Tuesday, December 18, 2018

SELAT BOSPHORUS, Sebuah Cerpen Ewin Adhia


Tahun 1998 adalah tahun yang sulit. Sering hanya acar tomat yang menemani nasi di piringku. Atau terasi yang kubikin penyedap rasa nasi gorengku. Usia terasiku berusia  setahun lebih. Tersisa di kotak bekal karena aku tak pernah suka. Saat krismon melanda, terasi dan minyak panas adalah sahabat nasi. Bawang bombai pernah ikut  sobatan  saat seseorang menyelipkan puluhan pound di saku celanaku sepulang shalat subuh di Masjid Rab’ah.
Aku lebih sering bikin cacapan asam untuk menemani nasi. Sejak ikan asin terhitung barang impor yang mewah, cacapan asam itu langsung kucampur nasi. Akan tetapi, kemiskinan  tidak sedikitpun membuat sedih.
Tahun itu juga aku mengenal keluarga Oslo dan keluarga Batur, dua keluarga Turki yang membuat kemiskinan tidak terasa. Batur sering datang membawa beras beserta makaroni, ayam, telur, suguk, burger, sayuran dan apa saja yang disukai mahasiswa Indonesia. Batur tak hanya membawa berkah bagiku tapi juga teman-teman seapartemenku. Adapun keluarga Oslo adalah tempatku merasakan kehangatan keluarga—malas-malasan di sofa sambil membaca, main monopoli, nonton TV, makan siang atau malam dalam menu Turki rumahan, atau sekedar bercanda tawa dengan kedua gadis Oslo.
Suasana rumahan yang menyenangkan itu terus berlanjut walaupun salah satu gadis Oslo kembali ke Negaranya.
Keadaan mulai rumit saat Anas Oslo memintaku ke Istanbul untuk diajarinya berdagang—lebih tepatnya menyelundupkan dagangan Anas dari Istanbul ke Kairo.
Dagangan itu sangatlah indah, tipis dan ringan—lebih kecil dari korek api bila dilipat. Seransel dagangan itu akan bernilai ratusan dolar yang akan menjadi ribuan dolar bila dijual di Kairo.
Aku selalu tinggal beberapa hari di Istanbul atau Bursa menemaninya belanja. Kadang bertiga Janan, kadang hanya berdua Anas atau berdua Janan. Kemudian aku dan Anas kembali terbang ke Kairo, membagikan jilbab-jilbab sutra itu di toko-toko Abbasiyyah, Heliopolis, Mohandessen sampai Alexandria, dan Mansoura. Kemudian aku serius belajar sampai saatnya memunguti tagihan lalu terbang lagi ke Istanbul.
Cerita ini terjadi pada kedatanganku ke tiga. Aku berdiri di atas Bosphorus membelakangi Haigha Sophia dan Mesjid Biru, memandangi Kiz Kulesi dari pelatarannya. Maiden Tower, Arcla, Little Castle, Menara perawan dalam bahasaku sendiri. Menurutku nama itu sangat mewakili keindahan dan kesunyian tempat ini—dulu aku mengira tempat ini hanyalah gazebo cantik yang dibangun di atas karang di tengah Bosphorus.
Sehabis sembahyang Magrib di Masjid Ortakoy aku ditawari ke sini oleh pemilik kapal yang sembahyang Magrib bersamaku.
Ternyata tempat ini adalah bangunan abad pertengahan dari batu yang seperempatnya dibikin tiga tingkat, membuatnya terlihat bagai menara. Dan aku menelpon Janan agar menyusulku ke sini.
Buyrun efendim. Onluk Dakika.” Dia menjawab dengan suara agak paraunya yang seksi dan penuh—Seperti bila kau minum vegeta. Kalimat itu secara harfiah berarti “Baiklah tuanku, 10 menit lagi.” Tapi saat itu terdengar dari mulut Janan, aku mengira diriku adalah Sulaiman Alqanuni karena dia hampir selalu mengucapkan “efendim” dengan sedikit anggukan dan tatapan menyerah, dan caranya mengucapkan Ü mengharuskanku membuang muka karena pernah membuat insomnia. 
Aku memutar tubuh membelakangi Kiz Kulesi. Matahari tenggelam sepenuhnya di laut Marmara. Yang tersisa darinya hanya langit kemerahan di atas Haigha Sophia. Lampu-lampu sorot membuatnya terkesan agung. Masjid biru di sebelahnya tampak cemerlang, gagah dan rupawan.
Kupandangi lautan yang gelap. Lampu-lampu di sekitar Bosphorus tampak menari di dalamnya. Sekilas yang mengalir di selat itu bukanlah air tetapi minyak, karena tarian lampu-lampu bergerak lambat.
Kapal-kapal kecil yang singgah dan pergi, tak satupun terlepas dari perhatianku. Sebenarnya aku menyesal menelpon Janan. Terus terang aku merasa salah tiap  hanya berdua dengannya. Kondisi seperti ini hanya terjadi bila kau sangat  sadar akan berbuat dosa namun sukarela larut di dalamnya. Mungkin dosa itu hanyalah tatapan tetapi dosa adalah dosa. Bila jantungku diukur dengan seismometer dan degup jantungku saat memandangnya sama banyak dengan dosaku, entah berapa meter kertas yang keluar dari alat pencatat getaran itu. Dan aku menyerah dalam zona persahabatan yang makin kacau ini.
Kumasukkan tangan ke saku jaket. Adidas. Berwarna biru dengan 2 strip putih di bagian lengan. Sebuah perahu lain mendekat, kuperiksa hpku, itu Janan. Dia sangat presisi dalam urusan waktu. Mungkin semua orang Turki begitu. Mungkin semua bangsa kecuali Banjar yang terbawa-bawa kebiasaan Indonesia.
Itu dia! Aku menjerit di dalam hati. Janan melambai ceria. Bila tidak dipegangi ibu-ibu di sebelahku, mungkin aku sudah tercebur dalam Bosphorus saking senangnya—saat itu sepatuku sudah keluar setengah dari pelataran Kiz kulesi.
“Andunisi!” Jeritnya setelah perahunya merapat sempurna, dia melompat dengan tangan terpentang. Tidak seperti keluarga Batur yang syari’, gadis-gadis Oslo sangatlah liberal. Seperti biasa aku menyambutnya serba salah untuk kemudian menyentuhkan pipiku pada pipinya.
 “Dalam rangka apa mengundangku ke sini?” Tanyanya dengan senyuman lebar, tempat ini hilang indahnya demi senyuman itu.
“Aku…,” seperti biasa aku gagap bila bersamanya. Sebenarnya karena aku baru tahu ini restoran tapi…, apa salahnya makan bersama?
“Kamu ingin melamarku?” Dia menyelaku tanpa merasa bersalah. Seolah itu bukan sesuatu yang mengubah garis hidup seorang pemuda dan parahnya aku tak pernah berfikir sejauh itu. Umurku baru 21 dan dia 18-an.
, “…aku punya versiku sendiri tentang Kiz Kulesi yang ingin kuceritakan padamu.” Akhirnya aku berkesempatan meneruskan kalimatku tadi.
“Ceritakan!” Katanya cepat.
“Mungkin sambil duduk.”
“Andunisi!” Dia berseru gembira lalu memeluk lenganku. Janan kemudian berjalan riang seperti gadis bertudung merah yang belum tahu neneknya sudah dimakan serigala.
Kami melangkah menuju restoran dan aku kesulitan berjalan karena dia menyandari bahuku sambil melangkah. Setelah melewati pintu restoran, kami terpaku melihat meja-meja di sana terisi penuh. Pelayan menyilakan kami naik ke lantai dua dan menunjukkan meja pesananku. Meja-meja di lantai dua lebih personal, menjanjikan kami sedikit privasi.
Suara langkah kami teredam karpet tebal. Lantai dari kayu ini adalah konstruksi tambahan di samping ruangan yang terlihat seperti menara.
“Ceritakan versimu!” Katanya setelah duduk.
Aku terdiam. Aku selalu butuh waktu mengagumi bibirnya yang seperti pulau di tengah lautan—pulau kecil yang dilihat dari kejauhan dan lautan tenang seperti yang mengitari Angsana, Derawan dan Raja Ampat. “Begini,” kataku setelah berhasil mendamaikan jantungku, “waktu Benua Atlantis belum tenggelam—,” Janan menyelaku dengan mengangkat lima jarinya, “Ini tentang Kiz kulesi, kan?” 
Aku mengangguk, Janan tidak menurunkan tangan, hanya mengerutkan kening, menatapku tajam hingga menembus mata dan menyelidiki isi otakku.
“Terlalu jau… terlalu ngga nyambung.” Dia menggeleng setelah berpikir beberapa menit.
“Biar kuteruskan….” Protesku.
“…biar aku yang meneruskan.” Katanya. “Arcla didirikan pada abad lebih baru. Waktu itu yang tersisa dari Atlantis hanyalah sebuah pulau,” Janan seperti berfikir keras, “…Borneo, pulau itu namanya Borneo. Rajanya sangat berambisi meluaskan kekuasaan sampai Aegea, Mediterania dan Marmara.” Aku mengangkat alis, Janan terus bicara, “dia pemalu tapi kejam. Sparta dibumihanguskan dalam tiga hari, Troya—Priam dicincangnya, Hector tumpas lebih dulu dengan satu lemparan lembing dan Athena rata dengan tanah.”
“Siapa nama raja itu?” Tanyaku antara penasaran dan ingin tertawa melihatnya mengada-ada penuh semangat.
“Namanya tidak penting. Raja itu menaklukkan Anatolia dan merampas putri tercantiknya, nama putri itu…,”
“Jeanett.” Aku menyela, “bentuk singular dari Janan dalam bahasa Arab.” kutekankan penamaan itu dengan pandangan mengintimidasi.
“Jeanet.” Janan menyerah dan tertawa kecil, “gadis yang kecantikannya membuat surga menjadi murung.”  
“Dan Jeanet membuatku lapar karena ceritanya.” Timpalku.
Janan tertawa, memanggil pelayan lalu berceloteh dalam bahasa Turki dengannya. Pelayan minta diri, kami kembali berdebat tentang akhir cerita itu dan berakhir dengan….
“Kenapa Jeanet harus mati dipatuk ular?”  Bibir Janan melipat menyesali penutup karangannya sendiri.
“Kalau begitu, dengarkan versiku.” Jawabku,  aku memeras otak mencari sambungan ceritanya. “Raja tanpa nama itu mengurung Jeanet di menara ini hanya sementara menyelesaikan istana baginya di Borneo.”
“Raja itu bukannya tanpa nama tapi jelek. Terdengar seperti kimia terlarang di telingaku.” Sahutnya, “Kamu tahu, Anatolia yang kalah meminta bantuan dari Sardinia untuk menyerang balik Borneo.”
“Dan cintanya pada Putri Anatolia membuat Borneo tumpas.” Aku berkata pasrah.
“Raja itu pengecut dan peragu.” Timpal Janan.
“Lengkap. Pendiam, pengecut dan peragu. Sama sekali bukan raja.”
“Bukan Raja, mungkin hanya pecinta.”
Kami terdiam, aku berdiri meninggalkan meja, berhenti pada jendela yang menghadap Eropa, memandang kosong pada lampu-lampu Kabatas. Janan memandang hampa ke arah Sacak lewat jendela yang menghadap Asia.
Yemek hazir. Madam, efendimiz.” Pelayan memecah kebisuan, di tangannya ada sebuah bokor penuh bola-bola berduri yang membuat kami kembali duduk. Janan tersenyum-senyum menatapku dan aku mengimbanginya.
Di samping bokor itu ada semangkuk sup sangat kental dan sepiring kecil udang rebus.
“Apa…,” aku ingin bertanya tapi digagalkan Janan dengan tatapannya. Dia melindungi tangannya dengan serbet lalu hati-hati memungut sebutir bola berduri, membuka bagian atas yang rupanya sudah dipotong lalu mengisinya dengan sup kental.
“Yang ini lentera Aristoteles.” Katanya, sesuatu berpindah dari sendok di tangannya ke mulutku, gurih yang ganjil, pedas dan berkrim. “Yang ini caviar landak laut.”
Janan tertawa-tawa melihat ekspresiku mencicipi menu pilihannya. Dia sendiri memasukkan beberapa potong udang dalam cangkang yang berisi krim itu lalu memakannya.
Kejadian itu berulang, dia mengambil landak laut baru, membuka, memasukkan jeroannya ke mulutku setelah menambahkan sup dan udang rebus ke mulutnya.


Bagi yang berminat menikmati cerita-cerita lainnya dari penulis ini, silakan baca langsung buku  Dari Warung Jablai ke Selat Bosphorus (klik judul)


Sunday, December 16, 2018

Kamus Pemali Banjar



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (daring terbaru) pemali diartikan sebagai pantangan atau larangan berdasarkan adat dan kebiasaan.

Hutari (2010, dalam Jamali & Dalle, 2013:1055) berpendapat istilah pemali/pamali berasal dari bahasa Sunda, makna katanya sama dengan pantrang (pantang) dan cadu (tabu), yang artinya pantangan atau larangan tentang suatu tindakan yang dilakukan sehari-hari yang apabila dilakukan akan dapat mendatangkan kesialan dalam hal kesehatan, keselamatan, jodoh, rezeki, keturunan, dsb.

Menurut teori folklor, pemali termasuk dalam kelompok kepercayaan rakyat yang lazim disebut takhayul (Danandja, 1984:153-155). Namun, ada juga ahli lain yang memasukkannya dalam kelompok ungkapan tradisional (Effendi dkk, 1994:27), dan (Jamali & Dalle, 2013:1055).

Effendi, dkk (1994:27) menyebut pemali dengan istilah kata-kata tabu (ungkapan larangan), yakni sebuah kalimat imperatif atau bisa juga sebuah kalimat pernyataan. Susunan kalimat dalam ungkapan tabu ada dua macam, yakni: (1) terdiri dua bagian, yakni berupa sebuah frase kerja ditambah dengan modalitas jangan, dan (2) tanpa modalitas jangan yang bermakna larangan ditambah dengan sebuah frase  (frase kerja, frase sifat, atau frase benda) yang mengandung makna hukuman atau sanksi.

Pemali dalam masyarakat Banjar berarti ungkapan-ungkapan yang mengandung semacam larangan atau pantangan untuk dilakukan, di mana dalam masyarakat Banjar, pemali memiliki posisi sekaligus berfungsi sebagai kontrol sosial bagi seseorang dalam berkata, bertindak, atau melakukan suatu kegiatan (Jamali dan Dalle, 2013). Kamus Banjar Indonesia) mengartikan pamali sebagai pantang (Hapip, 2001:132).

Sementara Tajuddin Nor Ganie sebagai penyusun Kamus Pemali Banjar sendiri merumuskan pemali Banjar sebagai ungkapan tradisional berbahasa Banjar yang berisi paparan tentang siapa saja yang tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan tertentu pada waktu-waktu tertentu di tempat-tempat tertentu dan akibat-akibat tertentu yang melekat sebagai hukuman yang diancamkan kepada siapa saja yang berani melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang tidak boleh dilakukan itu.



Contoh Pamali Banjar adalah seperti di bawah ini.

Kakanakan nang hanyar basunat pamali bajalan ka luar rumah kalu talangkahi tahi hayam kaina lukanya lambat waras

Artinya: Anak-anak yang baru berkhitan terlarang berjalan-jalan di luar rumah jika sampai terlangkahi tahi ayam, maka luka bekas khitanan akan lama sembuhnya.

Nah, untuk lebih mengenal lebih jauh pemali Banjar beserta artinya, Anda perlu membaca Kamus Pemali Banjar yang disusun Tajuddin Noor Ganie. Bagaimana mendapatkannya? Anda bisa memesannya langsung ke nomor 08195188521 

Friday, December 14, 2018

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan Z S



Di Bawah Purnama

bayangbayangku makin memanjang
setiap aku menjauh bagai sauh
membelah laut jadi dua
lalu kuberi jalan untukmu
agar pergi dari pantai yang kian amis
oleh cangkang

di bawah purnama
tubuhku jadi hitam
dan cahayamu saja
tetap kurasa
sebagai penanda
ke mana aku mesti berhenti
bayangbayangku memanjang
mengukur perjalanan
yang masih separuh
padamu berlabuh



Pinjami Aku

beri aku kapak itu
akan kutebas kepala
patung dalam tubuhku

pinjami aku tongkat
yang pernah membelah laut
dalam diri yang tak mau diam

kasih aku kekuatan mata
untuk menatap kilatan
di batu tursina
agar kupandangi kau
tak berkejap
antar kelembutan sang lelaki
hingga aku mampu
menyujudkan congkakku



Menit yang Memburu

bergegas kutinggalkan menit-menit yang memburu
di keriuhan petang, di saat hibuk orang-orang
mengacungkan pedang
ke tubuh bayang; ke hasat setan
aku tak mau tumpas, mati bersimbah prahara
sebelum sampai di rumahmu

di rumahmu
yang juga rumahku
kini dan akan nanti

aku tak ingin
jangan terjadi
terbunuh di luar rumahmu

- perkenankan -



Tak ada Kau

tak ada kau di pintu
tapi aku tetap masuk
ingin berindurindu
hingga malam telingsut

aku tetap masuk
meski kau tak menyambutku
di depan pintu
karena kutahu kau ada dalam diriku

aku ingin berindurindu
di antara kesibukanku
tapi kau tak ada di depan pintu
cuma kuyakin kau ada di dalam

: hatiku yang selalu basah oleh namamu



Tadarus

sebaris ayat mengalir
bagai anak sungai
menuju ayatayat lain
ke laut, ke pulaupulau,
berlabuh di dermaga

lahir di penghulu bulan
mengingatkanku
pada peristiwa, jutaan
kisah: menghatukan
ruh dan jiwa

di mahligai
tanpa lambai
tiada abai

dari ayat ini
aku berperahu
ke ayat berikutnya

malam lengang
kurasakan dengung
di hati ini

"aku telah sampai
tapi tak pernah khatam."





Orang mengenalnya sebagai Isbedy Stiawan ZS. Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan hingga kini masih menetap di kota yang sama. Dia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Zakirin Senet (alm) bersuku Bengkulu dan Ratminah (Winduhaji, Sindanglaut, Cirebon). Menjadi pengarang adalah pilihan hidupnya.

Selain menulis karya sastra (cerpen, puisi, esai sastra), kini dia aktif di Dewan Kesenian Lampung dan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung. Sehari-hari, mulai Juli 2010, bekerja di Lampung TV (LTV)--grup MNC--sebagai produser New Cekal (berita-berita kriminal dan hukum). Pernah diundang ke berbagai pertemuan sastra dan budaya di Tanah Air dan luar negeri seperti Malaysia, Thailand, dan Brunai. Sempat membacakan puisi-puisinya di Utan Kayu Internationan Binnale (2005), Ubud Writers and Readers Festival (2007), dan lain-lain. Karya-karyanya dipublikasikan di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Republika, Horison, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Lampung, Riau Pos, Jurnas Nasional, Harian Global (Jurnal Medan), dll. Blog http://isbedystiawanzs.blogspot.com

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)

Tuesday, December 11, 2018

Puisi-Puisi Asrizal Nur




Jangan Tanya Lagi

Jangan tanya lagi
muasal air direguk
bila hujan asal satu langit
laut
gunung
jarak
hanya memisah badan
sedang kalbu dapat terbang dijulang angin
mengantar rindu hati satu

jangan tanya lagi
muasal darah netes
bila tanah
dari satu bumi
tanyakan kemana tujuan?

Ini hari
kita masih berlari dilangkah semula
terseret waktu lalu
dengan dada luka
lantaran letih toreh nama diri
sementara di lebuh raya
kita tak mampu menebak tapak siapa
sembraut mengacak jejak
dulu pernah digores darah
airmata

sudah lama kita ditipu muslihat nanah
berbau darah
sekarang pekikkan kembali
tanah air dengan hati satu

bedakan mana darah
mana nanah

bila kau darah
kemarilah!

bila kau nanah
berambuslah!

jangan tanya lagi
muasal darah netes
tanyakan hati
aku :
darah
atau
nanah?

Depok, 7 Mei 2008
  


Ziarah Diri

Ziarah diri
jiwaku pucat
matakalbu raba gelap

di padang debu
kelahiran usung diri
ke bui tubuh musim

lalu aku sepakati upacara hidup
sebagai narapidana waktu
bab demi bab karma usia

Pemilik pintu
menitip kunci jalan kembali
sering aku patahkan jadi abu

pada setiap bab hidup
aku merindu jalan muasal
dipandu kunci jalan kembali

bila lonceng terakhir menjemput
aku bergegas pulang
kebebasan itu piala
  


Sipengerajut

Anak-anakku pandanglah jubah lebar ini
aku merajutnya dengan darah airmata
berpuluh benang waktu
berjutakali helaan napas

jangan hanya pandang indah sulamnya
bagai emas berkilau
lalu orang memuji rajutannya

tapi lihat sipengrajut itu
jemari hidupnya penuh lobang
jarum yg ditusukan penguasa
lewat darahnya berharap warna
memberikan debar negeri
dari denyut jantungnya

Sedangkan sipengrajut setiap waktu
napasnya tinggal satu dua, tiada yang tahu

Bila ia pergi
tanpa terompet pelepasan
hanya doa dari orang-orang pernah berselimut jubah indahnya
dan kenangan nama : "Sipengrajut" di batu nisan pusara

  

Pintu

Di pintu
ada sepatu
tapaknya berdarah
bernanah

tak ada penjaga ramah
cuma pemintaminta
tak ada penawar bunga
hanya penjaja duka

pintu
tak lagi mudah diketuk
bila diketuk
dia mengetuk
bila ditanya
dia bertanya
bila diharap
dia mengharap
bila kau sedih
kau yang diperih
bila kau masuk
kau diluar

kemana pintu
tempat masuk itu?
tinggal jejak
berdarah
bernanah

Depok, September 2009
Generic Banner


ASRIZAL NUR. Tahun 2009 ia mementaskan puisi-puisinya dengan Spektakuler  di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mazuki Jakarta, Kolaborasi pembacaan  : Tari, Teater, Musik, audiovisual, diberi nama nama Konser puisi Multimedia Asrizal Nur.

Membaca puisi dalam dan luar negeri, antara lain pembacaan Sajak Melayu Asia Tenggara di Kepulauan Riau (2006), baca Sajak Panggung Apresiasi Presiden Penyair di TIM ( 2007), baca Sajak Panggung Apresiasi Temu Sastrawan se-Indonesia di Jambi (2008), baca Sajak Internasional di JILFEST, Jakarta (2008) membaca Puisi Portugal, Indonesia, Malaysia di Universitas Indonesia (2009). baca puisi Radio Televisi Brunei Darussalam pada Pertemuan Penyair Nusantara IV (2010), membacakan puisi dan pemutaran Video Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010), sebagai pembimbing/pengajar Bengkel Pelestarian Budaya Melayu di Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei (2010). Konseptor, Sutradara Teaterrikal Puisi Islam Multimedia di Radio Televisi Brunei (2010). Baca Puisi pada Malam puncak Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang (2010). Baca Puisi di Panggung Puisi Multimedia Pertemuan Penyair Nusantara di Palembang 2011, Pembacaan Puisi Internasional di Jakarta Internasional Literary Festival – JILFEST (2011), Baca Puisi di Hankuk University dan Kota Hansan Korea Selatan ( 1-3 Juni 20012), ), Baca Puisi Malam Puncak Dialok Teluk Brunei di UBD (11 Juli 2012), Baca Puisi di Sekolah Menengah Yayasan Hasanal Bolkiah Brunei Darussalam (18 Juli 2012),   Baca Puisi Pada Kongres Bahasa(2013),Baca Puisi di Festival Wayang dan Topeng Internasional di Bandung (2014) Pertemuan Penyair Nusantara VII di Singapura (2014), Festival Pulara 2014 di Pangkor, Malaysia.

Bukunya yang telah terbit Percakapan Pohon dan Penebang (YPM, 2009). Antologi puisi bersamanya antara lain Antologi Puisi Nusantara (2006), Rampai Melayu Asia Tenggara (2006), Kumpulan puisi Portugal, Malaysia dan Indonesia (2008), Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V (2011),  Kumpulan Puisi dan Cerpen Internasional Jilfest : Ibu Kota Keberaksaraan (2011), Lambaian Nusantara Dari Kota Singa, Antologi puisi bersama Pertemuan Penyair Nusantara VII (2014)

Kini mengelola Rumah Seni Asnur, Ketua Yayasan Panggung Melayu, pendiri dan Sekretaris Jenderal Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)


Saturday, December 8, 2018

MUKTAMAR SASTRA 2018

Generic Banner
Sastra kian marak. Mungkin demikianlah kira-kira tiga kata yang mewakili kehidupan sastra di Nusantara dewasa ini. Salah satunya adalah Muktamar Sastra yang insya Allah akan berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur pada 18—20 Desember 2018. Acara ini mengangkat tema Menggali Kenusantaraan Membangun Kebangsaan. Adapun ketentuan dari panitia dapat Anda baca berikut ini.  

Seleksi Peserta Mandiri (kuota terbatas)
Peserta mandiri adalah peserta umum yang berinisiatif secara mandiri untuk mengikuti Muktamar Sastra 2018 melalui jalur kurasi karya.

Syarat dan ketentuan khusus:

  1. Mengirimkan karya puisi, cerpen, novel, atau esai sastra baik yang sudah atau belum pernah dipublikasikan.
  2. Karya tidak mengandung kontens yang bertentangan dengan hukum, etika, dan SARA. 
  3. Bagi yang belum menerbitkan buku puisi, cerpen, esai sastra, atau novel mengirimkan naskah 10 (sepuluh) puisi, atau 5 (lima) cerpen, atau 5 (lima) esai sastra, atau potongan novel (minimal lima bab awal). 
  4. Bagi yang telah menerbitkan buku puisi, cerpen, esai sastra, atau novel mengirimkan soft copy buku termaksud (tidak termasuk buku yang ditulis bersama penulis lain).
  5. Melampirkan salinan KTP/passpor yang masih berlaku, surat pernyataan keaslian karya dan ditandatangani, surat pernyataan sanggup mengikuti seluruh kegiatan Muktamar Sastra dan ditandatangani, serta curriculum vitae atau biodata berikut foto berwarna (ukuran 4 X 6). 
  6. Semua persyaratan dikirim melalui surat elektronik (surel) Panitia Muktamar Sastra 2018 “Seleksi Karya Mandiri_Nama Peserta”, muktamarsastraid@gmail.com, cc. , , dan .
  7. Bagi yang tidak melengkapi persyaratan dan ketentuan, tidak akan diikutsertakan dalam kurasi.
  8. Mengikuti dan menyukai akun Instagram dan Twitter “@muktamarsastra” serta Facebook “Muktamar Sastra” untuk memperlancar alur informasi dan proses komunikasi terkait muktamar.
  9. Peserta yang lolos kurasi karya (berformat buku), wajib menyerahkan 3 (tiga) eksemplar buku termaksud kepada panitia, untuk dihibahkan ke perpustakaan Pondok Pesantren Sukorejo.
  10. Peserta yang lolos kurasi karya namun belum pernah menerbitkan buku, wajib membawa 3 buku (baik yang memuat karyanya, maupun karya sastrawan lain) untuk dihibahkan ke perpustakaan Pondok Pesantren Sukorejo.
  11. Peserta yang lolos kurasi karya akan diundang mengikuti muktamar, ditanggung akomodasi dan konsumsi selama acara serta fasilitas transportasi sbb:
  •  Untuk peserta dari luar Jawa/Madura/Bali mendapat transportasi pesawat ekonomi    (swasta domestik) ke/dari di Surabaya
  •  Untuk peserta dari Jawa/Madura/Bali mendapat transportasi bus/kereta ekonomi        ke/dari Surabaya
  •  Surabaya-Situbondo P/P disediakan bus panitia (info detil menyusul).
12. Keputusan dewan kurator bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Waktu:
  1. Kurasi karya dibuka tanggal 5 Desember 2018, ditutup tanggal 13 Desember 2018 (pukul 23.59 WIB). 
  2. Hasil kurasi karya akan diumumkan tanggal 15 Desember 2018 melalui akun resmi media sosial Muktamar Sastra 2018.
Dewan Kurator: Sosiawan Leak, Mashuri, Raedu Basha, Zaenul Walid, dan Rosie Jibril

Catatan:
Peserta muktamar terdiri dari peserta undangan, peserta peninjau, peserta tuan rumah, dan peserta mandiri.

Narahubung:
Rossie Jibril (0823 1922 1526)
Raedu Basha (0819 0306 1988)

Cermati juga poster di bawah ini dan segera kirimkan karya sastra/esai sastra Anda selambatnya tanggal 13 Desember 2018. Sebarkan informasi ini agar lebih banyak yang tahu dan mendoakan keberhasilan Muktamar Sastra 2018.





Semoga Muktamar Sastra 2018 lancar, sukses, bermanfaat untuk bangsa, dan berkah. Amin.


Sumber: https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1826172357512500&set=a.269478213181930&type=3&theater