Tuesday, March 26, 2019

4 Gambar Sederhana Ini Ternyata Menyimpan Makna yang Dalam, Nomor Terakhir Sangat Kita Butuhkan



Pernahkah Anda berpikir bahwa setiap gambar memiliki cara sendiri membahasakan tentang dirinya kepada khalayak ramai? Bahkan, jauh melampaui pikiran perupanya? Seakan-akan mereka hidup. Dan, mungkin bisa jadi demikian adanya (terlepas dari multitafsir para penikmat gambar-gambar tersebut).
Di bawah ini ada empat gambar sederhana, tapi menyimpan makna-makna yang dalam.

1.    Seumpama Tubuh
Gambar ini membahasakan tentang cinta, kasih, dan sayang. Bahwa ketiganya seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur dan merasakan demam. Itulah sebabnya, ketika manusia lain tertimpa bencana, manusia lainnya akan terpanggil untuk membantunya.

  
2.    Jasa Ayah
Terkadang, ada manusia yang melupakan jasa orang tuanya. Seakan-akan hanya usaha dan doanya sajalah yang membuatnya sukses. Padahal selain ibunya, ayah adalah orang  yang selalu berusaha sekuat tenaga dan berdoa terus-menerus untuk kebaikan anak-anaknya. Di balik kesuksesan seorang anak tentu tidak bisa dilepaskan dari jerih payah dan doa-doa orang tua termasuk sosok ayahnya. Gambar ini menyuarakan hal di atas.


3.    Gotong Royong
Manusia memang dibekali seperangkat potensi oleh Tuhan YME untuk dapat hidup di dunia sebaik mungkin. Akan tetapi, manusia juga diciptakan dengan keterbatasan diri. Karena itulah, manusia membutuhkan manusia lainnya. Dalam gambar ini, jelas terlihat bahwa bekerja akan lebih ringan jika dilakukan secara bersama-sama atau bergotong royong. Pepatah mengatakan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.


4.    Membaca sebagai Kebutuhan Pokok Manusia
Ada yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Artinya, dengan membaca isi buku akan terbukalah pikiran dan hati kita tentang dunia dan lainnya. Meski demikian, buku bukanlah satu-satunya media yang memuat tulisan untuk kita baca. Ada surat kabar, majalah, dan saat ini ada media sosial. Semua itu menjadi bahan-bahan bacaan dalam rangka menambah wawasan kita. Bahkan, membaca bukan hanya dimaknai memahami teks tertulis, tetapi juga memikirkan dan memahami alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.


      

Sunday, March 24, 2019

5 Iklan Buku yang Menawarkan Konsep Menarik


Sama halnya dengan iklan-iklan lainnya, iklan buku juga diawali dengan pembuatan konsep yang menarik. Kalau bisa yang semenarik mungkin. Kemenarikannya diharapkan mampu membuat banyak orang tertarik membeli buku-buku yang ditawarkan. Setelah itu barulah dibuat salinan konsepnya. Kemudian dilahirkanlah iklan buku sebagai wujud promosi agara penjualannya lancar.

Nah, berikut adalah lima iklan buku berkonsep menarik versi wartamantra.

1. Kebahagiaan Hidup Manusia Bersama Alam yang Masih Lestari
Dalam Iklan buku ini digambarkan sepasang suami istri hidup bahagia di lingkungan yang bebas dari pengerusakan alam oleh manusia seperti pembabatan dan pembakaran hutan. Rumah mereka ada di sekitar pegununan dengan pohon-pohon yang masih dirawat dan dijaga.  Konsep ini untuk menggambarkan isi buku yang berupa kumpulan puisi tentang hutan dan pelestariannya.  


2. Jiwa Kesatria dari Waktu ke Waktu
Konsep iklan ini mengandung arti bahwa setiap kehidupan makhluk hidup termasuk manusia pastilah bergerak menyusuri waktu. Ketika masanya habis, maka akan ada kehidupan dari makluk hidup lain yang melanjutkan. Dan, jiwa kesatria harus tetap ada pada diri manusia dari ke waktu tersebut. Hal itu memang digambarkan dalam buku yang diiklankan, yakni seorang pemuda bernama Awi Tadung yang berjiwa kesatria. Amanat dari buku ini adalah, siapa pun harus berjiwa seperti sang tokoh utama (Awi Tadung).  


    
3. Mimpi Indah
Kalau kedua konsep di atas berangkat dari alam nyata, konsep ketiga ini adalah alam mimpi. Digambarkan seorang pemuda bermimpi indah bertemu seorang wanita di sebuah kebun. Wanita itu memberinya madu yang nikmat. Mengapa konsep mimpi? Karena buku yang diiklankan berupa kamus mimpi yang berisi penafsiran-penafsiran dari berbagai mimpi. Salah satunya mimpi seperti dalam konsep tersebut. 
4. Larangan Minum dalam Posisi Berdiri
Digambarkan ada seorang pria yang minum sambil berdiri di dekat sepeda motornya. Hal itu dia lakukan saat dirinya berhenti di pinggir jalan setelah menempuh perjalanan panjang.  Meskipun bermaksud meluruskan kakinya sehabis duduk lama di sepeda motor, adalah sebuah pemali minum dalam posisi berdiri. Konsep ini sesuai dengan isi buku yang diiklankan, yakni Kamus Pamali/Pemali Banjar yang berisi arti dari pemali-pemali dalam kehdipan Suku Banjar di Kalimantan Selatan.


5. Tidak Makan Nasi
Konsep yang terakhir ini terkesan janggal untuk orang Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama makanan pokok orang Indonesia adalah nasi. Lalu mengapa konsepnya demikian? Tidak makan nasi di sini sifatnya temporal dan berkaitan dengan konsentrasi, yakni pada saat membaca buku serius. Ya, buku yang diiklankan memang bukan bacaan ringan. Itulah sebabnya, saat membaca isi buku tersebut tidak makan nasi agar bisa berkonsentrasi dengan maksimal.     






Friday, March 22, 2019

Total Hadiah Uang Pembinaan Sebesar Rp349.800.000,00. Yuk, Ikuti LOMBA CIPTA CERPEN & PUISI TAHUN 2019



Tema: “Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia Merepresentasikan Semangat Keindonesiaan

Kategori Lomba:
1. Cipta Cerpen Pelajar
2. Cipta Puisi Pelajar
3. Cipta Cerpen Umum
4. Cipta Pulsi Umum

Peserta:
1.  Pelajar SLTP dan SLTA yang sekolahnya berdomislil di wilayah Provinsi DKI Jakarta;
2.  Umum dari seluruh wilayah Indonesia (nasional)

Batas Waktu Penerimaan Naskah:
Dibuka sejak 11 Maret 2019—22 Juni 2019. Naskah yang diterima panitia melewati batas waktu tidak akan diterima.

Total Hadiah Uang Pembinaan: Sebesar Rp349.800.000,00

Kejuaran, Pengumuman Pemenang, dan Penyerahan Hadiah:
1. Dari masing-masing kategori lomba akan dipililh “Sebelas Karya Terbalk" dengan rincian sebagai berikut:
a. Sebelas Cerpen Terbaik Katogori Pelajar
b. Sebelas Puisi Terbaik Kategori Pelajar;
c. Sebelas Cerpen Terbaik Kategori Umum;
d. Sebelas Puisi Terbalk Kategori Umum.
2. Empat puluh empat (44) pemenang tersebut masing-masing akan mendapatkan tropi, piagam, dan uang pembinaan dengan rincian
a. Kategori Cipta Cerpen Pelajar Rp 6.800.000,00
b.Kategori Cipta Puisi Pelajar Rp6.800.000,00
c. Kategori Cipta Cerpen Umum Hp 9.100.000,00
d.Kategorl Cipta Pulsi Umum p 9.100.000,00
3. Empat puluh empat karya terbaik pemenang akan diterbitkan dalam satu buku sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi.
4. Pengumuman dan penyerahan hadiah pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2019 bertepatan dengan Hari Pulsi Indonesla 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

5. Setiap pemenang akan menandatangani surat pernyataan sesuai syarat dan ketentuan Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019 (bermaterai).

Syarat dan Ketentuan:
1. Pendataran Lomba Cipta Cerpen dan Puisi tidak dipungut biaya (GRATIS).
2. Peserta merupakan WNI yang dibuktikan dengan Kartu Identltas bagi Pelajar (Kartu Tanda Pelajar, Osis, atau surat keterantan dari sekolah), dan Umum (KIP, SIM, atau Paspor).
3. Karya yang diikutkan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun,
sebagian atau seluruhnya, baik di media konvensional, maupun dl sosial media.
4. Naskah tidak sedang diikutkan di lomba laln.
5. Karya yang diikutkan merupakan karya sendirl, asli dan bukan karya saduran atau terjemahan,
6. Karya tidak berisl penghinaan atau berindikasi merendahkan SARA, tidak menampilkan unsur pornografi, tidak mengandung unsur ujaran kebencian, dan bersih darl plagiarisme.
7. Peserta boleh mengikuti dua jenis lomba (puisi dan cerpen) yang berbeda untuk setiap kategori peserta, dan hanya boleh mengirimkan satu karya terbaiknya.
8. Peserta tidak boleh mengikuti lomba dengan katetori peserta ganda, misalnya peserta yang sudah Ikut lomba cipta puisi dan carpen tingkat pelajar, tidak boleh ikut lagi
di tingkat umum, begitu pula sebaliknya.
9. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesla yang baik sesuai ketentuan PUEBI, khususnya cerpen.
10. Panjang naskah (di luar nama penulis, judul, dan titimangsa) maksimal 40 larik (untuk PUISI), dan maksimal 1.500 kata atau lima halaman A4 (untuk CERPEN)
11. Naskah diketik menggunakan MS word kertas: A4, margin: normal, huruf: Times New Roman, 12 pt, spasi: 1,5, formal penyimpanan: rtf)
12. Peseria wajib menyertakan biodata singkat, melampirkan kartu Identitas (hasil scan atau foto), alamat surat, dan nomor kontak aktil di akhir lembar tersendiri alau terpisah dari naskah, tapi telap dalam satu file.
13. Naskah yang dikirim HANYA satu file (berisi naskah lomba, biodata singkat, kartu identitas, alamat surat, dan nomor kontak) dalam bentuk lampiran (bukan batang surel) ke jurilcpc@gmail.com dengan nama file: Nama Peserta_ Jenis Lomba_Kategori Peserta (contoh: Jan Toro_Puisi_Pelajar/Jan Toro_Pulsi_Umum)
14. Naskah cerpen dan puisi yang terpilih menjadi karya terbaik menjadi milik Panitia Pelaksana.

Penjurian
1. Proses penjurian naskah secara resmi akan dimulal selak 23 Juni sampai dengan 25 Juli 2019.
2. Penjurian naskah bersitat tertutup, yakni dewan juri menerima maskah peserta tanpa nama.
3. Dewun Juri:
a. Kategori Cipta Cerpen Pelajar: Sihar Ramses Simatupang, Nana Sastrawan, Arlyanl Isnamurti
b. Kategori Cipta Puisi Pelajar: Hasan Aspahani, Sotyan RH. Zaid, Jimmy S J.
c. Kategori Cipta Cerpen Umun: Maman S. Mahayana. Ahmadun Yosi Herfanda, Rida K Liamsi
d. Kategori Cipta Puisi Umum: Abdul Hadi w.М., Sulardji Calloum Bachri, Asrizal Nur

Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi
1. Rusmantoro 0813 8555 6238
2. Arip Sulistiyono: 0812 8704 986
3. Arief D. Hasibuan: 0823 6948 6372

PERCINTAAN DALAM KELAM, Cerpen Korrie Layun Rampan dalam Nyanyian Lara




    
Kesibukannya sangat tampak dari geraknya. Bukan hanya di ruang kerja, tetapi juga di dalam mobil. Belum lagi melepas pager dan ponsel,  suara telepon memberitakan suatu hal penting. Ia kurangi tekanan pada pedal gas, ia kurangi kecepatan agar bisa mendengar apa yang diinginkan penelepon. Tangan, kaki, pikirannya sibuk.
   
Waktu baginya adalah kerja. Kerja berarti kesibukan. Kesibukan berarti uang. Uang berarti persaingan. Persaingan berarti taktik. Taktik berarti cara memenangkan persaingan. Apakah sehat atau tidak, tak jadi soal, yang penting usaha berjalan lancar, dan keuntungan dapat diraup. Bukankah keuntungan adalah tujuang akhir?

“Rapat penting hari ini,” suara sekretarisnya setibanya di kantor.

“Sudah kausiapkan segala sesuatunya?” ia membuka catatan agenda. Ia dapatkan catatan bahwa hari ini akan dibahas masalah pemasaran. Bagaimana memanfaatkan peluang di tengah globalisasi. AFTA sudah berjalan hampir di seluruh negeri.
    
“Semuanya beres,” ia dengar sekretarisnya, Lince, seorang sekretaris profesional. Ia menyukai gadis itu karena cekatan, intelegensinya tinggi, kerjanya rapi, dan ia penuh disiplin. “Semua kepala bagian telah hadir.”
    
“Hampir ia belum siap mengatur napas, pekerjaan menyeruak dengan cepat. Rasanya belum pulih seluruh tenaganya dalam istirahat semalam, hari ini sudah dimulai dengan kerja yang lebih berat lagi.
   
Kepala bagian pemasaran mengajukan beberapa metode pemasaran untuk memenangkan pasar. “Banyak produk sejenis yang harus ditandingi dengan cara pemasaran dan penjualan yang tepat-guna,” Kabag pemasaran itu menyampaikan pendapatnya. “Asal didukung oleh iklan dan promosi yang sama gencar!”

“Secara insting ia dapat menyetujui gagasan kepala pemasaran. Tetapi biayanya? Lama promosi dan pengiklanan? Berapa perbandingan antara keuntungan dengan eksploitasi?
    
“Cara yang terbaik adalah kita memblokir pusat-pusat pasar yang secara kalkulatif sangat menguntungkan,” suara kepala pemasaran. “Setelah itu diblok lagi pusat-pusat pasar yang secara teoretik menguntungkan. Tahap akhir baru pemerataan.”
    
“Caranya?” ia bertanya.
    
“Telah dipaparkan di makalah, Bu Siska. “Metode ini jauh efisien dari modal-modal yang pernah dijalankan.”
    
Rapat itu membawa inspirasi baru lagi Siska untuk mengembangkan pasar. Semangatnya dalam pemajuan perusahaan sungguh luar biasa. Didikasinya tak pernah surut, dan daya majunya membuat dirinya meraih keberhasilan yang sukar disamai oleh karyawan lain yang sebaya dengannya. Tak heran jika ia melejit sampai ke puncak eksekutif.
     
“Rapat dan rapat, lalu pertemuan dengan rekanan bisnis, resepsi, jamuan di hotel berbintang, dan hari-hari yang pendek makin terasa lebih pendek. Waktu seperti bersaing dengan pekerjaan, membuat segalanya serba cepat.
    
Siska menarik napas lega. Satu tahap dari pekerjaannya hari ini telah selesai. Tinggal bagaimana pelaksanaan selanjutnya. Ia telah menandatangani semua yang dibutuhkan, termasuk biaya yang diajukan.
    
Sejenak ia melepaskan napas. Apakah ia maniak kerja? Hatinya selalu rusuh jika meninggalkan pekerjaan, apalagi kalau pekerjaan itu setengah jadi, atau baru sedang dimulai. Ia selalu ingin melihat hasilnya, dan ia selalu ingin semuanya berhasil. Karena itu ia selalu berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat daripada waktu yang ditentukan. Setelah itu ia selalu membuka kemungkinan lain untuk pengembangan perusahaan. Tak heran kalau perusahaan yang dipegangnya telah beranak-pinak.
    
Benarkah ia maniak kerja?
    
Atau sama saja dengan orang lain? Dengan para eksekutif lain yang lebih suka bekerja lebih dari waktu seharusnya? Workaholic? Atau memang semua eksekutif demikian sibuk? Karena semua eksekutif yang berhasil adalah orang-orang yang memang gila kerja? Tetapi dirinya sendiri? Adakah lebih dari para eksekutif lainnya karena ia tak sempat memikirkan diri sendiri? Atau ia memang tidak membutuhkan orang lain? Seperti sopir? Sebagai eksekutif, ia mendapat fasilitas seperti sopir, tetapi mengapa ia menolak sopir? Apakah ia membenci lelaki? Tetapi, bisa saja ia menggunakan sopir wanita? Mengapa ia harus menyetir sendiri? Karena ia memang suka menyetir? Karena ia gila kerja?
    
Sebenarnya ia suka bersaing. Mengapa perusahaan yang dikelolanya cepat menanjak dan maju pesat, karena ia memenangkan persaingan. Banyak perusahaan sejenis yang tumbang karena kalah bersaing. Bahkan ada perusahaan raksasa yang hampir roboh kalau tidak cepat-cepat mengadakan merger dengan perusahaan yang ia pimpin. Untuk kiatnya mengelola bisnis yang aneka macam, ia selalu memompakan cara ampuh dalam bersaing kepada karyawan dan managernya bahwa langkah pertama untuk menenangkan pasar adalah menaklukkan selera konsumen. Setelah itu membuat mereka kecanduan, dan kemudian menjadikan mereka maniak!
    
Bisnis itu suatu keindahan!
    
Jika keindahan itu dilakukan dengan jurus juru masak yang kesohor karena selalu menghidangkan masakan yang lezat cita rasanya, orang lapar mana yang tak mau makan, kalau doku tersedia di saku? Lalu mereka akan datang lagi dan lagi, kalau lidah mereka selalu digoyang oleh kelezatan yang mahalezat?
    
Kiat jual adalah menjadikan komoditas itu sebagai kebutuhan utama. “Seperti makanan,” ia berkata kepada managernya. “Seperti pakaian. Seperti rumah. Siapa yang tak membutuhkannya? Jadikan benda yang kita jual tingkat kebutuhannya seperti itu, meskipun bukan makanan, bukan pakaian, dan bukan rumah.”
    
Bawahannya makin kagum dengan ide-idenya yang cemerlang. Dan mereka merasa cocok bekerja di bawah seorang yang kreaktif, karena mereka dapat belajar berbagai pengalaman yang menakjubkan di bidang niaga. Bukankah, jika nanti mereka hengkang, mereka sudah mendapat ilmu tanpa harus membayarnya lewat fakultas yang maham biayanya di perguruan tinggi?
    
Sekretarisnya memohon maaf, saat menyodorkan beberapa berkas yang harus ditandatanganinya, saat Siska sedang tampak melamun.
    
“Ibu lagi memikirkan apa?” sekretarisnya meletakkan berkas-berkas itu. “Apakah Ibu kurang sehat?”
    
“Tak apa-apa?” ia mengelak, meskipun sebenarnya ada pikiran yang begitu saja datang menyeruak. Mengapa ia tiba-tiba teringat Handoyo?
    
Kapan sebenarnya ia berpisah dari Handoyo? Ah, bukan berpisah, karena ia tidak pernah bersahabat erat. Tetapi Handoyo yang pertama kali mengatakan ia cantik. Hampir tak ia ingat waktunya, lama sekali sudah berlalu, mungkin semasa di SMP. Ya, memang saat itu ia di SMP, saat Handoyo menyelipkan selembar surat di tasnya. “Fransiska cantik, Handoyo senang kamu.”
    
Ia senang dikatakan cantik, juga hanya Handoyo yang menyebut namanya secara lengkap. Hatinya berbunga, tapi ia lebih suka menaklukkan Handoyo dalam soal pelajaran. Ia ingat, saat di SMA, sekali Handoyo menulis surat, menyatakan perasaan hatinya. “Kamu cerdas,” tulis Handoyo, “kamu ada bakat menjadi kaya. Sayang kamu terlalu ambisius. Kamu bisa kehilangan cinta!”
    
Hampir ia tersentak, di mana Handoyo saat ini? Suaranya yang terakhir ia terima saat masih di fakultas. Tetapi semua surat Handoyo tak pernah ia balas. Benarkah bahwa ia akan kehilangan cinta? Sudah berapa anak Handoyo? Istrinya tentunya cantik. Apakah istri Handoyo juga wanita karier? Apakah ia hanya sebagai ibu rumah tangga biasa? Siska ingat tiga surat Handoyo masih disimpannya di tas sekolah. Segalanya yang berhubungan dengan kenang-kenangan masa silam semuanya disimpan di tas sekolah itu. Mengapa kemarin tiba-tiba ia terpegang lagi tas itu dan terbaca surat Handoyo?
    
Siska menyiapkan semua pekerjaannya. Ia rapikan mejanya, ia ingin mengambil beberapa jam untuk keperluan pribadi, untuk merenungi segala yang pernah dijalani. Terlalu lama ia berjuang untuk ambisi dan kemajuan perusahaan, seakan tak ada lagi waktu untuk privacy. Bahkan tidak juga untuk cinta, rumah tangga, dan aktivitas sosial. Ia seluruhnya terbenam di dalam rutin pekerjaan yang membelenggu di seluruh waktu.
    
Dahulu ia membayangkan kebebasan dan kemerdekaan jika ia berkarier di luar rumah. Ia merasa kasihan kepada para ibu rumah tangga yang hanya sibuk di rumah sepanjang hari, terbelenggu oleh rutinitas. Tetapi setelah bertahun-tahun berkarier dan menempuh sukses yang berkepanjangan, ia jadi seperti orang kehausan. Selalu ingin memburu dan terus memburu keberhasilan yang datang bertubi-tubi. Tak pernah ada rasa puas, karena keberhasilan itu selalu bersifat sementara, ada keberhasilan lain yang belum dicapai, dan harus segera diraih. Setelah itu, ada lagi sukses yang sudah ada di depan mata, dan membutuhkan stamina meraihnya. Selalu begitu, dan selalu merasa dahaga untuk meraihnya.
    
Ia sudah tiba di rumah.
    
Apa yang kurang pada dirinya? Mobil mewah? Perabotan rumah tangga? Rumah saja nilainya milyaran rupiah. Kemewahan? Apa yang kurang pada dirinya? Uang deposito? Apa yang masih kurang jika hanya untuk diri pribadi? Biaya untuk keliling dunia? Apa yang kurang? Segalanya telah tersedia dan itu karena kerja kerasnya! Segala kemewahan dan kecukupan hidup telah ia raih, segala sukses dan pujian telah ia terima. Itu semua karena kerja keras yang tak kepalang tanggung.
    
Ia menarik napas dalam-dalam.
    
Mengapa ia tiba-tiba teringat Handoyo? Berapa lamakah ia sudah berpisah dari Handoyo? Seselesai universitas? Setelah Handoyo mengajaknya bersaing soal kerja dan keberhasilan? Hanya Handoyo yang berani mengatakan bahwa ia wanita yang akan berhasil tetapi selalu haus keberhasilan!?
    
Benarkah kata-kata Handoyo?

                                                                        ***
    
Apakah yang kurang pada dirinya? Berapa piagam sanjungan, pujian, dan anugerah telah ia terima sebagai buah kesuksesannya. Harta, uang, pangkat, dan jabatan ia miliki, tetapi di mana kepuasannya?
    
Tiba-tiba ia merasa lelah.
    
Apa lagi yang akan dikejarnya? Hampir sepanjang waktu hidupnya hanya diisi oleh kerja. Tak ia ingat berapa jumlah usianya kalau Handoyo tidak nelepon mengucapkan selamat ulang tahun.
    
“Ulang tahun keenam puluh?” ia bergumam pada dirinya sendiri. Matanya seperti dituntun tangan kebenaran terpandang pada kaca besar di depannya. Hampir pangling ia pada wajah itu, ada gurat-gurat yang mengendur dan tampak tua. Tiga puluh lima tahun lalu ia sudah berpisah dari Handoyo. Saat usianya dua puluh lima. Ia merasa makin lelah. Siapa suaminya? Hatinya panas dengan ucapan selamat ulang tahun dari Handoyo. Bukankah perusahaan Handoyo yang bersaing keras ingin mencaplok perusahaannya? Apakah ucapan selamat itu merupakan tantangan baru? Segala tantangan seperti itu yang membuat ia lupa akan cintanya sendiri. Lupa memeluk lelaki ke dadanya, hingga dada itu mengendur. Siapa lelaki yang akan tertarik kepada wanita usia enam puluh tahun? Hanya lelaki pengeretan?
    
Lagi-lagi ia merasa lelah. Adakah tantangan Handoyo kali ini harus dihadapi dan dimenangkan? Sebagai perjuangan terakhir? Hadiah ulang tahun keenam puluh? Atau Handoyo justru mau melamarnya karena lelaki itu juga belum mendapatkan  jodoh?
    
Siska jadi senyum sendiri. Apa enaknya jadi pengantin dalam usia enam puluh tahun? Tidakkah hanya menampilkan suatu kelucuan? Suatu anekdot dua konglomerat?
    
Di cermin tiba-tiba ia melihat wajahnya seperti wajah tiga puluh lima tahun yang lalu saat berpisah dari Handoyo. Bagaimana wajah Handoyo? Masih seperti wajah di usia dua puluh tahun?
                                                                        ***
    
Koran pagi esok harinya ramai memuat tulisan besar-besar sebagai: headline tentang meninggal secara mendadak dua konglomerat yang saling bersaing: Maria Fransiska Puteranto dan Bambang Handoyo karena sakit jantung. “Menurut sumber yang layak dipercaya,” tulis sebuah koran yang suka sensasi, “kedua konglomerat yang sama-sama lajang itu sudah sepakat untuk menikah secara resmi, meskipun mereka sudah lama hidup bersama. Namun di luar keduanya saling bersaing. Oleh kolusi terakhir, keduanya terjerat utang yang mungkin menjadi kredit macet sekitar empat sampai lima trilyun.
    
Sementara koran dibaca sekian juta mata, dan percakapan dan gosip dari mulut ke mulut tentang konglomerat yang meninggal itu, jenazah kedua konglomerat itu dengan segala tata cara dan kebesaran upacara dimasukkan ke dalam liang lahat masing-masing, di suatu tempat yang dipisahkan jarak ratusan kilometer. Selebihnya sesudah itu, siapa yang tahu dengan pasti derita atau bahagia macam apa yang dialami di alam kubur?

Jakarta, 5 Desember 1994
(Cerita buat Endang dan Budi)

Thursday, March 21, 2019

Terkenang Masa Kecil, Sekadar Intermeso