Thursday, May 21, 2020

Palestina Tolak Bantuan UEA, Ada Apa?




UEA atau Uni Emirat Arab adalah salah satu negara teluk yang kaya raya. Negara ini dikabarkan memberikan bantuan kepada Palestina. Akan tetapi, pihak Pemerintah Palestina menolaknya.

Ada apakah?

Seperti terlansir Anadolu Agency, (21/5/2020) Pemerintah Palestina menolak untuk menerima bantuan yang dikirim dari negara Teluk Uni Emirat Arab (UEA) berdasarkan menurut laporan kantor berita Palestina.

Dikutip media itu, Maan News Agency yang dikenal dekat dengan Otoritas Palestina, mengatakan bahwa keputusan itu diambil saat bantuan datang melalui bandara Israel.

Awal pekan ini, sebuah penerbangan Emirati yang membawa bantuan medis untuk Palestina mendarat di Bandara Israel.

Bantuan tersebut datang meski negara Teluk itu tidak memiliki hubungan resmi dengan Tel Aviv.

"Otoritas UEA tidak berkoordinasi dengan Negara Palestina sebelum mengirim bantuan," kata sumber pemerintah Palestina yang menambahkan bahwa "Palestina menolak menjadi jembatan (untuk negara-negara Arab) yang berusaha memiliki hubungan normal dengan Israel."

Pihak berwenang Palestina menegaskan bantuan apa pun yang akan dikirim kepada rakyat Palestina harus dikoordinasikan dengan Otoritas Palestina terlebih dahulu.

"Mengirim bantuan langsung ke Israel merupakan penutup untuk normalisasi," tambah mereka.

Cina Bentuk Rencana Rebut Tahta Teknologi Dunia dari AS


Sumber The Japan Times


Bicara Cina bukan lagi perkara kompor Hock atau sepeda tua. Kini, Cina telah menjadi singa Asia yang tengah berburu dan melahap mangsa di seluruh dunia. Termasuk Amerika Serikat.

Seperti terlansir The Japan Times, Kamis (21/5/2020) Beijing mempercepat upayanya untuk kepemimpinan global dalam teknologi-teknologi utama, berencana untuk memompa lebih daripada satu triliun dolar ke dalam perekonomian melalui peluncuran segala sesuatu mulai dari jaringan nirkabel hingga kecerdasan buatan (AI).

Dalam rencana induk yang didukung oleh Presiden Xi Jinping sendiri, Cina akan menginvestasikan sekitar $ 1,4 triliun selama enam tahun hingga 2025, meminta pemerintah kota dan raksasa teknologi swasta seperti Huawei Technologies Co. untuk menyebarkan jaringan nirkabel generasi kelima, memasang kamera dan sensor dan mengembangkan perangkat lunak AI yang akan menopang teknologi dari pengemudian otonom ke pabrik otomatis dan pengawasan massal.

Dikabarkan dalam media itu, bahwa inisiatif infrastruktur baru ini diharapkan akan mendorong sebagian besar raksasa lokal, dari Alibaba dan Huawei ke SenseTime Group Ltd., dengan mengorbankan perusahaan AS. Seiring meningkatnya teknologi-nasionalisme, dorongan investasi akan mengurangi ketergantungan Cina pada teknologi asing - menggema tujuan yang ditetapkan sebelumnya dalam program Made in Cina 2025.

“Belum pernah terjadi hal seperti ini; ini adalah langkah China untuk memenangkan perlombaan teknologi global,” kata Kepala Operasional Digital China Holdings Maria Kwok, ketika dia duduk di kantor Hong Kong yang dikelilingi oleh kamera pengenal wajah dan sensor.

"Mulai tahun ini, kami benar-benar mulai melihat aliran uang masuk," tambahnya.

Mengutip laporan tersebut, penyedia terbesar komputasi awan dan analisis data, Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd., akan menjadi linchpin dari upaya yang akan datang. China telah mempercayakan galvanisasi 5G ke Huawei. Para pemimpin teknologi termasuk Pony Ma dan Jack Ma mendukung program ini.

Rencana stimulus baru Cina kemungkinan akan mengarah pada konsolidasi penyedia internet industri, dan dapat menyebabkan munculnya beberapa perusahaan besar yang mampu bersaing dengan para pemimpin global seperti GE dan Siemens. Satu taruhan adalah pada platform internet-of-hal industri karena Cina bertujuan untuk menumbuhkan tiga perusahaan terkemuka dunia di bidang ini pada tahun 2025.

Nah, siapkah Paman Sam menghadapi singa Asia ini?

Disinformasi dan Serangan Propaganda Cina di AS dan Eropa Sangat Memalukan!






Virus Corona jenis baru asal Wuhan tak lagi sekadar tentanh bagaimana cara mengatasinya. Akan tetapi juga terkait propaganda Cina (Republik Rakyat Cina) ke Amerika Serikat dan Eropa.

Dikabarkan Anadolu Agency, Kamis (21.05.2020) Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa disinformasi dan serangan propaganda China di negaranya dan Eropa sangat memalukan.

“(Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian) berbicara dengan bodoh atas nama Cina, berusaha mati-matian untuk menangkis rasa sakit dan pembantaian yang negara mereka sebarkan ke seluruh dunia. Disinformasi dan serangan propaganda terhadap Amerika Serikat dan Eropa sangat memalukan,” kata Trump lewat Twitter.

“Cina sedang melakukan kampanye disinformasi besar-besaran karena mereka sangat ingin agar Sleepy Joe Biden memenangkan pemilihan presiden sehingga mereka dapat terus merobek Amerika Serikat, seperti yang telah mereka lakukan selama beberapa dekade, sampai saya datang!” tambah dia.

Masih dari sumber yang sama, pada April, Trump mengatakan bahwa WHO China-sentris dan AS sementara waktu memotong dana dengan tinjauan yang tertunda.

Dia mengkritik peringatan yang terlambat terhadap pandemi virus korona baru, yang telah menginfeksi hampir 5 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 328.000.

Mengutip media itu, pada Senin, Trump memberi waktu 30 hari kepada WHO untuk “berkomitmen terhadap perbaikan besar substantif” atau AS akan secara permanen membekukan dana untuk badan tersebut dan mempertimbangkan kembali keanggotaannya.

Wednesday, May 20, 2020

Korona Itu Sudah Tidak Ada!




Judul di atas adalah salah satu kalimat yang keluar dari mulut salag seorang warga. Sebelumnya pria paruh baya tersebut juga mengatakan, "Jangan takut dengan korona!"

Ketika ia bicara soal sholat Tarawih pun responsnya sangat berani. Dengan mimik wajah serius dirinya mengatakan bahwa di tempatnya, sholat Tarawih  dilaksanakan secara normal di mushola. Orang-orang di lingkungan tempat ia tinggal menunaikannya sebanyak 20 rakaat plus 3 rakaat Witir.

Ketika saya tanya apakah sama sekali tidak ada petugas yang memantau, pria berkumis ini menjawab dengan lantang, "Tidak ada!"

Lalu, saya tanya lagi bagaimana kalau suatu saat ada petugas yang datang. Ia naik darah, "Akan kami lawan!"

Begitulah percakapan kami sore itu di salah satu warung es buah.

Mungkin Anda akan berpikir pria tersebut masyarakat awam yang berpendidikan rendah. Jika demikian yang Anda pikirkan, maka itu jauh dari kenyataan. Ia pernah menjadi anggota DPRD dan mantan ketua RT yang disegani. Ia biasa dipanggil Parete (plesetan dari Pak RT).

Selain respon seperti itu, ada lagi sebagian masyarakat yang percaya bahwa virus korona/corona atau COVID-19 merupakan hoax.

"Ya itu. Sedikit-sedikit korona. Sedikit-sedikit korona. Orang sakit biasa disebut korona!" ucap salah seorang warga yang lain.

Sebutlah namanya Kawat. Pria yang satu ini sangat menganggap biasa virus korona. Bahkan, ia berpikir korona hanyalah permainan elit politik. Senada dengan dua respons sebelumnya, ada lagi sebagian masyarakat yang menganggap bahwa virus ini sudah hilang seiring wafatnya sebagian ulama.

Memperhatikan respons-respons masyarakat di atas wajar jika ada jalan raya, mal, dan tempat-tempat umum masih ramai meski diterapkan PSBB. Dan, apa dampaknya? Sudah terbukti ada peningkatan jumlah pasien COVID-19.

Lantas, bagaimana jika PSBB dilonggarkan?

Hong Kong Blokir Peringatan Pembantaian Tiananmen dengan Larangan Berkumpul Selama Pandemi



Sumber Human Rights Watch


Sebentar lagi peringatan Tiananmen akan tiba. Sebuah pembantaian besar-besaran oleh Pemerintah Republik Rakyat Cina (Cina) pada 4 Juni 1989 itu terus diperingati di Hong Kong.

Pada hari nahas itu para demonstran yang prodemokrasi dari kalangan pelajar dan mahasiswa harus berhadapan dengan militer Cina di bawah Presiden Den Xiaoping.

Para prajurit dilengkapi tank-tank canggih melibas para demonstran di Lapangan Tiananmen, Beijing.  Dan, banyak nyawa demonstran melayang.

Akan tetapi, tahun ini peringatan tragedi itu tampaknya tidak akan dilakukan di Hong Kong.

Seperti terlansir The Guardian, (19/5/2020) setelah dua hari berturut-turut tanpa transmisi lokal Covid-19, otoritas kota mengumumkan beberapa pembatasan akan mereda, tetapi mereka yang membatasi pertemuan hingga maksimum delapan orang akan diperpanjang selama 14 hari.

Pembatasan itu akan berakhir pekan ini tetapi sekarang akan berakhir tidak lebih awal dari 5 Juni, sehari setelah peringatan tahunan Hong Kong untuk memperingati penumpasan brutal tentara Cina terhadap para demonstran pada tahun 1989 tersebut.

Acara peringatan ini telah diadakan setiap tahun sejak tahun 1990. Ini adalah peringatan terbesar dan tradisional satu-satunya peristiwa besar yang kadang-kadang menarik lebih dari 100.000 orang.

Masih dari sumber yang sama, pada jumpa pers hari Selasa sore, sekretaris Hong Kong untuk makanan dan kesehatan, Sophia Chan, mengatakan, "Selama ini kami telah memperpanjang larangan 14 hari.

“Langkah terbaru telah mengikuti aturan 14 hari dan pertimbangan kami secara keseluruhan adalah tentang kesehatan masyarakat dan tidak ada faktor lain yang dipertimbangkan."

“Kami tidak ingin orang-orang berkumpul. Jika mereka berkumpul ada risiko," tambahnya.

Dikabarkan media itu, Lee Cheuk-yan, Ketua Aliansi Hong Kong dalam Mendukung Gerakan Demokratis Patriotik di Cina, mengatakan tidak masuk akal untuk melarang demonstrasi politik sementara sekolah dan kegiatan keagamaan dapat dimulai kembali.

Lee mengatakan kepada Asia Times yang dikutip The Guardian bahwa panitia akan bertemu untuk membahas alternatif untuk acara menyalakan lilin sebagai duka cita atas jatuhnya korban jiwa pada tragedi kemanusiaan Lapangan Tiananmen, yang secara tradisional diadakan di Victoria Park di timur kota.

Selama ini Hong Kong memang selalu menjadi pusat peringatan tersebut karena iklim demokrasi yang memungkinkan di sana.

Cluster Mall, Cerpen Karya Shantined






Sudah lebih tiga bulan ia tidak nge-mall. Juga minum kopi di café, makan di resto favorit, atau nonton bioskop. Bahkan, belanja apa pun mesti online, lewat  aplikasi atau WAG perumahan. Benar-benar ia tidak keluar rumah. Anak-anaknya tidak sekolah, dan suaminya WFH, Work From Home. Hanya sesekali ia pergi ke warung tetangga untuk membeli kebutuhan mendesak. Tiap hari dihabiskannya waktu dengan keluarga, bercanda, ngobrol, masak bareng, belajar, nonton TV, dan tak lupa berantem atau menjadi wasit – bergantian saja, perang ala ala keluarga antara anak-anaknya, atau anak-anak dengan sang ortu, sesekali tentu saja ia dengan sang suami. Itu biasa bukan?

Namun, hari ini ia benar-benar ingin mengenakan baju baru yang dibelinya onlen minggu lalu. Juga sepatu kekinian yang sudah sekian lama nangkring di pojokan ruang. Dan ia benar benar mengenakannya pagi ini, berdandan sedikit menor, dan bubuhkan parfum di balik kedua telinganya. Sambil bercermin ia senyum-senyum sendiri. Ia bosan daster dan kain lap beserta bau bumbu. Ia benar-benar seolah mau pergi ke kondangan. Kini, ia mau beri kejutan pada suaminya yang masih asyik membongkar mobilnya, mumpung ketiga anaknya masih tertidur pulas setelah sahur dan sholat Subuh tadi.

Selagi ia mengendap-endap menuju garasi, ponselnya berdering. Dari Shelly, tetangga sebelah.

“ Hai, Mbak Shelly, apa kabar…pasti mau nanya resep masakan ya?”

“Pagi Mbak, udah mandi pagi? Oh  bukaaaann…kali  ini aku mau ngajak jalan”

“What? Jalan ke mana?“ ia terpekik sesaat, lalu mulai memelankan suaranya.

“Mall Ailapyu udah dibuka kemarin, Mbak, masak nggak tahu? Ayo gih ke sana bentar, cek barang baru”

Bzztttt…bzzztttt...bzzzttttt....

Lalu terjadilah keseruan dalam percakapan, mulai cekikikan hingga bisik-bisik penuh rahasia yang tak bisa disadap oleh telinga siapa pun, kecuali emak-emak sekloter yang paham bahasa sandi mereka.

Ternyata mereka bersepakat, dalam satu jam kedepan Mall itu harus mereka tinjau. Jangan sampai kelewatan atau ketinggalan. Mereka sudah sangat rindu hawa Mall, sejuk AC-nya yang tiada tara, serta belanja barang-barang dengan cara memilih sendiri, bukan dengan scroll layar hape.

Dua emak penuh gairah membara membayangkan  mall, lupa sesaat dengan corona yang selama ini mereka takuti, tiba-tiba punya nyali besar untuk meminta izin pada suami mereka untuk pergi berdua. Tentu saja para suami melarang. Akan tetapi, demi janji memenuhi protap ketat dan segala tetek bengeknya, luluh juga mereka.

Eng ing eng…ke Mall coy…

Hanya perlu sepersekian detik, mereka telah masuk dalam mobil Shelly. Mobil yang selalu menganggur dan  terlihat tidak berguna sekian lama, kini menjadi  kendaraan tercepat menuju Mall Ailapyu. Masker berwarna-warni mereka kenakan, disesuaikan dengan warna baju tentu saja.

Di dekat pintu masuk, mereka diperiksa suhu tubuhnya oleh satpam. Dituangi gel antiseptic di tangan, lalu dipersilahkan mengantri masuk ke dalam Mall yang mulai berjubel penuh dengan manusia. Semua bermasker, dan tampak terburu-buru, membawa belanjaan. Ia dan Shelly tampak sedikit canggung. Antara  takut dan ingin.

“Semangat” bisik Shelly. Lalu keduanya menceburkan diri dalam lautan manusia bermasker yang sudah lupa dengan aturan distancing-distancing.

Alamak, betapa rindu mereka dengan  suasana ini.  Escalator, deretan baju branded, diskon dan aneka gift voucher. Belum lagi, café dan  berderet counter mini resto yang sekian bulan hanya mereka  pesan melalui ojol.

“Aku mau beli ini dulu buat buka puasa anak-anak nanti” ia setengah berteriak pada Shelly.

Shelly juga tak kalah kalap, memborong baju, handuk, gorden, seprai, aneka kue dan masih banyak lainnya sehingga trolly belanja mereka terlihat seperti truk angkutan barang.

Hampir dua jam, waktu yang diberikan pak suami hampir habis. Sebagai finishing, mereka mampir ke outlet make up dan kecantikan. Membeli beberapa warna lipstick dan eye shadow yang habis karena konon barang macam begini tak akan puas jika beli via onlen, tak bisa dicoba. Ah, ada saja alasan.

Akhirnya, sampai juga mereka di rumah masing-masing. Pastinya ada rasa bersalah ketika anak-anak dan suami melotot melihat  banyaknya barang yang ia turunkan dari mobil. Tapi tak apalah. Namanya juga belanja tahunan.

Ia mencuci tangan, ganti baju, dan mencuci lembaran uang kembalian. Bagaimanapun ia masih mematuhi undang-undang anticorona ini.

Sambil memeluk si kecil yang ngambek ditinggal ke Mall, ia memindah channel televisi. Berita tentang korban virus mematikan ini terus saja menghantui siapa saja. Ia tak mau lagi mendengarnya, lebih baik nonton drakor atau konser kemanusiaan yang baru saja mulai, melibatkan para artis, penyanyi dan beberapa pejabat. Nah, ini baru asyik. Hiburan rakyat, agar tak stress memikirkan  wabah yang  tak tahu kapan usainya.

Hingga seminggu kemudian, ia mendapati kabar bahwa  salah satu gerai di Mall Ailapyu ditutup karena beberpa karyawannya positif COVID-19  Untung saja ia tak jadi belanja makanan disana, ia bersyukur. Tapi, berita yang ada makin berkembang, ternyata bukan hanya gerai itu saja yang karyawannya kena corona, melainkan  beberapa  satpam dan karyawan cleaning  service. Ia mulai bergidik. Scroll  berita apa saja mengenai cluster Mall Ailapyu.

Akhirnya sampailah ia pada kolom imbauan kepada seluruh pengunjung Mall pada hari-hari ia pergi ke sana itu, untuk melakukan uji sample rapid, bahkan CRP jika diperlukan, gratis.

Kali ini ia membaca tulisan GRATIS, tanpa selera.  Tulang dan seluruh sendinya terasa lemah tak berdaya. Apalagi sudah tiga hari ini ia merasa demam, tenggorokan terasa tak enak, tapi disembuyikannya dari suami dan anak-anaknya, takut kena omelan. Pasti mereka akan bilang: Tuh sih mamah, gara-gara ke Mall.

Gemetaran ia mengirim whatsapps Shelly. Ternyata sama, Shelly demam juga. Lalu sayup terdengar  berita dari televisi, bahwa Mall Ailapyu ditutup karena terbukti telah banyak menularkan virus corona, bahkan telah djuluki cluster Mall, cluster baru di kota ini

Ia terduduk lemas. Tatapannya kosong memandang  lipatan baju baru di sudut meja. Adzan Magrib berkumandang. Ia belum menyiapkan apa pun untuk  hidangan berbuka puasa.

----------------  end------------------
Shantined, 18/05/2020




Shantined, lahir di Yogyakarta, 21 Oktober 1972. Ia sudah menulis puisi dan cerpen sejak SD. Sampai saat ini, puisi-puisinya sudah muncul di berbagai media massa, misalnya Majalah Sastra Horison, Harian Republika, Suara Pembabaruan, Minggu Pagi, Kaltim Pos, Tribun Kaltim, Dinamika & Kriminal, dan buletin BENL

Beberapa puisi dan cerpennya termuat dalam beberapa antologi bersama, di antaranya Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia 2005 (Risalah Badai & Komunitas Sastra Indonesia, 2005), "Negeri Terluka Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia" (Risalah Badai & Logung Pustaka, Yogyakarta, 2005), antologi puisi The End oF Trilogy "Dian Sastro For President" (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2005), antologi puisi "Perkawinan Batu" (Dewan Kesenian Jakarta, 2005), antologi puisi 17 Penyair Perempuan Indonesia "Selendang Pelangi" (Indonesia Tera, 2006), antologi puisi "142 Penyair Menuju Bulan" (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Kalsel, 2006), antologi puisi "Medan Puisi" (Sastra Laboratorium, Medan, 2006), antologi puisi penyair "Balikpapan Menatap Masa" (Dewan Kesenian Balikpapan, 2007), antologi cerpen "Bingkisan Petir" (Mahatari dan Jaring Penulis Kaltim, 2005), antologi cerpen "Samarinda Kota Tercinta" (Jaring Penulis Kaltim, 2007), dan antologi cerpen "Balikpapan Kota Tercinta" (2007). 

Tuesday, May 19, 2020

Tanner Greer: Rencana Cina untuk Menang dalam Kontrol Tatanan Global


Sumber Tablet Magazine


Dalam sebuah artikel tentang rencana Cina untuk menang dalam kontrol tatanan global, Tanner Greer menuliskan poin-poin penting yang perlu dunia tahu. Artikelnya dimuat dalam Tablet Magazine pada 18 Mei 2020. Tanner Greer adalah seorang jurnalis dan peneliti yang berfokus pada masalah keamanan kontemporer di kawasan Asia-Pasifik dan sejarah militer Asia Timur dan Tenggara.

Di awal tulisannya, ia menyebutkan bahwa Kepemimpinan Partai Komunis Cina percaya bahwa mereka berada di tengah-tengah 'perjuangan ideologis yang intens' untuk bertahan hidup dan untuk memenangkannya mereka harus mengalahkan Barat.

Bergeser dari situ, Greer menunjukkan realitas Republik Rakyat Cina sekarang memerintahkan populasi terbesar di dunia, ekonominya yang terbesar kedua, dan kompleks industri-militer dan sektor teknologi tinggi nomor dua setelah Amerika.

Di belakang massa besar manusia dan materi ini berdiri Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cina. Xi, yang didukung oleh kelas komunis Cina yang memerintah bersamanya, percaya bahwa peran mereka adalah untuk membimbing Cina — dan seluruh dunia — ke zaman baru. Ekspansi militer Cina, investasi ekonomi besar-besaran dalam mengendalikan rute perdagangan global, dan meningkatnya operasi informasi semuanya mengarah pada perjuangan untuk dominasi yang menempatkannya dalam konflik langsung dengan Barat.

Xi Jinping dan Komunis abad ke-21 lainnya menyerukan slogan, "Hanya sosialisme yang bisa menyelamatkan Cina, dan hanya sosialisme yang bisa mengembangkan Cina."

komunis Cina percaya bahwa ancaman terbesar bagi keamanan partai mereka, stabilitas negara mereka, dan kembalinya Cina ke tempat yang seharusnya di pusat peradaban manusia, adalah ideologis.

Dalam artikelnya, Greer membahas bagaimana tepatnya seseorang memerangi sistem nilai? Orang bisa membungkam mereka yang memperjuangkannya. Ini adalah logika represif di balik sistem penyensoran dan pengawasan yang luas yang telah dibangun partai untuk mengendalikan lalu lintas gagasan di antara rakyat Cina.

Ketika kecemasan komunis semakin meningkat selama dekade terakhir, sistem ini menjadi semakin menggumpal darah:

1) Internet Cina telah dibanjiri dengan informasi yang salah;

2) para pembangkang, jurnalis, pengacara, sejarawan, akademisi, pengusaha, dan aktivis yang menyuarakan oposisi terhadap program Xi telah disensor, dipenjara, dan "dihilangkan";

3) universitas dan korporasi telah memasukkan sel-sel partai di dalamnya;

4) ribuan gereja dan masjid di seluruh China telah dihancurkan; dan

5) di suatu tempat dekat dengan satu juta Uighur " terinfeksi dengan tuduhan ekstremisme " telah ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi.

Greer menyebut kenyataannya adalah, ini hanya contoh yang sangat menonjol dari praktik yang telah lama digunakan partai untuk membungkam orang-orang yang menentangnya — baik mereka yang tinggal di dalam maupun di luar Cina.

Kemudian ia menuliskan, dalam upayanya untuk mengendalikan dunia luar, negara Cina tidak ragu-ragu mengancam perusahaan asing dengan serangan dunia maya atau menyandera karyawan mereka, memotong selebritas, perusahaan, industri, dan bahkan seluruh negara "off" dari pasar Cina. Mereka menyuap pejabat pemerintah asing, membeli organisasi media asing, protes astroturf, menggerakkan massa online melawan atau mengirim preman untuk secara pribadi mengintimidasi para peneliti, aktivis, atau tokoh media asing.

Komunitas diaspora Cina sangat rentan terhadap taktik ini. Koktail pengawasan, pemerasan,  pelecehan, intimidasi, penyuapan, dan ancaman terhadap keluarga anggota di Cina telah dibungkam kritik dan membawa satu publikasi berbahasa Cina berbasis Barat- kaki garis partai demi satu.

Ketika partai memiliki pengaruh yang cukup untuk memenangkan kontes ide dengan membungkam mereka pada sumbernya, mereka melakukannya.

Greer menegaskan dalam tulisannya bahwa bagi partai, penyensoran ide-ide yang bermusuhan dan intimidasi terhadap mereka yang menyuarakannya hanyalah solusi sementara. Untuk mengamankan kemenangan mereka, nilai-nilai liberal tidak hanya perlu dibungkam. Mereka harus didiskreditkan.

Rencana komunis Cina untuk mendiskreditkan dan membongkar nilai-nilai liberal yang dimasukkan ke dalam arsitektur global yang ada sangat ambisius. Mereka membayangkan realitas masa depan di mana bahkan gagasan bahwa Cina bisa lebih sukses, kaya, atau berkuasa. Xi Jinping telah memberi nama untuk dunia masa depan ini. Dia menyebut visi ini "Komunitas takdir yang sama bagi umat manusia."

Greer melanjutkan lagi, komunitas bangsa-bangsa di masa depan ini akan memberikan pengakuan moral kepada komunisme Cina yang sekarang ditolak. Negara partai akan dipuji, dalam kata-kata Xi, sebagai "kontribusi baru bagi peradaban politik" dan babak baru dalam "sejarah perkembangan masyarakat manusia."

Blok kekuatan dan aliansi militer yang ada akan segera mencair ketika berbagai negara di Bumi ditarik ke orbit ekonomi Cina. Tidak ada negara yang akan dipaksa untuk menggeser rezim mereka ke model Cina dalam skenario ini, tetapi sebagian besar akan mengakui bahwa sistem sosial dan politik Cina telah "menunjukkan keunggulan sosialisme." Banyak yang dengan senang hati akan mengadopsi alat yang telah sempurna Beijing untuk mengelola masalah ekonomi dan politik untuk membentuk masyarakat mereka sendiri.

Demokratisasi, pasar bebas, dan hak asasi manusia universal tidak akan lagi diabadikan sebagai landasan lembaga internasional paling penting di dunia atau dilihat sebagai standar standar tata pemerintahan yang baik. Mereka sebaliknya akan direduksi menjadi tradisi parokial yang khas bagi segelintir negara-negara Barat yang terbuang.

Dan, Greer menyebut bahwa Partai Komunis Cina tidak hanya memimpikan masa depan ini: Partai sudah mulai membangunnya. Dalam laporannya kepada Kongres Partai ke-19 pada tahun 2017 -- pikirkan itu sebagai versi kediktatoran komunis dari Negara Kesatuan Alamat, jika pidato itu adalah hasil dari enam bulan rancangan, revisi, dan pertikaian birokrasi -- Xi Jinping menyatakan bahwa China telah memasuki "era baru." Negara tidak lagi akan "menyembunyikan kekuatannya dan menunggu waktunya."

Dalam terang pernyataan ini, anggota politbiro dan mantan diplomat senior Yang Jiechi mendesak para diplomat China bahwa waktunya telah tiba untuk percaya diri dan "dengan penuh semangat mengendalikan arah baru dari kemajuan bersama Cina dan dunia."

Bukti nyatanya adalah, miliaran investor China telah membajak infrastruktur di negara-negara berkembang di bawah "Inisiatif Sabuk dan Jalan" Xi adalah bagian penting dari rencana ini.

Setiap proyek bermerek BRI, partai berharap, bergerak manusia selangkah lebih dekat ke tatanan global baru yang diselenggarakan seputar kemitraan ekonomi dengan Beijing. Dalam kata-kata Xi, masing-masing adalah kesempatan untuk "menyambut (negara lain) di atas kereta pengembangan kami."

Selanjutnya, Greer menutup artikelnya dengan sedikit mengusik soal COVID-19. Keputusan RRC untuk mengizinkan diplomat dan akun propaganda Cina untuk menyebarkan konspirasi anti-Amerika COVID-19, misalnya, sulit untuk dipahami sampai Anda menyadari bahwa orang-orang yang menyebarkan konspirasi ini percaya mereka terlibat dalam "perjuangan ideologis" dengan nilai-nilai permusuhan tatanan liberal. Taruhan dari perjuangan ini tidak bisa lebih tinggi: mereka percaya bahwa masa depan tatanan global dan kelangsungan hidup rezim mereka dipertaruhkan.