Bagian Ketujuh

 

BOLEHKAH AKU MENGIRA

Bolehkah aku mengira
bahwa kebaikan itu seperti mentari
tak peduli pada siapapun yang menyuka dan membenci
tak henti sinarnya terus menerangi

Bolehkah aku menyangka
bahwa kejujuran itu seperti pelangi
meski hujan mengguyur sepanjang hari
begitu tampak indah memukau warna-warni

Bolehkah aku menganggap
bahwa ketulusan itu seperti berlian
meski tertutup debu-debu dusta dan buruk sangka
kilaunya tak pernah padam

: maka biarlah kebaikan, kejujuran dan ketulusan tetap tumbuh di hati
meski sering menuai duka dan sakit hati

Semarang, 26 September 2015

 

SENJA

Di rembang senja
angin lirih bercengkerama
dedaunan mengangguk seirama
gurat jingga masih samar tereja

Nun jauh bebukitan gersang
merindu hujan yang tak segera bertandang
hingga debu-debu riang
beterbangan menyesak pandang

Di penghujung september
hujanpun masih enggan menyapa
serasa himpitan rindu yang menggelora
namun tersimpan rapi di dada

Bilakah kau kan tiba
serupa hujan pertama

Semarang, 29 September 2015


SISA PURNAMA

Bulan renta
tersenyum tipis di ufuk barat
lambaikan salam perpisahan pada mentari
yang menyambut dengan senyum penuh seri
begitulah cara mereka saling mencintai
berbagi peran dalam harmoni

Sayang, lihatlah biru gunung ungaran
menjadi saksi kesetiaan
pada sebuah janji yang telah diikrarkan
untuk berganti siang dan malam

Pagi yang lengang
cicit burungpun masih enggan
namun angin melenggok perlahan
hingga dedauan mengucap salam

Bulan semakin pucat
sisa purnama tersaput pagi
merelakan sang waktu mengajaknya bermimpi
untuk tunaikan janji
esok lusa berjumpa lagi

Semarang, 30 September 2015

  

KETIKA KEMBALI

Waktu kadang begitu bersahabat
melenyapkan rasa sakit yang pernah menyayat
menguarkan bilik-bilik kenangan yang pernah memekat
melegakan ingatan dari pedih perih langkah yang pernah melekat

Waktu sungguh sering membuat termangu
perjalanan panjang puluhan tahun terasa semu
luka-luka masih membekas biru
namun laranya tak lagi memilu

Saat waktu begitu baik dan ramah
mengingatkan hanya saat-saat yang indah
haruskan dipertanyakan kenapa begitu
bukankah cukup dengan mensyukurinya sepanjang waktu

Waktu menjadi sahabat sejati saat kau kembali
membingkai ribuan kenangan yang tak pernah mati
bahwa sejatinya cinta barangkali hanyalah persatuan jiwa
biarkan keindahan itu abadi dan sempurna seperti adanya

Semarang, 4 Oktober 2015

 

PAGI INI DENGAN SECANGKIR KOPI

Mentari menyengat garang
meski pagi rasanya baru bertandang
secangkir kopi mengepulkan asap mewangi
herannya aromanya tak bersemayan di hati

Terbayang gelapnya asap
menyesak dada dengan segudang pengap
serasa tersesat dalam lorong gelap
meski hanya melihat dalam pemberitaan yang gegap

Sahabatku nun di bumi Sriwijaya bercerita
tak ada beda pagi siang ataupun gulita
bukan lagi kepedihan di mata
menyesak ulu hati dan jiwa
kantor-kantor dan sekolah diliburkan
namun
apakah perut-perut juga libur dan tak perlu makan
apakah derita penyakit juga libur dari pengobatan dan perawatan

Rasa pengap seakan menjelma
hingga kopi pagiku tak beraroma
tapi apalah daya
hanya sekuntum doa
semoga sang Pemilik segenap hati manusia
masih berkenan memberikan secercah cahaya
beningkanlah hati penguasa dan sang dur angkara
agar berhenti dan menghentikan petaka

: segeralah berlalu kabut asap di bumi Nusantara

Semarang, 9 Oktober 2015

  

SURAT UNTUK KEKASIH

Entah sejak kapan kutuliskan
gurat jingga pagi berembun
saat seekor burung kecil berciap mengepakkan sayapnya
atau kilau merah saga
di suatu senja
saat mentari pulang ke pangkuan malam

kutuliskan pula birunya langit bertabur bintang
saat bulan enggan bertandang
atau mega berarak laksana bunga-bunga kapas tertiup bayu
dan saat bulan berkenan leledhang di angkasa raya
lebih banyak lagi kutuliskan semua kisahnya

Saat hujan mericik
melagukan lantunan rindu mengalun syahdu
saat kemarau panjang tanah gersang pohon-pohon meranggas tinggal batang

Tak terlewatkan semua kutuliskan
agar kau rasa jua semua jejak yang terlewatkan
biarkan saja suka duka tawa dan air mata ikut mewarna
karena itulah kehidupan

Jika suatu saat nanti suratku kau terima
semoga tak ada sedetikpun jeda
yang melewatkan kisah kita

Semarang, 16 Oktober 2015 

 

SELAMAT MALAM SAYANG

Ingin kutuliskan sebait sajak rindu
yang melukiskan segenap rasa
impian dan asa
dan kukirim lewat mimpimu
agar saat kau terjaga
hanya aku yang di hatimu

Ingin kutulis kidung cinta
pada selembar harap yang telah menua
namun tak pernah pasrah pada usia
karena senyatanya
cinta tak pernah usang
meski badan telah merenta

Sayang
aku tak punya kata
yang mampu melukis segenap rasa
tak jua punya nada
untuk menggubah melodi di hati
yang melukiskan keanggunan mimpi

Hanya selembar doa
dan seulas sapa

: Selamat malam, Sayang...

Semarang, 27 Oktober 2015 

 

RINDUKU DI PENGHUJUNG OKTOBER

Aroma tanah basah serasa lesap di hati
perlahan menyusup ke relung sanubari
sungguh anugerah indah tak terperi
serasa kehadiran kekasih hati

Gerimis pertama di penghujung oktober
debu-debu luruh
daun-dauh bersimpuh
kemilaunya menguarkan rasa syukur yang teduh

Gerimis mengiringi senja
tanah-tanah gersang tersenyum bahagia
menguarkan aroma syukur yang nyata
hingga rumput-rumputpun merayakannya

Rinduku di penghujung bulan
terbasuh riuh titik hujan
meski akan tetap tersimpan
menjadi rindu yang takberkesudahan
hingga batas penantian

Semarang, 30 Oktober 2015 

 

ANGAN

Siapakah yang selarut ini mengetuk pintu hati
membawa sedekap rindu yang tak lelah bertalu
melagukan simphony pilu
mengiringi pekatnya malam

Kubukakan jendela jiwa hingga rindu itu mengalir memenuhi relungnya
semoga meresap menghantar mimpi
hingga kepasrahan diri menyejukkan hati

Semarang, 1 November 2015 

 

SISA HUJAN PAGI INI

Rupanya malam berlalu diiringi derasnya hujan
namun aku sudah jauh berlayar ke alam mimpi
hingga hanya bisa menikmati sisanya di pagi ini

Tanah-tanah masih basah
dedaunan bercahaya diterpa kemilau mentari
serinya sungguh sejukkan hati
hingga tak tersisa lagi derita kekeringan selama ini

Anginpun sejuk menerpa
menyusup ke segenap relung jiwa
sungguh keindahan pagi yang tak terhingga

Begitulah siklus kehidupan
kering kerontang tak kan selamanya bertahan
akan ada hujan yang sejuk menggantikan
menghilangkan segenap dahaga dan kekeringan

Maka kenapakah harus bertahan dalam hati yang kelam
Bukankah akan selalu muncul mentari yang cerah dan menghangatkan

Semarang, 6 November 2015

  

KABARNYA TURUN HUJAN DI KOTAMU

Kabarnya turun hujan di kotamu
sedang apakah kau kini
memandang rintiknya turun satu-satu
bergegas ke teras kau julurkan setangkup tanganmu
merasakan segarnya hujan pertama
dan membiarkan segarnya menyejukkan jiwa

Atau kau tercenung di depan jendela
menikmati rinainya berpesta pora
menenggelamkan ingatan pada kenangan lama
yang mengalir indah semerdu hujan berirama

Kabarnya turun hujan di kotamu
tahukah kau dalam riciknya kutitipkan rindu
biarkan sejuknya mengajakmu bertandang
pada kenangan yang telah lama menghilang

:berjanjilah tak akan mengusirnya pergi
karena hanya itulah kini yang kita miliki

Semarang, 6 November 2015

 

AKU MELIHAT CINTA

Malam itu aku melihat cinta
menyembul dari setiap jiwa
beresonansi dari hati ke hati
menggema membahana
ke angkasa raya

dari perjalanan gersang dan tandus
kutemukan oase teduh
menawarkan kesejukan damai
dalam riak irama hidup

malam itu aku terbius cinta
dan karam dalam keagungannya

Catatan dari Negri Laut

Tegal, 28 November 2015

 

PAGIKU SEMPURNA SAAT KAU MENYAPA

Kau mungkin tak paham
mengapa selalu kudekap kenangan
meski serasa pedang menghujam
perihnya telah lama karam

seperti pagi ini
setia menanti terbitnya mentari
meski embun pagi kan segera pergi
beningnya tertinggal di hati

jalan berkelok itu telah lama terlampaui
hingga kaki-kaki terbiasa mendaki
sesaknya napaspun serasa berirama kini
saat di ujung jalan kau setia menanti

seperti pagi yang lalu
kutunggu kau dengan segenap rindu
meski hanya sekedar sapamu
tapi sempurnakan pagiku

Semarang, 6 Desember 2015 

 

KETIKA HUJAN DI KOTAMU

Ketika hujan di kotamu
aku ingin menjelma serupa awan
jatuh meluncur mengetuk jendela kamarmu
perlahan kau membukanya
dengan teduh tatapmu menerawang ke perjalanan masa

ketika hujan di kotamu
kuingin menelusup ke dalam kenangmu
hingga rintik hujan yang merinai
membuatmu tersenyum damai

Ketika hujan di kotamu
kuingin duduk di sampingmu
bersama memandang butiran hujan meluruh
merangkai kembali mimpi-mimpi yang pernah jatuh

Semarang, 15 Desember 2015 

 

SEJAK SAAT ITU

Entah ke mana angin berarah
saat langkah mulai goyah
tergerus kenyataan-kenyataan pedih
meski telah diniatkan untuk memilih

Entah berapa jauh jarak terlewat
sepasang kaki berkarat
kelelahan menapaki jaman yang tak ramah
tersadarkan bahwa janji-janji hanya hiasan pemanis wajah

Entah berapa luka pernah tercipta
silih berganti sembuh dan bernanah
mencoba menghayati janji yang telah terlanjur disepakati
yang ternyata menyerimpung kaki
membuat langkah terhenti

Sungguh saat itu ingin takluk
menyerah di jalan yang terlanjur terpuruk
tapi sepasang tangan terulur merengkuh
dikirim dari suatu musim bunga flamboyan mengembang
dibiarkannya rebah di bahu yang pengkuh
sesaat melenakan lelah yang merapuh

Sejak saat itu
langkah kembali melaju
meski satu-satu

Semarang, 18 Desember 2015 

 

MALAM INI KUTULISKAN PUISI

Tetes air hujan kembali mengetuk kaca jendela
pada malam yang beranjak tua
ketukannya seolah berirama
lantunkan tembang pelipur lara

di sini kata demi kata kueja
kurangkaikan dengan benang kenangan
hanya sebuah tanda
rentang waktu tak menghapus ingatan

jika dahulu rindu pernah bertatap muka
merangkai benang-benang impian
maka kinipun tak ada yang beda
untaian kasih masih tertanam

tetes hujan makin riuh bertabuh
kenanganpun semakin rapat berlabuh
mengapakah harus tangisi
perjalanan masa yang telah jauh terlewati
di sini aku hanya ingin menulis puisi
kukirim lewat getaran hati
bahwa cinta tak pernah mati

Semarang, 19 Desember 2015

  

KAMPUNG HALAMAN

Di sini waktu serasa berhenti
aku tenggelam dalam lubang yang bernama kenangan
lipatan waktu serasa melayang
masa kanak-kanak lekat membayang

suara jengkerik berderik riuh
mengisi lengang malam menjelang
berkelebat aneka bayangan
menyesak di sudut jiwa

serasa masih terngiang
riuh kanak-kanak bermain di halaman
gobak sodor, petak umpet...ular naga
saat purnama tersenyum riang di angkasa
mimpi-mimpi begitu penuh warna
menghela jiwa yang tengah mencari jati dirinya
 

rumah tua ini masih sama
rimbun bambu yang gemerisik ditiup angin
barisan pohon singkong
juga pohon kedondong lebat buahnya
 

tapi kenapa rasa sepi begitu mendera
jauh kurencana untuk memelukmu di sini
segenggam rindu yang tak pernah pergi
hingga menyesak di dada dan tak ada ruang tersisa
 

mungkin memang di sini
di rumah tua
di kampung halamanku
tempat aku dilahirkan di salah satu ruangnya
suatu saat genap kutemukan
kepingan jiwa yang kelelahan
menyatu dan kembali bersama

Sragen, 27 Desember 2015


DI PENGHUJUNG DESEMBER

Apa yang bisa kutuliskan
untuk mencatatkan setahun perjalanan
jika semua halaman
hanya tentang dirimu

Bukan tanpa aral melintang
perjalanan tahun ini
terpuruk tersuruk pada kegagalan yang paling gagal
tapi hatiku telah lapang menerima
karena hadirmu selalu menguatkan hatiku

Bulan-bulan penantian
berujung kekecewaan
tapi kau membuatnya menjadi sebuah harapan
agar hidup terus berwarna
dan semangat tak pernah sirna

Desember telah melambaikan perpisahan
aku ingin melepas dengan senyuman
teriring untaian doa pengharapan

Semarang, 31 Desember 2015

  

MENERAWANG

Di kejauhan gunung ungaran membayang
atau perbukitan sigar bencah yang berdinding rumah-rumah mungil yang meruah
juga hijaunya bukit-bukit di kejauhan entah bernama apa
angin sepoi menyapa lembut

Sungguh ingin kuhadirkan angan
andai ini hanya mimpi panjang
aku ingin terbangun
agar lelah letihnya sirna
agar ada harap yang mungkin terlaksana
bukan diam terpaku
tak beranjak dari langkah yang sesak

Ungaran masih membiru di kejauhan
bisakah kau sampaian pesan
bahwa semua ada akhirnya
tak terkecuali peliknya perkara

Semarang, 2 Januari 2015

  

HUJAN DI SIANG INI

Hai...
Telah lama kau tak bersua
kukira telah lupa
lewatkan musim begitu saja
dan...hati yang merana

Rupanya hanya tersesat
pada lorong yang tak bersekat
hingga siang ini pun derasmu merapat
dan sungguh tak terbantahkan
januari masih tetap menawan

Rinaimu tak beraturan
kadang menderas
tapi juga melemah...tik..tik..
hanya rintik-rintik...
apakah itu luapan debar jantungmu
yang tak kuasa menahan rindu
hingga musim kemarau berlalu
dan lagumu kembali sendu merayu

Hujan yang merinai di siang ini
kembali dendangkan melodi
singgahlah ke bilik hati
hingga tiba saatnya nanti

Semarang, 3 Januari 2016

  

0 comments: