Thursday, April 15, 2021

Keterangan, Puisi Toto Sudarto Bachtiar


 

H.B. Jassin. Di mana berakhirnya mata seorang penyair?
Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia
Hanyalah nisan kata-katanya selama ini
Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

Terkadang kalau dia mau
Tulisannya hanya nasib jari yang lemah
Terkadang dia merasa aneh
Kalau anak bisa merasa kehilangan sesuatu

Seperti aku, di mana kata tak cukup buat berkata
Tertelungkup di bawah bakaran lampu seharian bernyala
Terkadang jemu terus melihat matahari
Pesiar, tanpa kawan berkejaran

Tanpa merasa tahu tentang apa
Dia menyeret langkahnya
Sampai di mana dia akan tiba
Tapi dengan jari kakinya ditulisnya sebuah sajak

1955

Sumber: Suara, Kumpulan Sajak 1950--1955 (Balai Pustaka, Jakarta, 1962)


Tentang Penyair

Toto Sudarto Bachtiar lahir di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. la wafat di Paris, Perancis, 9 Oktober 2007 pada umur 77 tahun.

Adalah penyair seangkatan dengan W.S. Rendra. Penyair angkatan 1950--1960-an. Ia dikenal dengan puisinya, antara lain “Pahlawan Tak Dikenal”, “Gadis Peminta-minta”, “Ibukota Senja", "Kemerdekaa”n, dan “Tentang Kemerdekaan."

Adapun jarya puisinya, al. Suara: kumpulan sajak 1950-1955, 1956, memenangkan Hadiah Sastra BMKN, Etsa (kumpulan sajak, 1958), dan Datang dari Masa Depan: 37 penyair Indonesia (2000). 

Selain itu, ia juga banyak menerjemahkan, al. Sulaiman yang Agung (1958), karya Harold Lamb, Bunglon (1965), karya Anton Chekhov, Bayangan Memudar (1975), karya Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa, Pertempuran Penghabisan (1976), karya Ernest Hemingway, dan Sanyasi (1979), terjemahan karya Rabindranath Tagore. 

--------------------------------------------------------

Sumber tulisan: Lautan Waktu

Sumber ilustrasi: Pixabay


0 comments: