Monday, July 22, 2019

Ancah, Sang Penggerak Musik Panting di Desa Terpencil

Ancah (kanan) dan dua pemuda lainnya di Desa Bantuil


MUSIK PANTING. Namanya terdengar seperti bahasa Mandarin, "pan" dan "ting". Terlebih, cara memainkan alat musik ini dengan cara dipetik. Maka,  terbayanglah alat musik kecapi dari daratan China yang dipetik dan menghasilkan alunan suara merdu khasnya.

Meski demikian, panting bukanlah kecapi. Musik tradisional ini berasal dari Suku Banjar yang telah lama sekali mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Bentuknya mirip gambus Arab yang memakai senar (panting). Akan tetapi, ukurannya lebih kecil daripada gambus. Pada awalnya, musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo.

Belakanganan, barulah musik panting sekarang ini dimainkan dengan disertai alat-alat musik lainnya seperti babun, gong, dan biola. Itulah sebabnya, pemainnya pun menjadi beberapa orang. 

Lalu, bagaimanakah kehidupan musik ini sejurus dengan pergerakan zaman yang kian modern?

Berikut  adalah hasil wawancara saya dengan salah seorang penggerak musik panting bernama Ahmad Firhansyah yang tinggal di sebuah desa terpencil (Bantuil) di Kecamatan Cerbon, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Setelah berbasa-basi saya mulai menanyainya dengan serius seputar pamantingan atau dunia musik panting, khususnya grup musik panting bernama Ambar Kasturi di Bantuil.

Tahun berapa dan bagaimana awalnya Ambar Kasturi didirikan di Bantuil?

Tahun 1994. Semula saya melihat orang-orang (baca: pemain musik panting) di Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar atau dikenal dengan Pal 7 ramai memainkan dan menikmati musik panting.

Setelah pulang ke kampung (baca: Bantuil), lalu saya berdiskusi dengan teman-teman di sini. Waktunya sangat tepat karena saat itu di kampung ada pak Maskuni yang bekerja di Pemda Batola menangani kesenian dan budaya.

Siapa saja personil angkatan pertama Ambar Kasturi?

Personil (angkatan) pertamanya:
Panting : Hamidin, M. Yusuf, Harnadi
Biola : Firhansyah
Babun : Basran
Suling : Asni
Tamborin : Sarmidin
Rumba : Rusmin
Vokal : M. Norman,  Rahimah, Maria.

Personil Ambar Kasturi


Dari mana awalnya Ambar Kasturi mendapatkan alat-alat musik panting?

Saat itu di rumah pak Maskuni ada alat alat panting meski tidak lengkap milik pemerintah. Dan kami sempat membuat sendiri dua buah panting untuk melengkapi kekurangan tersebut.

Siapa yang melatih personil angkatan pertama bermain musik panting?

Setelah alat-alat musik lengkap, kami belajar secara otodidak.

Pernah pentas di mana saja?

Di beberapa tempat seperti di Upacara Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-50 PGRI Tahun 1995 Dati II Batola.
Upacara Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-50 PGRI Tahun 1995 Dati II Batola.







Bagaimana dengan busana yang digunakan saat tampil?

Busananya semula dipinjami Pemda Batola. Pak Maskuni yang mencarikan pinjamannya. Setelah itu ada kas sedikit dan tambahan dana dari Bapak Camat Cerbon sehingga kami bisa membuat seragam untuk tampil.

Salah satu busana personil grup musik panting Ambar Kasturi




Setelah sekian lama berlalu, bagaimanakah keadaan Ambar Kasturi saat ini?

Para personilnya terpencar ke mana-mana karena banyak yang bekerja di luar kampung. Meski demikian, kami berencana akan menghidupkan Ambar Kasturi kembali.

Tak terasa pertanyaan demi pertanyaan dijawab Ahmad Firmansyah atau yang sering dipanggil banyak orang dengan sebutan Ancah ini mengalir dengan lancar. Dia  adalah sosok pemuda desa yang peduli terhadap eksistensi seni musik Banjar.

Selain berkenaan dengan sosoknya, artikel ini saya tulis sekaligus sebagai rangsangan terhadap kepedulian kita saat ini terhadap warisan nenek moyang yang berharga. Dan, sebenarnya dapat kita tangkap satu kenyataan bahwa sesungguhnya menjaga eksistensi musik panting merupakan perjuangan yang tidak mudah di tengah era teknologi secanggih saat ini. Meski demikian tampaknya para seniman sudah paham bahwa berkesenian memang menuntut etos kerja yang tinggi dan pantang menyerah. Di samping semua itu, juga perlu uluran bantuan dari semua pihak termasuk pemerintah. (MJA)



0 comments: