Tuesday, February 5, 2019

Waw, Inilah 12 Drama Korea Selatan yang Mulai Tayang Bulan Februari 2019 Ini!


Tanpa berpanjang lebar,inilah kedua belas drama Korea Selatan yang tayang mulai bulan Februari ini.  

1. Waves of Change (Mulai Tayang 2 Februari 2019)


Drama ini mengisahkan tentang polisi yang sikapnya dingin. Akan tetapi, di balik sikapnya itu, dia cukup ramah. Bahkan, kepeduliannya terhadap sesama bisa dikatakan tinggi. Di tengah kesibukannya dia berusaha mengubah kehidupan seorang pelacur agar menjadi perempuan baik. Dari pengamatannya, dia merasa kecewa terhadap sikap masyarakat setempat yang tidak peduli dengan keruskan moral di sekitar mereka. Waves of Change diperankan Lee Seun Yun dan Choi Eun Seo      

2. Touch Your Heart (Mulai Tayang 6 Februari 2019)


Judul lain dari drama ini  adalah Reach of Sincerity. Mengisahkan tentang romansa antara pengacara dan sekretarisnya yang mantan artis Hallyu. Sang mantan artis telah dipermalukan sebelumnya. Dia menyamar pascaskandalnya dengan salah seorang konglomerat (Chaebol) terjadi. Drama ini diperankan Lee Dong Wook dan Yoo In Na. Di dalamnya ada kandungan komedinya juga.

3. Legal High (Mulai Tayang 8 Februari 2019)


Drama ini mengisahkan tentang pengacara sombong, serakah, dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Kemudian, seorang pengacara pemula yang penuh semangat dan menjunjung tinggi rasa keadilan bergabung. Drama ini diperankan Jin Goo dan Seo Eun Soo. Sama dengan Touch Your Heart, Legal High juga mengandung unsur komedi.

4. Rude Miss Young-Ae 17 (Mulai Tayang 8 Februari 2019)


Drama ini dikenaljuga dengan judul Ugly Young-A Season 17 yang merupakan serial drama yang tayang di tvN. Certianya berpusat pada tokoh Lee Young Ae, yakni tentang kesedihannya sebagai wanita pekerja usia 30-an yang berjuang membesarkan bayinya. Drama ini diperankan Kim Hyun Sook, Lee Seung Joon, dan Ra Mi Ran.     

5. Trap (Mulai Tayang 9 Februari 2019)


Kang Wo Hyun disegani di stasiun penyiaran dan merupakan seorang ayah yang baik dan dikelilingi keluarga yang bercitra baik pula. Kemudian dia memutuskan dalam peruntungan di dunia politik. Cerita mulai menanjak saat insiden tragis terjadi. Seorang didektif bernama Go Song Kook mengambil kasus Kang Wo Hyun serta menyelidiki di balik insiden tersebut. Drama ini bergenre misteri dengan diperankan Lee Seo Jin dan Sung Dong Il.

6. Haechi (Mulai Tayang 11 Februari 2019)


Drama ini mengisahkan tentang empat orang dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul untuk menjadikan Pangeran Lee Geum Raja dan mereformasi Saheonbu. Keempat orang itu adalah Lee Geum, Yeo-Ji, Park Moon-Soo, dan Dal-Moon. Lee Geum sebenarnya adalah seorang pangeran. Akan tetapi, ibunya dilahirkan di kelas terendah sehingga dia tidak diakui sebagai pangeran meskipun seorang yang cerdas. Drama ini diperankan Jung Il Woo, Go Ah Ra, dan Kwon Yool. Park Hoon.

7. Item (Mulai Tayang 11 Februari 2019)


Drama ini merupakan adaptasi dari webtoon. Mengisahkan seorang profiler dan jaksa penuntut yang bertugas menungkap konspirasi serta rahasia di sekitar barang-barang unik dengan kekuatan gaib. Item diperankan Joo Ji Hoon, Jin Se Yun, dan Kim Kang Woo.

8. The Light in Your Eyes (Mulai Tayang 11 Februari 2019)


Kim Hye-Ja yang jujur dan berkepribadian positif berharap menjadi seorang penyiar. Dia jujur ​​dan memiliki kepribadian positif. Akan tetapi, dia mendadak menjadi wanita berusia 70 tahun dan mendapatkan kemampuan dalam memanipulasi waktu. Di lain pihak, Lee Joon Ha yang telah bekerja keras untuk mejadi reporter, malah menjalani hidup tanpa harapan dan terlibat dengan Kim Hye Ja. Drama ini diperankan Han Ji Min, Nam Joo Hyuk, Kim Hye Ja, dan Son Ho Joon.

9. Big Issue (Mulai Tayang Februari 2019)


Drama ini mengisahkan hiruk pikuk media paparazzi. Diceritakan seorang paparazi yang pergi setelah skandal besar. Karena sebuah foto, Han Seok Joo kehilangan segalanya, termasuk keluarganya dan juga pekerjaannya sebagai fotografer untuk surat kabar terkenal. Drama ini diperankan Park Shin Yang, Han Ye Seul, dan Joo Jin Mo.

10. Possessed (Mulai Tayang 13 Februari 2019)


Kang Pil Sung bekerja sebagai detektif. Nalurinya sebagai detektif luar biasa. Sedang . Hong Seo Jung  memiliki medium psikis yang sangat baik, tetapi dia mencoba menyembunyikan kemampuannya. Ini menyebabkan Hong Seo Jung menjaga jarak dari orang lain dan dia menjalani kehidupan yang kesepian. Sementara Kang Pil Sung menyelidiki suatu kasus, ia bertemu Hong Seo Jung. Kang Pil Sung merasa bahwa dia berbeda dari orang lain dan menaruh minat padanya. Mereka mulai menyelesaikan kasus bersama-sama menggunakan kemampuan khusus mereka. Possessed diperankan Go Joon Hee, Song Sae Byuk, dan Yun Jung Hoon.

11. The Fiery Priest (Mulai Tayang 15 Februari 2019)


Kim Hae Il membuat komentar dengki dan dia bisa bersikap kasar kepada orang lain. Sedang Koo Dae Young adalah seorang detektif. Dia banyak bicara dan dia juga penakut. Sementara Park Kyung Sun adalah jaksa penuntut. Dia pintar dan cantik. Dia juga ambisius sebagai penuntut dan pandai dalam pekerjaannya. Ketiganya bekerja bersama untuk menyelesaikan kasus pembunuhan yang melibatkan seorang imam Katolik senior. Drakor ini dibintangi oleh Kim Nam Gil, Kim Sung Kyun, Lee Ha Nui, dan Geum Sae Rok.

12. Love In Sadness (Mulai Tayang 23 Februari 2019)


Seo Jung Won adalah seorang ahli bedah plastik. Dia adalah orang yang baik, pintar dan tampan. Dia jatuh cinta dengan Yoon Ma Ri yang merupakan seorang seniman dan menantu dari keluarga chaebol. Kehidupan pernikahannya menyedihkan. Suaminya Kang In Wook terlihat seperti suami yang sempurna, tetapi ia terobsesi dengan Yoon Ma Ri dan melakukan kekerasan terhadapnya. Yoon Ma Ri memutuskan untuk melarikan diri dari suaminya yang obsesif. Dia bertemu Seo Jung Won dan jatuh cinta padanya.

Disarikan dari berbagai sumber

Monday, February 4, 2019

Mengenal Sekilas Sastrawan Afrizal Malna


Ini hanyalah tulisan mini untuk lebih memudahkan masyarakat luas mengenal sastrawan Indonesia dan karya-karyanya secara ringkas.

Afrizal Malna. Kali ini kita mencoba berkenalan dengan sosoknya. Mungkin tak banyak masyarakat umum yang mengetahui siapa ia meskipun sastrawan yang satu ini sangat terkenal di jagat sastra tanah air kita. Entah dengan Anda berkenaan dengan dirinya. 

Gaya puitiknya yang khas diikuti banyak orang (baca: penyair lain) telah melahirkan istilah afrizalian pada dekade 1990-an lalu. Sebenarnya selain menulis puisi, ia juga menghasilkan cerpen, novel, esai, dan juga teks pertunjukan teater.



Sosok sastrawan Indonesia yang satu ini lahir di lakarta, 7 Juni 1957. Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (tidak selesai). Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: Abad Yang Berlari diterbitkan tahun 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta,1984), Arsitektur Hujan diterbitkan tahun 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1996), Teman-Temanku dari Atap Bahasa diterbitkan tahun 2008 (mendapatkan penghargaan Man of The Year dari Majalah Tempo dan SEA Write Award dari Bangkok 2010), dan Museum Penghancur Dokumen diterbitkan tahun 2013 (mendapatkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2013).

Ia juga memberikan diskusi teater dan sastra di berbagai  universitas, baik dalam maupun luar negeri, serta mengikuti berbagai iven kesusasteraan  nasional-internasional.

Di bawah ini penggalan puisinya yang berjudul Kegiatan-Kegiatan Balok Es


Jam 6 pagi mulai mencair untuk menjadi balok es menjelang
jam 1 siang. Mereka ingin membuat matahari di malam
hari. Matahari di bawah suhu politik. Atap malam yang
melempar sejarah seperti Iistrik yang padam. Jangan
merasa pahlawan untuk melukai orang Iain. Negara seperti
perut yang penuh batu. Jam 8 malam balok es mengalir,
mencari suhu terendah untuk membeku. Perlahan-Iahan,
otak dan jantung mereka mulai menjadi es. Ginjal. Empedu
Balok es. 

Balok es mengeluarkan udara dingin. Balok es. Begitu dingin
balok es. Dingin yang melumpuhkan arus listrik balok es.
Dingin yang membuatmu tak tahu: apakah aku, apakah aku
di dalam atau di luar udara dingin itu? Apakah aku, balok es
yang panik? Apakah aku sebuah batu yang bertengkar
dengan cerita-cerita yang sedang membeku.

Waktu yang berdetak begitu dingin di kotamu.

Sunday, February 3, 2019

Meditasi Rindu, Karya Micky Hidayat



Micky Hidayat termasuk sastrawan terkemuka Indonesia. Pria yang lahir di Banjarmasin, 4 Mei 1959 itu mulai bergiat menulis puisi sejak tahun 1978. Di samping puisi, ia juga menulis esai sastra, ulasan/kritik sastra dan teater, reportase seni, resensi, artikel masalah sosial, politik, dan gerakan mahasiswa, di sejumlah media cetak daerah dan nasional antara lain, PelitaRepublika, dan Majalah Horison, serta di beberapa Jurnal Sastra.

Kumpulan puisi tunggalnya Meditasi Rindu (Tahura Media, Banjarmasin, 2008, dan Penerbit Bukupop, Jakarta, 2009). Pembicaraan atas puisi-puisinya terhimpun dalam buku Memikirkan Sajak-sajak Micky Hidayat (Pustaka Puitika, Yogyakarta, 2016).

Puisi-puisinya juga diterbitkan dalam antologi bersama di berbagai event/forum dan festival sastra lokal dan nasional. Ia juga menjadi editor beberapa buku antologi sastra karya sastrawan Kalimantan Selatan. Mengikuti berbagai forum sastra dan pembacaan puisi di Kalimantan Selatan dan berbagai daerah di tanah air.

Berikut salah satu puisinya berjudul Meditasi Rindu.


Meditasi Rindu
:Ayahanda HijazYamani

1
Mengingat kembali dirimu
Keterasingan dan sunyi pun menyapa
Menulisi airmata, di antara kata-kata liar buruanku
Mengaliri duka cita tak pernah terucapkan
Sekelompok camar membelah laut
Kumandang takbir melayang-layang di udara
Menyusun riwayat dunia yang tak pernah tamat kubaca

2
Tiba-tiba rinduku padamu
Menjelma sebuah menara menjulang
Mengajari udara beterbangan
Dengan kesabaran
Mengusik cuaca dan angin
Cahaya matahari mengirimkan salam dan doa
Yang tumpah dalam kenikmatan ruang dan waktu
Dalam keheningan sempurna

3
Bayang-bayang wajahmu
Menjelma rembulan dan bintang-bintang
Di hamparan sajadah kebijaksanaan
Kekhusyukan tasbih dan tahmid
Dengan kesetiaan samudera
Berkelebatan ayat-ayat
Berkilauan rahasia-rahasia
Tebing-tebing mimpi dunia
Yang diselimuti kabut
Dalam tahajud sunyi 

4
Mendaki, mendaki
Mendakilah!
Semadi, semadi
Semadilah!
Hingga ke puncak dzikir kembara
Telah engkau reguk kehidupan fana dengan airmata
Telah engkau enyahkan kilau-kemilau dan kecemasan dunia
Menuju ketenangan maha sempuma

5
Telah engkau baca beribu ayat
Hingga menerangi alam semesta
Telah engkau tuntaskan tafakkur dalam keheningan
Berkhalwat dalam selawat
Cahaya nabi dan para rasul
Mengembara dalam mahsyar
Bertakbir tak habis-habis takbir
Di keluasan sajadah
Hingga sujud dalam rakaat demi rakaatmu
Menyentuh surga

6
Dan aku di sini, di puncak kerinduan ini
Beribu tahun memunguti kesepian tak terperi
Dalam ketidakberdayaan, di ruang kefanaanku
Dan menanti, akankah kau datang lagi dengan senyum
Kemudian pergi tanpa pamit bersama mimpiku
Juga rindu tak terpuaskan

Sebagaimana sajak-sajak yang mengalir
Dari kawah batinku, pada setiap puncak pendakianku
Selalu saja menulisi kecemasan dunia
Menangisi luka bulan, bintang-bintang dan matahari
Mentasbihkan kebijakan dan kebajikan
Mendzikirkan kebaikan dan kebenaran
Dan kubakar segala keburukan
Yang pernah kau ajarkan diam-diam padaku
Seperti kediaman batu-batu

8
O, bapak, sebagaimana puisi-puisimu
Yang kini tak bisa lagi bicara
Tetapi masih berulang-ulang kubaca
Aku baca!
Sebagaimana aku terus belajar mengeja
Dan mencari kata-kata
Sebagaimana aku terus belajar membaca
Isyarat dan gerak zaman
Sambil mengumandangkan ayat-ayat kebenaran
Dengan cahaya dzikir dan airmata doa
Mengkristal dalam jiwamu yang mawar
Bersemayam cahaya maha cahaya-Mu

Saturday, February 2, 2019

Tiga Contoh Puisi Maman S. Tawie di Buku Kalimantan dalam Puisi Indonesia



MAMAN  S. TAWIE. Lahir di desa Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, 25 September 1957. Pendidikan STM Hastemsin Banjarmasin, Selesai 1976. Mulai menulis puisi sejak 1974. Kemudian menulis cerpen dan esei. Sejumlah karya sastra dipublikasikan di majalah surat kabar lokal dan nasional: BanjarmasinPost, Dinamika Berita, Media Masyarakat, Radar Banjarmasin, Zaman, Terbit, Topik, Merdeka, Pehta, Eksponen, Suara Karya, Benta Buana, Kompas, dan Horison.

Kumpulan puisi yang sudah diterbitkan: Jam(1980)Sajak-Sajak Dahaga (1981), Dinding Kaca (1982), Kebun di Belakang Rumah (1995), dan Nyanyian Dusun (2000). Beberapa puisi juga terdapat dalam antologi bersama: Terminal Banjarmasin (1984), Tamu Malam (Banjarmasin,  1992). Pemberontakyang Gagal (Bandung,  1998), Datang Dari Masa Depan (Tasikmalaya, 2000), dan lain-lain.

Kegiatan sastra yang pernah diikuti: Forum Penyair 8 Kota Se-Kalsel (1982) di Banjarmasin, Siklus 5 Penyair Kalsel (1983) di Banjarmasin, Puisi Indonesia 87 (1987) di TIM Jakarta, Festival Puisi Kalimantan (1992) di Banjarmasin, dan Diskusi Sastra BMKN 1995 di Balai Budaya Jakarta. Desember I999 menerima Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel.

Berikut tiga contoh Puisi Maman S. Tawie di Buku Kalimantan dalam Puisi Indonesia.

Demikianlah, Kemarau Itu Telah Susut ke Balik Pintu

kabut Mare
Katingan yang kehilangan senja
dan bianglala
Samba hampir tanpa cuaca

langit pucat pasi 

manakala dermaga Danum sunyi
adakah kau dengar
gema hutan terbakar
gemuruhnya di hulu hatiku
dan surya pun layu

sebelum embun Tewang pergi
ohoi, kilat mandau di matamu
menoreh dinding pagi
tapi sempatkah kau tahu
lelatu menghempas Ngaju
di utara sana
geleparnya adalah petaka

waktu pun bilur
membiru

demikianlah, kemarau itu
telah susut ke balik pintu
dan bayang-bayang hujan
pada cendawan
menyeru debu agar kernbali ke tanah
menyeru jejakku agar kembali ke rumah


Malam Terluka di Pesisir

saat matahari terbanting dan terkapar
di baIik punggung senja
kudengar risik kabar tentang malam yang terluka
sejarah pun lantas menggeliat
mengorak misteri sekeping bumi pesisir : 

Kurau yang kusam
disungkup dendam

aku pun tahu dari cerita lama, Mathilda
tentang desing beribu peluru yang menyobek dingin malam
tentang kabut mesiu yang menuba keheningan mencekam
lalu pada puncak kesaksian
legam udara bersepuh merah
mengental dalam genangan darah 

apa yang bakal kau genggam lagi, Mathilda
sedang setangkup permata dilanda angkara
apa yang bakal kau kidungkan lagi, Mathilda
sedang buah hati sayang terlepas dari rengkuhan
direnggut muslihat perang
hanya tinggal satu cara :

pegang erat senjata
lalu angkat
berondong tumbal maksiat

sungguh tak terduga pada mulanya
kalau maut mempersingkat usia
malam pun berkobar nyala, memberangus berpuluh jiwa
dan rupanya perjalananmu telah sampai, Mathilda
ke batas marcapada
lantaran tangan-tangan durjana

musim pun beringsut kian memperjauh jarak
kini entah sudah berapa mataharilewat
bergenderang semangat


Keterangan.
Kurau adalah sebuah kecamatan paling selatan di Kabupaten Tanah Laut


Nyanyian Dusun

siapa yang membebaskan langkah
dari kesepian lembah
saat fajar menempa cuaca
jadi logam-logam cahaya

siapa yang membekaskan penat
di keberdiaman langkan dan teratak
saat angin menayang keluh kesah
dari gerimis yang luruh membasuh tanah

siapa yang masih setia di sini
menunggu ketipak ladam kuda
sedang riak darah di hulu nadi

belum mengombak di muara

Friday, February 1, 2019

Novel Atheis, Lebih Baik Berhati-Hati daripada Tersesat


Atheis atau yang dalam bahasa Indonesia baku adalah ateis, merupakan sebuah novel karangan Achdiyat Karta Mihardja yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun  1949. Secara singkat novel ini mengisahkan  kehidupan Hasan yang seorang muslim muda dan diharapkan keluarganya agar terus berpegang teguh pada agama Islam. Meski demikian, di tengah perjalanan hidupnya malah meragukan agamanya sendiri. Hal itu karena pergaulannya dengan Rusli dan Kartini yang menganut ajaran Marxis (filsafat materiasme historis dan dialektisnya Karl Marx). Ditambah lagi adanya pemgaruh seorang penulis nihilisme ( sebuah pandangan filosofi bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan) bernama Anwar. Novel ini sudah masuk dalam UNESCO Collection of Representative Works.

Secara gamblang penulisnya ingin mengatakan perlu kehatian-hatian dalam mencerna paham-paham atau ajaran-ajaran yang menyimpang dari keyakinan dalam agama Islam. Ketika berhadapan dengan yang demikian itu, maka idealnya segeralah meminta petunjuk dari-Nya agar tidak terjerumus dalam kesesatan.   

Tokoh dalam novel ini adalah Hasan, Rusli, Kartini, Raden Wiradikarta, Ibu Hasan, dan Anwar. Berikut ringkasannya.

Hasan merupalan seorang putra pensiunan mantri guru bernama Raden Wiradikarta di kampung Panyeredan. Sebuah kampung  di lereng gunung Telaga Bodas. Sebagai anak satu-satunya yang masih dari keluarga Raden Wiradikarta, sejak kecil Hasan mendapat didikan agama secara mendalam. lburiya selalu melatih Hasan menghafal ayat-ayat Alquran. Oleh karena itu, sejak kecil ia .sudah dapat menghafal shahadat, shalawat, Surat Al-Ikhlas, Al-Fatihah, dan sebagainya.

Setelah menamatkan sekolahnya, Hasan berusaha melamar Rukmini untuk menjadi istrinya. Akan tetapi, temannya itu telah dijanjikan untk seorang kaya di Jakarta (dulu Batavia). Kemudian orang tua Hasan memintanya menikah dengan Fatimah dan ia menolak permintaan itu.

Ketika Hasan meningkat dewasa, ia mengikuti jejak orang tuanya, berguru di Banten, mendalami syariat dan salah satu ilmu terikat. Lalu dia pindah ke Bandung untuk bekerja sebagai pegewai pemerintah pendudukan Jepang.

Semenjak menganut ajaran spritual Islam, Hasan semakin rajin melalukan ibadat. Sebagai akibatnya, pekerjaan kantornya sering terbengkelai. Dari teman-temannya sekantor, dia mendapat gelar "Pak Kiai". Selain itu, kesehatan badannya tidak pemah diperhatikan, bahkan hidupnya dikendalikan oleh hal-hal yang tidak rasional. Misalnya, ia pernah mandi sampai 40 kali semalam, tanpa menggunakan handuk sebagai pengering badannya. Tidak mustahil, akhirnya, ia terkena penyakit TBC. Ia pernah juga berpuasa tujuh hari tujuh malarn terus-menerus, dan selama tiga hari tiga malam mengunci diri di dalam kamar tanpa makan, minum, dan tidur. Hasan adalah produk pendidikan lingkungan yang tertutup, fanatik. Ia berkernbang menjadi manusia yang fanatik, sempit pandangan hidupnya, dan kurang memiliki pengalaman.

Saat di Bandung itulah, Hasan bertemu sahabatnya sewatu kecil dulu, yakni Rusli. Temannya ini memperkenalkannya dengan  seorang gadis bernama Kartini. Awalnya, Hasan yang mengetahui Rusli dan Kartini adalah pengikut ajaran Marxis yang ateis itu, hendak mengembalikan keduanya ke agama Islam. Akan tetapi sayang, dia tidak dapat mengatasi argumentasi Rusli yang tentunya sangat menolak agama. ,

Bahkan, Hasanlah yang malah mulai meragukan keimannnya. Lambat laun, dia pun kian sekuler. Bisa dikatakan kehadiran Rusli dan Kartini menyebabkan perubahan pada diri Hasan. Kehidupan Rusli dan Kartini, menurut Hasan, serba menarik. Hasan jatuh cinta pada Kartini. Ia ingin berumah tangga dengan Kartini. Rasa cinta itu yang memupuk kelemahan Hasan dan merupakan awal dari segala perubahan hidupnya. Ia berusaha menyenangkan dan menarik Kartini, bahkan ia rela mengorban- kan segalanya: Imannya luntur, hubungan dengan ayahnya menjadi putus. Hanyutlah Hasan dalam kehidupan yang dianut oleh Kartini dan kawan-kawannya: modern, bebas, dan berdasar- kan paham marxis.

Walaupun banyak tingkah laku Kartini yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, Hasan tetap mencintainya. Semua gerak-gerik dan tingkah laku Kartini diterimanya dengan senang, dengan harapan agar Kartini tetap menjadi miliknya.

Ditengah-tengah kembang-kempisnya harapan Hasan untuk dapat hidup bersama Kartini, muncullah Anwar yang menaruh hati juga pada Kartini. Perasaan cemburu Hasan menutupi segala kelemahannya. Kini tidak ada pantangan lagi bagi Hasan, seperti bioskop, makan masakan cina, bergaul dengan wanita yang bukan muhrimnya, mengikuti pertemuan yang memperdalam marxis, bahkan menyangkal adanya Tuhan.

Perkawinan yang mereka lakukan ternyata tidak membuahkan kebahagiaan. Kartini meneruskan kebiasaan hidup bebas, pergi tanpa suaminya. Terjadilah pertengkaran, yaitu ketika Hasan menunggu kedatangan Kartiri. Saat itu Kartini datang bersama-sama dengan Anwar. Memuncaklah kemarahan Hasan. Kartini ditempelengnya dan terjadilah perpisahan. Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Hasan akhirnya insyaf kembali ke jalan yang benar, jalan agamanya. Mendengar ayahnya sakit parah, Hasan mengunjungi ayahnya tetapi diusir oleh ayahnya. Ayahnya meninggal. Sejak itu ia telah kehilangan segala-galanya, ayah, istri, bahkan tujuan hidupnya.

Dan, dalam keadaan sakit-sakitan, Hasan seorang jurnalis dan menyerahkan suatu tulisan berisi riwayat hidupnya kepda seorang jurnalis. Sang jurnalis ini bersedia menerbitkan karya Hasan itu bilamana terjadi sesuatu kepada Hasan.
Tak lama setelah itu, Hasan keluar rumah dan tertembak oleh patroli Jepang. Dia akhirnya meninggal seusai mendapatkan siksaan. Kata terakhir yang terucap dari mulutnya adalah "Allahu Akbar".

Disarikan dari berbagai sumber.

 Tentang Penulis Novel Atheis



Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911—meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun dan lebih dikenal dengan nama pena singkatnya Achdiat K. Mihardja.

Ia berpendidikan AMS-A Solo dan juga Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai guru di perguruan Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia.

Achdiat juga pernah menjadi redaktur Harian Bintang Timur dan Majalah Gelombang Zaman (Garut), SpektraPujangga BaruKonfrontasi, dan Indonesia