Thursday, January 3, 2019

Puisi-Puisi Ariadi Rasidi dan Yanti S Sastroprayitno




Puisi-Puisi Ariadi Rasidi

Hutan Jumprit Satu Pagi

Angin bukit mengembus sejuk nyaman
sinar ultra violet memancar segar
menerobos gerumbul daun pinus mahoni
reranting bergesek melantunkan simponi pagi
embun pun mendendangkan kidung perpisahan
“Selamat tinggal pagi”
lalu menguap meninggalkan pucuk-pucuk daun

Kera menggelantung di reranting pohon
menyongsong pelancong yang berdatangan
burung-burung pun berkicau riang
karena masih banyak pepohonan tempat bersarang

Hutan Jumprit hutan di lereng gunung Sindoro
akar-akar gemulai menjalar melilit dalam tanah
menahan erosi  jadi mata air muara Kali Progo
air berkah bagi kehidupan makhluk Illahi

Bawah hutan air mengalir segar
meliuk-liuk membentuk sungai
basahi tanah regosol coklat muda
merasuk segarkan akar-akar
tunas-tunas pun ikut melambai
nun jauh di sana lagu cangkul membentur sawah
diayun berpasang-pasang tangan kekar petani

Temanggung, 2016


Nyanyian Sungai

Berawal dari kaki gunung rimba perawan
melewati kelokan demi kelokan
sungaiku mengalir
meliuk-liuk dari hulu ke hilir

Batang-batang padi senang
ikan-ikan menari-menari riang
bersama dendang air sungai yang datang
harapan petani jadi mengawang-awang

Gemercik air melahirkan simfoni
terus mengalir menderas menuju samudera biru
sesekali menerpa batu-batu
memberi berkah makhluk Ilahi.

Temanggung, 2016




Ariadi Rasidi, lahir di Purwokerto. Menulis puisi sejak tahun 1980-an. Puisi-puisinya terdokumentasi di beberapa antologi puisi bersama diantaranya Antologi Puisi Tifa Nusantara 2, Antologi Puisi Progo 1, 2 dan 3, Antologi Puisi Ambarawa Seribu Wajah, Antologi Puisi Arus Puisi Sungai, dll. Di Dewan Kesenian Daerah Temanggung sebagai ketua komite sastra. Saat ini sedang berporses menggiatkan denyut sastra di Kabupaten Temanggung melalui komunitas Keluarga Studi Sastra 3 Gunung (KSS3G) Temanggung. Bertempat tinggal di Dusun Kampung RT 01/1 Desa/Kecamatan Kaloran, Temanggung.  Alamat Pos-el: ardiras53@gmail.com.

--------------------------------------------------

Puisi-Puisi Yanti S Sastroprayitno

Hutan Impian

Langkah-langkah kecil gemerisik
meningkah dedaunan mblasah* di tanah basah
sejuknya embun mengalun di dedaunan rimbun
sinar mentari kesulitan mengintip di sela reranting

Kicau burung berdendang riang
bersautan suara aneka satwa bergema
sungguh harmoni alam tengah berkumandang
melantunkan syukur pada Sang pengatur

Langkah tersita terkesima
sejuknya hawa meresap ke dasar jiwa
ketentraman melingkup semesta
memeluk raga yang kian menua
lamat-lamat gemercik air
sungguh bagaikan sihir
laksana jiwa baru terlahir

Hai
di manakah aku berada
di bumiku atau di negeri antah di mana
pepohonan tinggi menjulang tak terkira
sulur-sulur bertautan merenda asa
bersinergi dengan alam semesta

Sebongkah batu terantuk ujung kaki
terjagalah aku dari mimpi
tak ada lagi hutan rimba riuh marga satwa
semua termakan napsu angkara
tinggalkan alam merana

tak ada lagi hutan hijauku
menyisakan asap yang menyesak dada setiap waktu
hamparan tanah gersang menangis pilu
merindu kedamaian hutanku
bilakah negri ini mampu menuju

Semarang, 20 Juli 2016

*mblasah: bertebaran di mana-mana ( Jawa)


Menuju Muara

Ingin kularung semua lipatan waktu
yang penuh goresan kelabu
yang menorehkan gurat di kanvas hidupku
bersama deras arusmu
agar tak lagi kujumpa
perih dendam dan luka
amarah dan semua prasangka
lesap hanyut tak tertinggal di jiwa

Mengalir tenang seperti arusmu
tak pernah melawan saat terantuk batu
menepi berkelit mencari celah
sabar tenang bertemu bendungan
saat terlampaui
kembali mengalir mengikuti gravitasi

Ingin kubasuh semua noda berpeluh
pada riakmu yang gemericik riuh
agar hanyutlah semua debu
yang mengotori hati dan jiwaku
karam dalam alunmu
terhanyut dan diam

Hingga saat menuju muara
tak ada lagi luka
tak ada lagi amarah dan dendam membara
hanya kepasrahan
dalam naungan cinta

Semarang, 2 Maret 2016



Yanti S Sastroprayitno. Terlahir dengan nama Sriyanti (Sragen, 5 Februari 1969). Menyelesaikan S1 dan S2 di Jurusan Kimia, FMIPA UGM. Sekarang mengajar di Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro (1994-sekarang). Pernah memenangkan lomba menulis esai untuk cerita bersambung di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat tahun 2006. Menulis artikel kesehatan, wanita, dan cerpen di media berbahasa Jawa Panjebar Semangat dan Jayabaya. Puisi-puisinya dimuat dalam antologi bersama antara lain, Sang Peneroka (2014), Cinta Magenta (2015), Untuk Jantung Perempuan (2015), 1000 Newhaiku Indonesia (2015), Kitab Karmina Indonesia (2015), Puisi Menolak Korupsi 5 (2015), Dari Negeri Poci 6 (2015), Memo Anti Terorisme (2015),  Arus Puisi Sungai (2016), dan Puisi Peduli Hutan (2016).


PAKASIH, PUISI BANJAR GENRE LAMA BERCORAK MANTRA


ETIMOLOGI DAN DEFINISI
Secara etimologis Pakasih berasal dari kosakata bahasa Banjar kasih, artinya kasih.
Pakasih adalah mantra Banjar yang difungsikan sebagai sarana magis untuk mengguna-gunai lawan jenis agar menjadi semakin bertambah kasih kepada penggunanya.
Ciri utama pakasih terletak pada adanya kosakata yang berkonotasi permohonan agar lawan jenis pengguna menjadi semakin bertambah kasih kepadanya.
Pakasih hampir mirip bentuk dan fungsinya dengan papikat.  Bedanya, objek mantra yang dituju dalam pakasih bersifat perseorangan (sudah jelas si anu), sedang objek mantra yang dituju dalam papikat masih bersifat umum (siapa saja).

CONTOH-CONTOH PAKASIH

PAKASIH LAWAN JENIS (1)
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Tikna tiknu hatinya hatiku
Yaitu katanya kukang
Sali inya kawa bapisah
Kukang laki kukang bini
Maka inya hanyar kawa
Bapisah lawan diaku
Tikna tiknu hatinya hatiku
Yaitu katanya (sebut nama)
Sali inya kawa bapisah
Tuan lawan budaknya
Maka inya hanyar kawa
Bapisah lawan diaku
Barakat Laa Ilahaa Illallah
Muhammadarrasulullah
(Ismail dkk, 1993:149)

PAKASIH LAWAN JENIS (2).
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Panahku panah Arjuna
Kupanahakan ka gunung
Gunung runtuh
Kupanahakan ka sungai
Sungai karing
Kupanahakan ka angin
Angin tamandak
Kupanakahan ka burung
Burung tagagur
Kupanahakan lawan
Si ….… (nama orang)
Rabah rubuh imannya
Kapada diriku
Barakat Laa Ilahaa Illallah
Muhammadarrasulullah
(Ismail dkk, 1993:149)

Pakasih lawan jenis adalah mantra Banjar yang difungsikan sebagai sarana magis untuk mengguna-gunai lawan jenis agar menjadi semakin bertambah kasih kepada penggunanya. Upaya pencapaian tujuan fungsional Pakasih di atas itu dilakukan dengan cara yang bersangkutan membacakannya di dalam kamar. Selain itu untuk memperteguh upaya magisnya itu maka pada saat membacakan Pakasih dimaksud yang bersangkutan harus memandangi potret diri lawan jenis yang diguna-gunainya.
Dalam praktek fungsionalisasinya di lapangan, Pakasih di atas harus dibaca ulang secara utuh dalam hitungan ganjil 3,5,7 dst. Praktek pembacaan ulang yang demikian itu menjadikannya sebagai puisi bebas yang berulang penuh secara keseluruhan (repitisi utuh yang berulang penuh).
Selain membaca Pakasih dan memandangi potret diri lawan jenis yang diguna-gunainya, seseorang juga lajim memanfaatkan tuah magis yang terdapat pada batu kacubung, buluh parindu, minyak balincung, minyak kijang putih, minyak kukang, atau minyak kuyang sebagai sarana magis untuk membuat lawan jenisnya menjadi bertambah cinta, bertambah kasih, bertambah sayang, dan selalu merindukan kehadirannya (bahasa Banjar, karindangan).
Batu Kacubung, bahasa Banjar artinya batu Kecubung. Batu Kacubung adalah sejenis batu alam berwarna ungu. Termasuk barang hasil tambang yang banyak ditemukan di perut bumi daerah Kalsel. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai mata cincin (laki-laki) atau buah kalung (wanita).
Buluh parindu, bahasa Banjar artinya bambu yang dapat membuat orang lain menjadi rindu. Buluh parindu adalah ranting kecil yang berasal dari sejenis tanaman bambu yang terselip di dalam sarang burung elang. Buluh parindu termasuk benda langka yang sulit sekali diperoleh, karena sarang burung elang berada di atas puncak pohon yang tinggi. Selain itu, tidak semua sarang elang dibuat dengan mempergunakan buluh parindu. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai jimat pengasihan. Buluh parindu dibungkus dengan kain kuning.
Minyak balincung, bahasa Banjar artinya minyak balencong. Balincung merujuk lampu pengatur cahaya dalam pertunjukan wayang kulit. Sesaat sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai beberapa penonton yang berkepentingan meletakkan botol kecil berisi minyak wangi pada lampu balencong. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara mengoleskan minyak balincung pada kulit tubuh lawan jenisnya atau dicampurkan pada makanan yang disantapnya.
Minyak kijang putih, bahasa Banjar artinya minyak kijang putih. Dibuat dari daging kijang putih yang direndam sekian lama ke dalam minyak kelapa. Minyak kelapa hasil rendaman itulah yang disebut minyak kijang putih. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara mengoleskan minyak balincung pada kulit tubuh lawan jenisnya.
Minyak Kukang, bahasa Banjar artinya minyak kukang. Dibuat dari daging kukang laki dan kukang bini yang yang direndam sekian lama ke dalam minyak kelapa. Minyak hasil rendaman daging kukang inilah yang kemudian disebut sebagai minyak kukang tersebut. Minyak kukang diyakini mempunyai tuah magis yang dapat difungsikan sebagai sarana untuk membuat lawan jenis menjadi bertambah cinta, bertambah kasih, bertambah sayang, dan selalu merindukan kehadirannya. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara mengoleskan minyak kukang pada kulit tubuh lawan jenisnya atau dicampurkan pada makanan yang disantapnya.
Minyak kuyang, bahasa Banjar artinya minyak kuyang. Belum diperoleh informasi yang pasti tentang bahan dasar dan cara pembuatan minyak kuyang. Kuyang, bahasa Banjar artinya hantu wanita pengisap darah. Minyak kuyang dimiliki oleh seorang wanita pengamal ilmu hitam yang bersifat pengasihan dan pesugihan. Minyak kuyang difungsikan sebagai sarana untuk membuat wajah seorang wanita menjadi tampak cantik jelita. Melalui kecantikan yang dimilikinya itu wanita yang bersangkutan mampu membuat suaminya menjadi bertambah kasih (fungsi pengasihan). Namun, selain itu, minyak kuyang juga dapat difungsikan sarana pesugihan. Jika uang yang yang sudah diolesi dengan minyak kuyang dibelanjakan untuk membeli suatu barang, maka semua uang milik pedagang itu akan melengket dan ikut terbang ke rumah pemilik minyak kuyang. Upaya untuk mencapai tujuan fungsional yang demikian itu dilakukan dengan cara mengoleskan minyak kuyang secara melingkar di leher pemiliknya. Namun, tidak hanya itu, untuk memperkuat tuah magis minyak kuyang, wanita yang bersangkutan juga harus mengisap darah wanita lain yang sedang menjalani proses persalinan. Kekuatan ilmu hitam yang dimilikinya membuatnya dapat menghilangkan tubuhnya dari pandangan mata orang lain. Sehingga, pengisapan darah korbannya dapat dilakukannya tanpa harus memperlihatkan wujud fisiknya secara nyata kepada wanita yang sedang diisap darahnya itu. 
Mulut yang komat-kamit ketika membaca Pakasih, potret diri lawan jenis, batu kacubung, buluh parindu, minyak balincung, minyak kijang putih, minyak kukang, dan minyak kuyang itulah yang secara terpisah-pisah atau secara kumulatif diyakini menjadi sumber kekuatan magis yang dapat mengetuk hati lawan jenis yang dituju. Begitu hatinya terketuk, maka dengan serta merta rasa cinta, rasa kasih, rasa rindu, dan rasa kasihnya akan menjadi semakin bertambah besar.

Berminat membaca genre lama lainnya dari puisi Banjar? Jika berminat, silakan beli buku SASTRA BANJAR GENRE LAMA BERCORAK PUISI yang ditulis oleh Endang Sulistyowati dan Tajuddin Noor Ganie melalui nomor 08195188521. 




Puisi-Puisi Syarifuddin Arifin




Sungguh Hanya Kamu

sungguh hanya kamu terus menerus menggelegak
dan mengalir di antara tulang dan daging, mendenyut
di setiap langkah darah beku menghitung detak hati
lalu terbata-bata dalam nafas yang semakin sesak
menghilir menghitung usiaku yang bergeming, tak hanyut
begitu saja. kapan degapdegup padamu kan berhenti
sementara kata-kata semakin rimbun menyemak

sungguh hanya kamu nampak membayang
menyusuri padang ilalang tengah hari yang terik
panjangnya paha belalang menjanjikan loncatan
jauh sambil melentik-lentik. tapi angin menyuburkan
silet, menggoyang-goyang daun ilalang lalu
menyayat bak sembilu mengundang keperihan abadi

sungguh hanya kamu

(Padang, Juli 2015)


Mengundang Ibu

merantaulah sayang, jangan kau kundang ibu ke mana-mana
karena tempatnya di rumah, mengalirkan air ke sawah
keturunan materilini, plasentanya abadi

sayang anak pun dilecuti, berlayar dari pantai ke pantai
tapi ibu kau bawa jua, menakik cinta pada wanita
kau cari surga dan belaian manja
kau kundang-kundang pusaka lunglai

ibu mengalirkan warisan, di seiliran tepian
hati siapa yang teranja-anja?

di bendul peranginan, ibu menyulam rindu
di laut rantauan, ingatan mengundang ibu

(Padang, 2015)


Mengundang Batu

Orang-orang mengasah batu
hingga malin pun kehilangan tuju
dikundang juga ke mana-mana
pongah bukit membusung dada

di sepanjang jalanan
orang-orang mengasah batu
memanas dalam genggaman
kembali ke masa lalu

mengundang batu
yang diam sepanjang waktu
dimaknai berbagai misteri
batu diasah berapi-api

apa yang lebih dari sebongkah batu?

malinkundang tetap membisu

(Padang, 2015)


Tak Lagi Ani-Ani

di kejauhan kudengar suara musik itu
terbayang orang-orang berjoget
bermandikan keringatnya sendiri
melupakan penderitaaan anak negeri

sementara di balik dinding sana
ada yang asyik mengocok dadu
mempertaruhkan singgasana
berderik-derik rokok asapnya kelabu

di pentilasi itu, angin berhembus menusuk
baunya berkesiur, membenam di kasur
di sawah tak ada lagi ani-ani
yang membentang,  padang  ilalang

orang-orang masih saja berjoget
dadu tetap dikocok, melicinkan borok
di negeri langit atau di negeri laut
sama saja tak ada pohon
yang merimbun daun

(Padang, 2015)


Mencurah Darah 

berkali-kali aku sujud  padamu
hanya padamu, tapi kau tetap
menikam dada, membuta hati

kupanggil juga engkau
mencurah darahku

yang membelah langit biru
yang meretak tanah basah
yang meluluhlantakkan jiwa
yang menyekapku ke penjara
tak berjendela
denyut apakah yang setia di nadi
engkaukah itu?
tak sampai-sampai

19.01.2015


Mangsa Aku Jakarta
 
jakarta diselimuti mendung
gerimis hinggap di punggung
antara senen dan stasiun gambir
warga kota saling memercik air
menyibak berkeruh lanyah
menginjak segala sepah
mengayun beribu langkah
aku terjebak
dipaksa menyibak jakarta
di antara semak yang menyemak
ribuan kendaraan di sungai jalanan
gadget berebut sinyal
membanjir wacana di kursi kenyal
semua ingin memetik buah
pohon beton yang pongah

pagi ini jakarta ingin bersunyi-sunyi
gedung-gedung kaku beku
bagaikan lembah tak berangin
sepantun lebah bisanya tak dingin
bak bunga layu sebelum fajar
dimangsa aku sampai ke akar

jkt, 110215


Melautlah Aku

aku menancapkan keramba di antara teluk tak bernama
para penyelam menikmati beraneka karang di dasarnya
ada pelangi membagi warna, gelembung-gelembung
pernafasan dan kepak ritmis kaki para ampibi
serombongan tuna berbaris mengikuti arus
seakan menari, pinggulnya meliuk dan menukik menghunjam
melayah menyongsong arus yang dalam

aku menancapkan keramba di antara teluk tak bernama
menyalakan lampu di kelamnya malam
bergerombol ikan terperangkap cahaya
terpisah dari keluarga

di dasar laut, kutemukan sebuah negeri
semua warganya menutup telinga dan mata
apa yg dilihat dan dengar diatur dari atas
akibatnya? warga negeri itu jadi buta dan tuli
seperti negeri ini, sekejab lagi.

Padang, 2015


Gigilku Mendingin

di lambungmu, aku berenang
tanpa sentuhan

engkau membungkam
aku menggigil

gugur juga cinta itu
mekar di bibirmu

aku menggapai-gapai
menyelami hatimu


Padang,  1999.-





Syarifuddin Arifin lahir di Jakarta. Adalah seroang alumnus Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia, STKIP,  Sumbar dan Akademi Ilmu Komunikasi (AIK) Padang. Pernah mengikuti Lokakarya Penulisan Cerpen tahun 1981 di Cibogo, Bogor oleh Majalah Sastra Horison dan Majalah Kebudayaan Basis.

Tulisanya pernah dimuat di beberapa majalah dan Koran cetak Jakarta dan Padang, juga di Majalah Sastra Horison. Dia merupakan salah seorang penggiat Bengkel Sastra Ibukota (BSI) Jakarta, 1980-an. Pernah di BUMI (Teater,Sastera dan Senirupa), pengasuh/sutradara di Teater Jenjang dan Teater Flamboyan Padang, mendirikan Sanggar Penulisan MASA Padang (1984), mantan pengurus Dewan Kesenian Padang dan Sumbar.

Telah melakukan perjalanan sastra dan budaya serta jurnalistik ke Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura.

Buku-buku puisi tungggalnya (bukan antologi bersama) adalah, Ngarai (1980) diterbitkan Kolase Kliq Jakarta, Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998) ditebitkan Taman Budaya Sumbar, dan Maling Kondang (2012) diterbitkan Teras Budaya, Jakarta. Sedang beberapa antologi bersama, al. Sembilan (1979) oleh Kolase Kliq Jakarta, Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, (1995) oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Parade Karya Sastra se Sumatera-Jawa (1995) oleh Forum Sastra Bengkulu, Hawa (1996) oleh Studio Sangkaduo Padang, Penyair Sumatera Barat (1999) oleh Dewan Kesenian Sumbar), Parade Penyair Sumatera (2000) Panitia Pameran dan Pergelaran Seni se Sumatera (PSS) Jambi, Suara-suara dari Pinggiran (2012) oleh Kelompok Studi Sastra Bianglala,  dan Sauk Seloko (2012) terbitan Dewan Kesenian Jambi.

Kumpulan Cerpennya antara lain, Bermula dari Debu (1986) oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Sumatera Barat (HMSSB), G a m a n g (1989) oleh Sanggar Sastra MASA dan Taman Budaya Sumbar.

Novel/cerbungnya antara lain, Untuk Sebuah Cinta (2000) dimuat Harian Umum Haluan Padang, Sarjana Sate (2001), dan Anak Angin di Celah Awan Jingga (2002) Mingguan Sumbar Ekspres Padang, Menguak Atmosfir (2004) dimuat Majalah Wanita Kartini.

Pernah memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen Perjuangan, 1982 oleh PWI Sumbar, memenangkan Sayembara Penulisan Kritik Sastra,1984 oleh FPBS IKIP Padang, memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen HUT Mingguan Singgalang Padang pada 1985, memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara tahun 1984. Juga Pemenang Lomba Penulisan Kritik Seni Pertunjukan oleh Deputy Seni-Budaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,2003. Setelah memenangkan Sayembara Penulisan Cerpen-Cerbung Majalah Kartini 2003, novelnya Menguak Atmosfir dimuat sebagai cerbung di Majalah Wanita Kartini, 2004.

Dia beberapa kali mengikuti/peserta pada Pertemuan Sastrawan Nusantara, antara lain, di Jakarta (1979), Kayutanam Sumbar (1997), dan di Johor Baharu, Malaysia (1999). Kongres Kesenian di TMII (2005), Kongres PARFI di Jakarta (1993, 1997), Kongres PAPPRI di Puncak Jawa Barat (2002). Selain itu dia juga pekerja teater dan pemain film/sinetron.



Wednesday, January 2, 2019

Tegaknya Masjid Kami, Sebuah Novel Sejarah di Tanah Banjar



Suasana Banjarmasin tempo dulu dalam lukisan - Wikipedia

Bagian Satu

Karya Tajuddin Noor Ganie

Menurut ketentuan yang sudah ditradisikan secara turun temurun di Tanah Banjar, orang yang paling berhak menggantikan raja tua adalah putera tertuanya yang masih hidup, bukan cucunya. Tapi, tradisi itu bisa saja dilanggar dan hak putera tertua  itu bisa saja gugur jika raja tua yang berkuasa menetapkan keputusan lain sebagaimana yang dilakukan oleh Maharaja Sukarama.
“Bila aku wafat nanti maka yang harus dinobatkan sebagai penggantiku adalah cucuku Pangeran Samudera,” ujar Maharaja Sukarama di depan pertemuan resmi yang dihadiri oleh segenap petinggi Kerajaan Negara  Daha.
“Tidak bisa!,” teriak Pangeran Temenggung tiba-tiba. “Aku lebih berhak dibandingkan Pangeran Samudera. Aku anak sulung ayahanda yang masih hidup, sedangkan Pangeran Samudera cuma cucu ayahanda dan lagi usianya masih terlalu muda untuk menjadi raja. Masih ingusan, masih bau kencur, baru  20 tahun.”
Braaak ! Maharaja Sukarama menggebrak meja. “Diam kau, Temenggung! Ini keputusanku, wasiatku, sabda pandita ratu. Barang siapa melanggarnya akan kualat terkena kutukanku!”  teriak Maharaja Sukarama tak kalah sengitnya.
Pangeran Temenggung tertunduk lesu begitu mendengar bentakan Maharaja Sukarama. Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu di hatinya : sedih, malu, dan marah. Para petinggi Kerajaan Negara Daha lainnya diam membisu, termangu menyaksikan peristiwa dramatis itu.
“Aku bersumpah, selama hayat masih dikandung badan, aku tidak akan membiarkan Pangeran Samudera naik tahta sebagai raja di raja Tanah Banjar!,” ujar Pangeran Temenggung bersumpah di dalam hatinya. 
Menurut ceritanya, tak lama kemudian Maharaja Sukarama mangkat karena usia tua. Segera setelah itu Pangeran Temenggung menobatkan dirinya sebagai raja di raja Tanah Banjar. Para petinggi Kerajaan Negara Daha lainnya tidak ada yang berani menggugat penobatan yang tidak sah itu. Termasuk Pangeran Samudera sebagai pewaris sah tahta Kerajaan Negara Daha sebagaimana yang sudah diwasiatkan dalam sabda pandita ratu Maharaja Sukarama.
“Pangeran Samudera masih terlalu muda untuk menduduki jabatan sebagai raja di raja Tanah Banjar, ia harus bersabar menunggu hingga waktunya tiba baginya untuk berkuasa,” ujar Pangeran Temenggung membela diri dari tuduhan telah melanggar sabda pandita ratu Maharaja Sukamara.
Pangeran Samudera ketika itu memang baru berusia 20 tahun, meskipun demikian tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan kerjanya sebagai pemutar roda pemerintahan di Kerajaan Negara Daha. Terbukti, semua tugas-tugas kerajaan yang dipercayakan kepadanya selalu berhasil ditanganinya dengan hasil yang sangat memuaskan.
Kenyataan inilah yang membuat Maharaja Sukarama lebih memilih Pangeran Samudera sebagai calon penggantinya dengan mengesampingkan Pangeran Temenggung sebagai calon lain yang sesungguhnya lebih berhak berdasarkan ketentuan yang sudah mentradisi sejak zaman dahulu kala. Pangeran Temenggung sendiri memang bukanlah tokoh yang disukai oleh segenap lapisan masyarakat di Kerajaan Negara Daha, karena ia dikenal sebagai tokoh yang sok kuasa dan arogan.
 Meskipun demikian, Pangeran Samudera tidak begitu bereaksi menerima keputusan Pangeran Temenggung yang secara tidak sah mengangkat dirinya sendiri sebagai pengganti mendiang Maharaja Sukarama. Pangeran Samudera cuma diam saja dan ia sepertinya sudah pula merelakan haknya menjadi raja di raja Tanah Banjar diambil-alih secara paksa dan sepihak oleh Pangeran Temenggung.
“Jika aku menggugat penobatan Pangeran Temenggung, maka paman pasti marah besar dan perang saudara akan pecah antara pendukung kami masing-masing. Itulah yang paling kutakutkan,” ujar Pangeran Samudera di dalam hati. Didasari oleh pemikiran yang demikian itu maka Pangeran Samudera lebih memilih berdiam diri saja.
Situasi dan kondisi yang berlaku ketika itu memang lebih menguntungkan bagi para pendukung Pangeran Temenggung. Mereka sudah berhasil menguasai keadaan yang memberi peluang bagi Pangeran Temenggung untuk memenuhi ambisi pribadinya yang haus kekuasaan itu. Para pendukung Pangeran Temenggung dikenal luas sebagai kumpulan orang-orang yang suka berbuat sadis dan tak kenal ampun terhadap musuh-musuh politiknya. Semuanya akan dibunuh dengan cara sekejam-kejamnya.
Penobatan Pangeran Temenggung itu sendiri tidak berlangsung mulus, ketika ia mencoba mengenakan mahkota pusaka di atas panggung penobatannya, ia langsung terhuyung-huyung. Mahkota pusaka itu terlalu berat baginya, sehingga kepalanya tidak mampu menahannya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu langsung menghubungkannya dengan kutukan mendiang Maharaja Sukarama.
Meskipun keinginannya untuk menjadi raja di raja Tanah Banjar telah tercapai, namun Pangeran Temenggung masih tetap belum merasa puas juga. Ia masih merasa was-was jika di kemudian hari Pangeran Samudera menyusun kekuatan bawah tanah untuk menggulingkan dirinya secara diam-diam.
“Bagaimanapun juga kedudukanku sebagai raja di raja Tanah Banjar masih belum aman sebelum Pangeran Samudera berhasil kutamatkan riwayatnya. Lambat atau cepat kemenakanku itu akan menggugat keabsahan kedudukanku sebagai raja di raja Tanah Banjar,” ujar Pangeran Temenggung. “Pangeran Samudera harus dibunuh. Harus!.”
Untunglah, para pendukung setia Pangeran Samudera yang berada di mana-mana itu berhasil  memperoleh bocoran rencana pembunuhan yang akan dilakukan secara rahasia oleh kaki tangan Pangeran Temenggung atas diri Pangeran Samudera. Entah dengan alasan apa, salah seorang anggota pasukan pembunuh misterius yang dibentuk oleh Pangeran Temenggung berkhianat dan membelot ke pihak Pangeran Samudera.
“Gusti, sebaiknya anakda meninggalkan Istana Daha ini secepatnya. Menurut berita-berita yang sampai kepada hamba, kaki tangan Pangeran Temenggung telah merencanakan pembunuhan terhadap diri anakda,” ujar Patih Arya Taranggana kepada Pangeran Samudera.
Pangeran Samudera yang ketika itu masih berusia 20 tahun segera meninggalkan Istana Daha dengan menumpang sebuah perahu kecil yang didayungnya sendiri menuju ke daerah Muara Banjar, yaitu wilayah Kerajaan Negara Daha yang terletak paling jauh di hilir Sungai Barito. Ia sengaja berangkat sendirian tanpa didampingi pengawal pribadi sama sekali. Menurut pertimbangan Patih Arya Taranggana cara penyamaran yang demikian itu jauh lebih aman dibandingkan jika Pangeran Samudera pergi meninggalkan Istana Daha dengan cara dikawal oleh seorang atau sejumlah pengawal pribadi.
Sesungguhnya, Pangeran Samudera tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya masih tetap dikawal, tetapi pengawalannya dilakukan secara tertutup atau tidak langsung. Sesuai dengan status Pangeran Samudera sebagai buronan yang paling dicari oleh kaki tangan Pangeran Temenggung, maka pengawal pribadi Pangeran Samudera sengaja dipilihkan orang-orang yang sakti mandraguna.
Keberangkatan Pangeran Samudera ke daerah Muara Banjar dibekali oleh Patih Arya Taranggana dengan bahan makanan secukupnya dan seperangkat peralatan untuk menangkap ikan. Selama dalam penyamarannya itu Pangeran Samudera sengaja mengenakan pakaian yang sangat bersahaja, hal ini disesuaikan dengan profesi yang dilakoninya selama masa penyamaran itu, yakni sebagai seorang nelayan  sungai bernama Samidri.
Dari hari ke hari pekerjaannya tidak lain adalah mencari ikan sambil menyusuri sungai-sungai besar dan kecil yang mengalir di wilayah paling hilir Kerajaan Negara Daha, terutama sekali di Sungai Barito, Sungai Kuin, dan Sungai Martapura.
Sejak pagi buta, Pangeran Samudera sudah berangkat mencari ikan dan siang hari sekitar pukul 08.00-10.00 ia sudah mengayuh perahunya berkeliling kampung sambil menjajakan ikan hasil tangkapannya hari itu. Semua kegiatannya itu dilakukan Pangeran Samudera tanpa meninggalkan perahu kesayangannya, karena tempatnya mencari ikan memang di sungai dan tempatnya menjajakan ikan hasil tangkapannya adalah para ibu rumah tangga yang kesemuanya memang tinggal di perkampungan-perkampungan tepi sungai.
Pada suatu hari Samidri menjajakan ikan hasil tangkapannya ke rumah keluarga Patih Masih yang terletak persis di pusat keramaian kota Muara Banjar. Patih Masih adalah orang yang paling berkuasa di wilayah paling hilir Kerajaan Negara Daha ini, karena ia adalah Kepala Daerah Muara Banjar itu sendiri.
Sejak itulah keluarga Patih Masih menjadi langganan tetap Samidri. Setiap kali ia berhasil menangkap ikan Baung, Patin dan Udang Galah berukuran besar, ia pasti menawarkannya kepada keluarga Patih Masih. Uniknya, tawaran Samidri itu selalu dipenuhi oleh isteri Patih Masih. Isteri Patih Masih sendiri memang meminta kepada Samidri agar membawakan ikan Baung, Patin dan Udang Galah itu langsung ke rumahnya.
“Jika kamu memperoleh ikan Baung, Patin dan Udang Galah, jangan ragu-ragu bawa saja ke mari. Pasti kubeli,” ujar isteri Patih Masih. Samidri cuma mengangguk sopan mengiyakan.
“Saya senang sekali memakan sayur asam kepala ikan Baung, pepes Patin dan Udang Galah bakar,” ujar Patih Masih pada suatu hari. Berbeda dengan langganannya yang lain, keluarga Patih Masih adalah keluarga yang ramah tamah terhadap Samidri. Tidak jarang Patih Masih mengajak Samidri berbincang-bincang. Mula-mula topik pembicaraan mereka cuma terbatas pada hal-hal yang biasa-biasa saja, tetapi dari  hari ke hari topik pembicaraannya semakin meningkat saja hingga ke hal-hal yang lebih serius.   
Sikap Patih Masih yang demikian itu bukannya tanpa alasan sama sekali, tetapi memang sengaja dilakukannya, karena Patih Masih sendiri mulai menaruh curiga bahwa Samidri sesungguhnya bukanlah seorang nelayan sungai biasa. Ada dua informasi rahasia yang diterimanya dari petugas mata-mata yang setia kepadanya. Pertama, tentang Pangeran Samudera yang sudah melarikan diri  secara diam-diam dari Istana Daha. Diperkirakan ia sekarang ini sudah berada di wilayah kekuasaan Patih Masih dengan cara menyamar sebagai rakyat kebanyakan. Penyamaran itu terpaksa dilakukannya untuk menghindarkan diri dari ancaman pembunuhan yang akan dilakukan  oleh kaki tangan musuh politiknya: Pangeran Temenggung. Selain diterimanya dari petugas mata-mata, informasi rahasia ini juga diterimanya dari utusan khusus Patih Arya Taranggana. Sedangkan informasi kedua adalah tentang semakin banyaknya petugas mata-mata Pangeran Temenggung yang berkeliaran di kota Muara Banjar. Mereka bekerja berdasarkan perintah yang diberikan langsung oleh Pangeran Temenggung. Tujuannya ada dua, yakni: mencari informasi mengenai keberadaan Pangeran samudera, dan memata-matai tingkah laku politik Patih Masih yang akhir-akhir ini sangat mencurigakan.
“Siapakah Samidri ini sesungguhnya. Apakah ia seorang mata-mata Pangeran Temenggung? Apakah ia adalah Pangeran Samudera yang sedang menyamar? Atau apakah ia bukan siapa-siapa?” tanya Patih Masih kepada dirinya sendiri.
“Tapi melihat dari tingkah lakunya yang sopan, Samidri mustahil mau mengabdikan dirinya pada Pangeran Temenggung yang terkenal brutal, berangasan, ambisius, serakah dan pembangkang sabda pandita ratu. Boleh jadi Samidri memang adalah Pangeran Samudera pewaris sah tahta Kerajaan Negara Daha yang sekarang ini sedang berstatus sebagai putera mahkota yang terbuang,” ujar Patih Masih.
Namun, nun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Patih Masih berharap Samidri adalah Pangeran Samudera yang sedang menyamar. Bukan petugas mata-mata Pangeran Temenggung. Bila Samidri adalah Pangeran Samudera maka ia harus melindunginya dari ancaman pembunuhan yang akan dilakukan oleh kaki tangan Pangeran Temenggung. Sebaliknya jika Samidri adalah petugas mata-mata Pangeran Temenggung maka ia harus lebih berhati-hati lagi menghadapinya.
Patih Masih termasuk salah seorang pejabat tinggi Kerajaan Negara Daha yang sangat setia kepada mendiang Maharaja Sukarama, karena itulah ia merasa sangat gerah ketika  Pangeran Temenggung naik tahta secara tidak sah sebagai raja baru di Kerajaan Negara Daha. Ia menilai Pangeran Temenggung adalah raja yang lalim karena terlalu tinggi dalam menetapkan upeti yang harus dibayarkan oleh kepala daerah yang berada di wilayah kekuasaannya.
“Pangeran Temenggung bukanlah orang yang berhak untuk menerima upeti itu. Ia bukan pengganti yang sah menurut wasiat mendiang Maharaja Sukarama,” ujar Patih Masih beralasan.
Sikap pribadi Patih Masih yang demikian itu sudah diketahui oleh Pangeran Temenggung, sehingga ia sudah berusaha mencari-cari alasan yang tepat untuk memberhentikan Patih Masih dari jabatannya selaku Kepala daerah Muara Banjar. Pengerahan petugas mata-mata yang dilakukan secara besar-besaran diduga ada kaitannya dengan rencana pemberhentian Patih Masih. Patih Masih sendiri juga sudah mengetahui rencana busuk Pangeran Temenggung itu.
Dari hari ke hari hubungan pribadi antara Samidri dan Patih Masih menjadi semakin akrab saja. Tidak jarang keduanya terlibat dalam percakapan yang akrab sekali  tak bedanya dengan percakapan antara dua sahabat yang sepangkat sederajat. Pada suatu kesempatan Patih Masih dengan hati-hati menanyakan asal-usul dan jatidiri Pangeran Samudera yang sesungguhnya.
“Saya sebenarnya adalah Pangeran Samudera yang terpaksa menyamar  menjadi nelayan sungai dengan nama Samidri karena takut dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Temenggung yang sekarang ini sedang berkuasa secara tidak sah sebagai raja di raja Tanah Banjar. Meskipun Pangeran Temenggung adalah paman saya sendiri, namun ia tidak main-main dengan ancamannya itu, ia memang sudah merencanakan untuk membunuh saya.”
“Ampun gusti, sungguh tak dinyana. Sungguh tak diduga-duga. Dugaan hamba ternyata benar adanya,” ujar Patih Masih sambil menghaturkan sembah kepada Pangeran Samudera. “Gusti harus segera menobatkan diri sebagai raja di raja Tanah Banjar yang sah.”
Menurut ceritanya, dengan mengandalkan diri pada dukungan yang diberikan oleh Patih Masih, Patih Muhur, Patih Mahit, Patih Balit, Panimba Sagara, Pambalah Batung, Garuntung Manau, Garuntung Waluh, Aria Malangkan, dan para pejabat tinggi Kerajaan Negara Daha lainnya yang tetap setia kepada sabda pandita ratu Maharaja Sukarama, Pangeran Samudera menobatkan dirinya sebagai raja di raja Tanah  Banjar yang berkedudukan di kota Muara Banjar. Sejak itulah kota Muara Banjar tidak lagi berada di bawah kekuasaan Kerajaan Negara Daha.
“Hamba rakyatku sekalian, aku adalah Pangeran Samudera anak Pangeran Manteri Jaya, cucu Maharaja Sukarama. Sebagaimana hamba rakyatku ketahui, aku adalah pewaris sah tahta kerajaan yang ditinggalkan oleh mendiang Maharaja Sukarama. Tapi, hak itu kemudian diserobot oleh Pangeran Temenggung yang haus kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Aku yakin hamba rakyatku sekalian juga sudah mengetahui, karena ulah Pangeran Temenggung itulah sehingga aku sampai berada di sini, di rumah Patih Masih, bukan di Istana Daha sebagaimana mestinya,” ujar Pangeran Samudera memulai pidato perkenalannya sebagai raja di raja Tanah Banjar di hadapan hamba rakyatnya yang berkumpul di pendopo Istana Kuin atas undangan Patih Masih sebagai tuan rumah.
“Istana Daha sekarang ini dikuasai oleh Pangeran Temenggung yang demi ambisi pribadinya yang haus kekuasaan telah tega mengkhianati sabda pandita ratu Maharaja Sukarama yang bagaimanapun mestinya harus dihormati. Hamba rakyatku sekalian, sebagai pewaris tahta kerajaan yang sah, aku pernah berdiam diri cukup lama tidak mempermasalahkan tingkah laku Pangeran Temenggung yang telah mengambil hak warisku itu.”
“Pada mulanya aku mengira, Pangeran Temenggung sudah puas dengan sikapku yang acuh tak acuh terhadap tahta kerajaan yang sekarang ini sudah dikuasainya itu. Ternyata tidak, selain telah menyingkirkanku dari tahta kerajaan, ia juga telah merencanakan untuk membunuhku. Pangeran Temenggung telah membentuk beberapa regu pasukan komando dengan tugas khusus membunuhku di mana pun aku ditemukan. Beruntunglah aku, karena rencana itu keburu dibocorkan oleh salah seorang anggota pasukan komando yang berkhianat dan membelot karena alasan-alasan hati nurani dan kemanusian.”
“Hamba rakyatku sekalian, perbuatan Pangeran Temenggung yang telah mengkhianati sabda pandita ratu Maharaja Sukarama tidak boleh dibiarkan berlaru-larut. Jika kita tidak berusaha menegakkan sabda pandita ratu Maharaja Sukarama itu, maka kita semua, tanpa kecuali, akan terkena kutukannya. Tanah Banjar akan dilanda berbagai bencana yang tidak tertanggungkan oleh kita semua. Pada kesempatan ini aku mengajak hamba rakyatku sekalian untuk saling bahu membahu membantuku menegakkan sabda pandita ratu Maharaja Sukarama.”
“Bersediakah kalian semuanya membantuku ...?”
“Bersediaaa ....!”
“Sekali lagi!”
“Bersediaaa ...!”
Sejak lama pribadi Pangeran Samudera telah menempati posisi tersendiri di hati sebagian besar hamba rakyatnya. Keperwiraannya di berbagai medan pertempuran telah teruji. Begitu pula dengan kehalusan budi pekertinya dan ketulusan pribadinya telah dikenal luas di seantero Kerajaan Negara Daha.
Berbeda halnya dengan Pangeran Temenggung, sejak usia muda memang dikenal luas sebagai tokoh yang tidak simpatik, sombong, licik, semaunya, suka berfoya-foya, dan mata keranjang atau suka mengganggu anak isteri orang. Akibat sikap-sikap buruknya itulah maka Maharaja Sukarama terpaksa mengesampingkan hak anak sulungnya ini sebagai calon penggantinya  kelak.
“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi suatu negara di muka bumi ini, selain daripada mengangkat raja baru yang nyata-nyata tidak disukai rakyatnya,” ujar Maharaja Sukarama menjelaskan keputusannya mengapa ia sampai mengesampingkan Pangeran Temenggung sebagai calon penggantinya. Penjelasan dimaksud disampaikan kepada kalangan terbatas, yakni para pejabat tinggi kerajaan dan kerabat istana yang merasa penasaran dengan keputusannya yang menyalahi tradisi kerajaan itu. 
Demikianlah, sebagai tokoh yang memang dicintai oleh rakyatnya, maka dalam waktu singkat Pangeran Samudera telah berhasil menghimpun kekuatan yang cukup menggiriskan hati Pangeran Temenggung.
Sulit dilukiskan bagaimana murkanya Pangeran Temenggung begitu mengetahui bahwa Pangeran Samudera masih hidup. Bahkan, telah pula memaklumkan dirinya sebagai raja di raja Tanah Banjar yang berkedudukan di kota Muara Banjar. Dalam waktu singkat ia segera mengerahkan segenap kekuatan pasukan perangnya untuk mengepung kota Muara Banjar dari delapan penjuru angin. Tapi Pangeran Samudera tidak mau menyerah begitu saja, apalagi pasukan perang yang setia kepadanya ternyata juga sangat tangguh.
Meskipun demikian, Pangeran Samudera menyadari bahwa pasukan perang lokal yang setia kepadanya kurang memadai  jumlahnya, sehubungan dengan itu ia kemudian meminta saran kepada Patih Masih. Atas saran Patih Masih, Pangeran Samudera mengirim utusan khusus ke Kerajaan Demak untuk meminta bantuan pasukan perang kepada Sultan Terenggono. Permintaan bantuan pasukan perang itu disetujui oleh Sultan Terenggono dengan syarat Pangeran Samudera bersedia memeluk agama Islam  jika nanti berhasil mengalahkan Pangeran Temenggung dalam perang saudara dimaksud.
Begitu Pangeran Samudera menyetujui syarat itu, maka Sultan Demak kemudian mengirimkan 2.000 orang anggota pasukan perangnya yang sudah terlatih, bersenjata lengkap, dan sudah berpengalaman di berbagai medan pertempuran. Pasukan perang Kerajaan Demak dipimpin oleh seorang ulama berpangkat jenderal bernama : Khatib Dayan.
Perang saudara memperebutkan kekuasaan sebagai raja di raja Tanah Banjar berlangsung dengan dahsyad, sengit, brutal, dan berlarut-larut. Perang saudara itu berlangsung berlarut-larut karena kekuatan pasukan tempur kedua belah pihak memang seimbang, sama-sama tangguh, dan sama-sama setia kepada rajanya masing-masing. Sudah banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Masing-masing pihak mengklaim telah berhasil mengalahkan lawan-lawannya di berbagai medan pertempuran.

Jika tertarik membaca bagian selanjutnya, silakan beli novelnya melalui tautan ini.