![]() |
Ilustrasi: Pixabay |
Pohon mangga tidak akan tumbuh jika tak ada benih yang ditanam. Kompor hanya akan menjadi pajangan jika tak ada bahan bakarnya. Atau, segala hal hanya diam ketika tak ada sebab.
Begitu pula penjarahan aset-aset milik beberapa tokoh politik di negeri kita. Sebutlah televisi mahal, contohnya. Di luar itu, ada pula pengerusakan aset lainnya semisal mobil mewah. Wow ini di luar dugaan. Ada yang bilang kalau rakyat sudah marah, maka susah diademkan.
Perkataan itu benar adanya. Setelah tokoh-tokoh politik tersebut memantik amarah rakyat, terjadilah hal-hal di luar kebiasaan. Tentu saja itu sejatinya menjadi pelajaran bagi siapa pun yang melukai hati rakyat, yakni akan menerima hukuman di lapangan. Hukuman ini jelas tidak bisa ditawar-tawar dengan uang sogokan sebesar apa pun.
Dalam hal ini para politisi harus ingat betul bahwa mereka bisa hadir sebagai orang besar karena rakyat. Mulai dari pemilu, hingga upah mereka, baik yang di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Semua uang yang mereka dapatkan lebih banyak dari pajak, sebagian kecil lainnya dari pendapatan negara di luar pajak.
Maka, sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk fokus pada pelayanan rakyat. Bukan malah "berseberangan" seperti yang mereka pertontonkan selama ini. Kimi, amarah rakyat sudah sangat besar sebagai akibat dari tindakan yang berseberangan itu. Dan, penjarahan aset di rumah beberapa tokoh politik hanyalah satu contoh bentuk hukuman tersebut.
0 comments:
Post a Comment