![]() |
| Ilustrasi Chatgpt |
Di mana pun dia berada, pembohongan dan pemborosan selalu menjadi perhiasan baginya.
Begitulah kisah umum seorang presiden yang memimpin Republik Kor Ban Nya. Sebuah negara miskin yang semula merupakan kerajaan monarki absolut terbesar di kawasan itu.
Ya, setelah sang raja tumbang, maka seluruh keluarganya diusir dari istana dan sistem pemerintahan segera diubah. Lalu, melalui pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat, seseorang bernama Lu Lang La meraih suara terbanyak.
Pria bertubuh gemuk dengan jalan sedikit pincang itu pun segera naik tahta sebagai presiden di sana. Dialah presiden yang gemar berbohong dan tidak suka menabung.
Entah bagaimana ceritanya banyak rakyat memilihnya. Padahal sewaktu masih menjadi bawahan raja, dirinya pernah ingin melakukan kudeta. Bahkan, sebelumnya lagi dia pernah memerintahkan pembantaian massal di salah satu wilayah bekas kerajaan.
Para pengamat khawatir dia akan melakukan hal-hal jahat terhadap rakyat. Setidaknya mempraktikkan kebohongan demi kebohongan dan pemborosan di mana-mana. Dan benar saja, demi keuntungan pribadi, Presiden Lu Lang La terus saja membohongi rakyatnya. Sebutlah contohnya Program Mendapatkan Betok Gratis (MBG), dirinya terus saja mengatakan bahwa itu demi rakyat. Padahal demi pencitraan dirinya agar bisa terpilih kembali sebagai presiden untuk periode keduanya.
"Saya tidak rela rakyat kelaparan karena tidak memiliki lauk. Itulah sebabnya rakyat harus mendapatkan lauk berupa ikan betok secara gratis. Bagi yang tidak setuju dengan program ini, silakan kabur saja ke Yaman!" tegasnya dalam pidato tiga jam nonstop di Istana Negara, Jumat (7/9/5000).
Program lauk ini menelan dana besar. Anggaran belanja negara dikuras habis hingga utang kepada luar negeri dan pajak rakyat kian membesar. Bahkan, anggaran yang seyogyanya untuk hal-hal di sektor lain diambil demi keberlangsungan MBG. Sebutlah di sektor kesehatan dan pendidikan. Ini sungguh pemborosan anggaran belanja negara.
Demonstrasi demi demonstrasi terus digelar di sana. Tapi, sang presiden tidak peduli derita rakyatnya. Dia selalu saja memuji-muji dirinya sendiri dengan menilai baik segala langkahnya sebagai presiden.
***









0 comments:
Post a Comment