Thursday, January 28, 2021

Mengenal Awang Khalik di Kancah Sastra Indonesia


Awang Khalik adalah salah seorang sastrawan Borneo, tepatnya Kalimantan Timur. Ia banyak mendapatkan keahlian dalam berkarya sastra saat menempuh studi di Jurusan Teater, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selama mengikuti kuliah ia juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu dari beberapa sastrawan ternama, seperti Umar Kayam, Yudi Aryani, dan Norsahid.

Sehari-hari Awang Khalik bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Taman Budaya, Samarinda. Pekerjaan tersebut sesuai dengan latar pendidikan yang ditempuhnya sewaktu kuliah dan ia berpendapat bahwa bekerja di bidang yang terkait langsung dengan budaya atau sastra memacu kreativitasnya dalam menghasilkan karya-karya sastra. Berdiskusi dengan para sastrawan dan seniman adalah upaya yang ia lakukan untuk meningkatkan kreativitasnya tersebut.

Puisi karya Awang Khalik pernah memenangi lomba cipta puisi anak pada tahun 1985, yaitu puisi "Surat untuk Pak Gubernur". Puisi tersebut kemudian dibacakan pada saat menyambut Gubernur Suwarna pada 2004 yang berkunjung ke Bontang.

SUWARNA AF DISAMBUT PUISI
Rangkaian Kunjungan Gubernur ke Kaltim Utara

Pak.....
Kami ingin mempunyai kampung yang asri
Kami adalah sama seperti lainnya
Kami adalah sekumpulan warga yang menginginkan kemajuan
Kami tak ingin terus diberi janji
Kami tak ingin terus dibodohi

Demikian bunyi sebagian puisi berjudul "Surat untuk Pak Gubernur" menyambut kedatangan Gubernur Kalimantan Timur--Suwarna AF--kala itu, mengawali kunjungan ke wilayah utara Kaltim, yang dimulai dari Bontang. Puisi karangan Awang Khalik itu dibacakan Dimitrya Briyant N.W, siswa kelas V SD YPK. Sentuhan bait per bait, puisi yang syarat makna itu, cukup memukau orang nomor satu di Kaltim tersebut (Tribun Kaltim, 27 Juli 2004 dalam Biografi Pengarang Kalimantan Timur).

Selain menciptakan puisi, Awang Khalik juga sering diminta untuk membacakan puisi pada acara-acara yang digelar oleh Taman Budaya, Samarinda, misalnya acara seni menyambut tamu kehormatan dari provinsi lain. Beberapa puisi karyanya pernah dibacakan dalam berbagai kegiatan apresiasi sastra. Puisi tersebut, antara lain, "Mantan Kali" (dibacakan di Taman Budaya Kalsel, 2000), "Obsesi" (dibacakan di ISI Yogya, 1993), "Penari" (dibacakan di SMUN 2 Samarinda, 2002), "Surat untuk Pak Gubernur" (puisi wajib pria dalam ajang Porseni SD). 

Bagi Awang Khalik, karya sastranya yang paling mengesankan adalah naskah drama "Ayan Sae". Menurutnya, proses penulisan karya tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Banyak pengalaman nyata yang dialami oleh Awang dalam kehidupan sehari-hari disajikan dalam naskah tersebut. Selain "Ayan Sae", salah satu naskah drama yang dihasilkan oleh Awang Khalik adalah "Kutunggu Loe di Smada". Naskah drama tersebut berlatar di SMAN 2 (Smada) Samarinda. "Kutunggu Loe di Smada" menceritakan kisah cinta yang dialami oleh siswa-siswi Smada yang diperankan oleh John dan Dewi. Kisah cinta tersebut harus terpisah karena John harus melanjutkan sekolah di luar daerah, tetapi akhirnya mereka bersatu dan sama-sama mengajar di sekolah tersebut.

Menurut Awang, untuk meningkatkan kehidupan bersastra, sasaran pembinaan sastra haruslah ditujukan bagi generasi muda. Bahkan, bila perlu dibuatkan sekolah khusus sastra. Pengajaran sastra di SD, SLTP, dan SMU juga harus lebih berkualitas dan kurikulum, teknik pengajaran, dan pengajarnya harus lebih kreatif.

Selain menghasilkan karya sastra berupa puisi dan naskah drama, Awang juga pernah menulis artikel yang dimuat di Suara Kaltim pada 10 September 1997 dengan judul “Tata Rias yang Seadanya”. Di dalam tulisannya, ia mengamati bahwa para pekerja seni teater kurang memperhatikan tata rias bagi para pemain.

----------------------------------

Sumber tulisan dan foto Awang khalik: buku Biografi Pengarang Kalimantan Timur


0 comments: