Saturday, March 20, 2021

Puisi-Puisi Diah Hadaning dalam Buku "Dari Bumi yang Sama"


SUARA - SUARA ITU

derap-derap kereta kuda
menguak pagi dini
terus meretas siang
menutup senja mengambang

saat denting suara gambang
menyapu awang-awang
kau masih berdiri menatap langit

saat nafiri bernada wingit
kau melepas merpati Putih
kabarkan damai pada dunia perih

naga di ufuk timur menggeliat
semburkan aroma wangi api
sinar gaibnya meresap tulang dan nadi
membuat bayangmu berdiri : sejati

Jln. Raya Bogor KM.30, November 2010


DAUN - DAUN YANG BICARA

daun-daun hijau
yang tumbuh sepanjang musim
daun - daun ajaib
yang simpan rahasia kehidupan
daun-daun semesta
yang ujungnya meruncing gaib
yang bergetar setiap fajar
yang berkilau setiap senja

daun-daun
yang diasuh angin pantura
daun-daun
yang tunas dari November ke November
menjadi saksi zaman
pada windu ke delapan
batu pun jadi pualam
biji randu jadi merjan

Jln. Raya Bogor KM.30, November 2010


Tentang Penyair



Diah Hadaning (DIHA ) kelahiran Jepara kota
Kartini ya Bumi Kalinyamat. Menulis
sastra secara otodidak. Serius bersastra khususnya puisi sejak 1970. Selain menulis dalam bahasa Indonesia DIHA juga merilis dalam bahasa daerah (Jawa). 

Dalam proses kreatifnya, beberapa penghargaan diterima antara lain, tahun 1980 dari GAPENA Malaysia, tahun 1994 dari Yayasan EBONI Jakarta untuk puisi pelestarian lingkunagan hidup dan hutan, tahun 2003 dari Lembaga Pusat Pengkajian Kebudayaan JAWI - Surakarta karena masih menulis dalam bahasa daerah, tahun 2010 dari MURI - Indonesia, menulis antologi puisi paling tebal pada usia paling tua
------------------------------------------------------------
Sumber tulisan: buku "Dari Bumi yang Sama dan buku "Akulah Musi"

Sumber foto: Facebook

Sumber ilustrasi: Pixabay


0 comments: