Wednesday, January 2, 2019

Tegaknya Masjid Kami, Sebuah Novel Sejarah di Tanah Banjar



Suasana Banjarmasin tempo dulu dalam lukisan - Wikipedia

Bagian Satu

Karya Tajuddin Noor Ganie

Menurut ketentuan yang sudah ditradisikan secara turun temurun di Tanah Banjar, orang yang paling berhak menggantikan raja tua adalah putera tertuanya yang masih hidup, bukan cucunya. Tapi, tradisi itu bisa saja dilanggar dan hak putera tertua  itu bisa saja gugur jika raja tua yang berkuasa menetapkan keputusan lain sebagaimana yang dilakukan oleh Maharaja Sukarama.
“Bila aku wafat nanti maka yang harus dinobatkan sebagai penggantiku adalah cucuku Pangeran Samudera,” ujar Maharaja Sukarama di depan pertemuan resmi yang dihadiri oleh segenap petinggi Kerajaan Negara  Daha.
“Tidak bisa!,” teriak Pangeran Temenggung tiba-tiba. “Aku lebih berhak dibandingkan Pangeran Samudera. Aku anak sulung ayahanda yang masih hidup, sedangkan Pangeran Samudera cuma cucu ayahanda dan lagi usianya masih terlalu muda untuk menjadi raja. Masih ingusan, masih bau kencur, baru  20 tahun.”
Braaak ! Maharaja Sukarama menggebrak meja. “Diam kau, Temenggung! Ini keputusanku, wasiatku, sabda pandita ratu. Barang siapa melanggarnya akan kualat terkena kutukanku!”  teriak Maharaja Sukarama tak kalah sengitnya.
Pangeran Temenggung tertunduk lesu begitu mendengar bentakan Maharaja Sukarama. Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu di hatinya : sedih, malu, dan marah. Para petinggi Kerajaan Negara Daha lainnya diam membisu, termangu menyaksikan peristiwa dramatis itu.
“Aku bersumpah, selama hayat masih dikandung badan, aku tidak akan membiarkan Pangeran Samudera naik tahta sebagai raja di raja Tanah Banjar!,” ujar Pangeran Temenggung bersumpah di dalam hatinya. 
Menurut ceritanya, tak lama kemudian Maharaja Sukarama mangkat karena usia tua. Segera setelah itu Pangeran Temenggung menobatkan dirinya sebagai raja di raja Tanah Banjar. Para petinggi Kerajaan Negara Daha lainnya tidak ada yang berani menggugat penobatan yang tidak sah itu. Termasuk Pangeran Samudera sebagai pewaris sah tahta Kerajaan Negara Daha sebagaimana yang sudah diwasiatkan dalam sabda pandita ratu Maharaja Sukarama.
“Pangeran Samudera masih terlalu muda untuk menduduki jabatan sebagai raja di raja Tanah Banjar, ia harus bersabar menunggu hingga waktunya tiba baginya untuk berkuasa,” ujar Pangeran Temenggung membela diri dari tuduhan telah melanggar sabda pandita ratu Maharaja Sukamara.
Pangeran Samudera ketika itu memang baru berusia 20 tahun, meskipun demikian tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan kerjanya sebagai pemutar roda pemerintahan di Kerajaan Negara Daha. Terbukti, semua tugas-tugas kerajaan yang dipercayakan kepadanya selalu berhasil ditanganinya dengan hasil yang sangat memuaskan.
Kenyataan inilah yang membuat Maharaja Sukarama lebih memilih Pangeran Samudera sebagai calon penggantinya dengan mengesampingkan Pangeran Temenggung sebagai calon lain yang sesungguhnya lebih berhak berdasarkan ketentuan yang sudah mentradisi sejak zaman dahulu kala. Pangeran Temenggung sendiri memang bukanlah tokoh yang disukai oleh segenap lapisan masyarakat di Kerajaan Negara Daha, karena ia dikenal sebagai tokoh yang sok kuasa dan arogan.
 Meskipun demikian, Pangeran Samudera tidak begitu bereaksi menerima keputusan Pangeran Temenggung yang secara tidak sah mengangkat dirinya sendiri sebagai pengganti mendiang Maharaja Sukarama. Pangeran Samudera cuma diam saja dan ia sepertinya sudah pula merelakan haknya menjadi raja di raja Tanah Banjar diambil-alih secara paksa dan sepihak oleh Pangeran Temenggung.
“Jika aku menggugat penobatan Pangeran Temenggung, maka paman pasti marah besar dan perang saudara akan pecah antara pendukung kami masing-masing. Itulah yang paling kutakutkan,” ujar Pangeran Samudera di dalam hati. Didasari oleh pemikiran yang demikian itu maka Pangeran Samudera lebih memilih berdiam diri saja.
Situasi dan kondisi yang berlaku ketika itu memang lebih menguntungkan bagi para pendukung Pangeran Temenggung. Mereka sudah berhasil menguasai keadaan yang memberi peluang bagi Pangeran Temenggung untuk memenuhi ambisi pribadinya yang haus kekuasaan itu. Para pendukung Pangeran Temenggung dikenal luas sebagai kumpulan orang-orang yang suka berbuat sadis dan tak kenal ampun terhadap musuh-musuh politiknya. Semuanya akan dibunuh dengan cara sekejam-kejamnya.
Penobatan Pangeran Temenggung itu sendiri tidak berlangsung mulus, ketika ia mencoba mengenakan mahkota pusaka di atas panggung penobatannya, ia langsung terhuyung-huyung. Mahkota pusaka itu terlalu berat baginya, sehingga kepalanya tidak mampu menahannya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu langsung menghubungkannya dengan kutukan mendiang Maharaja Sukarama.
Meskipun keinginannya untuk menjadi raja di raja Tanah Banjar telah tercapai, namun Pangeran Temenggung masih tetap belum merasa puas juga. Ia masih merasa was-was jika di kemudian hari Pangeran Samudera menyusun kekuatan bawah tanah untuk menggulingkan dirinya secara diam-diam.
“Bagaimanapun juga kedudukanku sebagai raja di raja Tanah Banjar masih belum aman sebelum Pangeran Samudera berhasil kutamatkan riwayatnya. Lambat atau cepat kemenakanku itu akan menggugat keabsahan kedudukanku sebagai raja di raja Tanah Banjar,” ujar Pangeran Temenggung. “Pangeran Samudera harus dibunuh. Harus!.”
Untunglah, para pendukung setia Pangeran Samudera yang berada di mana-mana itu berhasil  memperoleh bocoran rencana pembunuhan yang akan dilakukan secara rahasia oleh kaki tangan Pangeran Temenggung atas diri Pangeran Samudera. Entah dengan alasan apa, salah seorang anggota pasukan pembunuh misterius yang dibentuk oleh Pangeran Temenggung berkhianat dan membelot ke pihak Pangeran Samudera.
“Gusti, sebaiknya anakda meninggalkan Istana Daha ini secepatnya. Menurut berita-berita yang sampai kepada hamba, kaki tangan Pangeran Temenggung telah merencanakan pembunuhan terhadap diri anakda,” ujar Patih Arya Taranggana kepada Pangeran Samudera.
Pangeran Samudera yang ketika itu masih berusia 20 tahun segera meninggalkan Istana Daha dengan menumpang sebuah perahu kecil yang didayungnya sendiri menuju ke daerah Muara Banjar, yaitu wilayah Kerajaan Negara Daha yang terletak paling jauh di hilir Sungai Barito. Ia sengaja berangkat sendirian tanpa didampingi pengawal pribadi sama sekali. Menurut pertimbangan Patih Arya Taranggana cara penyamaran yang demikian itu jauh lebih aman dibandingkan jika Pangeran Samudera pergi meninggalkan Istana Daha dengan cara dikawal oleh seorang atau sejumlah pengawal pribadi.
