Sunday, February 7, 2021

Puisi-Puisi Maman S. Mahayana dalam Buku Puisi-Puisi MUNSI


MANTAN PRESIDEN

1/
Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup

Sebongkah teladan
nama yang ditegakkan
seorang mantan presiden

belum penuh dua tahun
ia menyimpan kembali kekuasaan
meninggalkan istana
menjadi rakyat biasa

Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup
membuang nama tercela
sang istri diperiksa
diduga korupsi

Seoul berduka
berita menyebar ke pelosok kota
menyusup ke hati segenap keluarga
merayap sampai ke desa-desa
“Mari perangi korupsi," katanya

/2/
Di luar gerbang istana Deoksu
altar sembahyang didirikan
rakyat antre seharian
menunggu giliran
menyapa mendiang
menyampaikan takzim penghormatan
melantunkan doa
bergelombang siang-malam

Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup
menjaga nama marga dan reputasi
memerangi korupsi
rakyat antre seharian
menunggu giliran
menyapa mendiang
menyampaikan takzim penghormatan
menyelipkan pesan harapan
sambil membujuk tuhan
mengangkatnya lagi jadi presiden
bagi penghuni surga

Sudah tiga bulan
tuhan masih juga diam
sebab
pengadilan memutuskan
sang janda mendiang Roh Moo-Hyun
terbukti
tak korupsi!

Seoul, Musim Panas 2009


TIGA PEREMPUAN MEMBAWA TUHAN

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Pulang dari Rusia membawa Zhivago, lapangan merah dan vodka. Kuhidangkan Tae Guk Gi, Guangju, dan soju di antara kisah revolusi, lapangan Ikada, dan warung kopi. Segalanya seperti bentangan kitab kuning yang bergemuruh di pojok-pojok surau, misa gereja, dan doa sutra sang Buddha.

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Aku mengajaknya ke rumah sempit dengan tanda swastika menempel di depan pintu. Dupa membara dan sesajian di depan altar berisi bebuahan, soju, arak putih, dan potongan-potongan daging babi.

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Mereka pulang meninggalkan apartemen. Ada cendera mata tertinggal. Aku menemukan tuhan di sana, menempel dalam lembar-lembar kertas yang berserak.

Hwarangdae, 12/12/12


Tentang Penyair

MAMAN S. MAHAYANA lahir pada tanggal 18 Agustus di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya yang berupa puisi, prosa, artikel, dan buku-buku pelajaran bagi sekolah. Selain mengajar di perguruan tinggi, Maman juga seorang peneliti. Dia merupakan salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005).

-----------------------------------------

Sumber tulisan: buku Puisi-Puisi MUNSI (Puisi-puisi karya penyair MUNSI I -- 2016

Sumber foto buku Puisi-Puisi MUNSI: Arsip pribadi


Saturday, February 6, 2021

Puisi M. Sulaiman Najam dalam Seloka Bisu Batu Benawa

 


Kotaku

kotaku hilang di laut khayal
karena badai menghapus mimpi
kotaku adalah kapalku
muatan angan-anganku

sebuah kota yang indah
terapung antara dua selat
selat laut yang cantik
selat makassar yang bertuah
kota bergaya legenda
pulau palinggam cahaya
dalam cerita lamut
bijaksana sakti mandraguna

elok mengagumkan
pertautan alam dan kota
bagai sepasang kekasih
kehidupan abadi

lampunya terang benderang
bagai kota seribu satu malam
airnya bersih
seperti perak di pagi hari
jalanan mulus
kadang berkelok
bagai ular melata di tempat licin
rakyatnya yang asih
bahagia dan sejahtera
karena alamnya kaya raya

kini kotaku hanya mimpi
tenggelam di laut khayali


Catatan

Lamut: sebuah tradisi berkisah yang mengandung pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya Banjar.


Tentang Penyair

M. Sulaiman Najam. Pernah menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Seniman (MPS) Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kotabaru dan Penasihat KSI Kabupaten Kotabaru. Pernah pula menjadi anggota DPRD Kotabaru (1992--1997). Penyusun buku cerita rakyat Kotabaru Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak (bersama M. Syukri Munas dan Eko Suryadi WS, 2008). 

Puisinya dimuat antara lain dalam Kasidah Kota (2000), Jembatan (2000), Reportase (2004), Stasiun Waktu Kilometer Lima Puluh lima (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan III, Kabupaten Kotabaru, 2006), Doa Pelangi di Tahun Emas, (Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan VI, Kabupaten Batola, 2009) dan Menyampir Bumi Leluhur (Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII, Kabupaten Tabalong, 2010).

Menerima Penghargaan Tokoh Budayawan dari Bupati Kotabaru (2001), Penghargaan Tokoh Seniman dan Pendidikan Kabupaten Kotabaru dari PT Pelindo III Kotabaru (2004), dan Penghargaan Abdi Wisata dan Budaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotabaru (2006). Sebatung, Melukis dalam Kaca (2009) adalah antologi puisi tunggalnya.

---------------------------------------------

Sumber tulisan: Bunga rampai puisi "Seloka Bisu Batu Benawa"

Sumber foto buku "Seloka Bisu Batu Benawa": Arsip pribadi


Friday, February 5, 2021

Puisi-Puisi Hasan Al Banna dalam Sauk Seloko


Kampung Hujan

                   -padangsidimpuan

adakah langitmu senantiasa mengasah pisau
tajam dan berkilau

mengirim irisan hujan ke pekarangan
menanam rindu ke kenangan

aku tak pernah mengenal setangkup payung
tiada jas hujan di almariku

aku bukan pengintai tempat berlindung
rindang pohon bukan hilir pelarianku

pakaianku dirajut dari kumparan angin
kain selimutku terbuat dari daging kabut

di sini, anak-anak hujan memahat liuk jalan
sampai ke pintu rumah

di kejauhan, inang hujan mengasuh lungkup bukit
dan lentang sawah-ladang

adalah gelipur lumpur
yang mengukir kakiku sekokoh jati

ialah gemulai sungai
yang menempa tubuhku setangguh batu

o pinak-pinak hujan
itulah air mata haru ibuku

o anak lelaki yang didekap ibu
itulah perantau perindu, aku


Sungai Deli

sepasang mata yang penat adalah engkau
deraimu selitak lenguh sapi
tak sudah diperah
tak tuntas diperas

engkau tahu, kampung medan kian memukau
pohon-pohon menyala
gedung-gedung menimang kilau
meski tubuh jalan menyandang banyak luka

deli, gericik yang parau
pusar segala risau
rambut panjang yang lalai disisir
ibu yang kerap dienyah-diusir

aku tahu, orang-orang menelurkan matahari
dari perut merkuri
sedang rahimmu cuma semayaman nyeri
semata laci bagi kesah dan dendam mimpi

deli
deli
puisi yang ditikam sepi berkali-kali
tapi tak mati-mati


Tentang Penyair



Hasan Al Banna lahir di Padangsidimpuan. Menulis di Mimbar Umum, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Harian Global, Andalas, Riau Pos, Sagang, Sabili, Lampung Post, Suara Pembaruan, Republika, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Jurnal Cerpen Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Kompas, dan Horison.  

--------------------------------------------

Sumber tulisan: Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI)

Sumber foto buku Sauk Seloko: Arsip pribadi

Sumber foto penyair: Sastra Medan


Thursday, February 4, 2021

Sebuah Puisi Muhammad Ibrahim Ilyas dalam Akulah Musi


SEORANG IBU, WARGA NEGERI BENCANA

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
isaknya tersimpan, sedu sedannya tertahan

hati-hati, sambil mendulang harap, ia berbisik:
"latih saja kakimu agar kuat berlari
kita mesti bersiap evakuasi
penuhkan maafmu dalam dada
penguasa sedang rapat, terperangkap dalam angka
dan wacana
memprediksi jumlah korban dan menghitung jumlah bantuan bencana"

hati-hati, sembari menggantang cahaya, aku
menyimak:
jejak air mata berbaris dan menunggu
melewati batas wasior, merapi dan pulau-pulau
pagaiku
rindu berkaca lelah dan menjauh
menghitam sebelum senja berlabuh

seorang ibu, warga negeri bencana,
dapatkah kau dengar teriaknya tanpa suara:
"begitulah, berkejaran dengan waktu, pelangkahan
hanya menjejak di angin, berpijak pada buih. tak akan pernah mampu menggayut di udara, tak akan pernah bisa menapak lautan. dan kata-kata, kadang menjadi jinak dalam luka, tapi lebih sering menjelma raungan buas memangsa jiwa”

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
di matanya dapat kau baca:
“kita sudah mengalah sejak lama
sedari gandhi dibunuh ahimsa
luka-luka di bawah matahari
menggenang sunyi”

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
isaknya tersimpan, sedu sedannya tertahan
ia tau dan percaya, langit bukan tanpa harapan

30 November 2010


Tentang Penyair




Muhammad Ibrahim Ilyas, lahir di Padang, 28
Januari 1963. Mulai aktif berkesenian tahun 1977. Bergabung dengan Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, kemudian menjadi salah seorang pendiri Teater Semut tahun 1981. 

Menulis puisi, artikel dan naskah drama. Beberapa puisi dan naskah dramanya memenangkan sayembara penulisan. Puisinya dimuat di antologi Lirik Kemenangan (Taman Budaya Yogyakarta, 1994), Amsal Sebuah Patung (1995), dan dramanya Cabik dimuat dalam antologi Napi (Taman Budaya Yogyakarta, 1994). Bukunya, Hoerijah Adam: Barabah yang Terbang Tak Kembali, diterbitkan tahun 1991. 

Mengikuti beberapa even Temu Teater DKJ sejak 1982, dan tahun 1997 diundang oleh The Japan Foundation untuk program pertukaran seniman muda Asia ke Jepang. Penyutradaraannya antara lain, Nilonali (1978), Kerajaan Burung (1982), 99 Untuk Tuhanku (1984), Surat Akhir Tahun (1985), Sang Pewaris (1986), Cabik (1994), Pekik Sunyi (1995), Nyanyian Kemerdekaan (1995), Bung Besar (1996) dan Tarik Balas (2002). Menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat (2007--2010).
-----------------------------------------

Sumber tulisan: Akulah Musi (Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang 2011)

Sumber foto buku Akulah Musi: Arsip Pribadi

Sumber foto penyair: Laman Temu Sastrawan Nusantara Melayu


Wednesday, February 3, 2021

Puisi Abdul Razak bin Othman



Saling

Rimba pernah menggurui kita erti saling dalam kehidupan
pohon besarnya berdiri gah dahan menjulang ke perut awan
meneduhi pepohon kerdil; menggugurkan daun renta
yang direntap oleh geser angin lalu mendap ke kulit tanah
dilumatkan cacing menjadi nutrien subur dan menggembur.
Pepohon renek berakar rambut saling pada membuhul tanah
memeterai lurah pada pacakan bukit; gagah melindung cerun
dari punah diterjah seranah hujan pun sesekali serakah bah.
Banir pepohon besar dan kecil saling menadah jirus hujan
yang diapungkan mendung basahnya meresap ke tubuh
dan dikumuhkan menjadi peluh mengalir di rusuk liku
dan kaki-kaki bukit yang melenggok sungai-sungai anak
melewati jeram teluk dan lubuk jernihnya menyuluh
rumpun batu dan banir pasir di dasar; santun menghilir
sebahagian disesar ke awan dan alirnya tak pernah mungkir
akur akan telunjuk tebing yang mengarah ke mulut laut.
Demikian plot hidup rimba purba; terdandan watak para murba
mulia melingkari makna saling dan berputar pada rantai fitrah
masing-masing berkitar di landskap sunah, indah dan bermaruah.
Rimbaku, sudikah kembali setelah kau kucincang lumat?
Sungaiku, pulanglah ke jernih-beningmu kurindu amat
Alamku, kami ingin bersaing dengan salingmu.

(Puisi ini memenangi Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2013 Kategori Puisi Eceran)


Tentang Penyair



Nama sebenar ABDUL RAZAK BIN OTHMAN. Lahir di Kampung Tendong, Pasir Mas, Kelantan pada 18 Disember 1964. Berkenalan dengan sastera ketika berusia 33 tahun dan mulai berkarya dua tahun kemudian. Menulis dalam genre puisi dan cerpen.

Pendidikan rendah dan menengah di kampung asal sebelum mengikuti kursus Pendidikan Seni Visual di Maktab Perguruan Ilmu Khas, Kuala Lumpur 1983 -- 1985. Daripada Seni Visual beliau beralih ke bidang Kesusasteraan Melayu apabila mengikuti Diploma Perguruan Khas di Maktab Perguruan Raja Melawar tahun 1997 seterusnya ke Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) tahun 1998 -- 2000.

Sehingga kini telah menghasilkan 3 kumpulan sajak dan 2 buah kumpulan cerpen.
Judul buku-buku tersebut Melukut Menukik Sekam, (2008), Pesan Seorang Luqman,
(ITBM 2013) dan Sajak Untuk Permata, (2014). Manakala kumpulan cerpen pula Latah (2013) dan Aura Haji Mahar (ITBM, 2015).

Abd. Razak pernah memenangi Hadiah Sastera Kumpulan Utusan (HSKU) tahun
2001 dan tahun 2008. Sajak beliau berjudul "Pada Glaukoma ke Ahmar" menjadi
teks Kesusasteraan Melayu Tingkatan 4 & 5, antologi Kubentangkan Sehelai Peta (DBP, 2014). Selain itu turut memenang Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2013,
kategori puisi eceran.

Beliau juga pernah muncul naib johan Sayembara Deklamasi Puisi sempena Bulan Bahasa Kebangsaan (BBK) peringkat negeri Kelantan tahun 2009. Menganggotai Persatuan Penulis Kelantan (PPK) dan dilantik sebagai Setiausaha 2. Beliau diberi
anugerah Karyawan Kelantan bagi kategori penulis cerpen oleh kerajaan negeri Kelantan tahun 2013.

-----------------------------------
Sumber tulisan: Lembaran Masteran, Majalah Sastra PUSAT NO 11/2015

Sumber ilustrasi: Pixabay


Tuesday, February 2, 2021

Mengetahui Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan dari Tulisan D. S. Moeljanto


Dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia dikenal adanya manifesto kebudayaan. Orang kebanyakan  menyebutnya manifes kebudayaan. Secara ringkas manifes kebudayaan merupakan konsep kebudayaan yang mengusung humanisme universal. Bagaimana proses lahir manifes ini? Lewat tulisan D. S. Moeljanto berjudul "Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan" berikut, Anda dapat mengetahuinya. Tulisannya cukup panjang, jadi terlebih dahulu yakinkan diri Anda untuk membacanya hingga tanda titik terakhir. 


Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan 

D. S. Moeljanto


Naskah Manifes Kebudayaan selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada 17 Agustus 1963 pukul 04.00 WIB. Setelah dipelajari, akhirnya dapat diterima oleh Goenawan Mohamad dan Bokor Hutasuhut, sebagai bahan yang akan diajukan ke diskusi pada 23 Agustus 1963 di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta. Kemudian naskah tersebut diperbanyak dan disampaikan kepada sejumlah seniman untuk dipelajari, jika dianggap perlu diberi catatan-catatan sebagai landasan ideal.

Dengan bertempat di Jalan Raden Saleh 19, pada 23 Agustus 1963 tepat pukul 11.00 WIB, diadakan rapat untuk membahas naskah Manifes Kebudayaan. Dalam rapat ini hadir tiga belas orang seniman-budayawan, yaitu: (1) Trisno Sumardjo. (2) Zaini. (3) H.B. Jassin, (4) Wiratmo Sockito, (5) Bokor Hutasuhut. (6) Goenawan Mohamad, (7) Bur Rasuanto, (8) A. Bastari Asnin (datang dari Yogya), (9) Ras Siregar, (10) Djufri Tanissan (11) Soe Hok Djin (Arief Budiman), (12) Sjahwil (dari Sanggar Bambu), dan (13) D.S. Moeljanto.

Waktu itu Trisno Sumardjo berusia 47 tahun (penerjemah redaktur, dokumentator), Zaini (39, pelukis), Wiratmo Sukito (34, csais, komentator budaya RRI), Bokor Hutasuhut (29, cerpenis), Goenawan Mohamad (22, penyair, esais), Bur Rasuanto (26, cerpenis), A. Bastari Asnin (24, cerpenis), Ras Siregar (27, cerpenis), Djufri Tanissan (24, pelukis), Soe Hok Djin (23, esais, pelukis), Sjahwil (25, pelukis) dan D.S. Moeljanto (30, sekretaris redaksi, dokumentator). Dalam kelompok 13 seniman ini, 2 orang berumur 40-an, 3 orang 30-an, dan 8 orang 20-an tahun.

Pertemuan Manifes Kebudayaan tersebut dipimpin oleh Goenawan Mohamad, yang kemudian memberikan waktu kepada Wiratmo Soekito untuk memberi penjelasan pada hadirin tentang arti, sasaran dan rumusan Manifes Kebudayaan, yang pada umumnya sudah tercakup secara jelas dalam naskah Manifes Kebudayaan, yang telah disampaikan lebih dahulu kepada hadirin untuk dipelajari dan ditelaah lebih mendalam. Kemudian lahirlah dalam diskusi ini tanya-jawab, tukar-pikiran dan perdebatan yang terkadang cukup tajam. Soal humanisme universal ternyata adalah masalah yang cukup penting dalam diskusi tersebut.


Humanis Universal dan Utopisme

Dalam jawabannya Wiratmo Sockito antara lain memberikan penjelasan sebagai berikut: 

"Kebudayaan sebagai pernyataan hidup manusia mempunyai tendensi-tendensi universal', dalam arti bahwa kebudayaan itu bukan hanya untuk satu bangsa saja, tetapi untuk semua bangsa. Dan di samping itu, bukan hanya untuk satu angkatan saja, tetapi untuk semua angkatan. Meskipun demikian harus ditegaskan, bahwa kebudayaan itu titik-tolak dan titik-tolak itu adalah titik-tolak "nasional". Saya menyetujui sepenuhnya ucapan Dag Hammerskjoeld mantan Sekretaris PBB yang meninggal dunia dalam tahun 1961 yang mengatakan, bahwa kita harus menekankan kepentingan nasional, tetapi kepentingan nasional itu harus ditingkatkan niveau-nya ke arah kepentingan internasional. Dan inilah pengertian tentang humanisme universal, karena itu jenerima humanisme universal dalam pengertian itu. 

Bur Rasuanto yang mengajukan pertanyaan: "Mengapa tidak mungkin tercapainya toleransi ideologi?", dijawab oleh Wiratmo Soekito antara lain sebagai berikut: 

"Toleransi ideologi tidak ada, tetapi toleransi pendukung pendukung ideologi selalu mungkin karena toleransi hanya mungkin dalam arti sosial, yaitu hubungan antarmanusia (human-relations). Jadi, adapun kami sendiri berpendapat, bahwa perbedaan malahan pertentangan ideologi dapat diselesaikan dengan dialog. Bagi kami dialog adalah jiwa demokrasi".

Bur Rasuanto kemudian mengajukan pertanyaan lagi kepada Wiratmo Soekito sekitar masalah utopisme, dan kemudian Wiratmo memberikan penjelasannya sebagai berikut:

"Dalam praktiknya seringkali dicampuradukkan orang pengertian utopisme dengan pengertian utopia. Kita menegaskan perbedaan kedua pengertian itu. Utopia ialah cita-cita tertinggi yang tak dapat dicapai oleh manusia. Utopisme ialah suatu kecenderungan yang menguasai manusia seakan-akan manusia bisa mencapai utopia itu. Oleh karena itu, si manusia bertindak tidak real yang manifestasinya terlihat dalam dua bentuk. Yang pertama ia akan menjadi pengelamun hanya melampiaskan keinginan saja tanpa berbuat sesuatu pun. Yang kedua ia dengan bersikeras-kepala berusaha mencapainya dengan kekerasan, tetapi hasilnya hanya akan memberikan pengorbanan sia-sia, karena utopia itu tidak bisa tercapai. Adapun kita menyetujui adanya utopia, tetapi menolak utopisme, karena kita meskipun ingin mencapai cita-cita yang tertinggi itu, yang penting bukan tercapainya cita-cita yang tertinggi itu, melainkan bagaimana kita pada setiap saat merasakan kondisi-kondisi yang lebih baik daripada saat-saat sebelumnya. Kecenderungan ini adalah dalam perspektif menaik yang kita sebut optimisme".


Angkatan 45 dan Lekra

Bokor Hutasuhut juga mengajukan pertanyaan sekitar masalah: "Apakah yang dinamakan Angkatan 45 di dalam dunia kesusastraan itu telah arrive?"

Wiratmo Soekito menjawab antara lain sebagai berikut:

"Lahirnya Lekra pada 1950 adalah penilaian terhadap Angkatan 15 yang dianggapnya tidak memenuhi tugas revolusi. Tetapi dari dokumen-dokumen yang ada pada kita, penilaian Lekra tersebut seringkali berdasarkan fakta-fakta yang tidak otentik. Lahirnya Manifes kita adalah juga penilaian terhadap Angkatan 45 inklusif penilaian Lekra, dengan perkataan lain penilaian terhadap penilaian Lekra atas Angkatan 45. Kenyataan sekarang menunjukkan, bahwa Angkatan 45 sebagian besar tidak mempunyai militansi.

Meskipun pada dasarnya gagasan-gagasan mereka cukup bermutu. Namun harus dikemukakan, tidak seorang pun dari mereka itu mempunyai wawasan tentang kebudayaan apabila dilihat secara psikologis dan ilmiah. Kalau kita katakan tadi gagasan-gagasannya cukup bermutu itu karena kita melihat dari sudut intuisi mereka. Manifes ini lahir sebagai regenerasi dengan kondisi-kondisi objektif yang baru dan dengan kekuatan-kekuatan yang baru pula. Karena itulah, lahirnya Manifes ini bukan atas kehendak kita sendiri saja, tetapi terutama adalah juga kehendak faktor-faktor objektif dalam negara dan masyarakat kita sekarang ini".

Setelah acara tanya-jawab berlangsung yang terkadang mengalami saat perdebatan yang cukup tajam, dan setelah catatan-catatan H.B. Jassin diterima, dan setelah merasakan sebuah Manifes Kebudayaan sudah saatnya dicetuskan, maka pertemuan memutuskan dapat menerima Manifes Kebudayaan yang disusun Wiratmo Soekito sebagai bahan-dasar yang masih perlu diperinci, disederhanakan dan dipertegas perumusannya oleh badan yang ditunjuk sidang.

Sidang kemudian memutuskan membentuk panitia perumus yang terdiri dari: Zaini (Ketua), Bokor Hutasuhut (Sekretaris), Goenawan Mohamad (anggota), A. Bastari Asnin (anggota), Soe Hok Djin (anggota) dan Wiratmo Soekito (anggota).


Rumusan Manifes

Pada 23 Agustus 1963 bertempat di Jalan Raden Saleh 19, diadakan pertemuan lagi yang khusus merumuskan Manifes Kebudayaan di bawah pimpinan Zaini. Dalam merumuskan Manifes Kebudayaan ini, panitia masih tetap mengingat saran-saran yang timbul di dalam sidang dan juga berpedoman kepada catatan tertulis yang disampaikan kepada panitia.

Kemudian sidang panitia perumus yang berakhir pada pukul 02.30 WIB memutuskan, bahwa Manifes Kebudayaan dibagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: 1. Manifes Kebudayaan, 2. Penjelasan Manifes Kebudayaan, 3. Literatur Pancasila. Hasil rumusan panitia ini akan dibawa ke sidang lengkap yang akan diadakan pada 24 Agustus 1963.

Dengan pimpinan sidang Goenawan Mohamad dan sekretaris Bokor Hutasuhut, pada 24 Agustus 1963 diadakan sidang pengesahan Manifes Kebudayaan bertempat di jalan Raden Saleh 19. dan dimulai tepat pukul 13.00 WIB. Atas nama panitia,

Bokor Hutasuhut melaporkan tentang hasil panitia perumus yang telah menetapkan, bahwa Manifes Kebudayaan terdiri dari tiga bagian, yaitu: 1. Manifes Kebudayaan, 2. Penjelasan Manifes Kebudayaan. 3. Literatur Pancasila. Kemudian dibacakan hasil rumusan dan godogan panitia perumus. Dan tetap diingat tanya-jawab dan pertukaran pikiran yang berlangsung antara Wiratmo Soekto dengan Trisno Soemardjo, Zaini, Soe Hok Djin dan Bur Rasuanto. Secara aklamasi kemudian sidang menerima hasil kerja panitia perumus.

Akhirnya juga diambil keputusan dan ketentuan yang berbunyi:

- Pada prinsipnya Manifes Kebudayaan tidak bisa diubah lagi.

- Manifes Kebudayaan tidak apriori melahirkan Organisasi Kebudayaan.

Demikianlah proses lahirnya sebuah naskah yang bernama Maniges Kebudayaan sebagai landasan ideal dalam melaksanakan tugas bagi kaum budayawan dan karyawan pengarang Indonesia yang kreatif.

-----------------------

Sumber tulisan: buku Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam: Sepilihan Esai dan Kritik Sastra Klasik Indonesia



Monday, February 1, 2021

Puisi-Puisi Wary Wirana

 



MONUMEN NASI TUMPAH

Tak ada lagi pagi atau sore
Koran-koran harian juga absen
Jam dinding dan jas hujan tak lagi
bernilai lebih. Pagi sore satu warna

Terlempar ke sekian tahun silam
Dengan usia bertambah rambut beruban

Kesendirian, lapar dan dingin
Teramat kuat menelikung
Satu kaki sudah berpijak di
lingkar kebahagiaan, diserimpung
Satu tangan sudah menyentuh manis madu
ditebas hingga pangkal jiwa

Bedak harum hangat tubuhmu
Tangis bayi manis senyum
Menjadi monumen nasi tertumpah
di ujung bibirku

1996


SUNGGUH AKU TAK BISA LAGI MENANGIS

Sungguh, aku tak bisa lagi menangis
Meski hanya tangis tanpa air mata tanpa suara
Namun tak sudi hanya berserah pasraH

Aku tak bisa berpaling lagi

Amuk menggelucak nubari
Keberanian menggedor nurani
Berjuta tangan rakyat ngacung ke langit
Bangunkan jiwa budak rebut harkat harga diri

Tapi gemuruh ombak laut itu
Tak sampai ke pantai
yang sudah lama kehilangan batu-batu karang
Sementara butir-butir pasirnya, justru
Membutakan mata

Sungguh, aku tak bisa lagi menangis
Meski hanya tangis tanpa air mata tanpa suara

1997


Tentang Penyair

Wary Wirana. Selain melukis bapak satu anak ini juga intens menulis puisi meski jarang mempublikasikannya secara khusus. Sejumlah manuskrip dan kumpulan puisi bersama penyair lain setempat mendokumentasikan karya-karya penyair yang tinggal di Joyosuran, Kec. Pasar Kliwon Solo ini.

-----------------------

Sumber tulisan: Jentera Terkasa 

Sumber ilustrasi: Pixabay