Tuesday, April 16, 2019

Contoh Puisi-Puisi Bertema Politik Karya Penyair Ternama Indonesia



Selama ini terkesan bahwa suara sastrawan seakan lenyap apabila dihadapkan dengan perkara politik di Indonesia. Hampir tak ada dari mereka yang bersuara lantang di televisi atau sekadar melalui gelombang radio dalam memberikan pandangan-pandangan tentang dunia pemerintahan kini dan yang akan datang. Tapi sebenarnya, banyak juga kalangan sastrawan yang bersuara keras mengkritik pemerintahan lewat karya-karya berkualitas mereka.

Di bawah ini ada contoh puisi-puisi bertema politik.

Aku Tulis Pamflet Ini Karya  W.S. Rendra

AKU TULIS PAMFLET INI

Aku tulis pamflet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang


Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamflet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamflet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978


Bunga dan Tembok Karya Wiji Thukul

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi


Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!


Para Pemimpin dari Negeri Bukan Dongeng karya Dorothea Rosa Herliany

PARA PEMIMPIN DARI NEGERI BUKAN DONGENG

Bayi itu telah tumbuh menjadi dewasa.
dan kini menjadi raksasa
hari ke hari ia tumbuh besar, lalu
menggelembung dalam dusta yang indah.

Ia tumbuh dan kuat.
Lalu seperti elang raksasa,
Menancapkan cakar tajamnya.

Maka lihatlah!
Betapa kokoh kepalsuan.

Jakarta, 1998


Tahanan Ranjang Karya Joko Pinurbo

TAHANAN RANJANG

Akhirnya ia lari meninggalkan ranjang.
Lari sebelum tangan-tangan malam merampas tubuhnya
dan menjebloskannya ke nganga waktu yang lebih dalam.

“Selamat tinggal, negara.
Aku tak ingin lebih lama lagi terpenjara.
Mungkin di luar ranjang waktu bisa lebih luas dan lapang.”

Ranjang memang sering rusuh dan rawan kekuasaan
Penuh horor dan teror. Di sana ada psikopat gentayangan
sambil mengacung-acungkan pistol dan berteriak:
“Tiarap. Kau akan kutembak.”
Kemudian ada yang balik mengancam sambil membentak:
“Angkat tangan. Pistolmu tak bisa lagi meledak.”

Ada yang lari meninggalkan ranjang.
Ada yang ingin berumah kembali di ranjang.
Pada kelambu merah ia baca tulisan:
“Ini penjara masih menerima tahanan.
Dijamin puas dan jinak. Selamat malam.”

1999

Saturday, April 13, 2019

Sekilas tentang Teguh Winarsho AS Beserta Karyanya



Sosok sastrawan yang satu ini lahir di Kulonprogo, 27 Desember 1973. Telah banyak menghasilkan cerpen, puisi, esei, dan novel. Karya-karya sastranya, terutama cerpen, tersebar di berbagai media massa cetak dan daring. Media massa cetak yang memuat karya-karyanyaantara lain SKH Kompas, Majalah Horison, Media Indonesia,Nova, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Bernas, Minggu Pagi, Annida, Koran Tempodan Republika.

Adapun buku-buku tunggalnya yang sudah terbit, seperti Di Bawah Hujan (2000), Orang-orang Bertopeng (2002)Bidadari Bersayap Belati (Gama Media, 2002), Perempuan Semua Orang (Ar-Ruzz, 2004), Kabar dari Langit (Syaamil, 2004), Tato Naga (Grasindo, 2005), dan Tunggu Aku di Ulegle (2005).

Selain itu, karya-karyanya juga terkumpul dalam antologi bersama Kepak Merpati (1996), Tamansari (1998), Aceh Mendesah dalam Napasku (1999), Embun Tajali (2000), dan Waktu Nayla (2003).

Berikut sebuah cerpen karya Teguh Winarsho AS.

Ramadan Ayah

RAMADAN selalu membuat kampung kami bergairah. Orang-orang seperti berlomba memperbanyak ibadah. Bahkan, banyak di antara mereka yang sebelumnya tak pernah datang ke masjid, tiba-tiba di Bulan Ramadan ini rajin ke masjid. Tapi sayang, Ayah, laki-laki tua yang suka mendengus dan meludah, tetap tidak berubah. Setiap malam Ayah masih suka begadang di gardu ronda dekat pasar, sibuk memelototi kartu ceki dan sedikit minum alkohol; mabuk. Pulang jam lima pagi dengan langkah gontai dan mata merah, berpapasan dengan orang-orang yang baru pulang dari masjid.

Kami, anak-anaknya, sebenarnya malu melihat tingkah laku Ayah. Tapi kami tak berani memperingatkannya. Kecuali kami siap mendapat tamparan di pipi atau tendangan di pantat. Dan begitulah, kami, aku dan kedua adikku, tumbuh sebagai anak-anak yang terkesan pendiam dan patuh pada orang tua. Meski kepatuhan kami terutama pada Ayah karena terpaksa. Tapi, itu tidak masalah. Karena bagi kami, yang terpenting adalah menghindari tamparan dan caci maki Ayah yang sering mengundang perhatian tetangga kanan kiri. Dan itu artinya kami tidak menyakiti perasaan Ibu. Sebab, di antara kami, Ibulah yang paling banyak menanggung malu jika Ayah marah-marah sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.

Ibu adalah kesejukan embun di pagi hari. Tatapan matanya menentramkan hati kami. Menyegarkan kekeringan jiwa kami. Ibu laksana batu karang yang berdiri kokoh di tengah empasan gelombang. Ibu tak pernah marah meski perlakuan Ayah demikian menyakitkan. Ibu tertunduk diam, dan paling-paling hanya menangis sesenggukan ketika Ayah memarahi, membentak-bentak, bahkan menamparnya. Mungkin bagi Ibu, kepatuhan pada suami merupakan nilai ibadah tersendiri. Entahlah.

Sayang, orang yang sangat kami sayangi itu lebih cepat pulang ke pangkuan-Nya. Ramadan tahun lalu, Ibu meninggalkan kami untuk selama-lamanya ketika sesungguhnya kami masih sangat membutuhkan kehadirannya. Dan mungkin itulah awal petaka yang menimpa keluarga kami. Ayah semakin jarang berada di rumah. Selain menghambur-hamburkan uang di meja judi, Ayah juga mulai berani main perempuan. Bahkan, beberapa kali Ayah sempat membawa perempuan menginap di rumah. Kami sangat tersiksa melihat kelakuan Ayah. Tetangga kanan kiri sepertinya juga jijik melihat keluarga kami.

Sedikit demi sedikit perabotan rumah tangga dijual Ayah. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap hampa ketika Ayah dan beberapa temannya datang dengan membawa truk lalu mengangkut meja, kursi, almari, dan barang-barang berharga lain. Seorang teman Ayah bilang pada saya, bahwa Ayah kalah judi jutaan rupiah sehingga barang-barang tersebut harus disita.

Dulu saya mengira Ayah akan berubah menjadi baik sepeninggalnya Ibu. Saya masih ingat bagaimana pesan terakhir Ibu pada Ayah, hanya beberapa menit sebelum ajal menjemput. Ketika itu, kami anak-anaknya dan juga Ayah ada di samping Ibu yang terbaring lemah di atas ranjang. Dengan terputus-putus Ibu bilang pada Ayah, agar mau menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Ayah diam tak berkutik. Dan baru kali itu saya lihat Ayah yang biasanya garang dan angker mendadak berubah lembut. Sorot matanya redup seperti menyiratkan kesedihan dan penyesalan.

Ternyata kesedihan Ayah tak berlangsung lama. Hanya tiga minggu setelah Lebaran, Ayah mulai pada kebiasaan lamanya. Bahkan semakin bertambah parah.

***

TAK tahan mendengar gunjingan tetangga kanan kiri, saya memberanikan diri mengingatkan Ayah agar mau melaksanakan pesan terakhir Ibu, setidaknya bersikap baik di Bulan Ramadan ini. Tapi Ayah justru tertawa, katanya, "Kamu pikir kalau aku puasa lantas kita akan jadi kaya, heh? Kamu rajin puasa, bahkan puasa Senin-Kamis, tapi apa Tuhan terus ngasih duit sama kamu? Kamu masih tetap miskin. Sudahlah, aku nggak mau ngomong lagi soal itu. Aku mau puasa atau tidak, itu urusanku sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur!"

Lain kali pernah juga saya bilang pada Ayah bahwa puasa itu tujuannya bukan untuk mencari rezeki, bukan agar bisa kaya raya, tapi semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah karena dengan begitu akan terhindar dari perbuatan tidak terpuji. Tapi Ayah justru marah-marah. Sambil menggebrak meja, Ayah bilang, "Anak kemarin sore, tahu apa kamu tentang hidup! Hidup itu makan. Dan makan itu perlu duit!"

Sejak itu saya tak pernah bercakap-cakap dengan Ayah. Saya benar-benar muak melihat kelakuannya. Apalagi kalau dia membawa perempuan yang entah dari mana asalnya menginap beberapa hari di rumah. Meski kami masih sering bertatap muka, tapi kami sudah seperti orang asing saja. Dan saya juga tahu ada sorot kebencian di mata Ayah ketika sedang menatap saya. Tapi saya tak acuh, cuek.

Berbeda dengan saya, kepada dua orang adik saya, Ayah bersikap biasa-biasa saja. Apalagi kepada Fiz adik bungsu. Saya sering melihat mereka bertiga asyik ngobrol di teras rumah. Saya tidak tahu dan memang tidak ingin mencari tahu apa yang sedang mereka obrolkan. Karena tiba-tiba saya juga benci pada dua orang adik saya itu. Di mata saya, Fiz dan Burhan yang lugu, polos, dan masih bersih itu, telah berkomplot dengan Ayah. Berkomplot dengan segala kebejatan moral Ayah. Saya benci mereka!
Jadilah saya tak punya orang dekat lagi di rumah.

***

SUATU pagi, saat pulang kerja lembur, saya terkejut mendapati suasana rumah yang lain dari biasanya. Dari pintu depan tiba-tiba Faiz berlari menyongsong saya dan sambil terisak-isak ia bilang bahwa Ayah meninggal dunia. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya ada dalam benak saya, sebab sedikit pun saya tidak terkejut mendengar kabar itu. Saya juga tidak merasa sedih kehilangan Ayah. Biasa-biasa saja seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Saya kemudian masuk ke dalam rumah. Tapi sepi. Tidak seperti layaknya kalau ada kematian. Hanya ada beberapa tetangga dan teman-teman dekat Ayah yang sering mangkal di gardu ronda. Saya maklum, orang-orang tentu banyak yang tidak menyukai Ayah. Karenanya wajar jika ketika meninggal pun mereka enggan datang ke rumah kami.

Jenazah Ayah sudah dimasukkan ke dalam peti. Sedikit pun saya tak ingin melihatnya. "Untuk apa?" jawab saya enteng, sekenanya, yang langsung disambut tatapan aneh beberapa orang di sekitar saya.

Dan entah, tiba-tiba saya merasakan ada seseorang merenggut lengan saya, kuat, ditarik masuk ke dalam kamar.

"Huss! Jangan bikin malu! Ayahmu tertabrak truk ketika sedang menyeberang jalan, mau salat Subuh! Dua hari sebelumnya Ayahmu bilang padaku kalau dirinya sudah tobat!" ucap Haji Biran sampai di dalam kamar.

Salat Subuh? tanya saya dalam hati, kaget, tak percaya. Sementara Haji Biran keluar meninggalkan saya, saya masih terpaku di tempat. Saya bingung, gelisah, sedih, kecewa, dan entah apalagi perasaan yang menyesak dalam benak saya.

Sampai tiba upacara pemberangkatan jenazah, rumah saya masih sepi. Yang hadir hanya itu-itu saja, tidak lebih enam belas orang. Itu pun lebih banyak bekas teman-teman main judi Ayah. Wajah mereka tampak sedih. Entah kesedihan yang bagaimana. Tapi, saya masih sempat mendengar bisik-bisik di antara mereka, "Untuk menghormati Wongso, si mati, tak ada salahnya nanti malam ketika orang-orang tarawih di masjid, kita main kartu di sini!" "Ide bagus!"

Yang lain mengangguk-angguk.

***

Depok, 2006

Dari berbagai sumber

Tuesday, April 9, 2019

Mengenal Lebih Dekat Sosok Sastrawan Amien Wangsitalaja




Pria kelahiran Wonogiri, 19 Maret 1972 ini bernama asli Aminudin Rifai. Ia seorang sarjana dan magister sastra yang telah menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media, baik media massa cetak, maupun berbagai buku antologi (antologi bersama dan tunggal). Sebut saja Majalah Sastra Horison, Harian Kompas, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Republika, Media Indonesia, Jurnal Puisi, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Panjimas, Matabaca, Jurnal Nasional, dan harian-harian lokal di Lampung, Riau, Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan dengan senang hati memuat karya-karyanya.

Lalu, bagaimana puisi-puisinya dalam buku antologi?

Ada beberapa antologi bersama yang memuat puisi-puisnya antara lain,
1. Serayu (CV Harta Prima, Purwokerto: 1995), 
2. Oase (Titian Ilahy Press, Yogyakarta: 1996), 
3. Fasisme (Kalam Elkama, Yogyakarta: 1996), 
4. Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta: 1996), 
5. Antologi Puisi Indonesia (Angkasa, Bandung: 1997), 
6. Tamansari (DKY, Yogyakarta: 1998), 
7. Embun Tajalli (DKY, Yogyakarta: 2000), 
8. Malam Bulan (MSJ, Jakarta: 2002), 
9. Bentara: Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, Jakarta: 2003), 
10. Mahaduka Aceh (PDS H.B. Jassin, Jakarta: 2005), 
11. Ziarah Ombak (Lapena, Aceh, 2005), 
12. Perkawinan Batu (DKJ, Jakarta, 2005), 
13. Yogya 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2006), 
14. 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006), 
15. Kenduri Puisi (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2008), 
16. Tanah Pilih (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jambi, 2008), 
17. Antologia de Poeticas (Kumpulan Puisi Indonesia, Portugal, Malaysia (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008), dan 
18. Antologi Puisi Penyair Nusantara Musibah Gempa Padang (eSastera Enterprise, Kuala Lumpur, Malaysia, 2009).

Sedang buku kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit, yakni Seperti Bidadari Aku Meminangmu Buyung (1995), Kitab Rajam (Indonesiatera, Magelang: 2001), dan Perawan Mencuri Tuhan (Pustaka Sufi, Yogyakarta: 2004).

Ada esai-esainya yang terbit dalam antologi esai bersama, yakni Begini Begini dan Begitu (Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1997) dan Raja Mantra Presiden Penyair (Yayasan Panggung Melayu, Jakarta: 2007).

Sementara beberapa cerpennya juga dimuat dalam antologi cerpen 
Bingkisan Petir (Jaring Penulis Kaltim dan Penerbit Mahatari, Yogyakarta, 2005), Rabingah Aku Mencintaimu (Grafindo Media Litera Yogyakarta dan STAIN Purwokerto Press, 2007), Samarinda Kota Tercinta (Jaringan Penulis Kaltim dan Araska Yogyakarta, Yogyakarta, 2007).

Selain menulis seperti tersebut di atas, ia juga menulis kata pengantar untuk beberapa buku. Di antaranya adalah untuk buku Hujan Menulis Ayam (kumpulan cerpen Sutardji Calzoum Bachri, Indonesiatera, Magelang, 2001), Surat Putih (kumpulan puisi perempuan penyair Indonesia Risalah Badai, Jakarta, 2001), Perjalanan Hati karya Ririe Rengganis (Logung Pustaka, Yogyakarta, 2004), dan Negeri Terluka (kumpulan puisi perempuan penyair Indonesia, Risalah Badai, Jakarta, 2005).

Dalam pertemuan sasterawan antarnegara “Dialog Borneo-Kalimantan VIII” pada Juli 2005 di Sandakan, Sabah, Malaysia, ia bertindak sebagai pembentang kertas kerja dan pembaca puisi. Pada tahun yang sama, ia berkemsempatan menjadi pemakalah dalam “Seminar Kritik Sastra” Pusat Bahasa Depdiknas pada September 2005 di Jakarta.

Dirinya pernah tiga kali diundang membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kapan sajakah ketiganya itu? Pertama pada acara “Mimbar Penyair Abad 21” (1996), kedua “Baca Puisi Tiga Kota” bersama alm. Hamid Jabbar dan Iverdixon Tinungki (2003), dan ketiga “Cakrawala Sastra Indonesia” (2005).

Di luar aktivitasnya sebagai penulis, Amien sempat menjadi pekerja media dan perbukuan; menjadi Pemred Majalah Empu Yayasan Tjoet Nja’ Dhien Yogyakarta (1998), Redaktur Jurnal Budaya Kolong (2001), Pengurus Jurnal Cerpen Indonesia (2003-sekarang nonaktif); Kepala Editor Penerbit YUI Yogyakarta (1999-2000), Kepala Editor Penerbit Indonesiatera Magelang (2000-2002), editor lepas di beberapa penerbit Jakarta dan Yogyakarta, anggota Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kebudayaan Kota (DKK) Kotamadya Yogyakarta untuk periode kepengurusan 2003-2008, tapi pada awal 2004 ditinggalkannya amanah tersebut karena berangkat menjadi peneliti di Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

Di tempat barunya, Kaltim, ia mendirikan Jaring Penulis Kaltim (JPK), Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Samarinda, dan menjadi kontributor pendirian Studio Kata Bontang. Ia juga sempat menjadi pengasuh program ruang sastra di Antaranews Radio FM 91.7 Samarinda.


Penyair Segala Bangsa Diundang Menulis Puisi dalam Memeriahkan Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival 2019



Tahun ini Panitia Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival kembali mengundang para penyair untuk menulis puisi. Kali ini tidak sekadar mengundang penyair Indonesia, tetapi juga penyair segala bangsa. Tertarik menulis dan mengirimkan puisi ke panitia penyelenggaranya?

Berikut adalah  syarat dan ketentuannya. Cermati secara saksama.

1. Terbuka untuk penyair segala bangsa (umum).
2. Puisi asli, karya sendiri, dan belum dipublikasikan di media mana pun.
3. Ditulis dalam bahasa Indonesia atau serumpun.
4. Puisi dapat mengambil tema apa saja.
5. Mengirim satu puisi terbaik disertai biodata, kartu identitas, nomor ponsel (Whatsapp) ke alamat pos-el/email: bjblitfest@gmail.com.
6. Batas pengiriman puisi paling lambat tanggal: 4 Juli 2019.
7. Puisi yang lolos kurasi akan dimuat dalam buku antologi puisi Dwibahasa (translasi ke bahasa Inggris diusahakan panitia).
8. Antologi puisi akan diluncurkan pada acara pembukaan Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival 2019 tanggal 29 November 2019.
9. Tiga penyair yang terpilih akan diundang ke festival dan ditanggung transportasi ke/dari Banjarbaru, selama mengikuti festival disediakan akomodasi.

Informasi selanjutnya silakan hubungi Panitia Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival 2019 melalui pos-el tersebut di atas.  

Saturday, April 6, 2019

Bekerja di dalam Negeri atau Mengabdi untuk Negeri Orang Lain?



Urusan kerja sering sekali dikaitkan dengan perkara perut. Bahkan, ada ungkapan bekerja keras demi sesuap nasi. Itulah sebabnya, tak jarang pula ketika masih dalam masa prakerja, banyak orang sudah berpikir tentang gaji yang memuaskan.

Dari pemikiran yang berpusat pada materi itulah, sebagian orang rela meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota atau negara lain. Ada yang menjadi asisten rumah tangga hingga pejabat penting dan terhormat. Tapi, apakah semua melulu materi?

Mungkin ada alasan selain itu. Terlebih dalam hal prakerja. Ketika di desa tidak ada perguruan tinggi, sangat wajar orang bermukin di kota atau luar negeri untuk menuntut ilmu. Dan fokus sebagian dari mereka adalah belajar, bukan sekadar gaji saat bekerja kelak. Kemudian setelah lulus kuliah, mereka membangun desanya, tanah airnya.

Lantas, mana yang lebih ideal, bekerja di dalam negeri atau mengabdi untuk negeri orang lain?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan itu, di sini ada ulasan singkat tentang sebuah novel berkaitan dengan perkara kerja ini. Judulnya Tengah Hari di Spijkenisse. Di manakah Spijkenisse? Bisa dikatakan Spijkenisse adalah sebuah kotamadya yang berada di  Provinsi Zuid Holland atau Holland Selatan. Provinsi itu bisa juga disebut Holandia Selatan yang  terletak di sebelah barat Belanda. Dengan kata lain berada di luar negeri bagi orang Indonesia.

Secara singkat novel ini berisi sebuah kisah seorang pemuda Indonesia bernama Aryo yang bekerja sebagai asisten seorang terapis senior, Mark, di kotamadya itu. Sebagai terapis senior, Mark memberikan banyak ilmunya kepada Aryo dalam bidang fisioterapi. Hari-harinya diisi dengan pekerjaan menerapi pasien demi pasien di sana. Meski disibukkan dengan pekerjaan, rasa rindu kepada keluarga di Indonesia tentu menggelayuti hatinya. Terkadang dia juga sedih saat menerapi pasien-pasien itu karena teringat bapaknya yang juga sedang sakit tanpa dirinya di sana (baca: di dekat ayahnya). Ini sebuah sayatan batin yang tak bisa diobati hanya sekadar berbicara lewat saluran telepon atau telekomunikasi lainnya.

Untunglah di Spijkenisse ia juga memiliki kenalan bernama Frederica. Siapa dia? Adalah seorang perempuan yang membuat Aryo gugup dan salah tingkah. Wajar saja demikian karena pemuda Indonesia itu belum pernah berhubungan dekat dengan perempuan, apalagi berpacaran. Novel yang ditulis Redhite Kurniawan ini mengalir lancar dengan bahasa yang mudah dimengerti. Pria kelahiran Lumajang, 18 Desember 1977 tersebut menyajikannya dengan apik. Mungkin pengalaman menulisnya lah dan juga suntingan Nadya Andwiani sehingga novel berjumlah halaman 300-an itu menarik untuk dibaca dan diapresiasi.

Khusus mengenai pertanyaan yang menjadi judul di atas, agaknya kita kembalikan ke individu masing-masing saja. Terpenting, tetap Indonesia dan terus memajukan negeri ini dengan cara terhormat dan bermartabat.


Thursday, April 4, 2019

Singkatan MRT Versi Indonesia, Masihkah Dilafalkan [em-a:-ti] atau Sudah Berubah?



Em-a:-ti sengaja diapit kurung siku karena merupakan tulisan fonetik. Tiga bunyi bahasa tersebut keluar dari mulut kita saat melafalkan singkatan dari bahasa Inggris mass rapid transit. Lalu bagaimanakah dengan singkatan MRT versi Indonesia?

Berikut ada ulasan singkat dari Iwan Fauzi yang merupakan salah seorang dosen di Jurusan Bahasa dan Seni, Universitas Palangkaraya mengenai hal itu.  

Bahasa Indonesia memang selalu tak pernah ketinggalan dalam beradu istilah dengan bahasa asing (e.g. English). Dulu ada singkatan ATM sebagai singkatan dari automatic teller machine. Namun, para pecinta bahasa Indonesia tak kalah bestari membuat istilah baru sebagai penggantinya. Adalah “anjungan tunai mandiri” sebagai kepanjangan dari singkatan ATM untuk bahasa Indonesianya yang terasa elok didengar di telinga kita orang Indonesia.

Hari ini ada lagi singkatan baru, MRT (mass rapid transit). Lagi-lagi ini istilah yang sama dipakai di kawasan negara Asean seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang sudah lebih dulu memakai nama serupa untuk menyebut moda transportasi cepat ini. Para pegiat Bahasa Indonesia pun lagi-lagi seperti “menggatal”telinga mereka mendengar istilah ini karena semakin hari semakin populer di media. Masih belum tuntas kesepakatan berapa tarif yang sepatutnya dibebankan kepada pengguna angkutan cepat ini tetapi kaum pereka bahasa sudah simpul menciptakan istilah baru untuk singkatan MRT dalam Bahasa Indonesia.

Adalah “Moda Raya Terpadu” yang menjadi sandingan kepanjangan singkatan asingnya. 
Nice kedengarannya, tetapi jangan lupa juga untuk mengubah cara menyebut MRT itu sendiri. Ia sudah bukan [em-a:-ti] lagi tetapi [em-er-te] yang dibaca dengan lidah orang Indonesia, sebab ia sudah menjadi singkatan bahasa Indonesia.

Monday, April 1, 2019

WAW, #BACAJAKARTA 30 HARI, GERAKAN LITERASI SEJAK DINI!



Sering kita mendengar masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Tapi apa jadinya jika mereka enggan memperkaya pengetahuan lewat membaca?

Demikian penggalan kata-kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam halaman di akun miliknya faceboknya berkenaan dengan gerakan #BacaJakarta 30 hari, yakni 1—30 April 2019.  

Gerakan ini dilatarbelakangi dari Peraturan Gubernur DKI Jakarta No.76/2018 tentang Pembudayan Kegemaran Membaca. Berangkat dari situ, pelaksanaannya dengan mengembangkan peran dan fungsi perpustakaan dan memotivasi anak-anak Jakarta agar gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, dan mengasah kemampuan literasi.

#BacaJakarta 30 hari ini, seperti terlansir di laman Dispusip, bertujuan menjadikan membaca menjadi gerakan bersama yang menyenangkan, meningkatkan interaksi antara pembaca dengan ruang baca agar terbentuk generasi sadar literasi, mengapresiasi dan membangun kultur literasi pada anak usia 1—12 tahun, membangun infrastruktur nonfisik, dan mengapresiasi ruang baca, para pegiat literasi, komunitas, dan relawan.   

Mengenai kegiatannya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta bekerja sama dengan taman bacaan dan perpustakaan-perpustakaan lainnya di Jakarta untuk mengadakan kegiatan membaca bersama selama 30 hari (tanggal tertulis di atas). Khusus anak-anak usia 7—9 tahun, minimal membaca selama 15 menit per hari plus menuliskan pengalaman memilih dan  memahami buku yang telah dibaca dalam wujud peta cerita.  Sementara untuk anak-anak usia 10—12 tahun, minimal membaca 30 menit per hari selama 30 hari itu dan juga membuat peta cerita.

Para pesertanya akan diberikan booklet yang akan dicap oleh petugas ruang baca setiap kali mereka menyetor peta cerita. Kemudian, di penghujung bulan membaca nanti, peserta terpilih akan bertemu Gubernur DKI Jakarta dengan membawa bukti booklet yang sudah dicap tersebut.