Monday, January 7, 2019

Sebuah Puisi dan Esai Bambang Widiatmoko Seputar Sungai





Bambang Widiatmoko dikenal sebagai penyair, esais, dan juga peniliti (tradisi lisan). Banyak puisi yang telah dilahirkannya. Puisi-puisinya dihimpun dalam bentuk buku, baik antologi puisi tunggal seperiti Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), maupun antologi puisi bersama semisal Negeri Langit (2014) dan  Negeri Laut (2015). Sedang esai-esainya dibukukan dalam Kata Ruang (2015).

Berikut adalah sebuah puisi dan esainya seputar sungai.

Sangkan Paraning Dumadi

Setiap kali mengingat aliran sungai
Yang bersumber dari kaki Merapi
Inilah sungai yang penuh misteri
Menyimpan mitos dengan rapi
Sangkan paraning dumadi
Manunggaling kawula Gusti.

Batu tak akan habis dicari
Pasir tak akan surut digali
Sebagian menjadi candi
Berkah melimpah letusan Merapi
Menyuburkan tanah kami
Keringat leluhur menjadi saksi.

Jika malam hari terdengar air tersibak
Tak perlu jiwa ikut merebak
Kereta melesat lewat tak beriak
Menjadi pertanda akan datangnya bencana
Lewat penguasa laut selatan yang bau dupa
Dan kita pun bersiap tanpa rasa duka.

Yogyakarta tetap setia menjaga sungai jiwa
Membelah kota dengan segenap rasa cinta
Mengalir tenang dan kadang menghanyutkan
Menjadi saksi zaman yang tak bisa diciutkan
Mengalir di sisi timur istana membawa harapan
Lalu lurus menuju muara laut selatan.

Kali Code, 2016


Imaji Puisi Kali

Ada ingatan pada masa kanak-kanak saya tentang kali (sungai) yang membuat hati saya berdesir tiap kali mengingatnya. Kali itu adalah Kali Code yang mengalir di tepian desa tempat tinggal kakek nenek buyut saya, berbatasan dengan kampus Universitas Gadjah Mada. Tiap liburan sekolah saya bermalam di rumah leluhur yang tentu pada saat itu listrik belum tersambung. Tanah pekarangannya sangat luas berbatasan dengan makam Cina dan Kali Code. Pohon kelapa, nangka, melinjo, dan bambu adalah tanaman yang tumbuh lebat di pekarangan. Saya terkadang mengintip lobang sumur dan tampak permukaan airnya terlihat sangat dalam. Menjelang tidur nenek saya mendongeng bahwa tiap kali gunung Merapi mau meletus, kereta yang membawa Nyai Roro Kidul dan pengiringnya selalu melewati Kali Code menuju Merapi. Terdengar suara gemerincing pada saat kereta itu lewat. Entah benar atau sekadar mitos berbau mistis tetapi cerita itu teringat terus sampai kini.

Sayangnya, sampai saat ini saya tidak berhasil merekam ingatan tersebut menjadi karya sastra berbentuk puisi. Kali, tentunya tidak sekadar menorehkan kenangan dan kebahagiaan masa kecil siapa pun dan di mana pun. Kali bisa mengandung muatan sejarah yang panjang, Kali, bisa berarti ada kehidupan yang bertopang pada aliran dan kandungan isinya. Kali dapat berfungsi sebagai pembatas geografis, kultural atau kekuasaan dari sebuah wilayah dengan wilayah lainnya. Kali, bisa berarti ada keindahan dan mungkin juga kengerian. Kali, adalah lingkungan hidup kita, yang telah menjadi perhatian bersama karena pencemaran. Kali, telah mencatat segala peristiwa dalam keberlangsungan hidup manusia. Banyak puisi yang mengungkapkan tentang (tema) kali, telah ditulis oleh penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Tema adalah gagasan utama di dalam karya sastra. Di balik tema ada amanat atau pesan yang disampaikannya. Selain puisi bertema kali, kata kali juga menarik untuk dijadikan judul buku kumpulan puisi. Misalnya Akulah Musi, Riak Bogowonto, Ziarah Batanghari. Kali, juga muncul menjadi nama komunitas sastra, misalnya Komunitas Sastra Kalimalang. Hal itu menarik untuk menjadi kajian tersendiri.

/2/
Dalam mitologi tokoh di pulau Jawa yang berkaitan dengan kali tentu melekat nama Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga semasa kecil bernama Ki Mas Sahid, seorang putra Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban (Aria Teja). Ia menjadi Muslim yang taat berkat wejangan dari Sunan Bonang, dan selanjutnya diangkat sebagai wali (Atmodarminto, 2000: 50-60). Konon, sebutan Kalijaga muncul dari perintah Sunang Bonang yang menyuruh Ki Mas Sahid “bertapa” di pinggir kali. Cerita tradisi di Jawa memunculkan tokoh bernama Ratu Kalinyamat. Cerita ini mengisahkan Kalinyamat sebagai pusat kerajaan dan keagamaan pelabuhan Kota Jepara yang pada awalnya didirikan oleh Wintang, seorang saudagar Cina yang kapalnya terdampar di Jepara. Wintang adalah seorang muallaf setelah diislamkan oleh Sunan Kudus dan menikah dengan putrid Sultan Trenggana dari Demak. Selanjutnya, istri Wintang menjadi ratu Jepara, yang pada masa kejayaan perniagaan menyandang gelar Ratu Kalinyamat (Reid, 2004: 90). Ritus atau perayaan-perayaan yang dilakukan terhadap keberadaan sungai pun dilakukan di berbagai daerah. Penyair dapat menangkap suasana ritus dan dengan berbagai persepsi dan imajinasinya, lantas dituangkan dalam bentuk puisi. Anwar Putra Bayu menulis puisi berikut ini:

Ritus Sungai

Segenap ikan menggoyangkan ekor
menyelam dan pergi
limbah pabrik menggenang. Jadi pembunuh
para penjala letih saling menatap
kau kehilangan mata air
air sungai kepedihan
yang mengalir di wajah
anak-anakmu.

2012

(Sauk Seloko, Dewan Kesenian Jambi, 2012: 41)


Ritus Sungai telah menghadirkan kehidupan baru tentang sungai yang tercemar akibat limbah pabrik. Suasana kepedihan pun terbangun membaca puisi tersebut. Pencemaran yang terjadi di sungai dapat dilihat di berbagai kota akibat dampak dari industrialisasi. Pencemaran yang terjadi di sungai Musi juga menarik perhatian penyair lainnya. A. Rahim Qahhar menulis puisi Kurakit Puisi di Sungai Musi dalam kutipan sebagai berikut://musi, dahulu siti jernih bercermin/dari pagi hingga malam hari/dari sri susuhunan Abdurrahman/hingga sultan ahmad najamuddin/aku menanti berabad-abad/kisah ini belum pernah tamat/kini rumah rumah dan limbah industri/menyamak paras arca seni amarawati//(Akulah Musi, hal. 8—9). Perjalanan sungai pun terus berlanjut dan akhirnya membawa nasib tersendiri, seperti yang ditengarai Eka Budianta: //Sungai yang dulu menangis/Di antara batu-batu di pegunungan/Sekarang telah sampai di kota/Dan terus menuju ke laut/Tak lagi terdengar derai air terjun/Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga/Telah berganti panas terik dan polusi/Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati//(Perjalanan Sungai, hal. 8—9).

Secara tersirat segala perubahan yang terjadi pada kehadiran sungai menjadi daya tarik dalam penulisan puisi. Jumardi Putra menuliskannya dalam kutipan bait terakhir://Terus kudaki jalan terjal ke arah sana/Meski sunyi dipayungi duri/Sepanjang jalan, terdengar nandung/anak-anak sungai ipuh://”Bertahun yang lalu, kami menyusun/batu-batu cantik di bibir sungai/Kini, entaholeh siapa, bebatuan itu/memilih darat lain”//(Balada Sungai Ipuh, hal. 24).

Menurut Reid (1992: 64—65), sebagian besar masyarakat Asia Tenggara terbiasa melakukan ritus tahunan dengan tujuan untuk membersihkan desa dari roh jahat. Di wilayah pemeluk Islam, misalnya, bertahan tradisi mandi safar, yaitu suatu ritus mandi bersama yang dilakukan pada hari Rabu terakhir dari bulan Safar. Di wilayah pemeluk Buddha, bertahan ritus membersihkan boneka-boneka yang diikuti dengan aktivitas bersendau-gurau sambil melempar air. Adapun dalam pelarungan sesajen, biasanya mereka membuat rakit besar dari rotan yang berisi berbagai makanan yang di atasnya diletakkan sebuah kursi. Mereka melarungnya di Kali sambil berseru mengusir Sang Roh Jahat atau Sang Wabah, Ritual di kali terbukti lintas agama. Umat Hindu begitu mengagungkan sungai Gangga sebagai sungai yang suci, Belum lagi yang ada dalam tradisi sebagian masyarakat di Jawa yang menganggap kali dapat menyucikan diri lahir dan batin. Tradisi mandi di tempuran, tempat bertemunya aliran dua kali menjadi satu aliran, sampai saat ini masih banyak yang melakukan. Beredam di tempuran sungai pada waktu malam tertentu dilakukan sebagian masyarakat Jawa dalam kaitannya dengan kepercayaan Kejawen. “Kali atau wilayah perairan sebagai sumber kekuasaan dapat dijumpai pada kisah cinta Senapati dengan Nyai Roro Kidul – Ratu Laut Selatan dan Retna Dumilah – Pangeran Timur/Panembahan Madiun (Moedjanto dalam Wasith, 2006: 139).

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di antaranya memiliki wilayah kabupaten bernama Kulon rogo. Kabupaten ini sesuai namanya terletak di kulon atau barat Kali Progo. Menurut hasil penelitian Suhindriyo disebutkan, Progo berasal dari Pragya atau Praga, artinya partirtan di anak Kali Gangga. Kali Progo memiliki aliran sepanjang 135 kilometer, mencakup wilayah Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang (Jawa Tengah), serta Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul (DIY). “Mitologi keagamaan dari Kali Progo mengisahkan aliran Progo sampai daerah Mungkid (Magelang) bertemu dengan aliran Kali Elo. Kata Elo berasal dari Ayla atau Eyla, yaitu sebutan Kali Yamuna di India yang dimitoskan sebagai kali suci. Daerah pertemuan dua kali tadi disebut prayaga, yaitu tempat suci di pertemuan Elo-Progo, sebagai tempat pembangunan kompleks percandian Buddha yang terdiri dari tri suci candi: Mendut, Pawon, dan Borobudur yang terletak dalam satu garis lurus (Suhindriyo, 2001: 49--55).

Tentang imaji Kali Progo ditulis Triman Laksana dalam puisi berjudul Sketsa Kali Progo berikut ini:

Air yang baru saja habis
Di pematang-pematang garis tanah
Telah memberi titik harapan
Tergambar begitu menyilaukan mata
Untuk segera dicari pada gerak menanam
segala jenis masa lampau
Di panggul pemula masa depan
Masih mampu menghadirkan nafas hari
Yang menggetarkan semangat kaki
Dengan hamparan warna hijau hanya air
yang bersumber dari keabadian
Dijunjung tinggi bersama kemenangan
Tak habis menjalani kesuburan bumi
Segala yang tertata di mata
Tanpa harus kembali meminta
Ini hari
Air kembali berkata.

(Minggu Pagi No. 05 Th. 57, 1 Mei 2004)


Berbeda dengan puisi sebelumnya yang menyiratkan kemuraman. Puisi Triman Laksana tetap menawarkan harapan—terhadap air yang bersumber pada keabadian. Kearifan alam yang bersumber pada air pun selalu terjaga.//Tanpa harus kembali meminta/ini hari/air kembali berkata//. Di tempat lain, melalui panjangnya aliran sungai, mengalir pula sejarah dan kehidupan yang panjang. M. Raudah Jambak menulis puisi sebagai berikut:

Sungai Siak

Dari jembatan leighton kukunyah riak air
menitip intip patin-patin. Entahlah,
mungkin muntah pasar bawah
mungkin batuk tanjung datuk
dari jembatan leighton kuhapus tetes air
merayap jatuh di pipinya yang keruh,
Entahlah, mungkin gertak tongkang
Mungkin gerah limbah
Dari jembatan leighton kusaksikan peluh air
terkenang sejarah sirih yang pedih. Entahlah,
mungkin sejarah pohon-pohon batu
mungkin rerak sendi tanah-tanah retak
dari jembatan leighton
siak begitu kepompong

rumbai, 10—11

(Sauk Seloko, Dewan Kesenian Jambi, 2012: 182)


Ada sejarah panjang diungkapkan oleh penyairnya tentang keberadaan sungai Siak. Dari terkenang sejarah sirih yang pedih” sampai “gertak tongkang/mungkin gerah limbah”. Meski “dari jembatan letong/siak begitu kepompong,” kita bisa merasakan pengaruh atau kejayaan sungai Siak sejak dahulu hingga kini. Dalam sejarahnya sungai Siak memegang peranan penting sebagai jalur perdagangan atau pelayaran. Hilir Kali dinilai strategis dan biasanya dijadikan sebagai ibu kota kerajaan tempat aktivitas perpindahan antara kapal samudra dan perahu, seperti negeri-negeri di Sumatra bagian timur – Palembang, Jambi, Indragiri, dan Siak. (Reid dalam Wasith 2006: 139). Sungai Siak juga dapat memberikan gambaran suasana yang romantis, seperti yang ditulis Satmoko Budi Santosa dalam kutipan ini://demikianlah sampanmu terayun-ayun/semanyun gadis-gadis melontar balasan pantun//. (Cincin Kawin di Sungai Siak, hal. 283).

/3/
Kali, memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sejak dahulu sampai sekarang. Sebagai sebuah pilihan, tema kali selalu menarik untuk dituliskan dalam bentuk puisi. Melalui puisi, kita bisa melihat keberadaan dan segala peristiwa yang melingkupinya. M embaca imaji atau citraan dalam puisi-puisi bertema Kali, dapat dilihat makna dan pesan yang disampaikan penyairnya. Puisi-puisi tentang kali memiliki keragaman nilai dan terus berkembang nilai-nilai estetiknya sebagai objek estetika dalam perjalanan sejarahnya. Perjalanan sungai. 


0 comments: