Saturday, March 27, 2021

Puisi Joko Pinurbo dalam Sauk Seloko



Kunang-kunang

Ketika kecil ia sering diajak ayahnya bergadang
di bawah pohon cemara di atas bukit.
Ayahnya senang sekali menggendongnya
menyeberangi sungai, menyusuri jalan setapak
yang berkelok-kelok dan menanjak.
Sampai di puncak, mereka membuat unggun api,
berdiang, menemani malam, menjaring sepi.
la sangat girang melihat kunang-kunang berpendaran.
"Kunang-kunang itu artinya apa, yah?"
"Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang."
Ia terbengong, tidak paham bahwa ayahnya
sedang mengajarinya bermain kata.
Bila ia sudah terkantuk-kantuk, si ayah segera
mengajaknya pulang, dan sebelum sampai di rumah,
ia sudah terlelap di gendongan.
Ayahnya menelentangkannya di atas amben tua,
lalu menaruh seekor kunang-kunang di atas keningnya.

Saat ia pamit pergi ngembara, ayahnya membekalinya
dengan sebutir kenang-kenang dalam botol.
"Pandanglah dengan mesra kenang-kenang ini
saat kau sedang gelap atau mati kata;
maka kunang-kunang akan datang memberimu cahaya."

Kini ayahnya sudah ringkih dan renta.
"Aku ingin ke bukit melihat kunang-kunang.
Bisakah kau mengantarku ke sana?"
Malam-malam ia menggendong ayahnya
menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Apakah pohon cemara itu masih ada, yah?"
tanyanya sambil terengah-engah.
"Masih. Kadang ia menanyakan kau
dan kukatakan saja: Oh, dia sudah jadi pemain kata."

"Nah, kita sudah sampai, yah. Mari kita bikin unggun."
Si ayah tidak menyahut. Pelukannya semakin erat.
"Tunggu, yah, kunang-kunang sebentar lagi datang."
Si ayah tidak membalas. Tubuhnya tiba-tiba memberat.

Ia pun mengerti, si ayah tak akan bisa berkata-kata lagi.
Pelan-pelan ia lepaskan ayahnya dari gendongan.
Ketika ia baringkan jasadnya di bawah pohon cemara,
seribu kunang-kunang datang mengerubunginya,
seribu kenang-kenang bertaburan di atas tubuhnya.
"Selamat jalan, yah. In paradisum deducant te angeli."


Tentang Penyair

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat; bermukim di Yogyakarta. Belajar mengarang puisi sejak akhir tahun 1970-an. Buku puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Berkat puisi "Celana 1", "Celana 2", "Celana 3" ia beroleh Sih Award 2001 dari Jurnal Puisi. 

Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra 2001 Pilihan Tempo. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk buku puisi Kekasihku (2004). 

-----------------------------------------------------------

Sumber tulisan: Sauk Seloko

Sumber ilustrasi: Pixabay

0 comments: