Sunday, May 12, 2019

Benarkah Mahasiswa Kini Kalah Kritis daripada Emak-Emak?



Mungkin sebagian dari kita masih ingat sejarah perjuangan mahasiswa hingga melahirkan Tri Tuntutan Rakyat. Tepat 10 Januari 1966 demonstrasi mahasiswa pecah di Jakarta. Mereka bersuara lantang sebagai reaksi terhadap kenaikan harga-harga pada masa itu.

Alhasil, Tritura menggaung, “Bubarkan PKI, ritul Kabinet Dwikora, dan Turunkan harga-harga.”

Begitu pula 21 tahun yang lalu. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan kehendak rakyat higgga berakhirlah rezim Orde Baru dan terlahirlah era reformasi hingga saat ini.

Memperhatikan kekritisan mahasiwa pada masa lalu dan membandingkannya dengan mahasiswa sekarang, Adi Prayitno yang merupakan Pengamat Politik dan Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia saat ini dinilai kurang kritis.

"Lima tahun ini nyaris tak ada gerakan mahasiswa kritis yang bisa memberikan check and balances bagi penguasa. Entah pada kemana mahasiswa pewaris sejarah itu?," kata Adi saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Senin (13/5).

Menurutnya, saat ini  banyak kebijakan yang merugikan rakyat seperti impor beras, kenaikan BBM dan Tarif Dasar Listri (TDL) yang berulang, kebebabasan berekspresi, serta massifnya praktik money politik yang makin vulgar. Akan tetapi, mahasiswa kini nyaris tak terdengar daya krititisnya, suara mereka tenggelam oleh gemuruh emak-emak yang kerap protes terhadap kebijakan tak populis.

0 comments: