Wednesday, May 27, 2020

Apakah Dunia Sudah Siap Berada dalam New Normal?





Seorang kakek seketika bereaksi ketika melihat cucunya melangkah keluar pintu rumah saat hari masih hujan. Suaranya yang terdengar lirih, membuatnya harus dua kali memanggil anak kecil itu.

Mendengar panggilan kakeknya, wajah imut tersebut menoleh dan menjawab, "Mau ke warung, Kek!"

Namanya saja anak kecil, tanpa pikir panjang lagi ia berlari ke tempat tujuannya meski hujan menerpanya tanpa ampun.

Sepulang dari warung, pakaian yang ia kenakan dan tubuhnya pun basah kuyup. Tak pelak lagi, sang kakek langsung menyuruhnya keramas dan berganti pakaian.

Apa yang dapat kita tarik dari ilustrasi di atas?

Saat hujan, hendaknya kita tetap di rumah. Kalaupun terpaksa keluar, pakailah pelindung diri. Kenakan bot, mantel, dan juga payung, misalnya. Selain itu berjalanlah dengan perlahan agar tidak jatuh karena jalanan licin terkena air hujan.

Pertanyaannya, apakah hal yang demikian sudah cukup?

Dalam keadaan terpaksa dan adanya ketersediaan alat pelindung seperti itu, mungkin saja bisa dikatakan cukup meskipun tubuh akan mengalami rasa dingin akibat diguyur hujan dan ditiup angin.

Agaknya, inilah yang juga menjadi pertanyaan terkait dengan "new normal" yang digagas Pemerintah Pusat NKRI belakangan ini. Hujan dalam ilustrasi itu dianalogikan sebagai pandemi global COVID-19 yang masih dan terus menyebar di dunia termasuk Indonesia. Sementara payung dan lainnya dalam kaitannya dengan pandemi, adalah masker wajah yang dikenakan saat di luar rumah. Dan, berjalan perlahan ialah gambaran jaga jarak sosial (2 meter).

Lantas, apakah langkah-langkah perlindungan tersebut dapat dijalankan setiap waktu?

Manusia bukanlah Tuhan. Dia selalu maha benar. Sedang kita, ada kalanya melakukan kesalahan atau ditimpa kesalahan. Sebutlah sudah berusaha jaga jarak, eh tau-tau ada orang yang nyenggol kita. Atau, tiba-tiba ada anak kecil yang bersin dan cairannya mengenai tubuh kita. Parahnya lagi, tidak menutup kemungkinan ada orang tua yang lupa mencuci tangan setelah keluar rumah dan langsung memeluk dan menciumi anak kesayangan.

Nah, bagian terakhir tadi, yakni anak-anak akan lebih berisiko jika berada dalam kehidupan "new normal". Bayangkan saat di sekolah, mereka tentu sangat sulit dibiasakan untuk tidak berteman akrab dengan sesama mereka. Saya yakin, para guru bukanlah "bodyguard" yang dapat mengawasi mereka sepanjang hari selama di dalam dan luar kelas.

Terlebih lagi di dalam Kelompok Belajar dan Taman Kanak-Kanak. Akan betapa susahnya para guru membiasakan kanak-kanak dalam urusan jaga jarak.

Dengan situasi dan kondisi yang masih memperhatikan saat ini, apakah dunia sudah siap berada dalam new normal?

Tampaknya, kita perlu meniru langkah yang dilakukan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang tidak akan membuka kembali kegiatan sekolah hingga ditemukannya vaksin Covid-19.

Tipe pemimpin seperti Duterte untuk saat ini sangat dibutuhkan dunia yang masih dicengkeram COVID-19. Ya, seorang pemimpin yang peduli terhadap keberlangsungan hidup rakyatnya.

Begitu pula dengan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, yang akan memastikan kondisi aman terlebih dahulu sebelum memutuskan buka sekolah.

0 comments: