![]() |
Ilustrasi: Pixabay |
Soeharto merupakan presiden kedua Indonesia dalam masa jabatan selama 32 tahun. Prabowo pun memegang jabatan itu sejak tahun kemarin.
Persamaan lainnya? Keduanya menghadapi gelombang demonstrasi besar yang mengguncang perpolitikan tanah air. Ketika tahun 1998, Presiden Soeharto bisa dikatakan berhadapan dengan rakyat Indonesia. Situasi saat itu sungguh rumit dan kacau. Di tengah arus panas bulan Mei tahun tersebut, jenderal bintang lima itu nekat ke Mesir menghadiri KTT G-15 dan berencana bertemu Presiden Mesir, Husni Mubarak.
Dan, saat kembali di tanah air, 15 Mei 1998, gelombang massa mencapai puncaknya. Akhirnya tanggal 21 pada bulan dan tahun yang sama, Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan Prabowo Subianto? Apakah Presiden Indonesia yang baru sekali ini takut mengalami nasib serupa dengan mantan mertuanya itu?
Bisa jadi ketika Prabowo pulang dari Republik Rakyat Cina, kerusuhan di tanah air sedang mengalami fase paling genting. Kemudian, beberapa hari setelahnya Prabowo Subianto terpaksa mundur dari jabatannya.
Ketakutan tersebut ada benarnya. Sejarah tidak boleh dilupakan begitu saja. Sejarah adalah guru yang harus digugu. Maka hal yang sangat masuk akal bahwa untuk menghindari hal terburuk dalam kepemimpinannya, mantan Danjen Kopassus itu pun membatalkan kunjungannya di Cina Daratan.
0 comments:
Post a Comment