Bagian Kedelapan

 

MENTARI PAGI INI

Hangatnya terasa berbeda
aura kepedihan masih terasa
aku sering bertanya
benarkah hati nurani itu dimiliki setiap jiwa

Berjuta kemarahan dan kebencian menyumbat di dada
aku tahu tak layak dimuntahkan dalam kata
lantas adakah cara menumpahkannya
agar lenyapkan bara

Mentari yang menghangat pagi ini
masih setia seperti kemarin dan kemarinnya lagi
meski telah menjadi saksi kebengisan angkara yang tak terperi
hangat selalu membangkitkan semangat

Biarlah tangis yang kemarin pergi
biarlah kemarahan luruh
kasih sayang tumbuhlah tumbuh
rangkai merangkai
dari hati yang tercerai berai

: biar Tuhan saja yang memberi hukuman
karena Dialah yang memiliki keadilan

Semarang, 15 Januari 2016

 

RUMAH MUNGIL BERHALAMAN HIJAU

Hujan merintik melagukan kenangan
lihatlah bulir-bulir berjatuhan
menarikan mimpi-mimpi yang pernah singgah
gemercik meningkah dedaunan
lengkapkan seluruh bayang bermunculan

Rumput hijau selimuti halaman
kaki kanak-kanak berkecipak
riuh dengan tawa dan gelak
di beranda kita bercengkerama
berkisah tentang pelangi setelah hujan reda
juga tentang awan
petir
hujan
hingga senyum dan tawa bertaburan

Rumah mungil berhalaman hijau
tempat cinta tumbuh menghangatkan jiwa
meski pasti tangisan pun pernah tersedan
namun cinta selalu menguatkan

Itu hanya impian, Sayang
ketika waktu telah jauh meluruh
mimpi itu masih tetap utuh
kaki kanak-kanak berkecipak
dan kita tertawa di beranda
menghiasi rintik hujan di kala senja

Semarang, 17 Januari 2016

 

SUATU WAKTU

Secangkir kopi menghangatkan pagi
merakit kembali angan yang pernah bersemi
sungguh cinta tak pernah pergi
selama yang maha cinta masih merestui

mengapakah harus besedih
ketika jarak terasa makin berselisih
tak ada yang hilang
meski hanya selembar kenang

suatu waktu
entah di kehidupan yang mana
dua jiwa tetap menyatu
jika itu sebuah cinta

Semarang, 20 Januari 2016

  

INI TENTANG CINTA

Suatu saat seseorang pernah tertawa
saat aku bicara cinta
waktu itu umurku melangkah kepala tiga
hingga aku bertanya-tanya
benarkah cinta hanya sebuah rasa di usia muda
hingga ketika anak-anak menjadi tanggung jawab di mata
arti cinta jadi berubah rupa

Suatu saat seseorang pernah berteori
bahwa cinta bisa dipelajari
selagi hatimu ikhlas menerima dan memberi
maka cinta akan tumbuh sendiri

Suatu saat seseorang pernah menasehati
cinta sejati hanya tumbuh di hati sepasang manusia yang telah mengikat janji
beriring sejalan menapaki hari
lalu aku bertanya dalam hati
bagaimanakah jika ikatan itu diciderai
bisakah tumbuh cinta sejati

Usia terus berjalan
kepalapun mulai beruban
tentang cinta masih terus terpikirkan
jujurkah kau pada dirimu sendiri
cintakah yang membuatmu mengabdi
atau tuntutan nurani atas nama manusiawi

Karena senyatanya kita memang bisa memilih
dengan siapa hendak menghabiskan sisa umur yang tersisih
tapi bisakah kau memilih siapa yang ternyata abadi menghuni hati

Semarang, 21 Januari 2016

 

HUJAN DI HARI MINGGU

Hujan berlagu di hari minggu
serupa rindu yang nyaring bertalu
melodi cinta yang tak pernah layu
dari semesta ke dasar kalbu

Hujan adalah deretan kenangan
tertuang dari masa ke masa
saat kaki kecil telanjang berlarian
berpesta pora bersama derasnya
menyanyikan lagu cerah ceria

hujan jugalah yang mengenang sebuah penantian
pada masa yang jauh tak berkesudahan
rintik luruhnya membasuh luka
hingga tak terasa berapa windu pun waktu berkelana

Dalam hujan yang selalu menawan
kutitipkan sedekap pesan
tak ada yang berubah
seperti hujan yang setia singgah
maka janganlah ragu melangkah
pintu hati selalu tengadah
menyambutmu dengan segenap rindu

Semarang, 24 Januari 2016 

 

PAGI INI INGIN BERPUISI

Ingin kurangkai sebait puisi
yang barangkali bisa mewakili isi hati
tentang pagi yang cerah hari ini
atau tentang hari sabtu yang selalu dinanti

Pernahkah kau bertanya
kenapakah saat pagi matamu membuka
yang terselip di hati adalah ingatan duka
juga mungkin di pagi yang lain
mata terjaga dengan perasaan begitu bahagia
perlukah seharian sibuk mencari jawaban

Pagi ini aku ingin berpuisi
melukiskan segenap kegundahan hati
atau mengirimkan rindu yang tak pernah beku padamu
dengan untaian kata paling puitis yang bisa kulukis
mengawali pagi yang selalu berseri

Sayangnya aku tak bisa mengeja
rangkaian kata seakan selalu tak sempurna
jika itu untuk mengungkap rasa cinta
hanya mengalir saja

Meski pagi ini aku ingin berpuisi
maafkan jika ternyata tak jadi
hanya rangkaian kata tak berarti
menghiasi pagi ini

Semarang, 30 Januari 2016

  

MENGENANGMU

Penghujung januari
selalu mengajakku mengembara
pada masa yang jauh telah terlampaui

Seulas senyum sejukkan hati
binar di mata tak mungkin berdusta
cinta pernah menembangkan lagunya
dalam melodi selaras seirama
ingin wujudkan mimpi
milik kita berdua

Ini penghujung januari
sudah dua puluh tujuh kali terlewati
tapi senyum itu abadi menghuni hati
menguatkan hati tapakkan kaki
meski kau tak di sini lagi

Penghujung januari
aku tak ingin air mata mengalir kembali
biarlah bunga putih di ujung halaman itu menjadi saksi
cinta pernah mempertemukan kita di sini

Semarang, 31 Januari 2016

 

RINDU TAK BERTEPI

Tanah itu mengikatku dengan temali
tak kasat mata namun terasa memaksa
untuk menarikku kembali
meski sudah berlaksa jarak ku mengembara

Mungkin karena di sana
pertama kalinya kuhirup udara
pertama kalinya kubuka mata
pertama kalinya kulengking tangis

Ada rindu yang tak pernah tuntas
setiap kepulangan terasa cuma selintas
ada yang terasa terus mengetuk
meski teredam berbagai hiruk pikuk

Di sanalah tempat yang penuh damba
kembali dalam pelukan ayah bunda
meski raga terus merenta
di hadapannya aku merasa tetap menjadi anak kecil yang manja

: karena di sanalah kutemui sejatinya cinta

Sragen, 10 Februari 2016

 

LUKISAN WAKTU

Ketika goresan-goresan kuas itu
tak lagi cemerlang seperti dulu
kau mungkin keliru memadukan warnanya
hingga hanya gelap kusam tampaknya
dan kanvas tua tak lagi mampu
menampilkan keelokan warnanya saat kau berulangkali keliru memadupadankannya

Apakah kau akan menghapusnya
apa kau kira warna centang perentang yang telah kau torehkan bisa kau enyahkan
dan kanvas tua kembali putih bersih
ataukah justru akan koyak dan rusak

Termenung bimbang di tepian waktu
kembali menggoreskan warna
meski yang nampak hanya kelabu tua
sambil menata kembali palet-palet kotor
berharap hujan kan tiba
membasuh segala warna

Semarang, 15 Februari 2016 

 

SELALU PADAMU RINDUKU TERTUJU

Rinai gerimis selepas senja
riwis-riwis berbisik mesra
seperti kidung asmara
yang terkirim dari kerinduan jiwa
dalam pengembaraan puluhan warsa
namun tak jua jumpa di dermaga

Pada putaran waktu ku pernah mengadu
di manakah kan kutemu
teduhnya dahan memberikan perlindungan
pada derapnya langkah yang mulai kelelahan
namun waktu tak pernah memberi tengara
hingga langkahpun terus mengembara

Di sini di kelamnya malam sunyi
bait-bait puisi mengeja imaji
merangkum rindu dari langkah ke langkah
meski seringkali mencoba merubah arah
namun putaran waktu memaksa kembali
tak ada lagi tempat yang harus kutuju
karena sejatinya rinduku selalu dan hanya tertuju padamu

Semarang, 16 Februari 2016 

 

SUATU SIANG

dari selasar itu
takdapat lagi kupandang padang hijau menawan
yang selalu membangkitkan imajinasi
anak-anak berlarian
bermain sambil menggembala kerbau
dan sorak sorai kegirangan
menendang bola plastik ke gawang bambu

dari selasar itu tak lagi dapat kulihat
sayup nun jauh laut jawa yg biru lamat
dengan kapal-kapal yang serasa tak bergerak
seperti lukisan yang abadi di benak
meski tak lagi tampak

di selasar itu aku terpaku sendiri
memandang awan menggantung menghalau mentari
yang tampak hanya gedung-gedung tegak berdiri
barisan jambu mete dan jalan berkelok itu tinggal memori

begitulah kehidupan
tak ada yang abadi
tapi puzle-puzle kenangan
menjadi penanda
bahwa kita pernah bersama

gedung lab Kimia Anorganik, 21 Maret 2016 

 

HURUF-HURUF

Kuwakilkan pada rangkaian huruf
segenap rasa dan rindu yang bergayut
saat ruang dan waktu tak bisa merajut
bertautnya dua hati

Pada huruf yang berjajar
tak ada lagi ungkapan hati yang tersamar
semua secerlang bintang di langit
meski mendung kadang membuatnya berkelit

Jangan lagi ragukan itu
terus melaju bersama tarian waktu
usah menduga di manakah kan bertemu dermaga
di mana sepasang hati kan bersandar dan berlabuh

karena hidup adalah langkah
berlalu setapak demi setapak
menuju satu titik
tersenyumlah agar langkah selalu terasa indah
seindah huruf-huruf
yang selalu mengeja cinta

Semarang, 24 Maret 2016

  

HURUF-HURUF

Kuwakilkan pada rangkaian huruf
segenap rasa dan rindu yang bergayut
saat ruang dan waktu tak bisa merajut
dua hati yang bertaut

Pada huruf yang berjajar
tak ada lagi ungkapan hati yang tersamar
semua secerlang bintang di langit
meski mendung kadang membuatnya berkelit

Jangan lagi ragukan itu
terus melaju bersama tarian waktu
usah menduga di manakah kan bertemu dermaga
di mana sepasang hati kan bersandar dan berlabuh

karena hidup adalah langkah
berlalu setapak demi setapak
menuju satu titik
tersenyumlah agar langkah selalu terasa indah
seindah huruf-huruf
yang selalu mengeja cinta

Semarang, 24 Maret 2016 

 

GERIMIS DINI HARI

Dini hari gerimis turun
rintiknya serupa melodi mengalun
lantunkan rindu dalam doa-doa
mengeja namamu meski masih terbata-bata

Rintik gerimis gemulai menari
mengalunkan doa harapan suci
bersenyawa dengan nafas malam yang beranjak perlahan
meninggalkan jejak temaram menuju peraduan

gerimis luruh di ujung malam
tak lupa senandungkan langgam
tentang kehidupan yang penuh warna
berpendaran di setiap saatnya
mewakili segenap peristiwa

andai gerimis itu serupa tangis
jangan biarkan hati ikut teriris
nikmati saja irama jatuhnya
kau kan tahu betapa indah senandungnya

Semarang, dini hari, 25 Maret 2016

  

SEPASANG BURUNG

Pagi ini sepasang burung berloncatan
berkicau riuh di atas atap bangunan yang belum utuh
saat anginpun masih malas berliuk
hingga kicaunya memecah heningnya pagi

Entahlah
apakah telingaku yang salah
mendengar kicau sepasang burung serasa lolongan kerinduan
pada dahan-dahan pohon yang rimbun
tempat bertahun bertengger dan membangun sarang
bukan panas terik mentari yang membakar hari
dan tak selembar daunpun mampu meneduhi

Sepasang burung masih riuh bernyanyi
entah rasa syukur atau jeritan hati
ingatanku membayang kembali
pada pepohonan dan bukit yang kini tak tampak lagi

Meteseh, 29 Maret 2016 

 

PUISIKU MENGHILANG

Malam itu dering telepon mengabarkan
petaka yang merenggut semua kebahagiaan
menjadi mimpi kelam yang entah di mana berujung
dan satu persatu bait puisiku menghilang

Kesedihan itu seperti ruang hampa
sepi senyap namun menyesakkan dada
betapa sulit memandang
tatap tak berdaya penuh kepasrahan
betapa sulit memandang pijar semangat yang kian meredup

Seekor kupu-kupu terbang melintas di halaman
seperti tengah mengumpulkan
keping-keping puisi yang berguguran
bilakah menyatu
kembali mengisi ruang-ruang rindu

Sragen, 12 April 2016 

 

GERIMIS DI AKHIR APRIL

Aku dengar rintik gerimis mengetuk genting
saat malam semakin tua
menanggalkan april yang hampir berakhir

Gerimis di akhir April
seperti denting dawai yang menyihir
melantunkan senandung perih sepanjang bulan
penuh liku kelok tak berkesudahan
namun
bunyi rintik-rintiknya seolah tengara
menutup catatan lara

Bunyi gerimis semakin perlahan
seolah menahan resah agar kian tenggelam
bersama malam yang semakin larut
mengeja aneka cerita yang belum sempat terwujud

Sebersit angin menyelip di sela jendela
seakan ikut menyela
jangan larut dalam duka
biarkan berlalu bersama lambaian april mengucap salam
akan ada mei yang menggantikan
dengan secercah mentari yang penuh harapan

Semarang, 30 April 2016 

 

HUJAN MASIH MENDERAS

Rintik hujan masih menderas
meretas siang yang panas
debu-debu terlepas
luruh dan terhempas

Ke mana musim bersembunyi
jika angin masih setia menemani
daun-daun rimbun bersemi
burung-burung merdu bernyanyi

Sungguh hidup seindah pelangi
jika hati seluas samudra
pedih perih itu biasa
pun luka dan air mata

Hujan menderas di siang ini
laksana nuansa-nuansa melodi
selalu ada tawa di balik air mata
pun bahagia setelah terasa lara

Semarang, 12 Mei 2016

 

MEMANDANG SENYUMMU

Aku selalu ingin tersenyum tiap kali teringat senyummu
terasa seperti nyala lilin di kegelapan
menerangi dan menentramkan

Aku selalu merasakan degup jantung lebih kencang
setiap mengingat binar ceria di matamu
serasa gelombang yang tak henti
menjemput pantai impian

Dalam perjalanan yang panjang
menempuh liku dan derasnya hujan
senyummu adalah semangat yang tak padam
serasa genggam jemari yang selalu menyemangati
menyalakan lilin-lilin hati agar tak mati

Memandang senyummu akan membuatku selalu tersenyum
dan kau selalu ada
meski dalam hatiku saja

Semarang, 28 Mei 2016


RASA INI

Rasa haru perlahan merambat di dada
hangat di mata itu menitik butiran bening
bukan
bukan kesedihan
hanya rasa haru
di sini di malam menapak ramadan
cintamu tetap kurasa

Berapa tahunkah waktu telah mengelana
membawamu dalam pengembaraannya
namun selalu pulang ke hatiku
karena
selalu ada tempat terindah di sana
untuk selalu menyambut kehadiranmu

angin sepoi di awal kemarau
seperti bisikan yang tak pernah parau
jika itu tentang cerita sebuah hati
sepanjang musim tak lelah menanti

Semarang, 5 Juni 2016

  

HUJAN RINTIK

Kau dengarkah rintik hujan mengetuk malam
tidakkah iramanya bernuansa rindu
seperti ribuan rasa yang pernah tersemat dalam alunan waktu yang pekat

Kau dengarkah dentingnya bak senandung bidari
menyibak sepi di malam sendiri
melesap jauh ke dasar hati
entah seberapa perih kenangan yang terpatri

Rintik-rintiknya masih mengalun perlahan
melagukan kenangan tak pernah lekang
maka jangan lagi kau tanyakan
kenapa hujan begitu kurindukan

Semarang, 27 Juni 2016

  

0 comments: