Saturday, June 12, 2021

Nyanyian Nandong, Puisi L. K. Ara dalam Akulah Musi


Sebelum Nonton

1.

apa yang akan kami saksikan
kau bawa berita laut
dengan ratapan ombak
atau bisik bisik riak
yang pilu

tetabuhankah yang kami dengar
di bawah langit biru
dan laut biru
yang semua berseru
tentang nasib Seumelu

sebelum nonton nandong
seperti ada yang kosong
karena ruang dalam hati
ingin dilengkapi
dengan nasib saudara sendiri

Setelah Nonton

        Untuk Yoppie

2.

setelah kau jeritkan nandong pilu
barulah kami tahu
akan nasib pulaumu
Simeulu yang jauh
Simeulu yang luluh

nyanyianmu adalah suara ombak
menempuh jarak
dari pantai Simeulu
pasir yang lugu
hingga pantai barat
yang menunggu dengan rindu

kau meratap di bawah langit biru
bersama gerak sayap
burung beribu
berkabar ke laut biru
dan semesta
tentang Simeulu

bersama fajar pagi
suaramu bergetar
ingin bangkit
dari himpit
dan hempasan duka gelomang
yang yang pernah menggenang

setelah nonton nandong
kami tahu keluhmu
kami tahu tekadmu
untuk bangkit
dari himpit
walau bermula dengan jerit

Setelah Ikut

Utk Ampuh Devayan

3

Telah kau buka pintu
Untuk masuk ke nandong

Dan nandong mencoba meresap
Ke dalam diri
Dan diri mencoba meresap
ke dalam nandong

Jeritmu mengatasi badai
Dan ombak betapa pun riuhnya
Tetap mengabari
Duka batu
Duka daun Simeulu
Walau terhayun hayun
Sayup ia
Hinggap juga ia
ke ruang ruang di rumah kami
Di daratan ini

Catatan kearifan lokal
Tentang angin, laut dan semesta
Yang tehimpun dalam nandong
Kau bagi untuk kami
Dan kami mencoba menyerap arti

Setelah memasuki nandong
Kami merasa tertolong
Dari lupa lama
Tentang kearifan negeri kita

Banda Aceh, 18--19 Feb. 2011

Keterangan: 
Nandong, seni tutur pulau Seumelu, Aceh

Tentang Penyair

L. K. Ara bernama lengkap Lesik Keti Ara adalah seorang penyair yang dilahirkan di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah. Kegiatan menulis sudah dimulainya sejak belajar di SMP dan terus berkembang ketika ia bersekolah di Taman Madya, Medan. 

Di Medan pula ia menjadi Redaktur Kebudayaan Mimbar Umum yang terbit di kota itu dan berhasil menulis beberapa sajak yang dimuat di Majalah IndonesiaMimbar Indonesia, dan Pustaka Budaya di Jakarta. 

Tulisannya berupa sajak cerita anak-anak, gubahan sastra lama, dan laporan jurnalistik.
Karya-karyanya yang terbit berupa kumpulan sajak di bawah judul Angin Laut Tawar (1969), Kumandang (1971), Kur Lak Lak (1982), Catatan pada Daun (1986), dan Kening Bulan (1986). Bersama dengan temannya, Abdul Karim, ia menerbitkan puisi kedua di bawah judul Amruna (1994). 

Selain itu, ia juga mengumpulkan sajak Gayo dalam Serangkai Saer Gayo (1980). Buku kumpulan puisi anak yang diterbitkan adalah Namaku Bunga (1980). Anggrek Berbunga (1982), Buah-Buahan di Kebun (1982), dan Senandung Burung-Burung (1982). 
Kumpulan karangan berupa bacaan anak, yaitu Senjata Pustaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), dan Biografi Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Buku Berkelana dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997) menghimpun biografi singkat dan perkenalan karya 14 pengarang Aceh dari Abdul Rauf hingga Maskirbi. 

Bersama Taufiq Ismail, ia juga menyusun antologi sastra Aceh dengan judul Seulawah, Antologi Sastra Aceh (1995). Karyanya yang lain berjudul Syair Tsunami dan Ekspresi Puitis Aceh (2006) dan Menghadapi Musibah (2006).
Karangannya yang lain berupa catatan perjalanan ketika naik haji dalam buku berjudul Perjalanan Arafah (1974). Dengan karyanya yang amat banyak itu, L.K. Ara tercatat sebagai pengarang yang menulis lebih dari satu genre. Selain itu, ia juga dikenal aktif dalam seni pentas. 

Ketika di Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim, dia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka tahun 1967. Dia juga dikenal sebagai penaja yang pernah membawa dan memperkenalkan Toet seorang pedendang lagu "Gayo" sebuah kesenian dari Aceh. Tempat penampilan Toet memperkenalkan lagu Gayo kepada publik, antara lain di TIM, Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Palangkaraya, dan Bandung. L.K. Ara juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG).

Mulai tahun 2005 L. K. Ara menjadi motor penerbitan buku-buku di Bangka Belitung (Babel) dengan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ). Karya-karya yang dihasilkan, antara lain, adalah Bunga Rampai Bangka Barat (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Barat), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang). 

-------------------------------------------
Sumber puisi: Akulah Musi
Sumber biodata: Wartamantra
Sumber ilustrasi: Pixabay



0 comments: