Saturday, December 12, 2020

NADA KERAS DAN GARANG SAJAK-SAJAK IBRAMSYAH, SEBUAH PROLOG


Abdul Hadi W. M.

Beberapa bulan yang lalu, saat saya mengingat beberapa kawan lama yang telah bertahun-tahun tidak saya jumpai lagi setamat sekolah di SMP dan SMA, sekonyong-konyong saya menerima kiriman SMS yang cukup membuat saya terperangah dan gembira. Bunyinya setelah saya sunting ialah sebagai berikut: "Hadi, maaf kubawa kau ke tahun 1970 di Jalan Skip belakang BPA UGM kampung Blimbing Sari Yogya, di mana kita dulu pernah selorong bertetangga. Kau pun beberapa kali ke tempat pondokanku; kusodorkan puisi-puisiku, kau komentari 'bungkus kacang', katamu. Namaku Ibramsyah Amandit. Tinggal di Desa Tamban Km 7 Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan". Ditambahkan dalam SMS tersebut bahwa dia ingin menerbitkan sebuah kumpulan puisinya dan meminta kesediaan saya memberi pengantar. Sajak-sajak dalam antologi yang akan diterbitkan itu pernah dimuat dalam harian Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Diakuinya pula bahwa beberapa di antaranya bernada sufistik.

Tentu saja saya terperangah, karena lebih kurang dua tiga bulan sebelumnya saya coba mengingat-ingat beberapa tempat kos saya di Yogya termasuk di Blimbing Sari dan kawan-kawan sepondokan serta beberapa mahasiswa lain yang pernah menjadi tetangga dekat saya. Ketika itu saya sedang menyelesaikan studi saya di Fakultas Filsafat UGM dan Ibramsyah berkuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP. Pada awal tahun 1971 sebelum saya hengkang ke Bandung, saya tinggalkan tempat kos saya di Blimbing Sari pindah ke Sendowo tidak jauh dari tempat itu. Kalau tidak diingatkan saya sudah lupa pernah mengomentari sajak-sajak yang ditulisnya, dan sudah lupa pula pernah memberikan buku kecil sajak-sajak saya dalam bentuk stensilan. Oleh karena itu saya tidak mengetahui bahwa Ibramsyah ternyata telah menulis puisi menjelang masa kuliahnya berakhir.

Ketika saya tanyakan dari siapa dia mendapat nomor tilpon genggam saya, jawabannya lebih menggembirakan lagi. Dia bercerita bahwa dia punya anak angkat yang sajak-sajaknya telah dimuat dalam Majalah Horison. Dari anaknya yang mulai menjadi penyair itulah dia memperoleh nomor tilpon genggam saya. Dua minggu kemudian saya menerima kumpulan sajaknya dalam bentuk ketikan yang dibundel rapi. Pada kulit luarnya terpampang sketsa wajahnya dengan kumis tebal dan jenggot panjang, berbeda dengan ketika kami masih berkawan dulu yang wajahnya klimis.

Seingat saya dulu dia tidak seangker dan segarang seperti dalam sketsanya itu. Dia cukup lembut dan ramah, kendati tampak ada kegetiran tersembunyi dalam hatinya. Begitu pula halnya setelah saya mulai membaca beberapa sajaknya. Nada keras dan garang, sekaligus getir, begitu dominan. Tetapi tidak berarti tidak ada kelembutan. Ada 96 sajak dalam antologi perdananya ini. Temanya beragam, mulai dari cinta, kesepian, damba seorang lelaki akan rumah tangga yang sakinah wa rahmah dan ideal, keagamaan, kritik sosial, dan lain sebagainya. Kumpulan ini dimulai dengan sajak romantik dan semi keagamaan, selanjutnya kita disodori oleh Ibramsyah dengan sajak-sajak bernada keras dan garang.

Simaklah misalnya sajak pertama "Milik" yang ditulis tahun 1973, sekitar dua tahun setelah pertemuan kami yang terakhir:

Punyalah
rumah berbilik-bilik
halaman molek
pekarangan dan kolam ikan

Punyalah
isteri setia
anak manis mainan mata
tetangga
senyum dan gelak tawa

Disusul sajak yang juga terkesan manis, seperti tampak pada bait 2 sajak "Lingkungan": "Kehidupan kitakah yang beranjak jauh/salam yang jarang dan tegur sapa/dirangkul kasih sayang/dari lengan-lengan hutan yang rindang?" Begitu dengan sajak keempat berjudul "Rumah", Ibramsyah masih dikuasai perasaan romantik. "Kau istriku: diam-diam di rumah/Tenang semacam kolam halaman.../wajahmu bening putih kasa/meskipun hiruk pikuk dan balau anak-anak kita."

Tetapi begitu membaca sajaknya "ulama" mulailah nada keras dan garang kita rasakan. Semuanya itu merupakan ungkapan kekecewaan terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Sajak ini ditulis pada tahun 1979, lebih satu dasawarsa setelah rezim Orde Baru memegang tampuk pemerintahan di negeri ini. Pada mulanya masyarakat berharap rezim ini dapat membawa Indonesia berkembang menjadi negeri yang makmur, bersih dari korupsi, rakyatnya sejahtera dan kebudayaan berkembang mengikuti garis jati dirinya dan agama memainkan peranan penting dalam pembangunan watak bangsa. Tidak perlu dibicarakan soal demokrasi, karena jika rakyat sejahtera, cerdas dan sehat lahir dan batin, tidak sukar untuk menumbuhkan demokrasi. Tetapi apa yang terjadi pada awal pemerintahan rezim ini sangatlah mengecewakan masyarakat.

Rezim ini menjalankan kekuasaan secara otoriter, sentralistik, dan hegemonik. Untuk memperkuat sistem pemerintahan yang bertumpu kepada tehnokrasi dan birokrasi, kepemimpinan nonformal dalam masyarakat dihancurkan, termasuk ulama. Tujuannya agar mereka tidak memainkan peranan menonjol, dan dengan demikian rezim ini dapat menjalankan kekuasaan tanpa gangguan di bawah doktrin "stabilitas dan keamanan" demi suksesnya pembangunan. Salah satu di antaranya ialah dengan melakukan politik floating mass dan peminggiran (marginalisasi) terhadap Islam sebagai kekuatan politik, sosial budaya, dan ekonomi. Maka dilakukan program 'pembeoan' di segala bidang. Dalam MUI (Majelis ulama Indonesia) rejim ini menempatkan ulama-ulama yang sudah dijinakkan. Di bawah kepemimpinan ulama seperti ini umat digiring secara massal untuk memahami agama hanya sebagai sistem peribadatan dan ritual. Dengan cara itu peran ulama dikebiri hingga tidak bergigi lagi menyuarakan aspirasi umat yang tertindas dan dizalimi. Dapat dipahami apabila Hamka, selaku ketua MUI pada waktu itu, menyatakan mundur sebab tidak betah menjadi ulama yang telah diompongi giginya.

Dalam konteks inilah kegeraman Ibramsyah dalam sajaknya dapat dipahami:

Syahdan, dari riwayat terpercaya
Muhammad menyerahkan warisan
kepada ulama. Sungguh, kepada ulama:

Semenjak itu ulama iman Nabi
Semenjak itu ulama akal Nabi
Semenjak itu ulama budi Nabi
Semenjak itu ulama-umara, panglima, ahli agama

...

Duhai pewaris Nabi, sunatullah berlaku:
--musibah bagi yang kehilangan kunci dunia
   atau bagi sekadar fasih baca doa-doa?

Kritiknya berkenaan dengan mundurnya kehidupan beragama dan penghayatan terhadap ajaran agama, kita jumpai juga dalam sajak "Menghimbau Wali Syekh Abdul Qadir Jailani". Katanya dalam bait 5 dan 6: "Duhai Waliullah, duhai orang suci. Maafkan/dari Tuan penduduk menelan perkara mokal/dari Tuan seisi kampung belajar membunuh akal//Tuan yang suci, sedihku di sini: manakala kerabatku asyik bertakhayul/dan khurafat. Akal terkubur tanpa kenal/perkara sehat..."

Inti ajaran tasawuf yang sejati sebenarnya bukan itu. Akal dikubur hanya ketika kita melakukan dialog dan hubungan yang khusyuk dengan Tuhan, agar dalam berhubungan itu tidak terganggu oleh pikiran-pikiran kotor yang mencemari keimanan dan membelokkan perhatian kita kepada selain Tuhan. Tetapi dalam berhubungan dengan sesama manusia, mengatur kehidupan, mengelola alam dan lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan falsafah, tidak diragukan lagi akal sangat diperlukan. Ini yang diajarkan para sufi seperti Rumi, Hamzah Fansuri dan Muhammad Iqbal, termasuk Syekh Abdul Qadir Jailani.

Saya merasa perlu mengutip pandangan atau pendirian Bukhari Al-Jauhari, seorang cendekiawan sufi Aceh abad ke-16 M seperti diungkapkan dalam kitab adabnya Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja). Menurut Bukhari, seorang ulama seperti seorang raja dan pemimpin umat, mestilah seorang ulil Albab. Yaitu orang yang selalu menggunakan akal budinya dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dan melakukan tindakan. Dengan mengutip al-Qur'an, Bukhari mengiaskan akal (al-'aql) sebagai gua yang terletak di atas bukit yang tinggi dan sukar dicapai. Sufi-sufi sejati dan terkemuka juga mengajarkan bahwa dunia ini bukan merupakan ilusi, tetapi suatu kenyataan yang harus diupayakan menjadi tempat yang layak bagi manusia sebagai khalifah Tuhan dan hamba-Nya di muka bumi. Ulama dan umara yang baik menurutnya dikehendaki memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas.

Hidup manusia adalah perjalanan dari Yang Abadi menuju Yang Abadi. Dalam perjalanannya manusia harus melalui enam perhentian: Pertama, salbi yaitu alam ketika manusia masih berupa benih dalam angan-angan ayah ibunya; Kedua, rahim ibu; Ketiga, alam dunia tempat manusia berikhtiar dan berbaik pada kehidupan; Keempat, alam kubur; Kelima, hari kiamat; Keenam, sorga atau neraka. Menurut Bukhari, dunia merupakan salah satu perhentian penting, oleh karena itu wajib manusia itu mengenal dunia dan makna keberadaan dirinya di dunia. Tetapi Bukhari juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh hanya menyibukkan diri dengan perkara-perkara dunia. Jika terlalu berlebihan mencintai dunia maka hidup manusia akan diliputi kegusaran dan duka cita. Orang beriman harus ingat mati, dan ingat akan Tuhan yang Mahakuasa, serta selalu berhati-hati dalam segala pekerti dan tindakannya di dunia. Hanya manusia berakal dan berpengetahuan dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, mana yang salah dan benar di jalan agama.

Sajak menarik lain yang ditulis pada waktu Ibramsyah masih muda dan dalam konteks sejarah yang tidak berbeda dengan sajak "ulama" ialah "Percakapan Dalam Mimpi". Di sini dia meluapkan kekecewaannya terhadap gagalnya bangsa Indonesia membangun demokrasi yang begitu didambakan oleh mahasiswa pada tahun 1966 ketika begitu bersemangat merubuhkan rezim Demokrasi Terpimpin. Dua kali pemilu yang diadakan, 1972 dan 1977, tidak lebih dari akal-akalan penguasa. Golkar sebagai partainya penguasa memperoleh kemenangan telak melalui cara- cara yang tidak terpuji. Padahal pemilu yang diadakan itu diagung-agungkan sebagai Pesta Demokrasi. Hasilnya negara kita seolah-olah kembali kepada sistem kerajaan alias monarki. Presiden tidak lain adalah raja dan DPR adalah perpanjangan tangannya belaka. Begitulah, dengan latar keadaan sosial politik seperti itu Ibramsyah menulis sajaknya:

Mimpiku jumpa Montesquieu, tadi malam
orang Perancis pencipta Trias Politica
tiga kekuasaan negara

...

Wow, Tuan begitu arif!
Jadi tata pemerintahan seramah tangan Tuhan?
Jadi undang-undang adil penuh kasih sayang?
Jadi pengadilan bagai di tangan malaikat?
...

Tak ada lagi jawaban: ia susut ke abad XVII
kokok ayam bersahutan
bangun aku lelap di ketiduran
Kau fahamkah takwil mimpi itu?

Tampaknya saya tidak boleh berpanjang-panjang lagi. Tahun demi tahun berlalu. Blimbing Sari di belakang gedung lama Fakultas Ilmu Pasti Alam dan Tehnik UGM sudah pupus didesak bangunan-bangunan besar termasuk pertokoan dan rumah besar. Selama itu pula tanpa terpikirkan Ibramsyah terus menulis sajak-sajaknya dan menerbitkannya dalam koran-koran tempatan. Sajaknya "Kita Akan Tidur" yang ditulis tahun lalu cukup mengusik hati. "Kità akan tidur/selesai karpet di kepala/ cium di simpuh tapak kakinya" katanya. "Kita akan tidur/membenam ikan di perut laut..." Tidur yang tenteram bersama doa dan sajak tentunya. Bersama kehidupan yang hiruk pikuk oleh persaingan, intrik-intrik, dan ilusi-ilusi hampa.

Akhirnya, saya berharap pengantar ini memberikan banyak manfaat dan pencerahan bagi pembaca.


Bogor, 13 Januari 2009

Biodata Penulis



Prof. Dr. Abdul Hadi W.M. atau nama lengkapnya Abdul Hadi Wiji Muthari (lahir di Sumenep, 24 Juni 1946; umur 74 tahun) adalah salah satu sastrawan, budayawan dan ahli filsafat Indonesia. Ia dikenal melalui karya-karyanya yang bernafaskan sufistik, penelitian-penelitiannya dalam bidang kesusasteraan Melayu Nusantara dan pandangan-pandangannya tentang Islam dan pluralisme.


Sumber biodata penulis: Wikipedia 
Sumber foto penulis: Narantau Madura
Sumber tulisan: buku Badai Gurun dalam Darah


0 comments: