Friday, January 4, 2019

SASTRAWAN KALSEL GENERASI PERINTIS ZAMAN KOLONIAL BELANDA 1930--1942



Pada tahun 1909-1916, Alexander WF Idenburg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Pada masa-masa inilah pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan politik etis di tanah jajahannya.

Sekolah-sekolah untuk kaum pribumi dengan kelas-kelas elite tertentu (kaum bangsawan, para birokrat, dan para hartawan) mulai dibuka di berbagai kota besar di Hindia Belanda (Ricklefs, 1994 : 236). Tapi, kebijakan Gubernur Jenderal Belanda itu hanya dilakukan secara terbatas di kota-kota besar di Pulau Jawa saja.

Di kota Banjarmasin sendiri situasinya masih tetap seperti sedia kala. Terbukti,  sampai dengan tahun 1909, sekolah yang ada di kota ini cuma Sekolah Kelas II saja. Sekolah ini sendiri dibangun pada tahun 1906 oleh Johannes van Weert yang ketika itu menjadi Residen di Borneo Selatan (Zuider Afdeling van Borneo). Sampai dengan akhir masa jabatannya pada tahun 1911, Johannes van Weert tidak juga membangun sekolah baru sebagaimana yang dilakukan oleh para Residen Belanda yang bertugas di Pulau Jawa. 

Sekolah HIS (Holland Indische School) baru dibangun di kota Banjarmasin pada tahun 1913, yakni oleh Residen LFJ Rycman. Dua puluh empat tahun kemudian (1937) barulah pemerintah kolonial Belanda membangun Sekolah MULO (Midlebaar Uitgebreid Loger Onderwijs) di kota Banjarmasin, yakni oleh Residen Moggenstrom (Saleh, 1979: 22).

Masih berkaitan dengan politik etis ini pula, para birokrat Belanda yang berkuasa di Borneo Selatan (Borsel) ketika itu, juga membiarkan sejumlah wartawan pribumi menerbitkan sejumlah surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu) di daerah kekuasaannya.

Surat kabar pertama yang diterbitkan oleh seorang wartawan pribumi, di Borsel (Kalsel) ketika itu adalah Suara Kalimantan. Surat kabar ini diterbitkan di Banjarmasin oleh Anang Abdul Hamidhan pada tanggal 23 Maret 1930 (Artha, 1981:35). Gerak langkah Anang Abdul Hamidhan itu kemudian diikuti oleh para wartawan pribumi lainnya. Sehingga dalam tempo singkat tercatat ada 15 buah koran/majalah yang terbit di Borsel pada kurun waktu 1930--1942.

Semua koran/majalah dimaksud  merupakan sarana yang efektif untuk menyebar-luaskan pikiran dan perasaan segenap anak bangsa yang tanah airnya sedang dijajah bangsa Belanda. Pada kesempatan wawancara dengan penulis pada tanggal 20 Desember 1992, Artum Artha memaparkan bahwa selain memuat aneka jenis berita, hampir semua surat kabar yang terbit pada tahun 1930-an itu juga memuat karya sastra bergenre modern dalam bahasa Indonesia (Melayu).

Contoh konkretnya, surat kabar Bintang Borneo edisi 15 September 1930, memuat sebuah puisi karangan Anak Martapura (nama samaran penyairnya) sebagaimana yang dikutipkan di bawah ini.

BANGSAKU SADARLAH

Bangun bangsaku janganlah malas
Bahana Merdeka sangatlah jelas
Bangsa tertindas asyik membantras
Bagi segala kungkungan yang pantas

Ambilah haluan yang berbahagia
Arah tujuan ikutlah Jawa
Apa bila kita tidak seia
Amblas kita di dalam gelora

Nah, sekarang Kalimantan dimaksud
Negeri kita mesti bersujud
Ngabdikan badan agar serajud
Nasihat ibu suatu rajud

Gayakan zaman sudah dirasa
Getir dan pahit jangan dikata
Gunakan waktu kata bujangga
Girangkan hati bila bekerja

Suluh itulah suatu obor
Sinarnya terang tidaklah kabur
Suburkan onderwijs yang masih diatur
Supaya kita jangan teledor
Ajaklah saudara suka berkumpul
Asah otak mana yang tumpul
Arahkan haluan kepada yang kepul
Agar terjadi maksud yang betul

Ketinggian derajat diselami serta
Kalimantan kita gelap gulita
Kirimkan obor penerang mata
Kalungkan tenaga dan ilmu kita

Usahlah saya berpanjang madah
Uraikan syair ini bukanlah indah
Umum hendaknya jadi pepadah
Usahakan agar jangan direndah

Salam dariku
Anak Martapura

Teks asli puisi di atas ditulis dengan menggunakan ejan Van Ophnysen.


Berminat membaca bagian-bagian lainnya, yakni Sastrawan Kalsel Generasi Perintis       Zaman Kolonial Jepang 1942—1945 hingga Sastrawan Kalsel Generasi Pewaris Zaman Reformasi  2010—2011? Silakan membacanya di buku SEJARAH LOKAL KESUSASTRAAN INDONESIA DI KALIMANTAN SELATAN  1930—2011. Pembelian buku bisa melalui nomor 08195188521. 

0 comments: