Friday, October 24, 2025

Tidak Lolos Kurasi? Kurator Itu Manusia

Ilustrasi: Pixabay

Ya, manusia. Menyambung judul di atas, kurator sejatinya memiliki penilaian sendiri. Tentu saja yang namanya penilaian tidak selalu sama dan tidak harus berbeda dengan penilaian orang lain. Dengan kata lain, ada kalanya sama, adakalanya berbeda. Artinya, menurut kurator bahwa puisi tertentu, misalnya, tidak layak dimasukkan dalam antologi bersama, bisa jadi ahli sastra lainnya berpendapat sebaliknya. 

Jadi, jika puisi Anda tidak lolos kurasi dalam festival sastra tertentu, boleh jadi akan lolos di festival lainnya dengan kurator yang berbeda. Intinya tidak perlu sedih. Anda cukup tersenyum bahagia melihat fakta dalam realitas nyata di lapangan yang demikian. 

Lalu bagaimana selanjutnya? Teruslah menulis. Hasilkan karya-karya berkualitas lainnya yang menghibur dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama. Dari sekian karya yang Anda hasilkan ada kemungkinan masuk dalam antologi bersama atau media massa tersohor. 

Nah, suatu ketika saat karya-karya Anda sudah banyak, perlahan kumpulan dan bukukan. Yakinlah karya-karya Anda bukukan akan bertemu dengan para pembaca dari masa ke masa. 



Komite Olimpiade Internasional SANGAT Dungu?

Ilustrasi: Pixabay

Indonesia berprinsip menjaga keamanan, ketertiban umum, dan pelayanan publik dalam setiap penyelenggaraan even internasional. Selain itu, tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel sehingga sangat benar Indonesia tidak mengeluarkan visa untuk tim Israel. Jadi, masuk akal sekali atlet Israel tidak bisa ikut Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Indonesia. 

Dengan alasan di atas, idealnya Komite Olimpiade Internasional bisa memahami situasi dan kondisi di Indonesia. Tapi, mereka malah melarang Indonesia menjadi tuan rumah ajang olimpiade. Bahkan orang-orang itu mendesak federasi olahraga internasional tidak menggelar pertandingan di Indonesia. 

Itu sungguh reaksi yang sangat kekanak-kanakan. Terlihat jelas bahwa Komite Olimpiade Internasional belum bisa bernalar dengan baik dan benar. Ya, masih taraf sekadar tahu informasi dan bergerak tanpa akal sehat. 

Tentu saja ini benar-benar menggelikan. Ketika banyak orang mengatakan bahwa orang-orang asing adalah manusia-manusia cerdas, namun kenyataannya adalah sebaliknya. 

Apa pelajaran yang bisa diambil dari sini? Tentu saja sikap menghormati dan menghargai terhadap keputusan setiap negara merdeka. Indonesia punya keputusan dan harus dihormati dan dihargai oleh siapa pun termasuk Komite Olimpiade Internasional. 

Thursday, October 23, 2025

Demi Kantor, Bahagiamu Berkurang

Ilustrasi: Pixabay

Ada sebuah kisah di salah satu kantor yang para pegawainya diwajibkan lembur hari sabtu. Ya, hari libur. Sebuah hari untuk mengistirahatkan jiwa dan raga setelah lima hari bekerja hingga sore. 

Alasannya untuk penyerapan anggaran agar tidak ada uang sisa. Padahal idealnya pengeluaran kantor harus ditekan sehingga ada uang sisa sebagai dana simpanan guna operasional tahun depan. Namun, ini Indonesia. Benar, Indonesia!!! Begitulah adanya. Uang dihamburkan hingga habis, pajak ditarik ugal-ugalan dari uang rakyat. Miris! 

Kasihan rakyat. Masih banyak yang memeras keringat di bawah terik matahari, kadang di bawah hujan deras. Meski sakit juga harus banting tulang. Lalu dikenai pajak. Sungguh memperihatinkan. 

Akankah hal demikian dilanjutkan? Pasti. Itulah ironi di negeri yang juga kaya utang dari asing. 

Nah, kembali ke para pegawai tadi. Lembur pada hari sabtu tentulah memangkas waktu istrahat jiwa dan raga. Secara otomatis kebahagiaan mereka pun berkurang. Jika mereka cerdas, pastilah lebih memilih untuk menjaga kesehatan dengan tidak lembur. Kebahagiaan itu haruslah diutamakan. Nikmatilah waktu istrahat agar kebahagiaan selalu berasa dalam hidup dan kehidupan ini. 

Saturday, October 18, 2025

Datuk Maringgihi Minta Natuna Utara?

 

Ilustrasi: Pixabay
Natuna adalah sejenis ikan berukuran besar yang hidup di wilayah Kerajaan Samudera. Ikan ini sangat nikmat. Diburu banyak orang. Nah, seorang pengusaha sukses pada masa itu memiliki seekor ikan Natuna langka yang diberi nama Utara. 

Natuna Utara inilah yang juga menjadi incaran pengusaha sukses lainnya, yakni Datuk Maringgihi. Selain sukses, dia terkenal sangat licik. Dirinya terus berusaha membangkutkan usaha pemilik ikan Natuna Utara dengan segala kelicikannya. Mulai dari penawaran jasa transportasi kereta kuda cepat hingga pembangunan kantor pusat perusahaan. Kemudian, setelah semuanya gagal, pengusaha bernama Sultan Sulam Kaya bingung. 

Saat itulah Datuk Maringgihi menawarkan pinjaman berbunga. Sultan Sulam pun mengiyakannya. Dan, saat dia tak bisa melunasi utangnya, Datuk Maringgihi berujar, "Hei, Temanku. Kamu boleh tidak membayar utangmu asalkan ikan Natuna Utara menjadi milikku. Bagaimana? Kamu setuju?"

Dengan terpaksa, ikan itu pun akhirnya beralih kepemilikan. Begitulah cerita fiksi tentang ikan langka yang luar biasa tersebut. 

Habiskan Anggaran, Masyarakat Berpeluh Lelah

Ilustrasi: Pixabay

Konon, di sebuah kerajaan pada masa lampau, rajanya mewajibkan semua pemimpin instansi pemerintah menyerap anggaran hingga habis seratus persen. Tidak boleh ada yang tersisa. Untuk itulah, pajak dikenakan di setiap sendi kehidupan. Bahkan, buang air kecil saja dikenai pajak. 

Padahal rakyatnya masih banyak yang miskin materi. Uang pas-pasan dari hasil kerja serabutan di bawah teriknya matahari. Sebagian malah berutang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup seadanya. Saking muaknya, ada sekelompok masyarakat waktu itu yang angkat senjata memberontak dan berhasil. Sebagiannya lagi masuk hutan dan enggan membayar pajak. Alhasil, kerajaan itu tumbang sebelum diserang kerajaan lain.

Dalam hal ini, kerapuhan sebuah negara tidak sekadar perkara persenjataan. Apalah artinya memiliki banyak senjata canggih jika dari dalam banyak kesalahan sistem yang demikian. 

Itu hanyalah sebuah cerita. Jangan baper. Ayo nikmati hidup ini dengan bahagia. 

Thursday, October 16, 2025

Banyak Kasus Baru Membungkam Kasus Besar

Ilustrasi: Pixabay

Benarkah demikian? Kasus Banyak Kasus Baru Membungkam Kasus Besar dan tampar di Lebak, Banten, merupakan kasus baru, misalnya. Sebelumnya ada kasus besar seperti pagar laut, ijazah palsu, dan korups kuotai haji. Perlahan kasus-kasus baru membungkam kasus-kasus besar. 

Waduh! Seandainya begitu, wadidaw gila bingits. Berarti kasus soal kiai juga ya? Ah! Yang benar aja? 

Apa pun pendapat orang, itu sah-sah saja. Wong namanya negara bebas ya bebas juga dalam hal berpendapat. Mau itu membungkam, mau itu menutupi, atau melegalkan kasus-kasus busuk sekalipun. Ha ha ha ha. 

Intinya sih perlu adanya analisis dan perhatian yang lebih serius terhadap semua kasus. Pastinya termasuk kasus-kasus besar sebelum adanya kasus-kasus baru. Yaaaa, kita berharap yang terbaik untuk Indonesia. 

Tuesday, October 7, 2025

Pembacaan Puisi

 

Ilustrasi: Pixabay

Puisi tidak sekadar ditulis. Tetapi juga dibaca. Harapan terbesar, puisi yang telah ditulis akan dibaca dan dibaca dari waktu ke waktu oleh banyak orang. Pembacaan puisi dapat kita lihat di dua video berikut. 

Video 1:


Video 2: