![]() |
| Foto: Pixabay |
"Ah, janganlah kamu berkata seperti itu, Wo!"
"Mengapa? Bukankah betul kenyataannya demikian?"
"Itu akan membuat rakyatmu sedih."
"Sedih? Ha ha ha. Paman terlalu lebay!"
"Dengarkan dulu perkataanku. Tidak semua rakyat itu sekaya dirimu. Masih banyak dari mereka yang hidup pas-pasan, bahkan harus ngutang demi bisa hidup."
"Lha apa hubungannya dengan kemiskinan?"
"Ya tentu ada lah, Wo! Kamu pikir saja sendiri, mereka, dengan kemiskinan akut seperti itu akan tambah terbebani dengan dolar yang kian tinggi nilainya."
"Mereka, 'kan ga konsumsi dolar?'
"Wo, Wooo. Dengan naiknya dolar, barang-barang yang diimpor pasti naik harganya. Satu saja harga barang naik, harga semuanya termasuk jasa juga ikutan naik. Apalagi kalau yang diimpor berupa bahan mentah, kalau sudah menjadi barang siap pakai, harganya pasti naik tajam. Jadi, ini bukan perkara bangsa yang takut, melainkan kesejahteraan rakyatmu."
Raja Wojambi pun terlihat memahami kondisi yang sedang terjadi saat ini.
"Aku harap, kamu segera bertindak untuk memperkuat nilai mata uang negara kita. Bekerjalah untuk rakyat. Jangan kecewakan mereka!"
Tak lama kemudian, setelah Pangeran Moko menepuk pundak keponakannya itu, ia pun melangkah menuju ruang baca istana.
***









0 comments:
Post a Comment