Sesungguhnya, Pangeran Samudera tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya masih tetap dikawal, tetapi pengawalannya dilakukan secara tertutup atau tidak langsung. Sesuai dengan status Pangeran Samudera sebagai buronan yang paling dicari oleh kaki tangan Pangeran Temenggung, maka pengawal pribadi Pangeran Samudera sengaja dipilihkan orang-orang yang sakti mandraguna.
Keberangkatan Pangeran Samudera ke daerah Muara Banjar dibekali oleh Patih Arya Taranggana dengan bahan makanan secukupnya dan seperangkat peralatan untuk menangkap ikan. Selama dalam penyamarannya itu Pangeran Samudera sengaja mengenakan pakaian yang sangat bersahaja, hal ini disesuaikan dengan profesi yang dilakoninya selama masa penyamaran itu, yakni sebagai seorang nelayan  sungai bernama Samidri.
Dari hari ke hari pekerjaannya tidak lain adalah mencari ikan sambil menyusuri sungai-sungai besar dan kecil yang mengalir di wilayah paling hilir Kerajaan Negara Daha, terutama sekali di Sungai Barito, Sungai Kuin, dan Sungai Martapura.
Sejak pagi buta, Pangeran Samudera sudah berangkat mencari ikan dan siang hari sekitar pukul 08.00-10.00 ia sudah mengayuh perahunya berkeliling kampung sambil menjajakan ikan hasil tangkapannya hari itu. Semua kegiatannya itu dilakukan Pangeran Samudera tanpa meninggalkan perahu kesayangannya, karena tempatnya mencari ikan memang di sungai dan tempatnya menjajakan ikan hasil tangkapannya adalah para ibu rumah tangga yang kesemuanya memang tinggal di perkampungan-perkampungan tepi sungai.
Pada suatu hari Samidri menjajakan ikan hasil tangkapannya ke rumah keluarga Patih Masih yang terletak persis di pusat keramaian kota Muara Banjar. Patih Masih adalah orang yang paling berkuasa di wilayah paling hilir Kerajaan Negara Daha ini, karena ia adalah Kepala Daerah Muara Banjar itu sendiri.
Sejak itulah keluarga Patih Masih menjadi langganan tetap Samidri. Setiap kali ia berhasil menangkap ikan Baung, Patin dan Udang Galah berukuran besar, ia pasti menawarkannya kepada keluarga Patih Masih. Uniknya, tawaran Samidri itu selalu dipenuhi oleh isteri Patih Masih. Isteri Patih Masih sendiri memang meminta kepada Samidri agar membawakan ikan Baung, Patin dan Udang Galah itu langsung ke rumahnya.
“Jika kamu memperoleh ikan Baung, Patin dan Udang Galah, jangan ragu-ragu bawa saja ke mari. Pasti kubeli,” ujar isteri Patih Masih. Samidri cuma mengangguk sopan mengiyakan.
“Saya senang sekali memakan sayur asam kepala ikan Baung, pepes Patin dan Udang Galah bakar,” ujar Patih Masih pada suatu hari. Berbeda dengan langganannya yang lain, keluarga Patih Masih adalah keluarga yang ramah tamah terhadap Samidri. Tidak jarang Patih Masih mengajak Samidri berbincang-bincang. Mula-mula topik pembicaraan mereka cuma terbatas pada hal-hal yang biasa-biasa saja, tetapi dari  hari ke hari topik pembicaraannya semakin meningkat saja hingga ke hal-hal yang lebih serius.   
Sikap Patih Masih yang demikian itu bukannya tanpa alasan sama sekali, tetapi memang sengaja dilakukannya, karena Patih Masih sendiri mulai menaruh curiga bahwa Samidri sesungguhnya bukanlah seorang nelayan sungai biasa. Ada dua informasi rahasia yang diterimanya dari petugas mata-mata yang setia kepadanya. Pertama, tentang Pangeran Samudera yang sudah melarikan diri  secara diam-diam dari Istana Daha. Diperkirakan ia sekarang ini sudah berada di wilayah kekuasaan Patih Masih dengan cara menyamar sebagai rakyat kebanyakan. Penyamaran itu terpaksa dilakukannya untuk menghindarkan diri dari ancaman pembunuhan yang akan dilakukan  oleh kaki tangan musuh politiknya: Pangeran Temenggung. Selain diterimanya dari petugas mata-mata, informasi rahasia ini juga diterimanya dari utusan khusus Patih Arya Taranggana. Sedangkan informasi kedua adalah tentang semakin banyaknya petugas mata-mata Pangeran Temenggung yang berkeliaran di kota Muara Banjar. Mereka bekerja berdasarkan perintah yang diberikan langsung oleh Pangeran Temenggung. Tujuannya ada dua, yakni: mencari informasi mengenai keberadaan Pangeran samudera, dan memata-matai tingkah laku politik Patih Masih yang akhir-akhir ini sangat mencurigakan.
“Siapakah Samidri ini sesungguhnya. Apakah ia seorang mata-mata Pangeran Temenggung? Apakah ia adalah Pangeran Samudera yang sedang menyamar? Atau apakah ia bukan siapa-siapa?” tanya Patih Masih kepada dirinya sendiri.
“Tapi melihat dari tingkah lakunya yang sopan, Samidri mustahil mau mengabdikan dirinya pada Pangeran Temenggung yang terkenal brutal, berangasan, ambisius, serakah dan pembangkang sabda pandita ratu. Boleh jadi Samidri memang adalah Pangeran Samudera pewaris sah tahta Kerajaan Negara Daha yang sekarang ini sedang berstatus sebagai putera mahkota yang terbuang,” ujar Patih Masih.
Namun, nun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Patih Masih berharap Samidri adalah Pangeran Samudera yang sedang menyamar. Bukan petugas mata-mata Pangeran Temenggung. Bila Samidri adalah Pangeran Samudera maka ia harus melindunginya dari ancaman pembunuhan yang akan dilakukan oleh kaki tangan Pangeran Temenggung. Sebaliknya jika Samidri adalah petugas mata-mata Pangeran Temenggung maka ia harus lebih berhati-hati lagi menghadapinya.
Patih Masih termasuk salah seorang pejabat tinggi Kerajaan Negara Daha yang sangat setia kepada mendiang Maharaja Sukarama, karena itulah ia merasa sangat gerah ketika  Pangeran Temenggung naik tahta secara tidak sah sebagai raja baru di Kerajaan Negara Daha. Ia menilai Pangeran Temenggung adalah raja yang lalim karena terlalu tinggi dalam menetapkan upeti yang harus dibayarkan oleh kepala daerah yang berada di wilayah kekuasaannya.
“Pangeran Temenggung bukanlah orang yang berhak untuk menerima upeti itu. Ia bukan pengganti yang sah menurut wasiat mendiang Maharaja Sukarama,” ujar Patih Masih beralasan.
Sikap pribadi Patih Masih yang demikian itu sudah diketahui oleh Pangeran Temenggung, sehingga ia sudah berusaha mencari-cari alasan yang tepat untuk memberhentikan Patih Masih dari jabatannya selaku Kepala daerah Muara Banjar. Pengerahan petugas mata-mata yang dilakukan secara besar-besaran diduga ada kaitannya dengan rencana pemberhentian Patih Masih. Patih Masih sendiri juga sudah mengetahui rencana busuk Pangeran Temenggung itu.
Dari hari ke hari hubungan pribadi antara Samidri dan Patih Masih menjadi semakin akrab saja. Tidak jarang keduanya terlibat dalam percakapan yang akrab sekali  tak bedanya dengan percakapan antara dua sahabat yang sepangkat sederajat. Pada suatu kesempatan Patih Masih dengan hati-hati menanyakan asal-usul dan jatidiri Pangeran Samudera yang sesungguhnya.
“Saya sebenarnya adalah Pangeran Samudera yang terpaksa menyamar  menjadi nelayan sungai dengan nama Samidri karena takut dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Temenggung yang sekarang ini sedang berkuasa secara tidak sah sebagai raja di raja Tanah Banjar. Meskipun Pangeran Temenggung adalah paman saya sendiri, namun ia tidak main-main dengan ancamannya itu, ia memang sudah merencanakan untuk membunuh saya.”
“Ampun gusti, sungguh tak dinyana. Sungguh tak diduga-duga. Dugaan hamba ternyata benar adanya,” ujar Patih Masih sambil menghaturkan sembah kepada Pangeran Samudera. “Gusti harus segera menobatkan diri sebagai raja di raja Tanah Banjar yang sah.”
Menurut ceritanya, dengan mengandalkan diri pada dukungan yang diberikan oleh Patih Masih, Patih Muhur, Patih Mahit, Patih Balit, Panimba Sagara, Pambalah Batung, Garuntung Manau, Garuntung Waluh, Aria Malangkan, dan para pejabat tinggi Kerajaan Negara Daha lainnya yang tetap setia kepada sabda pandita ratu Maharaja Sukarama, Pangeran Samudera menobatkan dirinya sebagai raja di raja Tanah  Banjar yang berkedudukan di kota Muara Banjar. Sejak itulah kota Muara Banjar tidak lagi berada di bawah kekuasaan Kerajaan Negara Daha.
“Hamba rakyatku sekalian, aku adalah Pangeran Samudera anak Pangeran Manteri Jaya, cucu Maharaja Sukarama. Sebagaimana hamba rakyatku ketahui, aku adalah pewaris sah tahta kerajaan yang ditinggalkan oleh mendiang Maharaja Sukarama. Tapi, hak itu kemudian diserobot oleh Pangeran Temenggung yang haus kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Aku yakin hamba rakyatku sekalian juga sudah mengetahui, karena ulah Pangeran Temenggung itulah sehingga aku sampai berada di sini, di rumah Patih Masih, bukan di Istana Daha sebagaimana mestinya,” ujar Pangeran Samudera memulai pidato perkenalannya sebagai raja di raja Tanah Banjar di hadapan hamba rakyatnya yang berkumpul di pendopo Istana Kuin atas undangan Patih Masih sebagai tuan rumah.
“Istana Daha sekarang ini dikuasai oleh Pangeran Temenggung yang demi ambisi pribadinya yang haus kekuasaan telah tega mengkhianati sabda pandita ratu Maharaja Sukarama yang bagaimanapun mestinya harus dihormati. Hamba rakyatku sekalian, sebagai pewaris tahta kerajaan yang sah, aku pernah berdiam diri cukup lama tidak mempermasalahkan tingkah laku Pangeran Temenggung yang telah mengambil hak warisku itu.”
“Pada mulanya aku mengira, Pangeran Temenggung sudah puas dengan sikapku yang acuh tak acuh terhadap tahta kerajaan yang sekarang ini sudah dikuasainya itu. Ternyata tidak, selain telah menyingkirkanku dari tahta kerajaan, ia juga telah merencanakan untuk membunuhku. Pangeran Temenggung telah membentuk beberapa regu pasukan komando dengan tugas khusus membunuhku di mana pun aku ditemukan. Beruntunglah aku, karena rencana itu keburu dibocorkan oleh salah seorang anggota pasukan komando yang berkhianat dan membelot karena alasan-alasan hati nurani dan kemanusian.”
“Hamba rakyatku sekalian, perbuatan Pangeran Temenggung yang telah mengkhianati sabda pandita ratu Maharaja Sukarama tidak boleh dibiarkan berlaru-larut. Jika kita tidak berusaha menegakkan sabda pandita ratu Maharaja Sukarama itu, maka kita semua, tanpa kecuali, akan terkena kutukannya. Tanah Banjar akan dilanda berbagai bencana yang tidak tertanggungkan oleh kita semua. Pada kesempatan ini aku mengajak hamba rakyatku sekalian untuk saling bahu membahu membantuku menegakkan sabda pandita ratu Maharaja Sukarama.”
“Bersediakah kalian semuanya membantuku ...?”
“Bersediaaa ....!”
“Sekali lagi!”
“Bersediaaa ...!”
Sejak lama pribadi Pangeran Samudera telah menempati posisi tersendiri di hati sebagian besar hamba rakyatnya. Keperwiraannya di berbagai medan pertempuran telah teruji. Begitu pula dengan kehalusan budi pekertinya dan ketulusan pribadinya telah dikenal luas di seantero Kerajaan Negara Daha.
Berbeda halnya dengan Pangeran Temenggung, sejak usia muda memang dikenal luas sebagai tokoh yang tidak simpatik, sombong, licik, semaunya, suka berfoya-foya, dan mata keranjang atau suka mengganggu anak isteri orang. Akibat sikap-sikap buruknya itulah maka Maharaja Sukarama terpaksa mengesampingkan hak anak sulungnya ini sebagai calon penggantinya  kelak.
“Tidak ada yang lebih berbahaya bagi suatu negara di muka bumi ini, selain daripada mengangkat raja baru yang nyata-nyata tidak disukai rakyatnya,” ujar Maharaja Sukarama menjelaskan keputusannya mengapa ia sampai mengesampingkan Pangeran Temenggung sebagai calon penggantinya. Penjelasan dimaksud disampaikan kepada kalangan terbatas, yakni para pejabat tinggi kerajaan dan kerabat istana yang merasa penasaran dengan keputusannya yang menyalahi tradisi kerajaan itu. 
Demikianlah, sebagai tokoh yang memang dicintai oleh rakyatnya, maka dalam waktu singkat Pangeran Samudera telah berhasil menghimpun kekuatan yang cukup menggiriskan hati Pangeran Temenggung.
Sulit dilukiskan bagaimana murkanya Pangeran Temenggung begitu mengetahui bahwa Pangeran Samudera masih hidup. Bahkan, telah pula memaklumkan dirinya sebagai raja di raja Tanah Banjar yang berkedudukan di kota Muara Banjar. Dalam waktu singkat ia segera mengerahkan segenap kekuatan pasukan perangnya untuk mengepung kota Muara Banjar dari delapan penjuru angin. Tapi Pangeran Samudera tidak mau menyerah begitu saja, apalagi pasukan perang yang setia kepadanya ternyata juga sangat tangguh.
Meskipun demikian, Pangeran Samudera menyadari bahwa pasukan perang lokal yang setia kepadanya kurang memadai  jumlahnya, sehubungan dengan itu ia kemudian meminta saran kepada Patih Masih. Atas saran Patih Masih, Pangeran Samudera mengirim utusan khusus ke Kerajaan Demak untuk meminta bantuan pasukan perang kepada Sultan Terenggono. Permintaan bantuan pasukan perang itu disetujui oleh Sultan Terenggono dengan syarat Pangeran Samudera bersedia memeluk agama Islam  jika nanti berhasil mengalahkan Pangeran Temenggung dalam perang saudara dimaksud.
Begitu Pangeran Samudera menyetujui syarat itu, maka Sultan Demak kemudian mengirimkan 2.000 orang anggota pasukan perangnya yang sudah terlatih, bersenjata lengkap, dan sudah berpengalaman di berbagai medan pertempuran. Pasukan perang Kerajaan Demak dipimpin oleh seorang ulama berpangkat jenderal bernama : Khatib Dayan.
Perang saudara memperebutkan kekuasaan sebagai raja di raja Tanah Banjar berlangsung dengan dahsyad, sengit, brutal, dan berlarut-larut. Perang saudara itu berlangsung berlarut-larut karena kekuatan pasukan tempur kedua belah pihak memang seimbang, sama-sama tangguh, dan sama-sama setia kepada rajanya masing-masing. Sudah banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Masing-masing pihak mengklaim telah berhasil mengalahkan lawan-lawannya di berbagai medan pertempuran.

Jika tertarik membaca bagian selanjutnya, silakan beli novelnya melalui tautan ini


0 comments: