Tuesday, November 16, 2021

Penyair Lansia Ini Nekat Seberangi Sungai Barito Malam Hari



Hari itu sebuah bus pariwisata melaju dari arah Kabupaten Balangan menuju Kabupaten Barito Kuala. Kedua kabupaten itu termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Kondisi bus masih sangat layak jalan sehingga sejumlah sastrawan begitu menikmati perjalanan sambil duduk santai di dalamnya. Dan, ada seorang sastrawan di antara mereka yang terlihat mencolok. Janggut panjang berwarna putih bersih menggantung di wajah tuanya. Sesekali janggut sepanjang lebih kurang 20 sentimeter itu bergerak-gerak menemani suaranya yang lantang. 

Ya, dialah si Janggut Naga. Begitu para sastrawan di Kalimantan Selatan menggelari pria kelahiran Agustus 1943 ini. Sebuah gelar kehormatan yang melekat pada dirinya hingga kini. 

Perlahan detik menjelma menit dan begitu seterusnya. Perjalanan pulang sehabis mengikuti acara Aruh Sastra Kalsel XVIII dari tanggal 12--14 November 2021 tersebut terus berjalan lancar.

Nah, saat di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, mereka singgah untuk makan siang dan salat. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 19.00 Wita sejumlah sastrawan ini singgah untuk sekedar ngopi di sekitar kawasan air mancur Kota Banjarbaru.  

Jam-jam pun berdentang bersama laju roda perjalanan dan sekitar pukul 21.00 Wita bus berhenti di Pasar Terapung Kuin untuk selanjutnya ke pelabuhan feri penyeberangan Jelapat-- Tamban. Benar, Tamban merupakan kediaman si Janggut Naga. Meskipun penyair senior bernama Ibramsyah Amandit ini dilahirkan di Desa Tabihi Kanan, Kelurahan Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan, dirinya tetap memilih Tamban sebagai tempat yang ia tinggali bersama keluarga tercintanya.

Di sekitar pelabuhan ia membayar ongkos tukang ojek sebesar Rp60 ribu. Itu tarif ekstra. Pada siang hari tarifnya hanya Rp25 ribu. Dengan jasa ojek inilah dirinya naik feri dan menuju rumah.

Penyair lansia ini pun menyeberangi Sungai Barito yang lebarnya rata-rata antara 650 hingga 800 meter itu. Udara dingin segera menyergap tubuh tuanya. Sedang suara mesin kapal terus meraung-raung menerjang gelapnya malam.

Dan, feri akhirnya merapat di Tamban. Tanpa buang waktu, dirinya bergegas menuju rumah sambil membawa lencana Setyasastra Nagari atas dedikasinya selama 30 tahun lebih dalam dunia sastra. 

0 comments: