Bagian Kedua


Alhendra Dy. (Jambi)

Kembalikan Batang Merangin Kami

Muram wajah anak cucu bias di permukaan sungai
Tatapan pedih anak negeri geram
Warnanya keruh kumuh
Wajahnya layu lusuh

Pencari ikan murung
Pulang menggigit kecewa
Tak membawa apa pun juga
Kecuali kesal dan sumpah serapah

Di tepi hari bocah dusun melamun
Takut berenang ludah pun tertelan
Merindu cipratan air bermain sampan
Yang lama sudah mereka tambatkan

Batang Merangin dan TPA sama saja
Mirip comberan pembuangan limbah Muara sampah PETI petaka
Lubuk limbah kimia bencana

Pengusaha lapar makan serakah
Penguasa berebut tulang sisa
Pengusaha jadi dalang
Penguasa jadi anjing
Berpesta lantas berak di atas hidup kami

Air Merangin keruh
Sekeruh sisa hari dan harapan
Air Merangin kotor
Kotorkan cita buyarkan lamunan
Air Merangin sampah
Tempat tuan serakah hancurkan mimpi

Wajah anak cucu tergambar di permukaan sungai
Memeluk pelampung dari ban bekas
Menambat biduk menggantung dayung
Hanya sibuk menghitung sampah
Menangguk ikan-ikan mati

Dunia kami di rampas
Kebahagiaan kami di peras
Masa depan kami kandas

Manusia atau binatangkah tuan,
Tolong kembalikan Batang Merangin kami!

RKM 216


            Alhendra Dy. Lahir di Jambi 46 tahun silam. Menulis dan melukis  ditekuninya sejak tahun 80-an hingga sekarang. Turut mendirikan teater Bohemian ’89 (arisan Acep Syahril dan Iif Renta Kersa) di bawah pimpinan Ari Setya Ardi (Alm). Selain sebagai jurnalis berbagai media mainstream dan digital, juga membangun sekaligus pemimpin di Rumah Kreativ Merangin (RKM). Karya-karyanya tersebar di berbagai media dan sejumlah antologi, baik tunggal, maupun bersama. Sekarang berdomisili di Jalan Lintas Tebo, Bungo Km.3, Tebing Tinggi, Kabupaten Tebo,  Provinsi Jambi.




Aloeth Pathi (Pati)

Sungai Kampung Lereng Muria

Sungaiku adalah surga kecilku
Dulu gemercik air disela bebatuan
Pinggiran pematang tumbuh subur
Tanaman temulawak, kapulaga, jahe, lengkuas, kunyit,
Gerumbul hijau berlumut di celah tebing
Burung-burung merdu berkicau menyambut pagi
Keasrian alam pedesaan memberi ketenangan jiwa

Sungai jernih Pegunungan Muria
Mengalir sampai ke lautan Jawa
Bilik bongkahan batu tertata rapi
menjadi tampungan air tempat mandi warga
Pohon beringin tua besar berdiri dekat jembatan bambu
Menjadi pengikat bebatuan agar tak longsor

Sungaiku adalah kerinduanku pada masa kecil
Bermain kecipak air di sela-sela kaki
Mencari ikan-ikan kecil
Mencari madu sarang tawon di pohon randu pinggir sungai
Membuat kapal dari pelapah kulit biji kapuk
Menjadi petualangan mengasyikan di kampung

Kini sungaiku tergerus zaman
Atas nama pembangunan merubah semuanya
Alat-alat berat menambang bebatuan
Menghancurkan pondasi sungai
Atas nama perluasan pertanian
Pohon-pohon ditebang
Hutan gundul
Suhu udara menjadi panas

Atas nama kemajuan industrialisasi
Sungaiku terkena limbah pabrik
mengalir putih seperti nanah
Sampah plastik menimbun
Ikan-ikan lenyap
Bau busuk menyengat hidung
Ada duka pada batang sungaiku
Terkubur menjadi riwayat pilu masa lalu
                 
Sekarjalak, 1 maret 2016

Aloeth Pathi lahir di Pati, Jawa Tengah. Karyanya dimuat Mata Media, antologi puisi bersama Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta, 2013), Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta, 2013), Lumbung Puisi Sastrawan 2014, kelola Buletin Gandrung Sastra Media & Perahu Sastra. Tinggal di Jalan Ronggo Kusumo 204, Sekarjalak, Margoyoso, Pati. Facebook: Aloeth Pathi II, Pos-El: margoyoso-cah@yahoo.com. No Ponsel: 085225149959



Andi Jamaluddin, AR. AK. (Tanah Bumbu)

Mendayung Sungai

hanyutlah ilung di kesendirian arus membawa sedihnya
mencari ranting muara sungai
: ia tak bersayap
jukung-jukung menepikan tebing, menggigil pepohonan rambai
sebab hulu menjadi sungai pula
berpuluh anak; dan burung-burung kehilangan dangau

sungai-sungai terus saja mendayung luka!

hutan yang terkapar hanya duduk berselingkuh
sementara rawa mengalirkan cokelatnya
mendayung sungai pada lekuk peradaban
galah, sapat, papuyu, haruan, biawan, tauman, kihung, saluang;
termangu menghitung napas satu-satu
dalam lukah yang terbelah
dan sungai menjadi meradang
dalam liang pedalaman

ilung mendayung sungai tak lagi berair rasa
semata hanyut membawa luka
mencari muara

Pagatan, 27/01.16  #14.02#



Catatan :
-          Ilung       = enceng gongok
-          Jukung   = perahu/sampan kecil
-          Galah, sapat, papuyu, haruan, biawan, tauman, kihung, saluang
 = jenis-jenis ikan sungai/rawa

Andi Jamaluddin, AR. AK. lahir 14 Februari dan bertempat tinggal di Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu sebagai tanah kelahirannya. Mulai aktif menulis sejak awal 80-an, terutama puisi dan cerpen. Juga aktif di berbagai forum sastra, khususnya di Kalimantan Selatan. Berkali-kali menjadi pemenang sayembara penulisan naskah buku yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Kumpulan puisi tunggal maupun antologi bersama adalah Kehidupan, Domino, Matahariku, Pidato Seekor Kakap, Zikzai, Wasi, Seribu Sungai Paris Barantai, Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, Konser Kecemasan, Tragedi Buah Manggis, Sungai Kenangan, Bentara Bagang, Tadarus Rembulan, Bait-Bait 7 Februari (Editor), Mappanretasi di Radio dalam Lingkar Lilin Kecil (Kumpulan Cerpen : Editor), Sepucuk Surat dari Temanku (Kumpulan Cerpen : Editor), Memo untuk Presiden, Siluet Rumah Laut, Tentang Kota yang Menjaga Takbir dalam Degup Dada, Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia, Ada Malam Bertabur Bintang, Pada Batas Tualang, Tarian Burung-Burung Laut, Elegi Rindu Senja di Rumah-Rumah Bagang, Memo untuk Wakil Rakyat, Kalimantan Selatan Menolak untuk Menyerah, Kilau Zamrud Khatulistiwa dan Jalan Mulai Terang yang merupakan salah buku pemenang ke-2 Sayembara Penulisan Naskah Tingkat Nasional tahun 2000 dan telah diterbitkan oleh Analisa Jogjakara.
Pada lomba cipta puisi ASKS X terpilih sebagai pemenang Harapan 1 dan puisi “Tadarus Duka di Pelaminan Gaza” (dalam antologi Tentang Kota yang Menjaga Takbir dalam Degup Dada) terpilih Juara Terbaik II pada lomba cipta puisi Bebaskan Palestina yang dilaksanakan oleh FAM tahun 2014 lalu. Puisinya yang berjudul “Indonesiaku Menuju Perubahan” menjadi materi wajib Lomba Dramatisasi Puisi di Padang (Sumatera Barat). Menerima hadiah seni dari Gubernur Kalsel bidang sastra Tahun 2012. Sekarang tinggal di Jalan Karya II RT.03 Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.



Andrian Eksa (Boyolali)

Membaca Sungai

Kubaca tubuhmu yang alir
dari hulu ke hilir, ikhlas
sebagaimana mestinya takdir
menuju muara akhir.

Kubaca kau, sungai
rumah bagi lumut dan batu-batu
yang kadang terabai.

Dan terus kubaca kau, sungai
selama alirmu tak usai.

Jogja, 2016

Andrian Eksa lahir di Boyolali, 15 Desember 1995. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY. Beberapa karyanya termuat di Jurnal Kreativa, Majalah Pewara Dinamika, Buletin Mimesis, dan antologi bersama, seperti, Sang Peneroka (Penerbit Gambang, 2014), Jaket Kuning Sukirnanto (Eugine Learning Center untuk PDS HB Jassin, 2014), Memo untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta, 2014), Kalimantan: Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota Banjarbaru bekerjasama dengan Dewan Kesenian Banjarbaru, 2015), dan Buku Nasib (Penerbit Gambang, 2015). Saat ini aktif di Sanggar Kesenian Kolaborasi (SANGKALA), FBS, UNY. Tinggal di Tegalsari Rt.02/ Rw.12, Tumang, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah (Kode Pos: 57362). Dapat dihubungi di andrizian78@gmail.com.




Andy Moe (Bangkalan)

Sungai Jerujuk

di lipat keriputmu dulu. aku mengalir sebagai kanak
kapal gabus yang terikat. dengan layar kantong
plastik dijelujur lidi
lidi nasib. ungu. legam. seperti buah juwet.
jatuh membuat noda di kaos oblong
masa depan. aku berenang bersama ganggang
dan kotoran dari anus pabrik.

di bruk dadamu. aku lumut
hijau sisa botol kunang-kunang. dilempar.
diserampangkan. jalanmu yang kecil kini
kerapkali rindu memeluk ibu. dengan restu
berdiri di runcing celuritku. sendiri.
sebagai lelaki.


Andy Moe lahir di Bangkalan, Madura 1983. Kini, berdomisili di Ponkesdes (Bidan Mangkon) Desa Mangkon, Arosbaya, Bangkalan, Madura.
Karyanya berupa Cerpen dan Puisi dimuat di koran lokal dan nasional.  Antologinya, yakni Mata yang Bercerita (antologi bersama event Nasional Rumah Kayu Indonesia, 2015) Dari Kaboa hingga Karto Lamus (antologi puisi bersama ASASUPI, 2014), dan Rampak Naong (antologi puisi bersama penyair Bangkalan) Gerilya Sastra, Dewan Kesenian Jawa Timur, 2015.
Penulis bisa dihubungi melalui Pos-El:  moe.andy@ymail.com/andymoe47@gmail.com, No. ponsel: 085731545437, atau   facebook: Andy Moe.



Ani Hidayatul Munawaroh (Ponorogo)

Tameng Muara

Cekungan batu mengabarkanku
Dalam lekukannya yang nyata
Sungguh deras arus sungai pagi itu
Memesona hati bercumbu waktu
Di antara tameng yang akan kubuat nanti
Terdengar, deru napasku mulai meragu
Mengajakku, menggambar siluet maya di atasnya
Di bawah raja siang dan rembulan
Serta sampah nakal yang akan kaubawa

Ke arah mana muara ini?
Mengekor sudah irama sunyi pagi ini
Melintas nyaman bersama pencari ikan
Undakan muara suatu saat nanti


Ani Hidayatul Munawaroh. Biasa dipanggil Ani. Gadis ini lahir di Kota Ponorogo, 9 Agustus 1998. Bisa dibilang  ia adalah cerpenis. Namun lebih suka mengambil seting di luar Indonesia. Ia lebih memilih mencari tempat unik yang akan ia temukan dalam ceritanya nanti.




Ariadi Rasidi (Temanggung)

Nyanyian Sungai

Berawal dari kaki gunung rimba perawan
melewati kelokan demi kelokan
sungaiku mengalir
meliuk-liuk dari hulu ke hilir

Batang-batang padi senang
ikan-ikan menari-menari riang
bersama dendang air sungai yang datang
harapan petani jadi mengawang-awang

Gemercik air melahirkan simfoni
terus mengalir menderas menuju samudera biru
sesekali menerpa batu-batu
memberi berkah makhluk Ilahi.

Temanggung, 2016

Ariadi Rasidi lahir di Purwokerto pada tanggal 15 April 1959.  Menulis puisi sejak tahun 1980-an. Puisi-puisinya terdokumentasi di beberapa antologi puisi bersama di antaranya, Menoreh 2 (1995), Menoreh  3 (1996), Progo 1, Tangan-tangan Tengadah (2015), Progo 2  (2008), JenteraTerkesa (1993 ), Progo 3 (2015), antologi puisi penyair Jawa Tengah (2011), Antologi Puisi Tifa Nusantara 2 (2015), dll.
Tahun 2015 mendirikan komunitas Sastra bernama KSS3G (Keluarga Studi Sastra Temanggung). Bertempat tinggal di Dusun Kampung RT 01/RW 1 Desa/Kec. Kaloran, Temanggung, 56282. Pos-El:  ardiras53@gmail.com. Nomor ponsel: 081329979188.



Arief Rahman Heriansyah (Banjarmasin)

Sang Kuning

yang menjabat tangan pembuat etalase berkaca pribumi
saat kapal-kapal kecil mengibaskan ombak serunai ke tepi  saga
langit merah yang berkaca dan berteriak pasti
“Lihatlah, senja telah menyapa!”

dialah sang kuning
yang berbisik akan kehampaan beringas kaki langit
kotoran dan limbah yang bersangatan sengit
di ufuk nadir berbelasungkawa bila mana
relung lazuardi hakikat tak berbendung nyata

adanya sahutan penghunimu
yang telah berlalu sampai perginya ruh para Datu
kerangkanya memantulkan celotehan risau
perantara pengabdi dan pembudidaya aksara
mereka berdendang ria

Banua dalam harapan kecil berbanding seribu noktah
catatan itu masih mencerna khayal
menanak nasi tumpuan celoteh bergerilya
di sisi rumah-rumah lanting tidak bertonggak
kita adalah sampan yang berlabuh tanpa dermaga
ilusi tak berkesudahan
tentang seribu sungai yang mendesah gamang
kuning kulitnya, tenang, dan bercahaya
namun itu hanya lah dulu
kini sang kuning suram dihantam peradaban

meniti buih sekar padi impian
gemulai melayu baksa kembang
jaga tangan aneka ragam hayati
tanah dan sungai-sungai kami

menghantam pasir putih  berkoar
melelang buaian hakikat terpatri
lumpur itu larut dalam keharibaan
duhai
tanggul itu retak
mengusik tidurnya pohon Kariwaya

sungaiku adalah tubuh-tubuh kecil yang selalu minta perdongengkan sajak cakrawala
sungaiku adalah sebuah kisah yang menjadi saksi sapaan orang-orang pribumi
sungaiku adalah jurang tanpa dasar di lubuk hati Ibu Pertiwi
sungaiku adalah malang-melintang saat ufuk timur membelah angkasa
sungaiku adalah rona abadi berlukiskan kelabu tanpa syarat membelah putaran roda
sungaiku adalah tonggak kokoh yang akhirnya roboh dalam penistaan kapak bernoda
sungaiku adalah cerutu tembakau sampai ia bisa membiusmu dengan racun alam
dan sungaiku adalah yang meninabobokan elang-elang berkuncir dan akhirnya,
tertidurlah ia dalam sejarah tanpa arti

ada seorang nenek tua,
mengguyuri ombak menyulam aksara
tudung raksasa bundar melingkar pudar
selendang biru mendayu-dayu
sulaman lampit, rotan, jangkar pucuk katu
tangan layumu, menyanggar Banua..

antara sungai yang kau ikat dengan rencana
o andai dia masih seorang gadis..
yang memegang kali pusaran tragis

oi ada jukung tergeletak di hamparan pelabuhan
mengayuh bahtera yang telah lama menjadi lapuk
dan serumpun capung sabamban menjadi saksi
tidak ada lagi nyanyian tirik
manakala tarian dadap disanggulkan
bumi leluhur kita, di tangan nenek tua
tak ada lagi pemuda yang bisa menggenggam Banua
dengan nyata

kini sang kuning menangis
terisak akan tubuhnya yang tak pernah henti terkikis
andai tanah bisa membaca tarian ombak terjal meringis
sungaiku tetaplah sungaiku
walau pahit menjalang sembilu
sejatinya ia adalah
candu dalam mimpi sang benalu

dalam genggaman sebait doa
gemericik lirih Datu berucap gerai air mata
tabur karomah beras kuning bunga rampai
tancap bambu ranting kayuh baimbai
bila mana purnama menjadi janur harapan
akan kupetik dawai panting berpagar rembulan
berbuih kasturi merah jagad raya
Banua kan kita bangun jua

Banjarmasin, 25 Februari 2016

Keterangan:
Jukung                         : Perahu masyarakat Suku Banjar
Karomah                     : Mengambil berkah
Kayuh Baimbai            : Selogan adat Banjar yang berarti bekerja    membangun bersama

Arief Rahman Heriansyah, pemuda kelahiran Amuntai 14 Juni 1992 ini adalah putera pertama dari pasangan H. Heriansyah dan Hj. Noor Thaibah. Setelah menamatkan studi belajarnya selama tujuh tahun di Pon-Pes Al Falah Putera Banjarbaru, Kalsel ia melanjutkan pendidikan S1 di IAIN Antasari Banjarmasin. Sejak kecil Arief bercita-cita ingin menjadi Psikolog.
Selama berkuliah aktif di lembaga/organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin, UKM Sanggar Bahana Antasari sebagai ketua umum periode 2014-2015 dan BEM/Dema (Dewan Eksekutif Mahasiswa) sebagai ketua umum/presiden mahasiswa periode 2015-2016, Forum BEM PTAI Prov. Kalsel sebagai ketua koordinator wilayah, Forum Lingkar Pena Cabang Banjarmasin sebagai anggota, dan lain-lain.
Pernah menorehkan prestasi diantaranya: Nanang Banjar (Duta Wisata HSU) 2012, Finalis 8 besar Duta Mahasiswa Prov. Kalsel tahun 2013, Finalis Nanang-Galuh Kalimantan Selatan 2013, Juara III Mahasiswa Teladan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Antasari 2013, Juara II Lomba Cipta Puisi PBSI tingkat Nasional Jakarta 2011, Juara III Cipta Puitisasi Al-Qur’an tingkat Nasional POSPENAS V di Surabaya, Juara 1 Cipta Cerpen Hari Pendidikan se-Kalsel, dan lain-lain.
Motto hidup : “Setialah kepada Proses!” Arief bisa dihubungi lewat nomor ponsel 085249880607, Pos-El: arief_brian@yahoo.co.id, atau via twitter/line/ instagram: arief_sba dan alamat rumah sekarang di Jalan Banua Anyar RT 06 No 26, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan.



Bagus Setyoko Purwo (Bekasi)

Mengenang Ciliwung Rumah Asal Mereka

Aku menyusuri sepanjang aliran Ciliwung
menangkap riangnya kecipak air bebunyian jari para pemilik nasib pinggiran
Aku mendengar obrolan-obrolan mereka membilas potongan-potongan peristiwa menceburkan badan dan membasuh berulang kali bagian derita
Mereka akan tergerus regulasi penguasa
memindahkan nasib pinggiran entah di pojok tanah siapa
Penguasa berbaik hati agar sungai-sungai kota bebas gangguan

Bilik-bilik rata dengan sukarela
Tembok-tembok rata dengan alat-alat berat
Bulir-bulir kesedihan seperti gerimis di bawah reruntuhan
Tak sanggup memberikan kekuatan sabar—ketabahan, media menebalkan headline selama sepekan: nasib para pemukim pinggiran Ciliwung

Mereka berasal dari penjelajahan akan arti kebebasan menentukan hidup
Sepanjang Ciliwung menuju muara mereka tanam tiang-tiang harapan: mungkin ini cara Tuhan memberikan kehidupan awal berdampingan dengan getir dan ketertidakdugaan

Namun megahnya tata ruang mengubah tata nasib mereka
Relokasi sebagai jawaban pertanyaan sampai kapan mereka menempati ruang kosong itu
Tangan penguasa adalah tangan yang maha kuasa
Ketika mereka membuka kenangan Ciliwung rumah asal mereka: mereka mendekap syukur dalam dada dan tangan terbuka

Bekasi, 15 Maret 2016

Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, menulis fiksi dan non fiksi, penggiat literasi Forum Sastra Bekasi, dan Kampus Fiksi Non Fiksi, Jogjakarta. Nomor ponsel: 085659602572Alamat tinggal: Jalan. Apel 2 No. 11, Perum Harapan Baru 1, Kel. Kota Baru, Bekasi Barat 17139



Bambang Widiatmoko (Bekasi)

Sangkan Paraning Dumadi


Setiap kali mengingat aliran sungai
Yang bersumber dari kaki Merapi
Inilah sungai yang penuh  misteri
Menyimpan mitos dengan rapi
Sangkan paraning dumadi
Manunggaling kawula Gusti.

Batu tak akan habis dicari
Pasir tak akan surut digali
Sebagian menjadi candi
Berkah melimpah  letusan Merapi
Menyuburkan tanah kami
Keringat leluhur menjadi saksi.

Jika malam hari terdengar air tersibak
Tak perlu jiwa ikut merebak
Kereta melesat lewat tak beriak
Menjadi pertanda akan datangnya bencana
Lewat penguasa laut selatan yang bau dupa
Dan kita pun bersiap tanpa rasa duka.

Yogyakarta tetap setia menjaga sungai jiwa
Membelah kota dengan segenap rasa cinta
Mengalir tenang dan kadang menghanyutkan
Menjadi saksi zaman yang tak bisa diciutkan
Mengalir di sisi timur istana membawa harapan
Lalu lurus menuju muara laut selatan.

Kali Code, 2016

BAMBANG WIDIATMOKO. Penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki buku kumpulan puisi tunggal Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014). Sajaknya terhimpun dalam antologi puisi antara lain Negeri Langit  (2014),  Negeri Laut (2015). Kumpulan esainya  Kata Ruang  (2015). Peneliti tradisi lisan dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).  Alamat: Jalan Meranti Raya H 200, Bekasi Timur 17515. Pos-El: bwdwidi@yahoo.com dan nomor ponsel 08122786397.



Budhi Setyawan (Bekasi)

Suara Sungai

di celah sempit kaki bukit memancar lahir
lewati ragam kelok zaman mengalir takdir

sawah dan ladang mendamba tarian arus
desa dan kota menyebutku di kala haus

cuaca dan iklim meramalkan lambai
kemarau dan hujan mengarsir perangai

siang hari acap menimbun gemercik
sedangkan malam tekun merawat bisik

matahari hangatkan golak nyanyi
purnama menggetarkan lubuk sunyi

ikan dan segala binatang air melukis riang
lumut dan ganggang menyusun mozaik kenang

pasir menghamparkan usapan suam
bebatuan meneguhkan jejak curam

penyanyi rajin melantunkan lekuk kias
penyair gemar merangkaikan liar majas

ricik desir menuliskan sejarah waktu
kepada hilir kusampaikan rindu hulu

Bekasi, 2014

Budhi Setyawan, yang akrab dipanggil ”Buset” dilahirkan di Dusun Kalongan, Desa Mudalrejo, Kecamatan Loano, Kabupaten  Purworejo, Jawa Tengah  pada 9 Agustus 1969. Bekerja di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Jakarta, berkegiatan di Sastra Reboan di Jakarta dan sebagai Ketua Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.
Beberapa tulisannya banyak dimuat media massa dan antologi bersama. Beberapa kali diundang ke acara Temu Sastrawan Indonesia, Pertemuan Penyair Nusantara, Temu Karya Sastrawan Nusantara, Temu Sastrawan Mitra Praja Utama, Silaturrahim Sastrawan Indonesia, dan lain-lain.
Laman: www.budhisetyawan.wordpress.com dan Pos-El: setyawan.budhi@gmail.com.

Silakan klik Daftar Isi untuk membaca bagian-bagian lainnya.

0 comments: