Sunday, June 28, 2020

Warga Hong Kong Adalah Para Pejuang yang Patriotik pada Era Digital




Meski dinilai mustahil melawan Cina, warga Hong Kong berbaris dalam protes diam terhadap Hukum Keamanan Nasional.

Itu adalah semangat yang patut diapresiasi. Tak kenal menyerah meski rasanya dan diperkirakan mustahil melawan Cina (RRC) dalam hal mempertahankan demokrasi di Hong Kong. Sebuah semangat juang yang patriotik dari orang-orang tanpa nuklir atau sekadar senjata api peninggalan perang dunia I.

Sebenarnya perjuangan mereka telah berlangsung selama setahun lebih. Banyak yang ditahan, hilang, mengalami pelecehan seksual, dan sebagian tewas mengenaskan.

Agaknya semua itu seperti mimpi. Ketika sebuah kota dengan tingkat kemodernan yang dianggap setara dengan Eropa, perjuangan sebegitu hebat benar-benar ada di sana.

Mungkin, dalam pikiran awam, warga Hong Kong lebih memilih "duduk diam" sambil menikmati kehidupan ala-Barat seperti pergi ke mal, diskotik, atau menghabiskan waktu menekuni studi masing-masing.

Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka turun ke jalan menentang rencana pemberlakuan Undang-Undang Ekstradisi yang dianggap bakal mengancam kebebasan di kota bekas koloni Inggris itu. Perjuangan ini berlanjut pada tuntutan kemerdekaan Hong Kong dari Republik Rakyat Cina (Cina).

Pihak Partai Komunis Cina (PKC) pun tak tinggal diam. Undang-Undang Keamanan Nasional akan dilaksanakan oleh pemerintah Cina daratan di Hong Kong. Dengan undang-undang ini, mereka lebih mudah menangkap para warga Hong Kong yang berunjuk rasa.

Dan, sekali lagi, meski dinilai mustahil melawan Cina daratan, seperti terlansir Reuters, Minggu (28/6/2020) Ratusan warga Hong Kong berbaris diam tanpa suara di jalan-jalan kota pada hari Minggu sebagai protes terhadap undang-undang keamanan nasional yang akan dilaksanakan oleh pemerintah Cina daratan.

Polisi anti huru-hara bersenjatakan hadir ketika kerumunan bergerak dari Yordania ke Mong Kok di distrik Kowloon, sebagai bagian dari "protes diam", di mana mereka berbaris tetapi nyanyian atau semboyan yang biasanya diperdengarkan, tidak ada.

Dilaporkan, usulan undang-undang keamanan nasional dibahas oleh Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional pada hari Minggu di Beijing pada pertemuan tiga hari.

"Saya di sini untuk menentang Undang-Undang Keamanan Nasional," kata Esther, 25 yang berada di jalan-jalan Yordania pada hari Minggu, Reuters pada hari yang sama.

Ia menambahkan, "Ini bukan pertempuran terakhir, ada perlawanan jangka panjang (terhadap hukum)."

Peristiwa itu terjadi sehari setelah polisi Hong Kong menolak izin untuk melakukan pawai tahunan yang diadakan pada 1 Juli untuk menandai penyerahan kota dari Inggris ke pemerintah Cina dua puluh tiga tahun lalu.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Opini Publik Hong Kong untuk Reuters menunjukkan undang-undang keamanan nasional ditentang oleh mayoritas orang di pusat keuangan.

Ini juga menunjukkan dukungan untuk protes turun menjadi 51% dari 58% pada Juni dibandingkan dengan jajak pendapat sebelumnya yang dilakukan untuk Reuters pada Maret, sementara oposisi terhadap mereka naik menjadi 34% dari 28%.

Sungguh sebuah perjuangan panjang dan sepertinya masih akan panjang lagi ke depannya. Lantas, sampai kapankah warga Hong Kong akan terus berjuang melawan kekuatan besar Cina?

Yang jelas, warga Hong Kong adalah para pejuang yang patriotik pada era digital saat ini.

0 comments: