Saturday, April 24, 2021

Puisi-Puisi Ade Novi dalam Puisi-Puisi Munsi


PULANG
(Untuk mengenang Alm. Ane Matahari)

Merpati rindu melayang
menerbangi waktu
menembus zaman, menyibak kehidupan
dari waktu ke waktu
lalu pulang ke kandang yang sunyi abadi

kidung rindu ini
bernyanyi, pada jiwa terpatri
aku ingin seperti merpati
bebas tanpa memilih awan
di manapun dia hendak terbang

mampukah aku pulang?
tanpa beban-beban?
sedang diri berselimut noda hitam!
sampai waktu tak lagi berpihak padaku
dan aku, jadi takut pulang

menemui tempat segalanya kembali,
kepada Tuhan

Jakarta, November 2016


MIMPIMU MIMPIKU

Ini penghujung musim kering
Dedaunan garing berhamburan, semuanya cokelat
Yang bisa remuk hanya dengan sekali remas

Ini penghujung musim kering
Pepohonan rindang menyemburkan gumpalan debu,
Mereka listeria seperti serumpun hujan
Kelihatannya akan ada rencana besar yang
belum
jelas, sibuk sekali

Ini penghujung musim kering. Angin ringkih
Tipis dan ringan melayang tanpa menghasilkan
kelembapan butir-butir udara
Tidak ada yang memuai, bukanlah seharusnya
mereka sudah bebenah?
Ketika matahari menjenguk pagi!

Ini penghujung musim kering
Hmmmmm.... Artinya apa?
Sedang kita masih saja saling lamun
Padahal cokelat benar-benar sudah cokelat
Seperti tanah yang berpetak-petak...

November 2016


SURAT KEPADA TUANKU

Biarkan rindu menjadi lara
Agar kau dapat menghargai setiap waktu yang ada,
Tuan!

Dan entah mengapa angin malam menjadi lebih
hangat...
Mungkin ia menyadari betapa dingin ragaku malam
ini!

Karena kau adalah kepingan dosa yang kurangkai
menjadi doa,
Meski harus ku telusuri jalan ini sendiri!

Semoga esok ku temukan jawaban nya

Jakarta, November 2016

Tentang Penyair

ADE NOVI menulis puisi, cerita bersambung dan pantun. Menulis pantun bersama 105 penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Sekarang mengabdi sebagai guru.
---------------------------------------------------------
Sumber tulisan: Puisi-Puisi Munsi

Sumber ilustrasi: Pixabay

0 comments: