![]() |
Ilustrasi: Pixabay |
Demonstrasi tahun ini terasa beda. Lho, beda bagaimana sih? Bukannya sama saja, yakni dilakukan lebih daripada satu orang?
Gimana ya cara menjelaskannya???? Jadi gini, suasana demonstrasi mulai terasa ketika Bupati Jawa Tengah menantang masyarakatnya untuk turun di jalan melakukan demonstrasi. Alhasil, Pati "membara" terkait kenaikan pajak bumi dan bangunan di sana.
Kemudian Puan Maharani pun melakukan hal yang sama. Tantangan segera dikabulkan. Massa berdatangan di Jakarta. Demo terjadi dengan gegap-gempita.
Lalu, tak mau ketinggalan, beberapa anggota DPR RI turut hanyut dalam arus membangkitkan gelombang massa. Bahkan, terjadi pembiaran tindak kriminal berupa penjarahan aset milik pribadi di rumah para anggota DPR RI tersebut.
Kita dibuat terheran-heran. Dan, ini peristiwa langka. Besar pula. Yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa bisa demikian mudah? Padahal demo-demo sebelumnya begitu dibatasi. Sebutlah aksi 212. Massa dari luar Jakarta banyak dipersulit masuk ke kota terbesar di Indonesia itu.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, dengan adanya demonstrasi besar kali ini, apakah masih tersiar kabar soal pagar laut, ijazah Jokowi, pemakzulan Gibran, dan kasus lainnya?
Selain itu, ada pihak yang menuding bahwa ada kasus raksasa yang sedang dijalankan diam-diam. Ya, rakyat terlelap dengan demonstrasi, pihak tertentu beraksi tanpa hambatan.
Oh, mungkinkah demonstrasi yang menyala kali ini hanyalah pengalihan kasus belaka? Ataukah benar-benar murni dari rakyat?
0 comments:
Post a Comment