DUNIA TERLALU SEMPIT BUAT BERDUKA


Entah apa maksudnya dari kalimat ini. Begitu misteri begitu tertutup. Dan aku sungguh tak paham, seuah teka teki atau yang bersifat ketersembunyian atau ketertutupan. Adakah yang lebih indah dari air mata, hingga duka dan nestapa merajam cinta dunia. Adakah yang lebih indah dari dunia. Dunia begitu indah untuk dilupakan, namun fana dan akan kita tinggalkan. Adakah ya Allah, jika jejak tak bertuan menjadi tuan di hati apa yang hendak kau kabarkan tentang dukakah, airmatakah atau kebahagiaan yang perlahan lenyap dan hilang. Seperti malam malam yang meregang sepi nyawa dan kembali pada azalinya.

Kenapa diam? Diam adalah jawaban, atas duka duka yang tak pernah terberitakan.

Subhanallah aku dapat kabar dari Asnurul Hidayati, akhirnya sahabat lamaku itu. Apa? Nurul mempunyai 8 anak, 4 anaknya di pondok dan yang 4 masih kecil kecil itu diajak hidup pindah pindah dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Ya Allah subhanallah. Surgakah? Yang dicari? Mungkin iya bagaimana bisa hidup dengan cara seperti itu?

            “Ya jika memang menurutnya itu surga, why not? Ya ‘kan jeng.

Nurul sudah memilih surganya. Begitupun juga kita masing masing menikmati jalan menuju surga yang kekal dan nyata, dengan cara masing masing yang berbeda.

            “Iya juga sih mbakyu, yang saya pikirkan itu bagaimana anak-anaknya, miris ‘kan hidup dengam begitu penyesuaian yang seperti itu.

      “Iya juga Jeng, tetapi mereka jalani mungkin dengan ikhlas untuk mencintai Allah mencintai Tuhan!”

          “Iya Jeng, banyak loh diantara teman-teman kita yang rela menjadi istri ditinggal  jaulah  suaminya, pergi berbulan bulan tanpa dinafkahi atau diurus kebutuhan sehari hari atau memang sudah diurusi sebelumnya, mereka merelakan suaminya jihad dan sebagainya loh Jeng!”

            “Bahkan ada yang mati konyol mencari surga dengan cara bom bunuh diri!”

         “Dan mereka ikhlas dan rela suaminya melakukan poligami dan menikah gadis gadis baru dan disiri untuk jaminan surga, Nyai!” 

Hidup memang banyak pilihan, seperti juga hidup untuk memilih surga pilihan. Tadarusku untuk-Mu. Telah kukirimkan surat. Lewat email-email. Apa pernah Kau baca. Aku hanya sebutir debu. Tak ada yang lebih indah dari ayat-ayat-Mu.

Tadarusku untukMu. Penawar hati luka. Pengobat hati lara. Kuselimuti tubuhku dengan. selimut cinta-Mu. Menuju rahim-Mu. Kuselimuti  jiwaku dengan sembahyang lima. Agar setan tak menggoda. Hidupku untuk-Mu. Matiku untukMu.

Alif bataku untuk-Mu. Sembahyang  tali cintaku. Agar tak putus buhul. Tadarusku untuk-Mu. Alifku untuk-Mu.

Tinggalkan dunia. Kerjakan yang lima. Kau yang punya sempurna. Tadarusku penawar rindu. Tiada bisa kutinggalkanMu. Walau sedetik jua. Aku sering hilang. Di kabel-kabel komputer. Sering hilang di canel-canel televise. Dan riuhnya hingar tombol-tombol radio. Urusan dunia tak ada habisnya. Suntuk di syair syair gila sihir sihir  penyair syahwat. Aku sibuk  di plaza-plaza, mal dan toserba. Kau tak ada di sana. Tetapi aku selalu menemukan-Mu di rerumputan yang basah oleh dekapan embun. Di kerimbunan pucuk-pucuk daun. Di kedalaman akar-akar yang menjalar.

Bau harum tanah merah. Kerontang musim yang memecah. Menunggu hujan rindu yang lama tak turun. Memohon titik air hujan-Mu. Agar basahi kerontang tanah pecah. Fanaku. Dan gigilMusimku. Kau selimuti dengan rahman-Mu. Tak ada yang lebih indah. Dari lazuardymu. Dhuhaku Lailku. Witirku. Tetes-tetes rahmat yang menjadi nikmat Azan iqomat.

Panggilan seruan. Sajadah kugelar sampai jauh, aku hanyalah sebutir debu di lautanmu menjadi pertapa-Mu di kesucian hati kebeningan perwitasari dan keheningan prana aku mencarimu di ruang dan waktu di ketinggian sunyi ayat-ayatmu suci lihat sekawanan burung tertembak oleh para pemburu mati di depanku.

Belantara sunyi tempat bertapa gaduh orang-orang mencari MasjidMu orang orang berlari cemas dan takut bila terompet ditiup bersama gunung bersujud batu bertasbih angin bertahmid pohon-pohon bertakbir api bertahlil belantara sunyiku bermakmum bersama menyeru asmaul husna. Tuhan aku rindu. Tuhan kekasih yang kekasih. Rindu ini sudah tak tertahan. Memasuki. aktu-waktu lima pertemuan. Tuhan ya Tuhan kekasih. Jangan lagi sia-siakan. Kerelaan diatas pengabdian.

Jangan tunggu panggilan azan berlalu. Sholat dan hambakan diri sujudmu.

Meraih rindumu segera berlaku. Di lembar-lembar sajadah. Tangan menengadah. Mencari berkah!. Wahai Tuhan, kekasih hamba. Azan memanggil taqorub jiwa raga. Pada penghambaan yang sempurna. Dalam gerakan rakaat. Pada shaf-shaf yang rekat

Jangan biarkan setan melekat. Menemui cahaya dalam kegelapan warna. Sewaktu malam resah kebarkan sayapnya.

Puisi cinta bersumpah cinta berdarah. Bercumbu khayal tiada menentu. Bagaikan pelangi disimpang selempang cakrawala. Di atas kertas tertulis sebuah nama. Dengan angin resah yang menggigil. Menulis kata di lautan beku!

Barisan tentara semut yang tak bergenderang. Menyerbu!. Menembak mati isi hati. Aku bagaikan kapas putih.

Yang tak menentu, tertiup angin tanpa arah tujuan!. Aku bagaikan mawar yang telah layu.

Sebelum mawar hilang harumnya! Biarkan amnesia. Melumpuhkan ingatanku!. Dan aku telah mati sendiri. Dalam manisnya madu cinta. Aku terjatuh dan tertawan.

Dalam pekatnya embun asmaraMu! Kakiku putus satu. Tak bisa berjalan. Tangan lepas satu. Angin membisu. Terdiam tanpa mata. Rindu Cinta

Gelap mencari. Hatiku ditinggal bahagia. Berjalan sendiri. Berjalan sendiri. Tak ada lagi tanganMu. Atau sekadar bayang-Mu.

Dan bila kulewati semua ini. Hanya kulewati gambar. yang memudar. Tentang sebuah nama. Sehingga tiba-tiba hilang. Tiba-tiba pulang. Bahwa semua rencana hanya. MilikMu jua. Semua jalan hanya jalanMu jua. Engkau pergi-pergi jauh dari. Rasa yang dulu ada.

Aku harus pergi. Mungkin aku tak mau puisi. Semua harus diam. Karena ada yang diam-diam. Tak mau disembunyikan. Jangan lagukan  puisi. Malam-malam. Bila pagi tiba begini rindu sapaan. Sapaan rindumu yang purna!. Tetapi memang bahagia hanya cukup. Sampai disini semua telah. Berpaling dan berakhir

Semua sudah selesai semua sudah. Pergi tak ada yang dapat dipertahankan lagi apakah kau tak pernah tahu suara dengarkan lah aku apa kabarmu!. Suara dengarkanlah aku. Apa kabarMu. Aku rindu kupu-kupu yang mengecup embun setiap pagi. Aku sudah kunci tutup segala langit. Segala akan  berhubungan denganMu! Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dosa. Kau hanya diam dan diam.

Membandingkan pagi yang kosong tanpamu. Ini puncak kecewa puncak yang tak bisa kukendalikan pengendalian diri. Pemahaman. Kau telah memiliki jalanku sendiri. Kau telah memilih jalan berkelok. Oh angin yang selalu jujur.

Sampaikan aku sampaikan salamku. Padanya aku suka Dia. Aku cinta padaNya. Aku selalu sayang padaNya. Aku ingin selalu menyayangiMu. Maafkan lah aku, maafkan salahku. Rasa sesalku, hinggaku pergi dari-Mu. Kau akan kembali ke nama-Mu. Semua sudah ku tahu sampai mana. Kualitas hatimu, sampai mana.

Dan siapa kamu, kualitas cinta-Mu! Aku akan mencintai-Mu. Seputih rasaku, seindah rasa-Mu! Aku akan terus bersama-bersamaMu!. Bila aku cinta bukan fantasia. Orang-orang yang sakit jiwa. Kau akan kurindukan selalu. Di mana dan kapan pun juga.

Aku akan mencari-Mu!. Menemukan-Mu. Sungguh aku tiada bisa melarang. Aku hanya ingin kau ingatkan Tuhan. Akan arti sumpah dan janjiNya. Aku hanya ingatkan!

Jalan cahaya. Sepertinya aku memang harus kembali. Pada jalan cahaya!. Kau pasti bisa meraihnya! Sifat dasar manusia terutama adanya sekarang ini. Ogah-ogahan gak mau rekasa ga mau kerja keras. Tapi mudah menyerah dan mau enaknya saja. Semua sudah banyak menyerah tidak kuwat hadapi cobaan

Selanjutnya? Klik Daftar Isi atau Bagian Selanjutnya, yakni Siratholmustaqim.

0 comments: