Sunday, February 14, 2021

Membaca Karya Sastra, Mengapa Tidak?


Banyak laporan penelitian menyebutkan bahwa minat baca orang Indonesia itu masih rendah jika dibandingkan dengan masyarakat di beberapa negara lainnya. Benarkah demikian? Terlepas dari benar tidaknya, satu hal yanh perlu kita pahamkan dalam diri sendiri bahwa membaca itu penting dan memang kita perlukan. 

Beragam informasi terkandung dalam bacaan-bacaan di sekitar kita. Bayangkan jika kita enggan membaca, maka tertinggallah diri kita selangkah atau banyak langkah daripada orang-orang yang gemar membaca. 

Begitu pula dengan membaca karya sastra. Meskipun masih banyak orang yang enggan berdekatan, bahkan menganggap puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya sebagai bacaan tak berguna, tetaplah yakin bahwa karya sastra itu penting bagi manusia.

Di bawah ini contoh pembacaan cerpen karya Soeman H. S. berjudul "Salah Sangka".



Semoga video di atas dapat bermanfaat.

Saturday, February 13, 2021

Salah Sangka, Cerpen Soeman H. S. dalam Odah dan Kuli Kontrak


DUSUN Limbayung letaknya agak ke udik-udik, jadi terasinglah dari dunia megah. Dusun itu tidak berapa besar; jumlah rumahnya tak lebih dari tiga puluh buah, tetapi penduduknya rukun dan damai, menyebabkan penghidupan mereka itu makmur jua.

Tersebutlah seorang guru mengaji, bernama Malim Bungsu. Konon ilmunya tak berapa dalam, akan tetapi kajinya baik. Dia kuat beribadah, selalu merendahkan diri dan pada waktu yang terluang ia selalu tafakur dan zikir. Oleh karena itu ia amat disegani oleh isi kampung itu. Maka ia pun dapat panggilan "tuan guru".

Adalah tuan guru itu beranak empat orang, keempat-empatnya perempuan. Sebagai kebiasaan manusia, bila anaknya perempuan saja, maka inginlah hatinya hendak beranak laki-laki. Tiap-tiap ia lepas sembahyang tiadalah ia khali daripada berdoa ke hadirat Habiburrahman, mudah-mudahan Yang Maha Pengasih itu mengurniakan dia anak laki-laki. Dengan kodrat Ilahi, isterinyapun hamillah. Mulai dari saat itu, makin kuatlah tuan guru tadi beribadah. Kadang-kadang berjam-jam lamanya ia khalwat, seorang diri berdoa dengan khusuknya, senantiasa dipohonkannya supaya ia beroleh anak laki-laki.

Sebulan lepas, sebulan datang, maka saat isterinya itupun sampailah. Petang harinya isterinya itu pun mulai merasa sakit-sakit. Sebagai orang yang disegani, tak usahlah tuan guru itu berpayah-payah menjemput bidan. Demikianlah pada malam itu, orang tua-tua dan bidan-bidan, sudah banyak di rumah itu. Sakit perempuan itu makin terasa, jangkanya tak menjelang besok, lahirlah anaknya.

Sesudah sembahyang Isya, Malim Bungsu, asyik mendoa memuji Tuhan, memohonkan rahmatnya. Ia khusuk benar, sedikit pun tidak beranjak dari tikar sembahyangnya.

Hari sudah jauh larut malam, setengah perempuan-perempuan tua itu sudah tidur, tetapi Malim Bungsu masih mengaji mendoa jua.

Tersebut pula seorang orang hukuman lari dari tutupan. Sudah beberapa hari ia mengembara di dalam hutan hendak menyembunyikan dirinya. Akan tetapi perutnya memaksa ia keluar, mencuri ke rumah orang. Pada malam itu, iapun sampai ke dusun itu. Entah karena rumah tuan guru itu disangkanya rumah orang berada, entah karena berketepatan saja-wallahu alam, tetapi pada malam itu mulailah ia mencungkil jendela rumah itu, berkebetulan benar bilik perempuan yang hendak bersalin itu.

Jendela itu terbuka. Pencuri itu meninjau ke dalam, sedang guru masih mendoa jua di ruang luar. Perempuan-permpuan yang ada dalam kamar itu tersentak bangun, lalu memekik minta tolong kepada tuan guru itu:

"Laki-laki, tuan! Laki-laki, tuan!” teriak mereka itu.

"Alhamdulilah -- alhamdulilah!" jawab tuan guru itu mengeraskan doanya.

"Laki-laki, tuan! Laki-laki, tuan!" teriak perempuan-perempuan itu sekali lagi. "Alhamdulilah, syukur", ujar tuan guru itu. "Ya Allah. Engkau perkenankan kiranya pintaku!” Pencuri itu meluncur lari.

Di ruang tengah kedengaran bunyi langkah tuan guru, mulutnya komat-kamit menyerukan, "Alhamdulilah, syukur -- syukur -- syukur!"

la masuk ke bilik itu, hendak melihat anaknya yang laki-laki itu. Betapa takjubnya memandang isterinya masih macam biasa jua, dan anaknya yang disangkanya laki-laki itu tak tampak, sedang isterinya menyumpah-nyumpah.

"Mana anak kita?" tanyanya.

"Sudah lari," jawab isterinya bersungut-sungut.


Sumber Kumpulan cerita pendek Kawan Bergelut, penerbit N.V. NUSANTARA, 1961


Tentang Soeman H.S. 

Soeman H.S. lahir pada 1904 di Bengkalis, Riau, dan meninggal dunia di usia 95 tahun. Dia sempat berprofesi sebagai guru Bahasa Melayu dan belajar menulis di bawah bimbingan gurunya yang juga seorang sastrawan, Mohammad Kasim. Kumpulan cerita pendek Kawan Bergelut (1941) adalah karyanya yang paling banyak dibahas. Dia juga menulis novel pertamanya, "Kasih Tak Terlarai" (1929), yang berkisah tentang sepasang kekasih yang kawin lari. Novel lainnya, "Percobaan Setia" (1932), mengenai seorang anak muda yang harus menghadapi tipu daya orang lain sebelum dapat menikahi kekasih hatinya.

--------------------------------------------

Sumber tulisan: Odah dan Kuli Kontrak (Sepilihan cerpen klasik Indonesia).

Sumber foto buku: Arsip pribadi.


Friday, February 12, 2021

Puisi-Puisi Ali Hasjmy dalam Lautan Waktu


Tanah Airku

I
Atas hamparan Samudera Hindia
Bertaburan pulau hijau semilau,
Diempasi ombak karang pantainya,
Itulah gerangan Tanah Airku.
Di situ daku dilahirkan Ibu,
Di situ tertumpah darah ke bumi,
Di situ daku menanti maut,
Di situ daku nanti berkubur.
Putuslah janji dalam hatiku,
Akan berjihad selama hayat
Untuk membela tanah tercinta,
tempat diri berutang budi
terikrar sudah sumpah setia,
Akan berbakti sampaikan mati,
Buat mengangkat tanah ulayat,
Ke puncak menara bahagia raya.

ІІ
Di mana sawah membujur luas,
Serta ladang terbentang panjang,
Tempat petani menanam padi,
Indonesia Tanah Airku.
Di mana laut apas terpagar,
Serta danau berair tenang,
tempat nelayan mengail ikan,
Indonesia Tanah Airku.
Di mana luasnya rimba belantara,
Serta hutan hijau berdandan,
tempat peladang menebang kayu,
Indonesia Tanah Airku


Menyesal

Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna
kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju arah padang bakti.


Untuk Bersama

Biar hujan tidak turun,
Kalau hanya menyirami ladangku,
Biar tak ngembng sekar suhun,
Kalau hanya di tamanku.

Biar purnama tidak terbit,
Jika tidak bersama korongku,
Apalah guna bulan sabit,
Jika tak menyuluh seluruh negeriku.

Dimanakan (bagaimana) dapat mengecap nikmat,
Jika tidak bersama korongku,
Dimanakan (bagaimana) bisa merasa rahmat,
Jika tetangga sengsara selalu.

Baru damai jiwaku, diri,
Waktu lah senang rakyat bangsaku,
Di situ dapat bagia sejati,
Dalam kemuliaan Tanah Airku.

Aku berjihad untuk bersama,
Untuk kemakmuran Tumpah Darahku,
Biar kukorban segala yang ada.
Buat pembangkit syiar Wathanku.

Rela badanku hancur binasa,
Tulang berderai di dalam kubur,
Asal selamat umat berjuta,
Serta negeriku jadi masyhur.

Mulia negeri, bahagia bangsa,
Tujuanku dalam perjuangan,
Menghidupkan semarak Agama,
Itulah maksudku, gerangan.

Sumber: Rangkuman Kesuma (Kumpulan yang tidak terbit) lewat Pujangga Baru (Pustaka Jaya, 1963)


Sekilas tentang Penyair

ALI HASJMY nama lahir Muhammad Ali Hasyim alias Al Hariry, Asmara Hakiki dan Aria Hadiningsun lahir di Idi Tunong, Aceh, 28 Maret 1914 adalah sastrawan, ulama, dan tokoh daerah Aceh. Sebagai sastrawan, ia telah menerbitkan 18 karya sastra, 5 terjemahan, dan 20 karya tulis lainnya. la wafat 18 Januari 1998 pada umur 83 tahun.

-----------------------------------------------

Sumber tulisan: Lautan Waktu (Sepilihan Puisi Klasik Indonesia)

Sumber foto: Arsip pribadi


Thursday, February 11, 2021

Puisi L.K. Ara dalam Senja di Batas Kata



MENYEBUT NAMAMU

puisi itu memanggil manggil
dan menyebut namamu
datanglah.

puisi itu kadang menghilang
bersama riak gelombang
ke dasar menyelam
memungut batu manikam
yang lama tenggelam
ingin memperlihatkan
kepada tamu yang datang.

puisi itu akan membuatmu teduh
seperti pohon teduh
di taman Putrophang
yang kadang lengang
seperti kita angankan
ketika kita berbincang
dengan Putrophang.

Banda Aceh, 4 Juli 2011

Sekilas tentang Penyair


L. K. Ara bernama lengkap Lesik Keti Ara adalah seorang penyair yang dilahirkan di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah. Kegiatan menulis sudah dimulainya sejak belajar di SMP dan terus berkembang ketika ia bersekolah di Taman Madya, Medan. 

Di Medan pula ia menjadi Redaktur Kebudayaan Mimbar Umum yang terbit di kota itu dan berhasil menulis beberapa sajak yang dimuat di Majalah Indonesia, Mimbar Indonesia, dan Pustaka Budaya di Jakarta. 

Tulisannya berupa sajak cerita anak-anak, gubahan sastra lama, dan laporan jurnalistik.
Karya-karyanya yang terbit berupa kumpulan sajak di bawah judul Angin Laut Tawar (1969), Kumandang (1971), Kur Lak Lak (1982), Catatan pada Daun (1986), dan Kening Bulan (1986). Bersama dengan temannya, Abdul Karim, ia menerbitkan puisi kedua di bawah judul Amruna (1994). 

Selain itu, ia juga mengumpulkan sajak Gayo dalam Serangkai Saer Gayo (1980). Buku kumpulan puisi anak yang diterbitkan adalah Namaku Bunga (1980). Anggrek Berbunga (1982), Buah-Buahan di Kebun (1982), dan Senandung Burung-Burung (1982). 
Kumpulan karangan berupa bacaan anak, yaitu Senjata Pustaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), dan Biografi Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Buku Berkelana dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997) menghimpun biografi singkat dan perkenalan karya 14 pengarang Aceh dari Abdul Rauf hingga Maskirbi. 

Bersama Taufiq Ismail, ia juga menyusun antologi sastra Aceh dengan judul Seulawah, Antologi Sastra Aceh (1995). Karyanya yang lain berjudul Syair Tsunami dan Ekspresi Puitis Aceh (2006) dan Menghadapi Musibah (2006).
Karangannya yang lain berupa catatan perjalanan ketika naik haji dalam buku berjudul Perjalanan Arafah (1974). Dengan karyanya yang amat banyak itu, L.K. Ara tercatat sebagai pengarang yang menulis lebih dari satu genre. Selain itu, ia juga dikenal aktif dalam seni pentas. 

Ketika di Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim, dia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka tahun 1967. Dia juga dikenal sebagai penaja yang pernah membawa dan memperkenalkan Toet seorang pedendang lagu "Gayo" sebuah kesenian dari Aceh. Tempat penampilan Toet memperkenalkan lagu Gayo kepada publik, antara lain di TIM, Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Palangkaraya, dan Bandung. L.K. Ara juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG).

Mulai tahun 2005 L. K. Ara menjadi motor penerbitan buku-buku di Bangka Belitung (Babel) dengan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ). Karya-karya yang dihasilkan, antara lain, adalah Bunga Rampai Bangka Barat (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Barat), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang). 
---------------------------
Sumber puisi: buku Senja di Batas Kata: Beranda Rumah Cinta (Antologi Puisi Karya Penyair Nusantara Raya) dan 

Sumber foto dan biodata penyair: Laman Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud

Sumber foto buku: Arsip pribadi


Wednesday, February 10, 2021

Sajak-Sajak Mh. Zaelani Tamaka


RITUS BURUNG
: mengenang Subagio Sastrowardoyo

Hanya burung yang bisa
Mengerti tawa malaikat
“Tangkaplah” katamu
“Agar kita mengerti isyarat alam!”

Membaca garis-garis ayat
Kepak burung mengembuskan angin
Meniupkan api nurani
Dalam sayap diri

Saat burung-burung pergi
Pulang ke sarangnya masing-masing
Aku hanya bisu. Diam!

Surabaya, 1995


KICAU BURUNG

1
kicau burung inilah yang mempertemukan
Aku dengan-Mu
(pada malam larut, kicau burung berderai bersama debur
hatiku)
oooh, dalamnya samudera
kudaki gunung-gunung di antara beribu sepi
dalam kesunyianku
kutatap masa silam yang gemuruh
gelisah mendayungkan sampan sampai ke pulau-Mu
oooh, di peta sepi ini
kujaring beribu malaikat dengan jala
makrifatku

2
Kicau burung kali ini benar-benar mempertemukan
Aku dengan-Mu
di antara kesunyian batu-batu kali
gemerisik mentasbihkan nama-Mu
kurajut rumah-rumah hati dari batu-batu sunyi
dihiasi dinding-dindingnya dengan burung-burung
yang berkicau atas kebesaran-Mu
(di hati ini: bersarang burung-burung sunyi yang menyanyikan
kegaduhan)

Surabaya, 1990


SAJAK BUAT OI

Seperti tak kenal duka, burung-burung menebarkan
Benih kesunyian
Pada ladang-ladang kerinduan, kau-aliri sepiku
Kautanam beribu benih dan sekian kali
Siap Kauketam butir-butir zikir memupuk
Kekekalan-Mu, kerinduan dan kesetiaanku

Duh. Duh. Yaa, Rabbana. Yaa, Rabbana
Apakah bisa kulukis pertemuan ini
Meski hanya lewat kicau burung sekalipun
Antara benih dan kerinduan
Melebur dalam kesejatian
Hanya kelu yang bisa kupandang dari danau-Mu
Di antara keluasan zat, betapa kecilnya aku
Dalam samudera kebesaran-Mu, aku hanyalah
Sampan, yang siap Kau bawa berlayar (dalam Badai sekalipun)

Duh. Duh. Yaa, Rabbana. Yaa, Rabbana.
Biarkan kutanam sepi dalam sanubariku

Surabaya, 1990


Tentang Penyair

Mh. Zaelani Tamaka, lahir di Jember. Puisi-puisinya dimuat, antara lain, di Horison, Basis, Ulumul Qur’an, Republika, Suara Karya, dan Surabaya Post di samping terangkum dalam sejumlah antologi puisi bersama penyair lain. 

-------------------------------------------------

Sumber tulisan: Jentera Terkasa
Sumber ilustrasi: Pixabay


Tuesday, February 9, 2021

Bagaimana Kabar Sastra di Myanmar?


Beberapa hari terakhir ini Myanmar menjadi salah satu sorotan mata dunia. Betapa tidak? Telah terjadi kudeta di negara yang juga dikenal dengan nama Burma itu. 

Bahkan, setelah ratusan ribu orang berunjuk rasa di seluruh negeri menentang kudeta, darurat militer dideklarasikan di sebagian Kota Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar pada Senin (kemarin). 

Dikabarkan Merdeka, dalam perintah tersebut pihak militer melarang warga berunjuk rasa atau berkumpul lebih daripada lima orang, dan memberlakukan jam malam mulai pukul 20.00 sampai 04.00 waktu setempat. 

Lantas, bagaimana kabar sastra di Myanmar, setidaknya dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini?

Jauh dari ingar-bingar berita seputar percaturan politik negeri itu, sebenarnya Myanmar tidak abai terhadap kehidupan sastra. Apa buktinya? 

Salah satu yang mencolok adalah Irrawaddy Literary Festival. Acara nirlaba yang dijalankan sepenuhnya oleh sukarelawan dalam merayakan dunia sastra khususnya para penulis Myanmar dan  internasional ini telah sukses diadakan di sana.

Berdasarkan agenda umum, kegiatannya berlangsung rutin setiap satu atau dua tahun sekali di Myanmar. Festival perdana digambarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris (saat itu), William Hague, sebagai "mencapai lebih banyak untuk kebebasan berbicara dalam satu sore daripada kebanyakan dari kita yang mengelola seumur hidup." 

Ya, pada tahun 2013 Festival Sastra Irrawaddy pertama berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Februari di Hotel Danau Inya di Yangon. Aung San Suu Kyi adalah pembicara kunci festival. Peserta lain termasuk penulis Wild Swans Jung Chang, penulis A Cocok Boy Vikram Seth, dan sejarawan William Dalrymple. Penulis Burma termasuk Thant Myint-U, penulis "The River of Lost Footsteps", dan Pascal Khoo Thwe, penulis "From the Land of Green Ghosts". Hadir pula jurnalis BBC Fergal Keane, dan jurnalis foto Thierry Falise.

"Saya senang bisa memberikan dukungan dan partisipasi saya untuk Festival Sastra Irrawaddy pertama di Myanmar," kata Aung San Suu Kyi, tokoh demokrasi Myanmar yang menjadi penyokong festival, dalam situs resmi Irrawaddy Literary Festival, seperti terlansir Travel Detik, Jumat (1/2/2013).

Festival tersebut dihadiri oleh sekitar 10.000 peserta, dan dianggap sebagai indikasi signifikan dari pelonggaran undang-undang sensor Burma: sebuah proses yang telah dimulai dalam dua tahun sebelumnya, setelah pembebasan Aung San Suu Kyi dari tahanan rumah pada November 2013.

Kemudian, masih mengutip Wikipedia, Irrawaddy Literary Festival kedua menyelenggarakan daftar peserta yang sama pentingnya, dengan Aung San Suu Kyi, Jung Chang, dan Fergal Keane kembali sebagai pembicara utama, bersama dengan pendatang baru Louis De Bernieres (Mandolin Kapten Corelli), Polly Devlin (All Of Us There ) dan Caroline Moorehead (Martha Gelhorn: A Life).

Acara ini awalnya akan berlangsung di Pagoda Kuthodaw, Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Mandalay, namun izin yang sebelumnya telah diberikan dicabut sehari sebelum pembukaan Festival. ILF kemudian dipindahkan ke Mandalay Hill Resort Hotel, di mana acara dibuka kurang dari satu jam terlambat dari jadwal.

Sedang Festival Sastra Irrawaddy ketiga berlangsung di Mandalay -- di Mandalay Hill Resort Hotel -- dari 28 hingga 30 Maret 2015. Penulis dan jurnalis pemenang penghargaan internasional ambil bagian, termasuk Louis de Bernières (Mandolin Kapten Corelli), Anne Enright, (The Gathering), Barnaby Phillips (Perang Orang Lain), Ratna Vira (Putri berdasarkan Perintah Pengadilan), Colin Falconer dan Margaret Simons. Mereka bergabung dengan sejumlah penulis Burma dari setiap genre yang banyak di antaranya melakukan perjalanan dari seluruh penjuru negara untuk ambil bagian bersama rekan internasional mereka. 

Pada tahun 2016, Festival ini menjadi badan amal yang terdaftar di Inggris - Irrawaddy Literary Festival Charitable Trust (nomor badan amal terdaftar 1168517).

Festival Sastra Irrawaddy 2017 diadakan pada tanggal 3–5 November. Ini mengikuti model yang ditetapkan dari acara tiga hari gratis untuk masuk dengan interpretasi simultan tersedia di semua sesi. Lebih daripada 4.000 orang hadir, sebagian besar dari Myanmar tetapi dengan jumlah pengunjung internasional yang kuat juga. Program tersebut mencakup sesi tentang kekerasan antarkomunal dan rekonsiliasi dengan partisipasi perwakilan senior dari agama Buddha dan Muslim. 

Pada 2 Mei 2018 pada konferensi pers yang diadakan di Yangon, pengurus Irrawaddy Literary Festival Charitable Trust dan penyelenggara Myanmar mengumumkan pembentukan Dewan Myanmar yang akan memikul tanggung jawab untuk organisasi Festival di masa depan. Hal ini sejalan dengan visi awal Festival, yang ditetapkan oleh direktur pendiri Jane Heyn dan pelindung Festival, Daw Aung San Suu Kyi. Dewan Myanmar dipimpin oleh ketua, Saya U Nay Oke dan wakil ketua Dr Aung Myint.

Selanjutnya, Festival Sastra Irrawaddy berlangsung 9--11 November 2019. Festival ini menandai transisi Festival dari dewan pengawas internasional (dari Irrawaddy Literary Festival Chartable Trust) ke penyelenggara lokal Myanmar, yang dipimpin oleh Sayar U Nay Oke dengan demikian memenuhi keinginan para pendiri dan pelindung Festival.  

Satu hal yang menjadikan Festival Sastra Irrawaddy dianggap unik di antara acara-acara sastra di seluruh dunia. Apakah itu? 

Tidak seperti festival lainnya, semua anggota dewan, penyelenggara, staf, dan pembicara adalah sukarelawan dan tidak menerima pembayaran atas partisipasi mereka. Semua dana sponsor digunakan untuk memproduksi Festival; tidak ada gaji atau biaya yang dibayarkan kepada siapa pun yang terlibat dan kehadiran di semua acara benar-benar gratis.

-------------------------------------------

Sumber: Pixabay, Wikipedia, Merdeka, dan Travel Detik


Monday, February 8, 2021

Bontang, Cerpen Muthi' Masfhu'ah di Buku Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia



SELIMUT PEKAT malam telah terhampar indah sepanjang kota. Senyap, sepi jalan seakan mengajak terlelap, sejenak istirahat dari ingar-bingar kota.

Belum terpejam bola mataku....

"Mba', Mba' maaf ganggu, pasti tau rumahnya Pak Umarganis ya?" ujar laki-laki tua yang tubuhnya berisi dan agak tertatih... mendorong gerobak esnya, menghampiriku.

Agak tertegun... Ia memakai baju kaus Pak Umarganis, walau agak kusam, mungkin karena lebih sering dipakai, mungkin juga ia terlihat bangga memakainya.

Pak Umargamis menang, 'kan Mba? Saya mau silaturrahim dengan Pak Umarganis, saya mau cerita kalo teman-teman saya mendukung dan memilih Pak Umarginis, meski kami belum pernah ketemu, tapi kami yakin...."

Meski kami belum pernah ketemu, tapi kami yakin... Begitu percayanya laki-laki ini menjatuhkan pilihannya, mungkin karena nalurinya yang membuat kuat keyakinannya. Sama yakinnya dengan aku, pun aku meyakini laki-laki tua ini tidak sedang berbohong, tidak mengada-ada... Malah haru yang membuncah di bilik hatiku... Ia ingin bersilaturrahim bertemu dengan Pak Umarganis, siang itu mungkin dengan gerobak esnya, mungkin dengan ditemani teriknya matahari....

Tanpa ragu aku memberikan alamat lengkapnya. Ia pun berterima kasih sekali dan sekejap berlalu dengan wajah cerahnya, berlari-lari kecil dengan gerobak esnya. Sangat bahagia. Mungkin bahagia karena kandidat pilihannya menang dalam Pemilukada, mungkin bahagia akan bertemu dengan kandidat pilihannya, mungkin.. .

Sungguh, slang itu aku mendapat pelajaran berharga....

Sungguh, betapa manusia sering dilihat dari aksesorinya. Latar belakang pendidikan, keahlian atau bahkan kekayaannya. Orang pun berlomba menapaki karier demi sebuah kesuksesan. Sukses diidentikkan dengan berkecukupan. Cukup harta dan cukup fasilitas, tapi bukan untuk laki-laki tua ini. Dari sinar wajahnya, meski ada gurat kesulitan hidup, tapi ia memiliki banyak kecukupan dan berjuta kebahagiaan.

Sungguh, kini pun betapa banyak orang berlomba menjadi pemimpin, tetapi betapa sedikit yang menyadari hakikat kepemimpinan sejati. Dekat dengan yang dipimpinnya, dekat dengan rakyatnya.

Aku sangat beruntung, Allah telah mengajariku makna kebahagiaan juga hakikat kepemimpinan sejati. Aku tak akan melupakan siang itu. Akan wajah laki-laki yang sangat berbahagia itu.

Sungguh, begitu banyak rakyat mencintai kandidat ini, semoga rakyat pun siap untuk dipimpin oleh orang yang benar-benar mencintai mereka, bahkan melebihi diri mereka sendiri....

Aku tersenyum. Malam kian jauh, membawaku pada kantuk yang datang. Tapi rasa optimis menyelimuti seluruh gelegak jiwa, bila ingat lelaki tua itu. Tiba-tiba tak terduga, aku merasa mendapatkan nyawa baru.

***

"Mba', mau makan apa? Ketan, jahe, ato opo?" Mbok Tin menyenggol lenganku.

Malam itu, baru saja aku duduk di warung depan Rudal, warung pinggir jalan yang paling enak menu ketannya, lagi-lagi aku bertemu secara tidak sengaja dalam perbincangan yang sama... siapa calon terbaik di Pemilukada kali ini?

"Wah, kalo kandidat ini menang, mantep." Ujar seorang bapak dengan kepulan rokok dan wedang jahe di sampingnya.

"Mantep piye tho, Pak Jenggot?" tanya teman di sampingnya sambil mengunyah ketan anget di depannya. Sementara Mbok Tin jengar-jengir wae, aku jadi geli malam itu. Dapat inspirasi menulis mendadak di warung mbok Tin. Di sini memang penuh warna, tempat tongkrongan paling top untuk cari ide.

"Yaa, program unggulannya yang lima puluh juta per RT itu tho." Kata

"Ooo... 'Kan hebat tho, Pak Jenggot?" tanya temannya antusias.

"Lha, maksudku itu. Hebat tapi juga berat." Mulai berpolitik neh Pak Jenggot.

Aku senyum-senyum kecil, melirik Pak Jenggot sambil menikmati ketan asli Mbok Tin. Emang enak. Seenak obrolan malam ini yang hadir di telingaku secara tidak terduga.

"Beratnya apa tho?" gaya temannya agak ngolok, tapi tetap antusias.

"Lha, pemberian uang sebesar lima puluh juta per RT setiap tahun, 'kan beweerattt... Kalo gak walikotanya amanah, mana bisa jalan tho. Apalagi harus disetujui DPRD. Apalagi orang-orang di DPRD macem-macem?" Kali ini Pak Jenggot memang ahli juga berpolitik. Gelitik hatiku. Tambah geli, tapi memang benar apa yang ia sampaikan. Pak Jenggot saja tahu.

"Apa maksudnya macem-macem Pak Jenggot?" tanya temannya lugu. Lagi belajar melek politik neh.

Aku terkekeh dalam hati.

"Yaa macem-macem kepentingannya. Kalo gak ada komitmen di DPRD merealisasikan lima puluh juta, ya rewepooot." Pak Jenggot semangat sekali, seisi warung jadi ikut mendengarkan orasi politiknya.

"Yaah, kita doakan saja Pak Jenggot, semoga yang di gedung megah di DPRD itu juga punya komitmen. Yang walikota juga punya komitmen. Kalo mau perubahan, ya, semua harus sama-sama." Timpal temannya yang lain, yang lagi asyik makan ketan Mbok Tin, ikut angkat bicara.

“Yaa, kita masyarakat kudu mendukung, mengingatkan kalo gak jalan...."

Bla, bla, bla.. Pak Jenggot masih terus berorasi politik ala-nya, sahut-menyahut dengan teman-temannya. Menambah ramai warung pinggir jalan Mbok Tin.

Malam itu, aku jadi merenung dalam jenak waktu... Betapa banyak orang berharap, betapa banyak orang menanti sebuah perubahan untuk kota ini... Pandanganku kembali menyapu begitu banyak sudut jalan, suasana penuh ramai... Ramai dengan barisan spanduk, ramai dengan baliho kandidat.

Yap, begitu banyak semburat cerita, kisah dalam pesta demokrasi Kota Bontang kali ini. Siapa pun berhak menikmati perubahan, entah Mbok Tin si penjual ketan paling enak (menurutku) di kota Bontang ini, Pak Jenggot dan gank-nya, para pembelinya yang lain, bahkan tukang parkir pinggir jalan sekali pun....

Malam itu dari balik warung Mbok Tin, tepat di depan Rudal, aku menatap langit. Ratusan bintang di sana. Berhamburan, seperti juga segala harap dan cita-cita di hati warga Bontang. Cahaya harapan itu berpendaran di hati....

***


Sekilas tentang Penulis

MUTHI' MASFU'AH. Telah menulis, sedikitnya, 10 buku dan karyanya ada dalam 9 buku antologi nasional di antaranya Malam dan Cermin Ganjil (kumpulan cerpen FLP Jakarta tahun 2003 Penerbit Fatahillah, Jakarta), Matahari Tak Pernah Sendiri (kumpulan Feature FLP Jakarta, Penerbit Mizan Bandung tahun 2005), Jilbab Pertamaku (Kisah Feature Perempuan, Penerbit Mizan Bandung tahun 2005), Biografi Penulis dan Pengarang Kaltim, penerbit Kantor Bahasa Kaltim tahun 2009 dan lain sebagainya.

Ia juga mengedit dan menyusun 23 buku yang merupakan karya daerah baik feature, sastra, juga termasuk buku Jejak Pengabdian Bapak Isro Umarghani dan buku Komitmen Bersama Pasangan Bapak Adi Darma dan Bapak Isro Umarghani. 

Pernah menjadi Ketum Forum Lingkar Pena Wilayah Kalimantan Timur (FLP Wilayah pertama kali berdiri di Indonesia); 2005 Pimpinan Redaksi Majalah ATIKA MUI (Majelis Ulama Indonesia) Cabang Bontang; dan tahun 2005 Koordinator Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Remaja MUI Cabang Bontang.

--------------------------------

Sumber tulisan: buku Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia

Sumber foto: Arsip pribadi