Friday, November 23, 2018

Surat Cinta untuk Bulan



Cerpen Nailiya Nikmah JKF



Wajah rembulan itu persis di hadapanku sekarang. Beberapa detik setelah derai tawa yang lain reda. Pipinya memerah. Kedua bola matanya mencari kedua bola mataku. Aku tahu, ia sangat kesal padaku. Aku pasrah. Mau bagaimana lagi. Aku benar-benar tidak bisa.
“Faisal, sudah berapa kali Ibu bilang. Gunakan bahasa Indonesia….”  Ia menahan marah.
“Maaf Bu lah…ulun kada tapi lancar basa Indonesia,” aku memohon.
“Coba ulang jawabanmu tadi dengan bahasa Indonesia,” ucapnya tegas.
Aku berpikir keras kata apa saja yang akan kugunakan. Apa ya? Eh, pertanyaannya tadi apa? Aku malah lupa pertanyaannya. Oh, iya tentang perlindungan HAM di Indonesia beserta contoh-contoh kasus yang terkini. Sebenarnya aku tahu jawabannya, tapi aku kesulitan menguraikannya dengan bahasa Indonesia.
“Menurut saya, perlindungan HAM di Indonesia masih belum maksimal. Napa yu lah, …anu tu na kita lihat ja lo, masih banyak lo yang” ah, kembali lagi ke bahasa daerahku. Tawa teman-temanku berderai lagi sementara wajah rembulannya menjadi mendung.
Begitulah, setiap aku berbicara, teman-teman selalu menertawakanku karena aku tidak fasih berbicara bahasa Indonesia. Apalagi pada saat jam pelajaran bu Maya. Dosen Kewarganegaraan itu sangat sering menegurku. Dia bilang, dia tidak melarang penggunaan bahasa daerah, tapi jika sedang dalam proses belajar mengajar ia berharap semua mahasiswa memakai bahasa Indonesia. Malah kadang kebiasaanku berbahasa daerah terbawa juga ketika aku menjawab soal tertulis.
Mulanya aku cuek saja. Mau dimarahi dosen, mau diberi nilai rendah juga tidak apa-apa. Sampai suatu siang—hari yang mengubah sejarah hidupku. Siang itu aku bermaksud makan siang di kantin kampus. Sebelum aku masuk, kudengar di dalam kantin suara-suara yang sudah sangat kukenal. Suara teman-teman perempuan sekelasku.
Kalo aku sih suka sama Danu. Keren banget orangnya!” suara Ika.
“Kalau Faisal, gimana?” Itu suara Mira. Aku menghentikan langkahku dan memasang telinga baik-baik.
“Faisal? Ke laut aja kali!” Suara Ayu disambut gelak tawa para perempuan.
“Iya, jangan sampai deh punya cowok kayak dia. Malu-maluin banget. Ngomong aja ga lancar gitu.” Suara Neta.
“Sebenarnya… Faisal tu baik, lumayan keren juga sih…dan ga berdosa juga kan pake bahasa Banjar? Kita kan juga orang Banjar? Masa ga suka sama bahasa sendiri? Bagus juga kan buat melestarikan budaya Banjar lewat bahasanya? Cuman ya…memang harus lihat-lihat sikon juga. Kalau situasi formal, ya lebih baik pakai bahasa nasional lah…”papar Bulan.
Jye…yang naksir Faisal…" seru Karin. Lagi-lagi yang lain tertawa terbahak-bahak. Aku membalikkan badan, membatalkan niat ke kantin. Aku menuju perpustakaan. Percakapan mereka tadi sangat menggangguku. Masa sih ketidaklancaran berbahasa membuat seseorang tidak keren? Tapi, apa tadi yang dikatakan Bulan? Melestarikan budaya? Ah, Bulan…Bulan. Gadis yang sering berkerudung ungu itu sudah lama membuatku terpesona. Bani pernah menyemangatiku agar segera menembak Bulan. Menurut Bani lebih cepat lebih baik, nanti keduluan orang. Dengar-dengar Danu juga jatuh hati pada Bulan. Anehnya, Ipeng menyuruhku melupakan Bulan. Menurut Ipeng, Bulan bukan perempuan biasa. Ia tak mudah jatuh cinta dan sangat menjaga diri. Entah apa maksud Ipeng. Yang kutahu, Bulan anak musala. Sering nongkrong di teras musala kampus kami. Tapi, bukankah ia menganggapku lumayan keren? Mungkinkah ia juga naksir aku?
* * *
“Rin, kayapa lah supaya aku lancar bepender pakai basa Indonesia?” aku meminta nasehat pada Karin, teman sekelasku. Karin menatapku lalu tertawa terbahak-bahak. Aneh, kenapa dia tertawa? Aku kan serius?
“Kembali ke bangku SD aja!” jawabnya lalu tertawa lagi.
“Karin! Aku serius nih!” bentakku.
“Gerangan apakah yang membuat pangeran Faisal ingin mempelajari bahasa Indonesia?” gurau Karin sambil bergaya ala Mamanda.
“Karin!” Aku pun meninggalkan Karin yang tak henti tertawa.
Karin mengejarku. “Maafkan aku, Sal. Jangan merajuk dong. Sama teman kok begitu?”
“Ya, kumaafkan. Sekarang jawab pertanyaanku tadi?”
“Aku juga nggak tahu, Sal. Hmm…bagaimana kalau kau banyak membaca?” usul Karin.
“Membaca? Mambaca apa?” tanyaku.
“Apa saja. Yang kau sukai” Karin tersenyum manis sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Lalu di sinilah aku sekarang. Terdampar di pulau buku alias perpustakaan kampus. Berkali-kali aku bersin. Alergiku kumat. Debunya minta ampun. Hmm, membaca apa ya? Ah, bagaimana kalau novel? Aku mengambil beberapa novel lama dan baru. Biar kubandingkan bagaimana bahasa novel lama dan baru. Bagaimana kalau aku jadi pengamat novel? Apa itu termasuk melestarikan budaya seperti kata Bulan? Ah, teringat Bulan aku jadi senyum-senyum sendiri. Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Lelaki Lebah, Rumah Debu, Di bawah Lindungan Ka’bah, Ayat-ayat Cinta, Rindu Rumpun Ilalang, Pelangi di Pelabuhan…. Eh, yang dua terakhir ini bukan novel. Aku mengambil sembarang lalu membacanya. Beberapa minggu aku asyik membaca novel. Ternyata menyenangkan sekali membaca novel di sela-sela rutinitasku.
Pascamembaca beberapa novel, aku malah dapat ide untuk segera menembak Bulan. Mungkin karena novel yang kubaca bertema cinta semua? Entahlah. Yang jelas, aku langsung lancar menulis surat cinta. Aku mengetiknya di rental komputer. Astaga! Lima lembar surat cintaku! Biasanya aku tak lancar menulis. Jangankan lima lembar, dua paragraf saja aku terengah-engah. Anehnya lagi, tak ada bahasa daerah di dalamnya. Aku lancar menulis dalam bahasa Indonesia.
Cinta merupakan anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Cinta bisa menjadi energi yang tak tertandingi. Karena cinta, seseorang yang lemah bisa menjadi kuat. Karena cinta, seseorang yang penakut bisa menjadi pemberani.” Ini bagian pembuka suratku. Paragraf selanjutnya tentang makna cinta dalam berbagai bahasa. Halaman kedua barulah aku menulis, “yang kukagumi Bulan Purnama Sari. Bulan, aku padamu. Yang penting aku padamu.“ Hm, aku mengutip lagu Charlie. Paragraf selanjutnya aku menulis teori tentang cinta lagi sampai halaman terakhir.
“Rin, titip ini ya buat Bulan.” Aku menyerahkan suratku pada Karin. Tak seperti surat cinta umumnya, suratku tak kulipat dan tak kuamplopi. Suratku kujilid seperti makalah tugas kuliah. Disampulnya kuketik judul “Surat Cinta untuk Bulan”, namaku, NIM, kelas, prodi dan jurusan. Aku yakin Bulan akan terpesona dengan gayaku menembaknya. Agak ilmiah, unik, dan nyeni. Itu menurutku, sih.
“Bulan?” Karin menatapku heran. “Sejak kapan kau berurusan dengan anak  musala itu?”
“Sejak…sejak seminggu yang lalu,” aku menjawab asal.
Lama aku menunggu reaksi Bulan. Dua hari, tiga hari, seminggu, dua minggu, tak ada apa-apa. Sikap Bulan biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Aku pun menanyakannya pada Karin. “Kok Bulan tidak memberi jawaban apa-apa?”
“Jawaban atas apa?” tanya Karin.
“Surat, eh titipanku dua minggu yang lalu,” ujarku.
“Oh, esaimu itu. Hmm, kata teman-teman bagus. Kebetulan hari ini pengumumannya.” Karin membuatku bingung. Pengumuman? Apa Bulan mau mengumumkan jawabannya terhadapku? Masa sih gadis sekalem Bulan memakai cara yang heboh begitu?
“Oi, Karin, kamu apakan si Faisal, privat bahasa dan sastra Indonesia, ya?  Tiba-tiba Banu, Dani dan Iwan menghampiri kami.
“Selamat, ya Sal. Nggak nyangka, kamu jago nulis.” Banu mengulurkan tangannya. Disusul Dani dan Iwan.
Aku ternganga. “Selamat apa nih?” tanyaku curiga. Jangan-jangan tiga temanku ini sedang merencanakan sesuatu.
“Esaimu juara satu!” jawab Iwan.
“Esai? Esai yang mana?” tanyaku.
“Oh, hebat…. Jadi kamu ngirim lebih dari satu esai? Memangnya tema yang ditentukan anak musala apa sih kok kamu bisa lancar bikin banyak esai gitu?” tanya Dani. Aku semakin bingung. Lalu kulihat Ipeng datang membawa piala.
“Nah itu Ipeng, kita tanya dia aja,” kata Karin.
“Selamat ya Sal. Esaimu yang berjudul Surat Cinta untuk Bulan terpilih sebagai juara satu. Nih pialanya. Kok tadi nggak menghadiri acara pengumumannya di musala? Nggak yakin menang, ya?” Kicauan Ipeng membuatku kaget. Ya ampun! Suratku, pernyataan cintaku untuk Bulan dikira esai buat lomba?
“Sal, Bu Maya titip ucapan selamat. Dia bangga sekali…” suara teman-teman tak lagi kusimak. Aku memeluk piala itu erat-erat. Pikiranku ke Bulan. Bulan…Bulan. Gagal sudah usahaku.
* * *
Di sudut musala
Dear Diary… aku menulis ini untuk Faisal tapi dia tak perlu tahu.
Maafkan aku, Sal. Aku tak bisa menerima cintamu. Cintaku pada-Nya melebihi cintamu padaku. Surat cintamu yang indah itu sedikit kurevisi lalu kumasukkan ke kotak lomba menulis esai Ayat-ayat cinta-Nya yang diadakan oleh musala kampus kita….


Keterangan

lah: ya 
ulun kada tapi: saya tidak terlalu
basa: bahasa
Napa yu lah: apa ya
anu tu na: yang itu
ja lo: saja, 'kan
Cumantetapi
masa sih: apa memang benar
kayapa lah: bagaimana ya
bepender: berbicara 

Biodata Penulis 

Nailiya Nikmah JKF dilahirkan di Banjarmasin, 9 Desember 1980. Putri pertama pasangan Drs.H. Junaidi, M.AP dengan Hj. Mulyani Hilmi, A.Ma.Pd. Sejak kanak-kanak menyukai sastra, gemar membaca dan menulis. Setelah merampungkan Program Magister PBSID FKIP Unlam, dosen Politeknik Negeri Banjarmasin ini lebih serius menulis cerpen. Sejumlah cerpen dipublikasikan di media lokal.
Buku-bukunya antologi cerpen bersama  Nyanyian Tanpa Nyanyian (2007), kumpulan esai bersama Menulis Mudah (2008), antologi puisi bersama Konser Kecemasan (2010), antologi cerpennya Rindu Rumpun Ilalang (2010), antologi cerpen Penulis FLP Kalsel Pelangi di Pelabuhan (2011), antologi puisi religius Indonesia Para Kekasih (2011), Kalimantan dalam Prosa Indonesia (2011), dan novel Sekaca Cempaka (Quanta 2014). Cerpennya “Mangadap Langit” terpilih sebagai juara harapan III Lomba menulis cerpen bahasa Banjar Se-Kalsel, Disbudpar.
Nailiya Nikmah aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin dan Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Kalsel. Ia menjadi peserta Kongres Cerpen Indonesia V (2007). Selain mengajar dan mengurus empat anaknya (2 di antaranya kembar), Nailiya Nikmah sering diminta menjadi pembicara dalam diskusi, bedah buku, seminar, pelatihan dan workshop seputar  sastra dan keterampilan berbahasa. Istri Jumiadi Khairi Fitri ini dapat dihubungi di nailiya.nikmah@gmail.com.





 Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)

Thursday, November 22, 2018

Inilah 6 Puisi Bertema Kepedulian terhadap Hutan Paling Menyentuh Hati



Siapa yang tak mengenal angka 17 dalam Agustus? 

Itu adalah angka yang sangat istimewa dan angka termanis bagi bangsa Indonesia. Mungkin demikianlah yang muncul di benak Anda. Hal itu sangat wajar. Sebab, pada tanggal itulah, pada tahun 1945, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Maka, menjadilah bangsa kita bebas dari penjajahan bangsa asing. Alhamdulillah. Dan, setiap tahun kita merayakan hari yang sangat bersejarah tersebut.

Akan tetapi, selama di alam kemerdekaan ini, sudahkah bangsa kita hidup sesuai yang telah dicita-citakan para pejuang zaman dulu? Alam kita misalnya, apakah sungai-sungai kita tetap lestari? Airnya mengalir jernih dari hulu ke hilir tanpa tercemar limbah apa pun?

Yang tak kalah pentingnya daripada sungai, adalah hutan. Apakah hutan-hutan kita masih tumbuh dengan subur? Hijau dan sejuk? Burung-burung beterbangan riang dan satwa lainnya hidup dengan tenang di dalamnya? Sebagai contoh, sebut saja di Kalimantan. Di pulau yang dikenal juga dengan sebuta Borneo ini, hutan yang dulu hijau, kini kian gersang saja. Hawa panas ketika musim kemarau tiba sangat terasa. Begitu pun banjir sering terijadi tatkala hujan turun.

Lalu di mana puisi? 

Adakah pengaruh positif dari puisi terhadap pembangunan bangsa kita, baik dulu maupun sekarang? Puisi memang tidak langsung mengubah sesuatu atau kumpulan sesuatu menjadi sesuatu wujud yang lain, semisal bahan-bahan material menjadi gedung megah. Namun, dengan puisi, penyair berusaha menggugah jiwa manusia bangkit menuju ke hal-hal positif. Sebut saja para penyair berusaha menggugah kesadaran  masyarakat dan pemerintah agar lebih peduli terhadap hutan, seperti tidak membakar hutan, menindak pelaku perburuan satwa liar yang dilindungi, dan melakukan reboisasi. 

Dengan itu, diharapkan hutan-hutan di Indonesia yang kini mengalami krisis akan membaik sehingga banjir, tanah longsor, dan lainnya akan berkurang. Nah, kembali kepada alam seperti tersebut di atas, berikut ada enam puisi bertema kepedulian terhadap hutan. Selamat membaca, mengapresiasi, dan menginterpretasi semuanya!

Hutan di Mataku

Karya Micky Hidayat


sebuah hutan
tak bernama
tak berpeta
tak terbaca
terhampar di anganku

sebuah hutan
tak berpohon
tak berakar
tak berdahan
tak beranting
tak berdaun
terbakar di jantungku

sebuah hutan
menjerit-jerit
melolong-lolong
mengerang-erang
meraung-raung
merintih-rintih
terkapar di lorong jiwaku

sebuah hutan
menjelma jadi api, asap,
bara, dan puing
berserakan di ruang sunyiku

sebuah hutan
adalah luka adalah duka
sebuah hutan
adalah perih adalah pedih
sebuah hutan
menjadi hujan di mataku
menderaskan bencana
berkepanjangan

2005



Hutan yang Hampir Habis

Karya Mohamed Salleh Lamry


Dulu negeriku banyak hutan
di mana tersimpan banyak pokok besar
yang usianya mencapai ratusan tahun.

Ada yang dibuka oleh pemerintah
untuk rancangan pembangunan tanah
bagi petani miskin yang tidak bertanah.

Tapi lebih banyak yang  dibuka
oleh pengusaha kaya yang rakus
yang mahu keuntungan segera
tanpa mengira apa akibatnya.

Setelah puluhan tahun berlalu
hutan di negeriku hampir habis
yang tinggal hanya hutan simpan
itu pun ada yang mencurinya
mereka bersekongkol
dengan pegawai negeri yang tidak amanah.

Apabila musim hujan tiba
banjir besar datang melanda
kerana  tidak ada lagi hutan untuk menyerapnya.

Banyak tanaman dan rumah musnah
ramai rakyat  marhaen yang mendapat susah
tapi pengusaha kaya yang tinggal di kota
yang rumah besarnya tersergam megah
tidak menghadapi  kerugian apa-apa.



Ketika Singgah di Kotamu

Karya Iyut Fitra


hampir Magrib aku sampai di kotamu
sebelumnya kulihat hutan sudah menepi, sisa asap dan petak-petak rapi
kubayangkan seekor burung kepanasan dan yang lain terbang
dengan sayap terbakar. seolah bau dedaun dan ranting tinggal cerita
kawanan yang tak punya rumah. arah sungsang kehilangan sarang
ke mana rimbun itu dibawa?

seperti biasa, malamnya kita duduk di batanghari
jagung bakar dan segelas air tebu. kata-kataku mati, puisi di sini hanya barisan
mayat-mayat tak berarti, katamu seolah ingin membuang semuanya
di seberang, penduduk asal mungkin airmatanya lebih. mungkin perih
mengalir ke sungai ini
dan juga bertanya, ke mana rimbun itu dibawa?

Jambi, 2010



Hutan Mati

Karya Rissari Yayuk


Kepak elang tak lagi terlihat di ujung kampung
Dia beri kabar kalau mangsanya tinggal belatung
Pemburu tak lagi tambatkan jebakannya di lereng gunung
Mereka beri kabar kalau babi hutan dan kijang tak lagi bisa terkurung

Pencari rotan pun  kini tak bisa bawa hasil dalam gulungan
Mereka beri kabar kalau  belukar kini semakin hilang
Peracik obat alam kini tak leluasa temukan dedaunan
Mereka beri kabar kalau  kini daun berganti tanah merah

Ya. Tanah merah yang membuat kayu manis menangis
Aroma daunnya tak mampu semaikan perkampungan dan pegunungan
Sebab tubuhnya telah diberangus oleh parang dan mesin raksasa pembunuh

Ya. Tanah merah yang membuat gunung tak lagi  biru
Sebab gaun indahnya telah dikoyak paksa untuk lahan batu bara tanpa keluh

Ya. Tanah merah yang memberi tanda kalau telah telan hijaunya alam rimba
Alam yang kini telah berganti dengan lahan karet dan kelapa sawit

Ke manakah elang kan cari mangsanya
Ke manakah pemburu kan tambatkan jebakannya
Ke mana para pencari rotan kan tambah gulungannya
Ke mana para peracik obat kan temukan dedaunannya

Ke mana?
Ke mana elang kan mengadu, jikalau kampung kini diam membisu
Ke mana pemburu kan mengadu, jikalau gunung kini tak lagi biru
Ke mana pencari rotan kan mengadu, jikalau belukar tak lagi menghijau
Ke mana peracik obat kan mengadu, jikalau daun kini sudah tak punya pohon dan ranting

Hutan negeri tak bisa lagi beri janji
Janji pada elang, pemburu, pencari rotan, dan peracik obat
Janji tuk bisa terus berbagi
Sebab jantungnya mati ditusuk bayonet putra sendiri dan  yang mengaku kerabat!

        
 
Kerakap Membatu Musim demi Musim

Karya Setia B Borneo


Menancap di dinding berbatu
Kerakap musim kemarau
Sekadar mencuri air
Menghisap lumut berplasenta

Demikianlah bukit-bukit hutan menyerah pada longsor
Sejuta cengkeram tercerabut ribuan bolduzer
Mata gergaji dengan geram memotong nadi
Akar gantungan tinggal kenangan

Anak-anak dengan tangisan rintih mengirimkan kabar pilu
Ibunda mereka terkubur tercerabut menghantam sawah ladang
Ibunda itu bernama Dewi Sri yang menggenggam setangkai padi
Memberi mereka buah-buah dan sayur mayur

Siapakah yang salah
Ataukah pada pergantian musim
Ketika malapateka runtuh dari atas bukit

Akar kering menutup sumur tua di lereng perbukitan
Sebab air telah lama beracun pestisida
Kerakap itu membatu musim demi musim
Sedang Ibunda Dewi Sri telah lama menghilang
Terbang jauh bersama asap dupa dan kematian

Malay 2014



Apa Kabar Hutan

Karya Sulchan MS


Mendengar, rumput-rumput mati
Tanah kering kerontang
Tandus retak berlubang

Mendengar, asap-asap liar meracuni daun
dan ranting terbakar
Hangus rata terkapar

Mendengar, pohon-pohon tumbang
Tunas-tunas terpasung
Gersang tak terhitung

Mendengar, pembalakan liar membabi buta
Merampas, menjarah seenaknya
Tak tersisa, hingga akar-akarnya 

Seketika hati pun merintih pedih
Menyaksikan hutanku yang kini merangkak tertatih
Hilang segala teduh merimbun
Yang dulunya hijau dibasahi embun
Kini rata dengan arang dan sisa asap
Tergeletak, berserak, panas, dan pengap

Apa kabar hutan ?
Bagaimana jika nanti anak cucu bertanya tentangmu
Tentang sejuk rindangmu dan aneka jenis pohonmu
Tentang hijau rimbun daunmu dan subur tanahmu
Tentang rumah satwa berlindung dan istana burung-burung
Tentang nasib berpuluh ribu nyawa darimu mereka bergantung

Apa hanya mampu terdiam bisu
Menyaksikan nasibmu tak lagi sehijau dulu
Menyimpan cerita kelam tentang kebinasaan hutan
Dari muramnya sejarah peradaban

Apa kabar hutan?
Kau kah itu,
Yang kini sedang menjerit bagai diiris sembilu 

Kudus, 27 Juni 2016


Biodata Para Penyair

Micky Hidayat lahir di Banjarmasin, 4 Mei 1959. Mulai bergiat menulis sajak sejak tahun 1978. Di samping sajak, ia juga menulis esai sastra, ulasan/kritik sastra dan teater, reportase seni, resensi, artikel masalah sosial, politik, dan gerakan mahasiswa, di sejumlah media cetak daerah dan nasional antara lain, Pelita, Republika, dan Majalah Horison, serta di beberapa Jurnal Sastra. Kumpulan sajak tunggalnya Meditasi Rindu (Tahura Media, Banjarmasin, 2008, dan Penerbit Bukupop, Jakarta, 2009). Pembicaraan atas sajak-sajaknya terhimpun dalam buku Memikirkan Sajak-sajak Micky Hidayat (Pustaka Puitika, Yogyakarta, 2016). Sajak-sajaknya juga diterbitkan dalam antologi bersama di berbagai event/forum dan festival sastra lokal dan nasional. Ia juga menjadi editor beberapa buku antologi sastra karya sastrawan Kalimantan Selatan. Mengikuti berbagai forum sastra dan pembacaan puisi di Kalimantan Selatan dan berbagai daerah di tanah air.

Mohamed Salleh Lamry, orang keturunan Banjar dari Malaysia, lahir di Selangor pada tahun 1942. Pernah menjadi dosen Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), pada  tahun 1978-2003.  Pernah menulis sajak,  cerita pendek,  dan novel  pada tahun 1960-an. Kini ia menulis sajak lagi, setelah tidak menulis selama kira-kira 40 tahun. Alamat untuk dihubungi: ms.lamry@gmail.com.

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh 16 Februari. Karya-karyanya dalam bentuk puisi dan cerpen telah diterbitkan di berbagai media di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Beberapa kali menjadi pemenang dalam lomba cipta puisi seperti, pemenang lomba cipta puisi Sanggar Minum Kopi Bali dan pemenang lomba cipta puisi 100 tahun Bung Hatta. Selain itu, ia juga mendapatkan ANUGRAH SASTRA dari Balai Bahasa Padang sebagai pegiat yang telah berjasa membina dunia sastra dan penulisan kreatif di Sumatra Barat. Beberapakali juga diundang ke even-even nasional dan internasional antara lain, Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta, Pertemuan Penyair 8 Kota di Jakarta, dan Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru Malaysia. Karya-karyanya yang sudah terbit Musim Retak, Dongeng-dongeng Tua, Beri Aku Malam (Kumpulan Puisi), Orang-orang Berpayung Hitam (Kumpulan Cerpen). Kini aktif di Komunitas Seni INTRO Payakumbuh.

Rissari Yayuk, lahir di Kandangan, 4 Juni 1976. Selain gemar menulis puisi, juga aktif meniliti di bawah komando pemimpin Balai Bahasa Kalimantan Selatan. Dapat di temui di Herlina B/24 Kuin Utara Banjarmasin.

Setia Budhi nama pena Setia B Borneo. Lahir di Marabahan, Barito Kuala, 1 Januari 1965. Ia melanjutkan studi dengan mengambil spesialisasi Anthropology di Universiti Kebangsaan Malaysia dan lulus Ph.D. tahun 2011. Selain mengajar di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Banjarbaru, ia aktif dalam berbagai seminar nasional dan internasional. Tahun 1998 bersama beberapa tokoh Kalimantan Selatan mendirikan Center for Regional Development Studies –CRDS untuk kajian opini publik dan pembangunan. Sampai tahun 2000 aktif dalam membangun jejaring sosial dan pemerintahan dan adat pada lima kawasan Kabupaten DAS Barito. Dalam lima belas tahun terakhir ia menekuni bidang Anthropology, selain melakukan penelitian, ia juga melakukan pengembangan masyarakat berbasis kearifan lokal. Tahun 2004 bersama Tim Jurnalis Kompas melakukan ekspedisi Anthropology Sungai Barito—Mulle  Schawanner–Sungai Mahakam. Sejak tahun 1980-an aktif bersama penyair mengisi acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin, asuhan Hijaz Yamani.  Mengikuti  pertemuan Sastrawan di Kalimantan Selatan. Menulis Puisi dan Cerita Pendek untuk Banjarmasin Post, Media Kalimantan, dan Radar Banjarmasin. Kumpulan Cerpen Gadis Dayak terbit di Banjarbaru tahun 2005. Tahun 2012 menulis naskah monolog Tanah Ayungku. Akhir tahun 2014 menerbitkan antologi puisi  Tanah Semenanjung dan Kumpulan Cerpen Nyanyian Balian. Tahun 2015 dengan Antologi Cerpen Rumah Hutan bersama Penerbit Pustaka Banua.

Sulchan MS lahir di Kudus, Jateng, 30 Oktober 1987 dan tinggal di kota yang sama. Menulis puisi dan naskah drama. Aktif membina kelompok teater pelajar (teater pelangi) di Kudus sejak 2008. Karya puisinya banyak tergabung dalam antologi puisi bersama antara lain, Memo Anti Terorisme (MAT) bersama 250 penyair Indonesia (Penerbir Forum Sastra Surakarta, 2016), Bahtera Nelayan bersama bersama 100 penulis Nusantara (Penerbit Genom, 2016), Hijrah ke Jalan-MU bersama 117 penulis Nusantara (Penerbit Nahima Press, 2016 ), Senyuman (Penerbit Hikari Publisher, 2016 ), Kata Kasih untuk Ibu ( Penerbit Uwais, 2016 ), dan Arus Puisi Sungai (Penerbit Tuas Media, 2016). Akun facebook: Mangir Chan, pos-el: mangir.mangirchan@gmail.com, & nomor ponsel: 085865503040.


Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)

Monday, November 19, 2018

FUNGSI MAGIS KAIN SASIRANGAN


Warna biru dapat membantu mengurangi tekanan psikologis 
(Dari paparan Mardhika, 2007) 


Tajuddin Noor Ganie

Pada awal sejarah keberadaannya di tahun 1355-1362, kain sasirangan yang disebut kain langgundi itu difungsikan sebagai bahan dasar untuk membuat busana harian bagi segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa. Ketika itu kain langgundi diproduksi dalam jumlah banyak oleh banyak pengrajin yang tinggal di kota Amuntai. Keberadaan para pengrajin kain langgundi dimaksud menjadikan kota Amuntai dikenal luas sebagai kota industri yang terkemuka di zamannya.   

Sejak tahun 1362, busana berbahan kain langgundi hanya boleh dikenakan oleh Putri Junjung Buih dan para bangsawan Kerajaan Negara Dipa saja. Kain langgundi tidak lagi diproduksi dalam jumlah banyak. Para pengrajin hanya memproduksinya untuk memenuhi keperluan para bangsawan Kerajaan Negara Dipa saja. Tugas sebagai pembuat kain langgundi untuk memenuhi keperluan para bangsawan Kerajaan Negara Dipa ini ditangani oleh sebuah tim pengrajin yang khusus dibentuk untuk itu.

Para pengrajin kain langgundi lainnya tidak berani lagi membuatnya. Selain takut kualat mereka juga takut melanggar aturan proteksi yang dibuat oleh aparat Kerajaan Negara Dipa. Namun, alasan lain yang paling logis adalah fakta bahwa pangsa pasar kain langgundi itu sendiri sudah tidak menjanjikan lagi. Jumlah bangsawan Kerajaan Negara Dipa ketika itu masih sedikit. Mereka belum beranak pinak seperti sekarang ini.

Seiring dengan terjadinya perputaran waktu yang berlangsung selama berabad-abad. Jumlah anggota keluarga bangsawan Kerajaan Negara Dipa semakin lama semakin bertambah banyak pula. Ini berarti pangsa pasar kain langgundi juga ikut menaik secara signifikan. Selain itu, seiring dengan perputaran waktu juga yang berlangsung selama berabad-abad, kain langgundi juga mengalami diversifikasi fungsi.

Kain langgundi tidak lagi difungsikan sebagai bahan dasar pembuatan busana harian bagi para bangsawan Kerajaan Negara Dipa saja, tetapi juga sudah mulai difungsikan sebagai bahan dasar pembuatan busana khusus bagi para bangsawan Kerajaan Negara Dipa yang sedang pengidap suatu penyakit pingitan.

Penyakit pingitan adalah penyakit yang diyakini sebagai penyakit yang berasal dari ulah para arwah leluhur nenek moyang para bangsawan yang konon tinggal di pantheon alam roh (alam barzah). Konon, menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalimantan Selatan, para arwah leluhur nenek moyang itu secara berkala akan menuntut anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi.

Begitulah, dalam siklus setiap satu, tiga, lima, dan tujuh tahun anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. Fauzi (1993), memperkirakan sejak abad ke 14—15 kain langgundi sudah berubah status menjadi kain yang dikeramatkan. Seiring dengan itu namanya juga berubah menjadi kain pamintan. Kain pamintan artinya kain yang hanya dibuat berdasarkan permintaan dari anak, cucu, buyut, intah piat para bangsawan yang pengidap penyakit pingitan.

Konon, diyakini tidak ada obat lain yang mujarab bagi para pengidap penyakit pingitan ini selain dari pada mengenakan kain pamintan di kepala (ikat kepala, selendang), di perut (bebat, sabuk), atau bahkan menjadikannya sebagai selimut tidur (sarung).
  1. Bebat atau sabuk kain pamintan (bahasa Banjar babat) yang dililitkan di perut dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diare, disentri, kolera, dan sebenar jenis penyakit perut lainnya. 
  2.  Ikat kepala kain pamintan (bahasa Banjar, laung) yang dililitkan di kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).
  3. Sarung kain pamintan (bahasa Banjar, tapih bahalai) dikenakan sebagai selimut untuk mengobati penyakit demam atau gatal-gatal.
  4. Selendang kain pamintan (bahasa Banjar, kakamban) yang dililitkan di kepala atau disampirkan sebagai penutup kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).
Dalam perkembangan lebih lanjut, bentuk fisik kain pamintan tidak lagi sebatas ikat kepala, selendang, bebat, sabuk, dan sarung saja. Tetapi sudah pula dibuat dalam bentuk kain lembaran yang siap untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan busana harian yang bersifat diapan atau profan. Pada zaman dahulu kala kain pamintan diberi warna sesuai dengan tujuan pembuatannya, yakni sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan suatu jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang.
  1. Kain pamintan warna kuning dibuat sebagai sarana untuk mengobati penyakit kuning (bahasa Banjar kana wisa).
  2. Kain pamintan warna merah dibuat sebagai sarana untuk mengobati penyakit migrain (sakit kepala sebelah) atau penyakit imsonia (penyakit sulit tidur).
  3. Kain pamintan warna hijau dibuat sebagai sarana untuk mengobati penyakit stroke (lumpuh).
  4. Kain pamintan warna hitam dibuat sebagai sarana untuk mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal.
  5. Kain pamintan warna ungu dibuat sebagai sarana untuk mengobati penyakit diare, disentri, dan kolera.
  6. Kain pamintan warna cokelat dibuat sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan (stress).
Pemanfaatan warna-warni tertentu sebagai sarana pengobatan ternyata bukanlah omong kosong. Hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa warna-warni tertentu dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menyembuhkan suatu jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang.

Mengenai hal ini ada baiknya dikutipkan paparan Mardhika (2007) tentang potensi warna-warni tertentu sebagai sarana penyembuhan penyakit dimaksud.
  1. Merah, warna ini dapat membantu mengurangi sakit kepala, karena warna ini mampu meningkatkan peredaran adrenalin di dalam tubuh. Jika sakit kepala letakanlah kain lembab berwarna merah di atas mata.
  2. Biru, warna ini dapat membantu mengurangi tekanan psikologis. Jika mengalami tekanan psikologis maka fokuskanlah pandangan mata ke arah segala sesuatu yang berwarna biru.
  3. Merah jambu, warna ini dapat membantu mengurangi penyakit sulit tidur (insomnia), karena warna ini mampu menampilkan suasana santai dan romantik.
  4. Hijau, warna ini dapat membantu mengurangi rasa letih, karena warna ini mampu menciptakan suasana harmoni dalam tubuh manusia.
Penggunaan kain dengan corak dan warna gambar tertentu sebagai penangkal datangnya suatu jenis penyakit pingitan, atau sebagai sarana terapi pengobatan alternatif atas suatu jenis penyakit pingitan yang diyakini berasal dari alam gaib, ternyata bukanlah gejala sosial yang khas etnis Banjar di Kalsel saja.

Kepercayaan supertitious semacam ini sudah menjadi gejala sosial yang bersifat universal di seantero kepulauan nusantara. Menurut laporan Halimi (2007), wanita Jawa yang tinggal di kota Probolinggo sengaja memakai batik bercorak Tulak Watu pada saat menjalani upacara adat tingkeben usia tujuh bulan masa hamil anaknya yang pertama. Tujuannya agar dirinya dan anak pertama yang dikandungnya tidak diganggu oleh roh jahat.

Di Tanah Batak, seorang wanita yang sedang hamil tua menerima pemberian ulos ni tondi dari orang tuanya. Pemberian ulos yang dipakai dengan cara diselendangkan itu dimaksudkan sebagai tanda simbolik bahwa orang tua yang bersangkutan telah memindahkan semua kekuatan magis yang ada padanya kepada anaknya yang sedang hamil tua itu. Tujuannya agar anaknya itu mampu menghadapi segala marabahaya yang siapa tahu bakal menimpanya pada masa-masa kritis di saat kehamilannya itu (Halimi, 2007).

Kain ikat ganda yang disebut geringsing di Bali diyakini dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pemakainya. Berkaitan dengan keyakinan itulah, kain geringsing juga dikenakan oleh seorang gadis yang sedang menjalani upacara potong gigi. Tujuannya agar anak gadis yang bersangkutan tidak merasakan sakit yang berarti ketika giginya dipotong (Halimi, 2007).   

Pada masa sekarang ini di berbagai kota di Kalsel masih ada segelintir orang yang menekuni profesi sebagai juru sembuh penyakit pingitan ini.  Salah seorang di antaranya adalah warga kota Banjarmasin yang akrab dipanggil dengan nama nenek Jumantan (72 tahun). Keahlian sebagai juru sembuh penyakit pingitan dengan terapi kain pamintan ini diwarisinya secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Menurut penuturan nenek Jumantan, para pasien penyakit pingitan yang datang berobat kepadanya tidak lain adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan pertalian darah dengan nenek moyang mereka yang dulu tinggal di Amuntai, Alabio, Kalua, dan Margasari (Wulan, 2006). Perlu dijelaskan, kota-kota yang disebut nenek Jumantan adalah kota-kota yang dulunya menjadi pusat pemukiman penduduk yang terbilang padat pada masa-masa jayanya Kerajaan Negara Dipa. Patut diduga, nenek moyang para pasien nenek Jumantan tersebut tidak lain adalah anak, cucu, buyut, intah, piat dari 40 orang wanita perawan yang dulu berjasa membantu Lambung Mangkurat membuatkan kain langgundi yang diminta oleh Putri Junjung Buih.

Sesuai dengan asal-usul geneologisnya sebagai bangsawan berdarah biru, maka sekali waktu dalam siklus tertentu (1,3,5,atau 7 tahun) mereka akan terkena virus penyakit pingitan. Proses penyembuhan  penyakit pingitan yang diderita oleh kaum bangsawan berbeda dengan proses penyembuhan penyakit biasa yang diderita rakyat jelata. Proses penyembuhan penyakit biasa yang diderita oleh rakyat jelata dapat dilakukan dengan cara-cara yang sangat sederhana. Sekadar meminum air putih yang sudah diberi mantra-mantra atau do’a-do’a oleh para juru sembuhnya.

Sementara itu, proses penyembuhan penyakit pingitan yang diderita oleh kaum bangsawan relatif lebih rumit. Penyakit pingitan yang mereka derita baru dapat disembuhkan setelah mereka mengenakan kain pamintan dengan motif dan warna tertentu sesuai dengan jenis penyakit pingitan yang mereka derita. Kerumitan dalam hal proses penyembuhan penyakit pingitan semacam ini sudah barang tentu menuntut biaya pengobatan yang relatif mahal.

Harga kain pamintan yang relatif mahal sudah barang tentu tidak terjangkau oleh rakyat jelata yang hidupnya masih pas-pasan. Jangankan membeli kain pamintan, membeli bahan makanan untuk keperluan hidup sehari-hari saja mereka sudah kelimpungan. Untunglah, sekarang ini ada program asuransi kesehatan untuk rakyat miskin (askeskin). Sehingga mereka dapat berobat secara gratis di puskesmas milik pemerintah.

Ternyata, tidak sembarang orang boleh menekuni profesi sebagai pembuat kain pamintan. Profesi ini hanya boleh ditekuni oleh mereka yang berdarah bangsawan atau keturunan pembuat kain pamintan saja. Menurut keterangan nenek Antung Kacil, siapa saja yang tidak berdarah bangsawan atau bukan keturunan pembuat kain pamintan, akan kualat jika nekad menekuni profesi sebagai pembuat kain pamintan.  Lebih-lebih jika kain pamintan itu dibuat dengan tujuan sebagai sarana untuk mengobati suatu penyakit yang diderita oleh pasien yang sedang dirawatnya. Tulah yang bakal menimpanya sangatlah menakutkan, yakni mengalami kebutaan dan kelumpuhan (terkena penyakit stroke) (bahasa Banjar, mata picak tangan tengkong).

Perubahan nama dari kain pamintan menjadi kain sasirangan berkaitan erat dengan tujuan pembuatannya yang tidak lagi diapan (sakral), tetapi propan (nonsakral). Kain pamintan dibuat atas dasar permintaan dari orang-orang yang sedang mengidap suatu penyakit pingitan.

Sementara itu, kain sasirangan dibuat tidak berdasarkan pesanan orang dan tidak pula dibuat dengan tujuan untuk dijadikan sebagai sarana pengobatan penyakit pingitan. Pemakaian istilah sasirangan mulai menggejala sejak adanya keterbukaan dalam hal produksi kain sasirangan.  Para pihak yang memproduksi kain sasirangan tidak lagi diproteksi berdasarkan garis keturunan yang bersifat nepotisme seperti yang terjadi pada zaman dahulu kala.

Ceritanya konon bermula sejak tahun 1981, ketika itu Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan datang bertandang ke rumah nenek Antung Kacil, seorang juru sembuh yang menjadikan kain pamintan sebagai sarana pelengkap terapi pengobatannya. Mereka sengaja bertandang untuk meminta kesediaan nenek Antung Kacil mengajarkan kiat-kiat membuat kain pamintan. Pada mulanya Antung Kacil tidak bersedia mengajarkan kiat-kiat membuat kain pamintan. Beliau khawatir, Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan akan terkena tulah mata picak tangan tengkong.

Tanpa maksud menantang bahaya, Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan menyatakan siap menanggung tulah itu. Mereka yakin tidak akan kualat terkena tulah itu karena tujuan mereka belajar membuat kain pamintan kepada Antung Kacil semata-mata didasari dengan niat tulus. Mereka ingin ikut serta berperan aktif dalam upaya melestarikan salah satu kekayaan budaya milik bersama etnis Banjar yang ketika itu sedang terancam kepunahan.

Entah bagaimana proses negoisasinya, hati Antung Kacil akhirnya luluh juga. Apalagi setelah mengetahui bahwa di dalam tubuh Ida Fitriah Kusuma juga mengalir darah bangsawan. Setelah cukup lama menimba ilmu kepada Antung Kacil, Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan akhirnya mampu membuat kain pamintan secara mandiri.

Mengingat latar belakang pembuatannya tidak lagi didasari oleh permintaan, maka nama kain pamintan dirasa sudah kurang begitu tepat lagi. Nama baru yang dinilai lebih pas adalah kain sasirangan. Pada tanggal 24 Juli 1982, Ida Firiah Kusuma sudah berani mengajarkan ilmu yang baru dikuasainya kepada ibu-ibu warga kota Banjarmasin yang berminat. Selepas pelatihan itu, yakni tanggal 10 Agustus 1982, mereka membentuk Kelompok Kerja Pembuat Kain Sasirangan Banawati (Wulan, 2006).

Kain sasirangan produksi mereka mulai diperkenalkan kepada khalayak ramai pada tanggal 27 Desember 1982. Ketika itu mereka menggelar peragaan busana kain sasirangan di Hotel Febiola Banjarmasin. Sambutannya sungguh luar biasa. Sejak itu kain sasirangan mulai dikenal luas oleh segenap anggota masyarakat di Kalsel.

Bak gayung bersambut, kata berjawab, Gubernur Kalsel Ir. HM Said kemudian mengeluarkan kebijakan mewajibkan para PNS mengenakan baju berbahan kain sasirangan pada setiap hari Jum’at (1985). Tidak hanya itu, para calon jemaah haji Kalsel juga diwajibkan mengenakan baju berbahan kain sasirangan pada saat upacara pelepasan keberangkatan mereka di Aula Asrama Haji Landasan Ulin Banjarbaru.

Tahun 1987, kain sasirangan dipamerkan di Departemen Perindustrian Jakarta. Ketika itu Prayudi, seorang perancang busana terkemuka, didaulat untuk merancang busana dari bahan kain sasirangan. Warna asli kain sasirangan yang didominasi warna gelap mulai diberi tambahan warna terang yang lebih beragam untuk lebih menarik minat para pembeli (Baldi, 1993).

Masih dalam rangka lebih memperkenalkan kain sasirangan kepada khalayak ramai di luar daerah Kalsel, pihak pemerintah daerah berinisiatif memberikan cinderamata kain sasirangan berkualitas istimewa kepada para pejabat tinggi sipil dan militer yang berkunjung ke daerah kalsel. Tidak kurang dari Bapak KH Abdurrahman Wahid almarhum, Presiden Republik Indonesia masa bakti 2000-2003, tercatat sebagai tokoh nasional yang gemar mengenakan baju berbahan kain sasirangan.

Semakin lama, kain sasirangan semakin dikenal luas, hal ini merangsang para pengrajin untuk lebih giat lagi memproduksinya. Menurut catatan Baldi Fauzi (1993), pada tahun 1993 saja sudah tercatat 68 unit usaha pembuat kain sasirangan di kota Banjarmasin. Usaha kecil ini melibatkan tenaga kerja sebanyak 700 orang. Omset penjualan kain sasirangan ketika itu mencapai Rp. 98 juta per tahun (Kain Sasirangan, untuk Bergaya dan Penolak Bala, SKH Kompas Jakarta, 15 Agustus 1993). 

Ini berarti, sejak tahun 1985 fungsi kain sasirangan sudah kembali menjadi kain propan yang berfungsi umum sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani  seluruh warga negara sebagaimana yang dulu berlaku sebelum tahun 1355. Tidak lagi berfungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rohani para pengidap penyakit pingitan saja. 

Sumber foto: www.pixabay.com (gratis)