Sunday, February 7, 2021

Puisi-Puisi Maman S. Mahayana dalam Buku Puisi-Puisi MUNSI


MANTAN PRESIDEN

1/
Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup

Sebongkah teladan
nama yang ditegakkan
seorang mantan presiden

belum penuh dua tahun
ia menyimpan kembali kekuasaan
meninggalkan istana
menjadi rakyat biasa

Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup
membuang nama tercela
sang istri diperiksa
diduga korupsi

Seoul berduka
berita menyebar ke pelosok kota
menyusup ke hati segenap keluarga
merayap sampai ke desa-desa
“Mari perangi korupsi," katanya

/2/
Di luar gerbang istana Deoksu
altar sembahyang didirikan
rakyat antre seharian
menunggu giliran
menyapa mendiang
menyampaikan takzim penghormatan
melantunkan doa
bergelombang siang-malam

Mantan Presiden: Roh Moo-Hyun
mengakhiri hidup
menjaga nama marga dan reputasi
memerangi korupsi
rakyat antre seharian
menunggu giliran
menyapa mendiang
menyampaikan takzim penghormatan
menyelipkan pesan harapan
sambil membujuk tuhan
mengangkatnya lagi jadi presiden
bagi penghuni surga

Sudah tiga bulan
tuhan masih juga diam
sebab
pengadilan memutuskan
sang janda mendiang Roh Moo-Hyun
terbukti
tak korupsi!

Seoul, Musim Panas 2009


TIGA PEREMPUAN MEMBAWA TUHAN

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Pulang dari Rusia membawa Zhivago, lapangan merah dan vodka. Kuhidangkan Tae Guk Gi, Guangju, dan soju di antara kisah revolusi, lapangan Ikada, dan warung kopi. Segalanya seperti bentangan kitab kuning yang bergemuruh di pojok-pojok surau, misa gereja, dan doa sutra sang Buddha.

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Aku mengajaknya ke rumah sempit dengan tanda swastika menempel di depan pintu. Dupa membara dan sesajian di depan altar berisi bebuahan, soju, arak putih, dan potongan-potongan daging babi.

Tiga perempuan datang dengan tasbih dan tanda salib. Mereka pulang meninggalkan apartemen. Ada cendera mata tertinggal. Aku menemukan tuhan di sana, menempel dalam lembar-lembar kertas yang berserak.

Hwarangdae, 12/12/12


Tentang Penyair

MAMAN S. MAHAYANA lahir pada tanggal 18 Agustus di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya yang berupa puisi, prosa, artikel, dan buku-buku pelajaran bagi sekolah. Selain mengajar di perguruan tinggi, Maman juga seorang peneliti. Dia merupakan salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005).

-----------------------------------------

Sumber tulisan: buku Puisi-Puisi MUNSI (Puisi-puisi karya penyair MUNSI I -- 2016

Sumber foto buku Puisi-Puisi MUNSI: Arsip pribadi


0 comments: