![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Terkadang, ada saja sopir yang merasa paling jago dalam menyetir. Ia yang termasuk golongan ini susah menerima masukan. Sebutlah contohnya saat si sopir mendahului mobil lain secara ugal-ugalan.
Nah, ketika ada penumpang yang memberikan masukan terkait aksi ugal-ugalan itu, ia langsung menganggap penumpang tersebut sebagai pengganggu.
Itu pula yang dewasa ini terlihat di Negara Kong Suan. Ada salah seorang pejabat publik di sana yang berlaku demikian. Sikap itu ditunjukkannya terkait adanya orang-orang yang menilai buruk dua program pemerintah. Mereka juga mendorong keduanya harus segera dihentikan. Pejabat itu pun dengan lantang mengatakan bahwa mereka ialah para penggangu dan langsung ia labeli sebagai setan-setan dan hamba iblis yang jahat.
Pertanyaannya, apakah pantas kata-kata itu keluar dari mulut seorang pejabat? Sebenarnya sangat tidak pantas seorang pejabat publik yang hidupnya ditanggung pajak rakyat, berkata-kata kasar seperti itu.
Kalau masalahnya berkenaan dengan program pemerintah, sikapilah dengan bijak. Lihat secara saksama. Pasalnya, tidak mungkin ada orang mengkritik dan mendorong penghentian program pemerintah yang kualitasnya terbukti bagus. Ingat! Kritik datang karena ada yang salah dari objek yang diamati. Dengan kata lain, datangnya kritik dan dorongan penghentian itu karena program pemerintah tersebut sudah terbukti jelek.
Oleh sebab itu, idealnya siapa pun pejabatnya, lebih baik mawas diri. Ia harus mampu objektif. Kalau salah, katakan salah dan jangan gemar menjilat atasan untuk kepentingan pribadi. Selama ini begitu banyak penjilat yang suka sekali memuji presiden di negara itu. Dan, tak lama setelahnya, mereka satu per satu mendapatkan jabatan di pemerintahan atau ditambah jabatannya. Sungguh pemerintah di negara tersebut sudah sangat rusak.









0 comments:
Post a Comment