Friday, November 28, 2025

Menyantuni Para Sastrawan

Ilustrasi: Pixabay

Kata menyantuni selalu saja merujuk pada orang-orang dengan kekurangan atau bahkan ketiadaan materi, baik berupa uang, maupun harta benda. Istilah gaulnya bokek. Benar-benar butuh bantuan. Ya, untuk hidup sehari-hari. 

Lalu apakah sastrawan demikian? Miskin? Bokek? 

Kata sastrawan dalam judul di atas tentu saja dikhususkan pada para sastrawan yang tanpa pekerjaan di luar sastra. Aktivitas yang digeluti hanya sastra dan seputar sastra. Tak ada yang selain sastra. Bisa dikatakan merupakan sastrawan murni. Suatu waktu menulis karya sastra, pada waktu yang lain menjadi juri lomba sastra, pembengkel teater, narasumber dalam pelatihan menulis sastra, dan lainnya. Dari sanalah para sastrawan murni mendapatkan penghasilan. 

Dan, seperti yang kita ketahui, aktivitas-aktivitas di atas tidaklah rutin dilakukan setiap hari. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan sastrawan murni seperti itu juga tidak jelas. Bisa jadi enam kali dalam setahun, tiga kali, satu kali, atau bahkan sama sekali tidak ada aktivitas sama sekali (mengalami strok, misalnya). 

Jika sudah demikian, yang bersangkutan pasti perlu bantuan, yakni berupa morel dan meteriel. Secara morel agar mereka tetap bersemangat dan secara materiel guna kelangsungan hidup yang bahagia. 

Pertayaannya, siapa yang menyantuni para sastrawan murni, khususnya yang sudah berusia senja? 

Pertanyaan di atas memunculkan jawaban yang beragam. Bisa pemerintah, pengusaha sukses, keluarga, atau bisa juga sesama sastrawan yang memiliki pekerjaan di luar sastra dan mapan dalam hal ekonomi. 

Sebenarnya siapa pun boleh menyantuni sastrawan selama uangnya halal dan diberikan dengan hati yang ikhlas. Nah, pertanyaan selanjutnya, sudahkah hal itu dilakukan? Kalau ditanya seperti ini, jawabannya sudah, tapi belum maksimal. Perlu adanya pengelolaan secara khusus dengan orang-orang yang berkompeten dan dapat dipercaya. 

Kalau perlu dikelola dalam sebuah wadah yang permanen. Sebutlah lembaga bantuan sastrawan independen. Harapan kita bersama itu dapat terwujud dengan baik sehingga para sastrawan murni yang sedang tidak baik-baik saja dalam hal ekonomi bisa menikmati hidup layak. 



0 comments: