Thursday, February 4, 2021

Sebuah Puisi Muhammad Ibrahim Ilyas dalam Akulah Musi


SEORANG IBU, WARGA NEGERI BENCANA

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
isaknya tersimpan, sedu sedannya tertahan

hati-hati, sambil mendulang harap, ia berbisik:
"latih saja kakimu agar kuat berlari
kita mesti bersiap evakuasi
penuhkan maafmu dalam dada
penguasa sedang rapat, terperangkap dalam angka
dan wacana
memprediksi jumlah korban dan menghitung jumlah bantuan bencana"

hati-hati, sembari menggantang cahaya, aku
menyimak:
jejak air mata berbaris dan menunggu
melewati batas wasior, merapi dan pulau-pulau
pagaiku
rindu berkaca lelah dan menjauh
menghitam sebelum senja berlabuh

seorang ibu, warga negeri bencana,
dapatkah kau dengar teriaknya tanpa suara:
"begitulah, berkejaran dengan waktu, pelangkahan
hanya menjejak di angin, berpijak pada buih. tak akan pernah mampu menggayut di udara, tak akan pernah bisa menapak lautan. dan kata-kata, kadang menjadi jinak dalam luka, tapi lebih sering menjelma raungan buas memangsa jiwa”

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
di matanya dapat kau baca:
“kita sudah mengalah sejak lama
sedari gandhi dibunuh ahimsa
luka-luka di bawah matahari
menggenang sunyi”

seorang ibu, warga negeri bencana, tetaplah seorang ibu
isaknya tersimpan, sedu sedannya tertahan
ia tau dan percaya, langit bukan tanpa harapan

30 November 2010


Tentang Penyair




Muhammad Ibrahim Ilyas, lahir di Padang, 28
Januari 1963. Mulai aktif berkesenian tahun 1977. Bergabung dengan Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, kemudian menjadi salah seorang pendiri Teater Semut tahun 1981. 

Menulis puisi, artikel dan naskah drama. Beberapa puisi dan naskah dramanya memenangkan sayembara penulisan. Puisinya dimuat di antologi Lirik Kemenangan (Taman Budaya Yogyakarta, 1994), Amsal Sebuah Patung (1995), dan dramanya Cabik dimuat dalam antologi Napi (Taman Budaya Yogyakarta, 1994). Bukunya, Hoerijah Adam: Barabah yang Terbang Tak Kembali, diterbitkan tahun 1991. 

Mengikuti beberapa even Temu Teater DKJ sejak 1982, dan tahun 1997 diundang oleh The Japan Foundation untuk program pertukaran seniman muda Asia ke Jepang. Penyutradaraannya antara lain, Nilonali (1978), Kerajaan Burung (1982), 99 Untuk Tuhanku (1984), Surat Akhir Tahun (1985), Sang Pewaris (1986), Cabik (1994), Pekik Sunyi (1995), Nyanyian Kemerdekaan (1995), Bung Besar (1996) dan Tarik Balas (2002). Menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat (2007--2010).
-----------------------------------------

Sumber tulisan: Akulah Musi (Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang 2011)

Sumber foto buku Akulah Musi: Arsip Pribadi

Sumber foto penyair: Laman Temu Sastrawan Nusantara Melayu


0 comments: