Sunday, April 5, 2026

Profesor Diserang Buzzer Istana? Ah Gila!

Ilustrasi: Pixabay

Konon, salah seorang profesor diserang buzzer istana. Sebelum terjadi penyerangan, profesor itu memberikan masukan kepada seorang presiden yang menghuni istana kepresidenan tersebut. Nah, ternyata sang presiden merupakan seorang yang antikritik. Alhasil, para buzzer diperintahkannya untuk menyerang si profesor. 

Untungnya kejadian di atas tidak terjadi di Indonesia. Coba kalau iya, wah gila bener tu. Gilanya kebangetan. Betapa tidak? Indonesia adalah negara demokrasi. Mana mungkin kedemokrasian dikotori aksi buzzer yang tidak terpuji seperti itu? 

Sebagai negara demokrasi, presiden Indonesia wajib menampung dan memperhatikan semua masukan dari mana pun. Ya, bisa dari kalangan akademisi, praktisi budaya, tokoh agama, tokoh adat, bahkan dari pemimpin negara lain. 

Sebutlah misalnya soal makan bergizi gratis. Presiden Prabowo Subianto tidak boleh menyerang pengamat yang mengkritik program  makan tersebut. Atau mengenai gugurnya tiga Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. Presiden berusia 73 tahun itu wajib menerima masukan demi masukan terkait keselamatan TNI lainnya yang juga tergabung dalam pasukan perdamaian PBB tersebut. Jika sebaliknya, maka Indonesia sudah bukan negara demokrasi lagi. 

Terkait hal di atas, semoga alam demokrasi di negara kita tetap aman. Maksudnya aman di sini tentunya ialah tidak ada penyerangan, tidak ada intimidasi, dan bentuk reaksi hitam lainnya kepada pihak.yang memberikan masukan kepada Presiden Prabowo Subianto.atas roda pemerintahan di Republik ini. 

0 comments: