Saturday, March 9, 2019

Novel Di Kaki Bukit Cibalak, Ketika Orang Licik Jadi Pemimpin dan Akhirnya Jatuh



Secara umum, novel karya Ahmad Tohari ini mengangkat persoalan kepemimpinan di Desa Tanggir yang berada di kaki Bukit Cibalak tahun 1970-an. Hampir semua masyarakat di desa itu bersikap mengikuti saja segala keputusan kepala desa meski salah sekalipun. Dan, hanya seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Pambudi yang berani melawan pemimpin desanya yang licik.

Dikisahkan, dalam waktu dekat (masa itu) masyarakat Desa Tanggir akan melaksanakan pemilihan kepala desa yang baru. Ada lima orang calon yang akan berlaga. Kelima calon kepala desa pun mulai mengadakan trik jitu masing-masing untuk mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat di sana. Ada yang terang-terangan dalam bentuk pencitraan, atau sebaliknya dari pintu ke pintu.

Dari kelimanya, hanya ada dua calon yang kuat, yakni pak Dirga dan pak Badi. Bisa dikatakan dalam pemilihan kepala desa ini ada dua kandidat yang bersaing sengit. Lalu siapakah pemenangnya yang berhak menduduki jabatan sebagai Kepala Desa Tanggir?

Pemilihan dimulai. Satu persatu masyarakat yang cukup umur melaksanakan pemilihan. Setelah dihitung, pak Dirga lah yang memenangkannya. Cerita kian menanjak. Sebab, pak Dirga banyak melakukan kecurangan dalam pengelolaan kas desa. Pambudi yang merupakan pengurus lumbung koperasi di desa itu sangat kecewa dengan hal tersebut.

Ditambah lagi, pak Dirga bekerja sama dengan tengkulak. Tentu saja hal ini mengakibatkan sulitnya lumbung padi desa mendapatkan keuntungan. Puncak dari kekecewaan Pambudi terhadap pak Dirga ialah saat kepala desa baru itu menolak seorang warga yang hendak meminjam padi. Perempuan tua itu bernama mbok Ralem yang  sangat memerlukan uang untuk mengobati kanker ganasnya.  

Setelah mengundurkan diri dari koperasi desa, Pambudi berniat menolong mbok Ralem. Ia mendatangi kantor Kalawarta di Yogyakarta. Tujuannya ke kantor surat kabat itu mengusulkan kepada pemimpinnya agar dibuka dompet amal untuk pengobatan mbok Ralem. Pemimpin Kalawarta tertarik dan menyetujui usul Pambudi. Di posisi lain, pak Dirga semakin berang terhadap Pambudi karena dengan dimasukkanya kondisi mbok Ralem di dalam koran, ia mendapatkan kemarahan dari bupati yang mengagapnya lalai sebagai kepala desa. Maka, teror mulai dilancarkan kepala desa yang licik ini kepada Pambudi. Bahkan pak Dirga menyerang mantan pengurus koperasi desa itu dengan guna-guna. Karena kekejian itulah, Pambudi tak tahan dan memutuskan meninggalkan desanya menuju Yogyakarta.

Di kota gudeg itulah, Pambudi bertekad melanjutkan studinya, yakni kuliah. Untuk menopang kehidupan dan dalam persiapan mengikuti ujian masuk peguruan tinggi, ia bekerja sebagai pelayan toko milik nyonya Wibawa sekaligus sebagai pembantu di rumah majikannya itu. Jadi tak heran bahwa Pambudi menjadi akrab dengan Mulyani yang merupakan putri majikannya.

Mendekati ujian masuk perguruan tinggi, Pambudi pulang kampung, tapi ternyata namanya sudah tercoreng oleh fitnah dari pak Dirga. Ia difitnah menggelapkan uang sebesar Rp125 ribu saat bekerja di koperasi desa.

Hari berganti hari dan suatu ketika Pambudi mendapatkan tawaran bekerja di Harian Kalawarta. Alasan surat kabar tersebut menawarkan pekerjaan itu tak lain karena usulan Pambudi mengenai dompet amal waktu membatu mbok Ralem kala itu. Alhasil, dengan diterimanya Pambudi bekerja di Kalawarta, ia harus berhenti bekerja sebagai pelayan toko dan pembantu rumah tangga.    

Pambudi berkembang menjadi tangan kanan pak Barkah yang merupakan pemilik Kalawarta. Nah, saat  bekerja di surat kabar inilah Pambudi membalas perbuatan pak Dirga dengan menulis kolom yang mengkritik Desa Tanggir. Akhirnya,  pak Dirga pun diberhentikan sebagai kepala desa oleh pak camat.

Sedang cerita asmara sebagai bumbu dalam novel ini, yakni antara Pambudi dan Sanis dikisahkan tidak berjodoh. Sementara hubungan Pambudi dan Mulyani tetap berlanjut, bahkan keduanya mengakui perasaan masing-masing dengan cara yang romantis.


Biodata singkat Ahmad Tohari



Ahmad Tohari merupakan sastrawan dan budayawan Indonesia. Ia lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948. Saat ini berumur 70 tahun.

Dari karya-karyanya, Ronggeng Dukuh Paruk merupakan karya  monumentalnya. Novel itu sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang PenariDalam bidang akademis, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (antara 1967--1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (antara 19741975), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman(antara 1975—1976). 

Selain karya sastra,tulisan-tulisannya yang berisi gagasan kebudayaan dimuat di berbagai media massa. Di samping itu, ia juga menjadi pembicara di berbagai diskusi/seminar kebudayaan.

0 comments: