama 1990—1999. Selain itu, sastrawan Kalsel sezaman juga aktif mempublikasikan karya sastranya di berbagai koran/majalah terbitan luar daerah, yakni.
1.   SKH Jawa Pos Surabaya
2.   SKH Surabaya Pos Surabaya
3.   SKH Surya Surabaya
4.   SKM Swadesi Jakarta
5.   SKM Simponi Jakarta
6.   Majalah Ceria Jakarta
7.   Majalah Aneka Jakarta
8.   Majalah Mode Jakarta
9.   Majalah Horison Jakarta
10. Majalah Bahana Bandar Seri Begawan
11. Radio Jerman (Deutzs Welle)
 

Fenomena Sastra Buku

Antologi Puisi Pribadi
1.   Bulan di Atas Rawa, Dewi Yuliani, 1990. Banjarmasin
2.   Surat Merah Jambu Bagi Desmon George, Dewi Yuliani, 1990. Banjarmasin
3.   Puisi Perjuangan, 1990, Banjarmasin
4.   Tek Nong, Eddy Wahyuddin, SP, 1990. Banjarmasin
5.   Sel, Jamal T. Suryanata, 1990. Banjarmasin
6.   Ketika Bulan Jatuh, Eddy Wahyuddin SP. 1991. Banjarmasin
7.   Kemana Harus Melangkah, Ismail Wahid, 1991, Barabai
8.   Di Bawah Langit Beku, YS Agus Suseno, 1991. Banjarmasin
9.   Catatan Perjalanan, Abdussyukur MH, 1992. Banjarmasin
10. Gerhana Separuh Bayang, Eddy Wahyuddin SP, 1992. Banjarmasin
11. Tafsir Rindu, Ali Syamsuddin Arsy, 1992. Banjarmasin
12. Epigram Rindu, Eddy Wahyuddin SP, 1992. Banjarmasin : HIPSI Kalsel
13. Krematorium Kota, Suryani Giri, 1992, Kandangan
14. Sajak Sepanjang Trotoar, Jamal T. Suryanata, 1992. Banjarmasin
15. Topeng Kota Pendaki, Jamal T. Suryanata, 1992. Banjarmasin
16. Ampas, Eddy Wahyuddin, SP, 1993. Banjarmasin
17. Clurit Dusun, Eza Thabry Husano,  1993. Banjarbaru
18. Catatan Bawah Tanah, M. Fadjroel Rachman, 1993. Jakarta
19. Dalam Penantian Panjang, Abdussyukur MH, 1994. Banjarmasin
20. Kisi Kisi Hidup, Andi Amrullah, 1994, Banjarmasin
21. Angin Tutus, Eddy Wahyuddin, SP. Banjarmasin
22. Senja, Hamami Adaby, 1994, Marabahan
23. Bunga Rampai di Lembah Sebatung, Agits Kursani, KA. 1995. Kotabaru
24. Catatan Bawah Tanah, M. Fadjroel Rachman, 1994. Jakarta
25. Potret, Misbach Munir Achdi, 1994. Barabai.
26. Catatan Perjalanan, Misbach Munir Achdi. Barabai. 1994
27. Ulat Daun, Eddy Wahyuddin, SP. 1995. Banjarmasin
28. Perjalanan Senja, Ismail Wahid, 1995. Barabai
29. Kebun di Belakang Rumah, Maman S. Tawie. 1995. Banjarmasin
30. Aerobik Tidur, Eza Thabry Husano,  1996. Jakarta
31. Sepi, S. Surya, 1996. Banjarmasin
32. Doa Kepompong, Suryani Giri, 1996,  Kandangan
33. Kembara, Hardiansyah Asmail, 1997. Kandangan
34. Sajak Sajak Burung Negeriku, S. Surya, 1997. Banjarmasin
35. Nyanyian Seribu Sungai, S. Surya, 1998, Banjarmasin
36. Desah Tiga Kota, Zainal Arifin, 1998, Kandangan
37. Banua Kita, Ismail Wahid, 1999, Barabai
38. Locus, Suryani Giri, 1999. Kandangan 
 
Antologi Puisi Bersama
1.   Harkat Kemanusiaan, 1990, Banjarmasin
2.   Puisi Perjuangan, 1990, Banjarmasin
3.   Puisi Keprihatinan Sosial, Ajamuddin Tifani dkk, 1990. Banjarmasin
4.   Tamu Malam, 1992. Banjarmasin : HIMSI Kalsel Banjarmasin
5.   Festival Puisi Kalimantan, Tajuddin Noor Ganie (Editor), 1992. Banjarmasin:         Penerbit HIPSI Kalsel.
6.   Bosnia dan Flores, 1993. Banjarmasin
7.   Tembang Sungai Lirik, 1993, Marabahan
8.   Bunga Api, 1994. Banjarbaru : Kanwil Deppen Kalsel
9.   Rimbun Tulang, 1994, Marabahan
10. Ritus Kata Ritus Warna, Adjim Arijadi dkk,  1994. Bandung
11. Jendela Tanah Air, 1995. Banjarmasin : HIMSI Kalsel
12. Tadarus Puisi, 1995. Banjarmasin
13. Bahalap, 1995, Marabahan
14. Potret Diri, 1995. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
15. Antologi Puisi Islami Al Banjari, 1996, Banjarmasin
16. Rumah Hutan Pinus, 1996. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha 
17. Kesaksian, 1996. Kotabaru
18. Pelabuhan, 1996. Marabahan
19. Duri Duri Tataba, 1996. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
20. Gerbang Pemukiman, 1997. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha 
21. Rumah Sungai, 1997. Marabahan
22. Bentang Bianglala, 1998. Banjarbaru : Kilang Sastra Batu Karaha
23. Kesaksian, 1998. Banjarmasin
24. Gardu, 1998. Marabahan
25. Jembatan Asap, 1998. Marabahan
26. Semata Sayang Semata Wayang, 1998. Tanjung : Dewan Kesenian Tabalong
 
Antologi Cerpen Pribadi
1. Sang Itik dan Sang Warik, Harun Al Rasyid, 1991 
2. Dongeng Dongeng Musim Libur, Iwan Yusi, 1992
3. Lidah, Yefigrata S Grafutin, antologi cerpen, Jakarta, 1994
 
Antologi Cerpen Bersama
1. Cerita Rakyat Kalimantan Selatan 2, Djarani EM, Burhanuddin Soebely dan Iwan Yusie, 1997. Jakarta : Grasindo
2. Nyanyian Alam Pedalaman, Hadian Noor dan Tajuddin Noor Ganie, 1999.  Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Berkaitan dengan penerbitan antologi cerpen bersama ini, Hadian Noor dan Tajuddin Noor Ganie merupakan sastrawan Kalsel pertama yang berhasil menerbitkan antologi cerpen bercorak modern di luar daerah. 

Roman/Novel
1. Ketapel, Djarani EM, 1994. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
2. Anak Anak Balai, Iwan Yusi, 1994
3. Misteri Padang Galam, Iwan Yusi, 1995. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
4. Mungkur Kambing, Iwan Yusi. 1995. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
5. Untuk Sebuah Pengabdian, Jamal T. Suryanata, 1995. Jakarta: Balai Pustaka
6. Bawanang, Hardiansyah Asmail, 1996. Kandangan
7. Kabut Murungkayu, Iwan Yusi. 1996. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
8. Anak Anak Balai, Iwan Yusi. 1997. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
9. Legenda Batu Bua, Zainal Arifin, 1998. Kandangan
 
Antologi Esai Sastra
1. Benih Dakwah di Ladang Puisi, Bachtar Suryani, 1990. Banjarmasin
2. Mendulang Tauhid di Arafahnya Andi Amrullah, Bachtar Suryani, 1990,  Banjarmasin
3. Dengus Sastra di Kalimantan Selatan. Ian Emti, 1992. Banjarmasin: HIPSI Kalsel
4. Tarian Puisi. Ian Emti, 1992. Banjarmasin: HIPSI Kalsel.
 
Elite Sastrawan 
Berdasarkan bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh tim Puskajimastra Kalsel Banjarmasin diketahui bahwa jumlah elite sastrawan Kalsel generasi penerus zaman orde baru 1990—1999 ada sebanyak 86 orang, yakni.

1.    Aan Maulana Bandara

2.    Abdus Syukur MH

3.    Abi Dasufa

4.    Agna Dinnah Lantria

5.    Ahmad Syamsuri Barak

6.    Aliansyah Jumbawuya

7.    Aliman Syahrani

8.    Alin M. Solichin

9.    Alipir Budiman

10.    Aria Patrajaya

11.    Arief Rahman

12.    Asna Sepriawati

13.    Asdin Vamaton

14.    Asiaman Z

15.    Bachruddin Sastra

16.    Badruddin Noor

17.    Bajau Malela

18.    Bambang Rukmana

19.    Bihman Rio Pratama

20.    Birhasani Ismail

21.    Dewi Yuliani

22.    Elang W. Kusuma

23.    Eman Hermansyah Sastrapraja

24.    Erhan Effendi

25.    Fajar Gemilang

26.    Fitriyadi

27.    Fitriansyah

28.    G. Syswanto

29.    Ganis Adiatmo

30.    Hadian Noor

31.    Hairoman Hairan

32.    Helwatin Najwa

33.    Husin Nafarin

34.    Ifna Junaidi

35.    Imelda Fitriyani

36.    Ilmanuddin

37.    Irhamna

38.    Jamal T. Suryanata

39.    Jauhari Effendi

40.    Junaidi NA

41.    Kamila

42.    Lieta Dewi Novianti

43.    Lilis Martadiana

44.    Lismaya Ratu Hasanah

45.    M. Fadjroel Rachman

46.    M. Hasbi Salim

47.    M. Junaidi

48.    M. Suriani Siddik

49.    Mila

50.    Mira W. Rahman

51.    Misbach Munir Achdi

52.    Muhammad (Anjir)

53.    Muhammad (Kotabaru)

54.    Muhammad Idi Anshari

55.    Muhammad Noor

56.    Muhammad Rusmadi

57.    Muniriadi

58.    Nenden Riananda Siska

59.    Nonon Djazouly

60.    Norhikmah

61.    Nurul Karlina Hidayati

62.    Obar Sobari

63.    Oejiono

64.    Rahmatiah

65.    Rosmayati

66.    Rudi Ante

67.    Rudi Setyawan

68.    Rusman

69.    Sadik Ikhsan

70.    Sandi Firly

71.    Seroja Murni

72.    Shah Kalana

73.    Siti Zuraida

74.    Suriansyah

75.    Surya Ahdiat

76.    Suryani Giri

77.    Syachri TS

78.    Syahrani AR

79.    Taufiqurrahman

80.    Tantular

81.    Udien Adiezt

82.    Uniek Mulyaning Sari

83.    Wahyudi

84.    Zainal Abidin

85.    Zainul Mullah

86.    Zulfaisal Putra