Sunday, June 7, 2026

Sekolah Rakyat Itu Tidak Perlu Ada

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Dengan utang yang banyak, negara kita tidak bisa disebut sebagai negara kaya."

"Betul. Yaaa presiden kita saja yang halu. Dalam otak tuanya negara kita kaya raya. Padahal utang kian mendekati puncak Everest."

"Aaaaah, bagaimana tidak meninggi, dianya saja jalan-jalan terus ke luar negeri? Membuat banyak satuan tugas bergaji besar. Sok-sokan ngasih makan gratis pula. Terus dia juga memboroskan uang hasil pajak dan ngutang tersebut buat program-program lainnya semisal sekolah rakyat. Alasannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.'

"Betul. Padahal cukup dengan menggratiskan biaya sekolah bagi anak-anak tidak mampu di sekolah yang sudah ada. Ini malah membangun sekolahan baru. Itu sungguh menelan biaya yang sangat besar."

"Benar kata pujangga Merah Saga bahwa apalah artinya punya sumberdaya alam melimpah, tapi masih ngutang kepada pihak asing."

"Dan, juga perkataan penyanyi pop Nangka Lezat bahwa negara akan miskin selamanya jika sumber daya manusianya diabaikan."

"Ya itulah kenyataan yang aneh bin ajaib. Sekarang sok sibuk ingin mencerdaskan anak bangsa, eh orang-orang cerdas malah tidak dipakai. Ada berapa banyak penemuan berharga anak bangsa yang disia-siakan hingga dihargai negara-negara lain."

"Orang-orang cerdas juga saat ini dianggap sebagai musuhnya. Sampai-sampai dia menegaskan akan menertibkan para pengamat yang sejatinya merupakan orang-orang cerdas."

"Beginilah cerita menyedihkan di Negara Rintihan Debu. Rakyat bisa apa? Demonstrasi? Melakukan pemberontakan? Atau apa? Ah!"

"Puyeng!"

***

0 comments: