![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Pernah suatu waktu ada seorang sastrawan menjual buku-buku karyanya dalam sebuah acara sastra tingkat provinsi. Sebutlah namanya Sapu Jagat. Saat itu dia menjadi salah seorang pembicara di sana. Karena kondisi inilah, ia terpaksa tidak bisa menjaga lapak dagangannya tersebut.
Untuk bisa terus berdagang, dirinya mengajak salah seorang sastrawan lain menjaga dan melayani pembeli. Kita sebut saja temannya itu si Udang. Awalnya ia sangat senang karena ada temannya yang mau diajak kerja sama. Namun, apa yang terjadi?
Ketika dirinya selesai mempresentasikan makalahnya, ia terkejut. Lapak dagangannya tidak ada yang jaga. Temannya raib ditelan bumi. Usut punya usut, ternyata ada sastrawan lainnya yang meracuni pikiran temannya tersebut agar tidak mau menjaga lapaknya. Ya, kata-kata racun itu lebih kurang seperti ini, "Anda ini seorang sastrawan yang hebat. Karya-karya Anda sudah melanglang buana. Mau-maunya Anda bekerja begini. Sudah, tinggalkan saja! Tidak pantas Anda menjaga lapak buku kecil ini."
Tentu saja hatinya sedih setelah tahu kronologi kejadiannya. Padahal kurang baik apa dirinya memperlakukan sastrawan penjaga lapak dan sastrawan penebar racun tersebut. Bahkan, si penebar racun itu sering numpang tidur dan makan di rumahnya.
Cerita di atas memang benar-benar nyata. Bukan fiksi. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya kesetiaan dalam berteman. Seorang teman idealnya tetap setia membuat temannya selalu bahagia. Hal ini juga berlaku pula bagi seorang pemimpin. Sebab, pemimpin itu sejatinya adalah teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ada hubungan pertemanan yang baik antarkedua pihak. Dalam konteks kenegaraan, misalnya, presiden dan rakyat harus ada hubungan harmonis agar tercipta negara yang maju.
Presiden harus sering-sering mengunjungi dan mendengarkan segala yang dikatakan rakyatnya, apa pun jenisnya. Kalau berupa kritik, ya diterima dan ditindaklanjuti. Jika berupa permintaan semisal perbaikan jalan rusak, ya segera diperbaiki.
Begitu idealnya sehingga tidak ada jurang pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Kedua pihak saling berteman dan setia. Bukan malah sebaliknya, rakyat dan pemimpin menjadi dua kubu yang saling berseberangan.









0 comments:
Post a Comment