HIJRAH


Dua puluh tahun aku hidup dengan segala ketertutupan, menjadi seorang nyai, mendampingi abi suamiku kedua. Dan mendampingi penuh menjadi umi bagi anak-anak, mendampingi abi yang menjadi pimpinan di sebuah pondok pesantren kecil di kotaku yang terpencil. Jauh jauh sekali dari komunikasi. Aku hilang kontak dengan dunia luar, yang ada hanya dunia madrasahku. Dari rumah ke madrasah dari madrasah ke rumah di pelosok jauh dari kota kecil dunia pondok yang dulu. Abi adalah salah satu ustaz yang bekerja pada pondok pak Kiai Syarif, salah seorang pimpinan pondok Nurul Husna, di pinggir kota. Yang dulu kuikuti sewaktu pergi dari rumah abah. Yang kemudian aku hidup tanpa Banyu tanpa anaknya, tanpa abah umi dan segala yang kucintai menjauh. Tuhan mengirim abi untuk membantu menguatkan aku yang kalah. Dengan abi salah satu santrinya dari Demak. Dan abi ternyata dulu satu pondok denganku tapi aku tak mengenal abi, tapi abi mengenalku mengerti aku. Hidup ini mungkin hanya terima jadi, terima paketan, dan kita tinggal buka isinya saja. Aku hanya ketemu beberapa kali saja dengan Ustaz Abi di acara hari besar keagamaan yang diselenggarakan Madrasah, tempatku mengajar, kini. Dan aku sudah memilih di tempat baruku sebagai tempat asing, dingin dan sunyi. Tempat hijrahkan seluruh hati dan mengubur dalam-dalam nama Hayu Banyu,  Almarhum suamiku pertama. Apapun aku sudah kehilangan kontak dengan dunia luar. Sejak aku menikah tanggal 21 bulan Desember 1997 hingga kini tahun 2016, hampir 20-an tahun. Satu janji abi yang mau menolongku untuk mencari anakku yang hilang, anak dari pernikahanku dengan Banyu, yang “sengaja atau entah tidak sengaja dihilangkan atau disembunyikan oleh pihak entah oleh orang tuaku atau oleh Mertuaku. Aku masih mencari hingga sekarang anak itu seperti aku mencari jalan menemukan surgaku yang hilang. Kenapa sampai hilang kenapa bisa terjadi kejadiannya begitu lama dan aku hamper tak ingat. Aku kecelakaan berat dan hampir amnesia.  Berkat abi, aku bisa memulihkan ingatanku dengan cepat dan juga berkat kegigihan mertuaku di tempatku yang baru yang jauh dari rumah asalku.

Aku tak mengenal siapa siapa kecuali abah abi, umi abi dan  anakku juga anak-anak madrasah. Itu saja duniaku dari pondok ke mesjid, dari mesjid ke rumah,  dari rumah ke pondok, dari madrasah ke rumah dan dari rumah ke madrasah.  Pelan pelan amnesiaku hilang. Dan ingatanku pulih aku ingat aku mempunyai anak dari hubungan suamiku pertamna Banyu.

Aku jalani dengan penuh keikhlasan. Dan aku menutup rapat masa lalu dan teman-teman dahulu, aku sudah jalani hidupku sendiri, tanpa ada dunia luar yang bisa memasuki hatiku dan telah kukunci rapat dunia luar seperti gerbang tembok madrasah dan rumah. Menjadi ustazah dan nyai menjadi guru dan menjadi ibu, menjadi umi bagi anakku.    

Di dirimulah ada  segala segala bahagia hamba berserah di  jalan  cahaya, tak lagi  kucari  lagi  karena  hanya  Engkau  jawabannya.

Melewati  keruntuhan  dunia  suara  penuh  getaran  tak  berjiwa,  berfoya  foya  dalam angan dan  rindu  kutemu  Engkau, di  balik  sepiku  para  pendiri pendiri  malam  bersama-Mu. Yang  menzuhudkan  diri dalam   banyak  Muhasabah. …Ya  Rabbi istighfar-ku  hanya  untukmu  semua  tanganku,  hidung mata, dan  semua  yang  terbuka, dari  lubangku  yang  selalu  bau. …Engkau  Yang  Maha  Suci, Maha  Bersih  dan  Maha  terjaga….

Wahai  jiwa  jiwa Mutmainah. Yang senantiasa  terjaga shalat  malamnya. Yang selalu  membangunkan kekuatan dengan  sepinya.

Yang  selalu  tersenyum  dalam  kesepiannya. Karena  tangisnya untuk  Tuhan. Karena airmatanya melihat  neraka. Karena rintihanya menyaksikan  siksa  kubur. Karena jeritannya merasakan anak  yatim.

Ia lebih  baik  kehilangan demi  cinta-Mu. Ia  ikhlaskan kelaparan dunia  untuk  kenyangMu. Ia serahkan  kehausan   demi dahaga-Mu. Ia berikan derita  untuk melihat surga-Mu. Tak ada  yang  lebih  indah  kecuali kalam-Nya.

Penuntun  syafaat di  hari  kiamat. Bukan  lagu pemburu  rindu rindu  sesat. Pemuja cinta  sesaat. Tak ada  yang  layak kecuali untuk cinta-Nya. Kesombongan telah meraja menjadi  Tuhanmu. Hingga kau  lupa siapa yang  memberi  nikmat. Kesombongan  telah  menjadi  nafsu.

Telah kutiti perjalanan beribu musim. Di peta tanpa-Mu, kini telah kutemu. Akhir dari perjalanan. Hijrahku. BersamaMu. Dalam istiqomahku untuk kututup segala lubang. Jalanku yang tergerus nafsu duniawi. Keindahan dunia yang menipu. Kini pergi dari musim tanpa bunga. Laut tanpa air, langit tanpa bintang.

Hanya angin mendekap-Mu dalam. Gigilnya hari-hari sepiku. Tak akan lagi sedih sebab kesedihan. Hanya jadi bantal kecemasan dan kemalasan.

Bangkitlah wahai jiwa-jiwa nan putih. Bangunlah ambil air wudhu. Berjihadlah lawan dirimu lawan nafsumu. Dan lawan kemarahanmu dan egoismemu.

Untuk kau kalahkan dirimu dalam jihad. Dan hijrahlah pergilah dari kungkungan. Belenggu sesal dan bertaubatlah. Memohon jalan petunjuk-Nya

Untuk ikut jalan cahaya. Jangan bergeming lagi. Jangan tolah-toleh lagi agar tetap istiqomah salat. Salaat kita malam-malam kita. Untuk tatap mata-Nya. Dalam lautan kasih sayang itu. Jangan pernah kau kalahkan. Jadilah pemenang atas nafsudan kesombonganmu.

Sebab bila tergelincir. Jutaan sesal bakal terjadi terhukumdengan sendirinya. Kesombongan dan ketamakan. Bila kau jadikan panglima hanya akan pedang  yang  akan  membunuh  hatimu.

Dan menimbulkan bencana menghukum dirimu di dunia. Dan penyesalan yang selalu datang di akhir. Tak pernah kau sangka-sangka. Seperti datangnya air bah yang menggila. Memporak-porandakkan yang akan membuatmu. Kehilangan matahari dan cahaya keabadian. Jangan pernah mau diperbudak kesombongan dan ketakaburan.

Ayat-ayat Fatihah akan membukakan jalan cahaya kegelapan. Menuju cahaya keindahan sejati tanpa tipu daya. Segala-galanya tak bisa. Ada yang disembunyikan dari mata-Nya. Telah kulewati jalan-jalan sepi. Tanpa cahaya gelap gulita tiada arah.

Menjadi lumpur dalam gelapnya hukuman jiwa di sumur tanpa dasar. Hukuman yang menjadi penjara hatimu yang begitu hina.

Jauh dari senyum matahari. Penjara dunia begitu sengsaranya. Jauh dari keindahan dan terbebasnya raga dan jiwa. Apalagi hukuman di neraka nanti.

Tak ada satu pun orang yang dapat menolong. Ayok lekaslah bertaubat sebenar taubat. Bersihkan sucikan jiwa dan raga dari nafsu setan. Dan tepuk riuh dunia penuh kesesatan. Berpalinglah minta ampun mandi taubatan nasuha.

Kepada Allah yang pengampun. Sebelum terlambat, sebelum terlambat. Semua hanya jadi penyesalan jiwa. Yang kau tidak bisa memutar waktunya kembali. Obat laramu sendiri wahai jiwa. Pencari bahagia dengan zikir dan istigfar. Jauhi maksiat dan dosa.

Agar doa-doa-Mu diijabah-Nya. Raihlah pintu rahmat-Nya. Jauhi syair-syair syetan yang melenakan. Rindu selain- Nya. Sebab hanya Dia yang pantas dirindu dan puja. Rasanya berat berpisah tapi kau harus terima. Daripada berpisah dengan Allah. Itu lebih indah bila kau menyadari. Bacalah istigfar dan zikir tiap saat kau ingat malapetaka.

Dan air matamu yang tumpah. Pasrahkan semua pada takdir dan ketentuanNya. Jangan pernah merasa sendiri. Sebab  ada  Allah  yang  menjaga.

Kau tak bisa memutar waktu yang telah terjadi dan berlalu. Sesal yang berkepanjangan tanpa tindakan pembenahan. Hanya kekonyolan sesaat yang harus kau lawan. Kau bisa berdiri lagi bangkit dari kekonyolan dan kesalahan

Berserah pada Allah. Berjanji sepenuh hati. Tak mengulangi perbuatan maksiat dan dosa. Jauhi sekarang juga. Kau pantas menyesalinya. Pantaskah kau rawat kesedihan yang membabi buta. Tanpa alasan logika. Hanya dosa-dosa yang pantas kita sedihkan dan sesali.

Ingatlah jangka panjang kampung akhirat. yang nyata dan abadi. Ingatlah tak ada kehidupan yang abadi. Kecuali di akhirat. Karena sesungguhnya kita hidup hanya untuk mencari ridho Allah Swt.

Jalan cahaya yang maha indah. Menyelamatkan diri dari api neraka. Bila engkau menjelma nyanyian zikir. Para katak di kolam-kolam

Selalu mendoakan bagi orang. yang selalu berdoa kepada Nya. Kematian sebuah pintu gerbang yang kelak ku masuk. Surga neraka menjadi penentu. Atas hisab amal-amalku. Kuikuti cahaya maha cahaya menuju Arsy-Mu. Tengadah dengan segala rapuhku. Dan menunduk dengan segala kalahku. Terjaring dalam penyerahan-penyerahan yang sangat niscaya.

Kematian sebuah pintu gerbang. Kumasuki neraka atau surga. Dalam perjalanan misteriku. Jangan kau lagi turutkan kesombongan.

Dan berbesar diri sebagai puncak mahkota. Hanya karena iri dan dengki. Sebab kau akan menyesal nanti. Dan berujung kesia-siaan yang abadi.

Iftitah-Mu…. Membimbing tanganku di atas cahaya maha cahaya. Tak kan kulepas kugenggam erat ditali-Mu. Buhul yang kuat dalam ayat-ayat-Mu. Ayat-ayat cinta-Mu yang menyayangiku

Segera! Segeralah bersujud di mata Allah. Menyerahkan segala takdir dan nasibmu pada-Nya. Dalam taubat yang benar-benar taubat.

Ya Rabbi andai Kau tak peringatkan aku. Tentu akan terperosok di jurang makin dalam. Sumur tanpa dasar. Jalan sesat yang menipu pandangan!

Kau akan merugi. Jangan akan merugikan diri sendiri. Ya Rabbi seandainya ketetapan-Mu memang terbaik. Aku yakin terbaik adalah semua rencana-rencana-Mu

Sehingga aku bisa bedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Jangan kau tutupi pandanganku. Setelah kau beri petunjuk. Bangkit-bangkitlah wahai jiwa-jiwa yang lemah.

Tegakkan jiwamu badanmu ragamu. Ambil air wudhu sholatlah malam. Panggillah Allah duduk dan mengadu. dalam derai air matamu. Selalu berwudhulah setiap kau batal. Tegak jangan loyo dan semangatlah. meraih cahaya-Nya. Lepaskan sepi-sepimu. Waktu-waktumu isilah jangan berlalu. Jangan banyak mengeluh pada manusia. Menangislah dan ceritakan penderitaanmu. Suka dukamu, kesulitanmu, ketidakbahagianmu. Kekacauan hidupmu. Dan segala kurangmu pada-Ku. Sebab Dia lah yang mencukupkan. Menambahkan, merencanakan, mengubah. Dan menghilangkan kesedihan. Dan nestapa hidupmu yang pelik. Tak ada kekuatan lain yang lebih kuat. Dan sedahsyat kekuatan-Nya. Cintailah Dia, sayangi Dia. sepenuh mencari rida-Nya. Wahai para pencari bahagia.

Ke sini bersama kita meniti bahtera. Menuju padang kebahagiaan. bersama yang kekal di akhirat nanti. Jangan merasa sepi. Jangan biarkan kesepian meraja. Menjadi Tuhanmu, tebas dan hancurkan. Berhala di hatimu sendiri. Sebab tak ada tempat dan nama yang bisa. Buat berlindung kecuali Dia. Selagi belum terlambat terbukanya. pintu taubat. Jauhi dari hidup maksiat. Agar hidup penbuh berkat. Di lautan cinta Nya yang penuh berkat

Kematian adalah Keniscayaan yang nyata. Cepat atau lambat. Sebelum terlambat pintu taubat. Bukalah jangan biarkan para laknat. Syetan dan jiwa-jiwa khianat. Bersekutu tidak taat tunduk dan taat. Wama khalaqul jina wal insa illa liyak budun.

Kita adalah manusia yang sebaik-baiknya. Ciptaan Allah. Maka jangan sia-siakan. Kesempatan hanya untuk bersyukur. Kau adalah sayap-sayap yang akan terus. Mengepak memutar dan menuju Arsy-Mu. Begitu indah kepak-kepaknya. Menyinggung langit senja. Tiada Murung sebab senyum. Dia tersungging teduhkan segala rindu. Hanya Dia yang pantas untuk dirindu. Hanya Dia yang patut untuk dipuja. Hanya Dia yang harus dikagumi

Subhanallah …. Laa haula wa laa quwaata illa billah …. Janganlah ragu dengan kebenaran-Nya. Janganlah takut dengan keadilan-Nya. Sungguh Dia maha penjaga. Carilah ridho Nya …. Carilah kasih Nya. Semua ibadah. Amalan kita. Hanya untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk dipuji orang. Dan niat-niat rendah yang lain. Bila kau merasa sempurna. Maka hati-hatilah.

Berarti itu awal dari ketidaksempurnaan. Dan awal kejatuhan. Jangan merasa paling bagus. Paling sempurna, paling atas. Percayalah itu hanya awal dari kebobrokan. Awal kejatuhan dan runtuhnya hati nurani.

Semua ada batas dan puncaknya. Karena yang memiliki sempurna. Adalah maha sempurna yaitu Allah Swt. Tak tertandingi di atas sempurna. Bukan  nasab  dan  keturunan  yang  jadi  mahkota. Kebanggaan. Yang  memberi  kemuliaan. tetapi  hanya  hamba  yang  takwa dan  taat  pada-Nya. Ada  derajat  kemuliaan.

Mengapa kau berbangga bangga. Nasab dan  keturunan. Sahabat dan  kawan. Saudara  dan pertemanan. Bukan!  bukan  itu. Bukankah  sendiri  kau  masuki. Pintu  neraka surga dan  liang  kubur. Timbangan  amalan  adalah  sendiri!. Maha kaya, maha berkuasa. Maha adil. Maha kasih. Maha indah

Telah kutiti perjalanan beribu musim. Di peta tanpa-Mu, kini telah kutemu. Akhir dari perjalanan hijrahku bersama-Mu. dalam istiqomahku untuk kututup segala lubang. Jalanku yang tergerus nafsu duniawi. Keindahan dunia yang menipu. Kini pergi dari musim tanpa bunga. Laut tanpa air, langit tanpa bintang.

Hanya angin mendekap-Mu dalam. Gigilnya hari-hari sepiku. Tak akan lagi sedih sebab kesedihan. Hanya jadi bantal kecemasan dan kemalasan.

Bangkitlah wahai jiwa-jiwa nan putih. Bangunlah ambil air wudhu. Berjihadlah lawan dirimu lawan nafsumu. Dan lawan kemarahanmu dan egoismemu

Untuk kau kalahkan dirimu dalam jihad. Dan hijrahlah pergilah dari kungkungan. Belenggu sesal dan bertaubatlah. Memohon jalan petunjuk-Nya

Untuk ikut jalan cahaya. Jangan bergeming lagi. Jangan tolah-toleh lagi agar tetap istiqomah salat. Salat kita malam-malam kita. Untuk tatap mataNya. Dalam lautan kasih sayang itu Jangan pernah kau kalahkan. Jadilah pemenang atas nafsu dan kesombonganmu.

Sebab bila tergelincir. Jutaan sesal bakal terjadi terhukum. dengan sendirinya. Kesombongan dan ketamakan. Bila kau jadikan panglima hanya akan pedang  yang  akan  membunuh  hatimu.

Dan menimbulkan bencana. menghukum dirimu di dunia. Dan penyesalan yang sealu datang di akhir. Tak pernah kau sangka-sangka. Seperti datangnya air bah yang menggila

Memporak-porandakkan yang akan membuatmu. Kehilangan matahari dan cahaya keabadian. Jangan pernah mau diperbudak kesombongan. dan ketakaburan

Ayat-ayat Fatihah. akan membukakan jalan cahaya kegelapan. Menuju cahaya keindahan sejati. tanpa tipu daya

Segala-galanya tak bisa. ada yang disembunyikan dari mataNya. Telah kulewati jalan-jalan sepi. Tanpa cahaya gelap gulita tiada arah

Menjadi lumpur. dalam gelapnya hukuman jiwa di sumur. tanpa dasar. Hukuman yang menjadi penjara hatimu yang begitu hina

Jauh dari senyum matahari. Penjara dunia begitu sengsaranya. Jauh dari keindahan. dan terbebasnya raga dan jiwa. Apalagi hukuman di neraka nanti

Tak ada satu pun orang yang dapat menolong. Ayok lekaslah bertaubat sebenar taubat. Bersihkan sucikan jiwa dan raga dari nafsu syetan. Dan tepuk riuh dunia penuh kesesatan

Berpalinglah minta ampun mandi taubatan nasuha. Kepada Allah yang pengampun. Sebelum terlambat, sebelum terlambat. Semua hanya jadi penyesalan jiwa

Yang kau tidak bisa memutar waktunya kembali. Obat laramu sendiri wahai jiwa. Pencari bahagia dengan zikir dan istigfar. Jauhi maksiat dan dosa

Agar doa-doamu diijabah-Nya. Raihlah pintu rahmatNya. Jauhi syair-syair syetan yang melenakan. Rindu selain-Nya. Sebab hanya Dia yang pantas dirindu dan puja. Rasanya berat berpisah tapi kau harus terima. Daripada berpisah dengan Allah. Itu lebih indah bila kau menyadari. Bacalah istighfar dan zikir. tiap saat kau ingat malapetaka.

Dan air matamu yang tumpah. Pasrahkan semua pada takdir. dan ketentuan-Nya. Jangan  pernah  merasa sendiri. Sebab  ada  Allah  yang  menjaga

Kau tak bisa memutar waktu yang telah terjadi dan berlalu. Sesal yang berkepanjangan tanpa tindakan pembenahan. Hanya kekonyolan sesaat yang harus kau lawan. Kau bisa berdiri lagi bangkit dari kekonyolan dan kesalahan

Berserah pada Allah. Berjanji sepenuh hati. Tak mengulangi perbuatan maksiat dan dosa. Jauhi sekarang juga. Kau pantas menyesalinya. Pantaskah kau rawat kesedihan yang membabi buta. Tanpa alasan logika. Hanya dosa-dosa yang pantas. kita sedihkan dan sesali.

Ingatlah jangka panjang kampung akhirat. yang nyata dan abadi. Ingatlah tak ada kehidupan yang abadi. Kecuali di akhirat. Karena sesungguhnya kita hidup. hanya untuk mencari ridho Allah swt.

Jalan cahaya yang maha indah. Menyelamatkan diri dari api neraka. Bila engkau menjelma nyanyian zikir. Para katak di kolam-kolam

Selalu mendoakan bagi orang. yang selalu berdoa kepada Nya. Kematian sebuah pintu gerbang. yang kelak ku masuk. Surga neraka menjadi penentu. Atas hisab amal-amalku. Kuikuti cahaya maha cahaya menuju Arsy-Mu. Tengadah dengan segala rapuh ku. Dan menunduk dengan segala kalahku. Terjaring dalam penyerahan-penyerahan yang sangat niscaya.

Kematian sebuah pintu gerbang. Kumasuki neraka atau surga. Dalam perjalanan misteriku. Jangan kau lagi turutkan kesombongan.

Dan berbesar diri sebagai puncak mahkota. Hanya karena iri dan dengki. Sebab kau akan menyesal nanti. Dan berujung kesia-siaan yang abadi.

Iftitah-Mu. Membimbing tanganku di atas cahaya maha cahaya. Tak’kan kulepas. Kugenggam erat ditali-Mu. Buhul yang kuat dalam ayat-ayat-Mu. Ayat-ayat cinta-Mu yang menyayangiku

Segera! Segeralah bersujud di mata Allah. Menyerahkan segala takdir dan nasibmu pada-Nya. Dalam taubat yang benar-benar taubat

Ya Rabbi andai Kau tak peringatkan aku. Tentu akan terperosok di jurang makin dalam. Sumur tanpa dasar. Jalan sesat yang menipu pandangan!

Kau akan merugi. Jangan akan merugikan diri sendiri. Ya Rabbi seandainya ketatapan-Mu memang terbaik. Aku yakin terbaik adalah semua rencana-rencana-Mu

Sehingga aku bisa bedakan mana yang haq. dan mana yang bathil. Jangan kau tutupi pandangan ku. Setelah kau beri petunjuk. Bangkit-bangkitlah wahai jiwa-jiwa yang lemah

Tegakkan jiwamu badanmu ragamu. Ambil air wudhu sholatlah malam. Panggillah Allah duduk dan mengadu. dalam derai air matamu. Selalu berwudhulah setiap kau batal. Tegak jangan loyo dan semangatlah. meraih cahaya-Nya. Lepaskan sepi-sepimu. Waktu-waktumu isilah jangan berlalu. Jangan banyak mengeluh pada manusia. Menangislah dan ceritakan penderitaanmu. Suka dukamu, kesulitanmu, ketidakbahagianmu, kekacauan hidupmu. Dan segala kurangmu pada-Ku. Sebab Dia lah yang mencukupkan. Menambahkan, merencanakan, mengubah. Dan menghilangkan kesedihan. Dan nestapa hidupmu yang pelik. Tak ada kekuatan lain yang lebih kuat. Dan sedahsyat kekuatanNya. Cintailah Dia, sayangi Dia. sepenuh mencari ridhaNya. Wahai para pencari bahagia

Ke sini bersama kita meniti bahtera. Menuju padang kebahagiaan. bersama yang kekal di akhirat nanti. Jangan merasa sepi. Jangan biarkan kesepian meraja. Menjadi Tuhanmu, tebas dan hancurkan. Berhala di hatimu sendiri. Sebab tak ada tempat dan nama yang bisa. Buat berlindung kecuali Dia. Selagi belum terlambat terbukanya. pintu taubat. Jauhi dari hidup maksiat. Agar hidup penbuh berkat. Di lautan cinta Nya yang penuh berkat

Kematian adalah Keniscayaan yang nyata. Cepat atau lambat. Sebelum terlambat pintu taubat. Bukalah jangan biarkan para laknat. Syetan dan jiwa-jiwa khianat. Bersekutu tidak taat tunduk dan taat. Wama khalaqul jina wal insa illa liyak budun

Kita adalah manusia yang sebaik-baiknya. Ciptaan Allah. Maka jangan sia-siakan. Kesempatan hanya untuk bersyukur. Kau adalah sayap-sayap yang akan terus. Mengepak memutar dan menuju Arsy-Mu. Begitu indah kepak-kepaknya. Menyinggung langit senja. Tiada Murung sebab senyum. Dia tersungging teduhkan segala rindu. Hanya Dia yang pantas untuk dirindu. Hanya Dia yang patut untuk dipuja. Hanya Dia yang harus dikagumi

Subhanallah …. Laa haula wa laa quwata illa billah …. Janganlah ragu dengan kebenaran Nya. Janganlah takut dengan keadilan Nya. Sungguh Dia maha penjaga. Carilah ridho Nya …. Carilah kasih-Nya. Semua ibadah. Amalan kita. Hanya untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk dipuji orang. Dan niat-niat rendah yang lain. Bila kau merasa sempurna. Maka hati-hatilah. Berarti itu awal dari ketidaksempurnaan. Dan awal kejatuhan. Jangan merasa paling bagus. Paling sempurna, paling atas. Percayalah itu hanya awal dari kebobrokan. Awal kejauhan dan runtuhnya hati nurani.

Semua ada batas dan puncaknya. Karena yang memiliki sempurna. Adalah maha sempurna yaitu Allah swt. Tak tertandingi di atas sempurna. Bukan  nasab  dan  keturunan  yang  jadi  mahkota. Kebanggaan. Yang  memberi  kemuliaan. tetapi  hanya  hamba  yang  takwa dan  taat  pada-Nya. Ada  derajat  kemuliaan. Mengapa kau  berbangga  bangga. Nasab  dan  keturunan. Sahabat dan  kawan. Saudara  dan pertemanan. Bukan!  bukan  itu. Bukankah  sendiri  kau  masuki. Pintu  neraka surga dan  liang  kubur. Timbangan  amalan  adalah  sendiri!. Maha kaya, maha berkuasa. Maha adil. Maha kasih. Maha indah

Selanjutnya? Klik Daftar Isi atau Bagian Selanjutnya, yakni Anak-Anak Gedungombo. 

0 comments: