Monday, February 2, 2026

Duel Maut Blok Timur Versus Barat di Indonesia?

Ilustrasi: Pixabay

Ini kedengarannya hal paling aneh jika dibicarakan secara berkesinambungan. Betapa tidak? Di Indonesia terjadi duel maut antara blok Timur versus blok Barat? Mana mungkin?

Seandainya terjadi tawuran antara siswa dari sekolah A versus sekolah B itu wajar dan sudah dianggap biasa. Tapi ini dua blok besar dunia! Hei! Masuk akal ga sih? 

Sebelum berpendapat apa pun, simak dulu ceritanya. Begini, ada yang berpikir bahwa sejak awal kemerdekaan dulu, sudah terjadi permusuhan antarblok dunia di Indonesia. Barat dikomandoi Amerika Serikat (AS) dan Timur dipimipin Uni Soviet (US). Era awal berdiri, Timur begitu memanjakan negeri ini dengan persenjataan yang modern dan super canggih pada masa itu. Bahkan, saking canggihnya, pihak Australia sampai-sampai tidak bisa mendeteksi masuknya pesawat milik Indonesia yang buatan Uni Soviet tersebut. Bisa dikatakan Indonesia merupakan negara terkuat di Asia setelah Republik Rakyat Cina (RRC). 

Itulah sebabnya, di mana pun Presiden Soekano berkunjung selalu "sangat" dihormati para pemimpin negara tuan rumah, termasuk AS. Lambat lain, hal itu berubah, terutama setelah Soeharto memimpin negeri ini. Era Orde Baru (Orba) ditandai dengan kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara yang sedang mengalami kebangkrutan di bidang ekonomi. 

Hal terakhir di atas menyebabkan Barat leluasa berkuasa atas Indonesia. Sumber daya alam kita dikeruk mereka secara brutal. Yang masih bisa dikerjakan hanyalah bidang tanam-menanam. Masih ingat siaran TVRI era Orba? Isinya lebih banyak menyangkut pedesaan. Dan, Presiden Soeharto sempat berhasil dalam bidang pertanian dengan swasembada pangan. Nah, pascaOrba sirna, kekuasaan terlihat labil hingga Jokowi menjadi presiden di tanah air ini. Pada era Jokowi, semua nyaris berkiblat ke RRC yang merupakan pentolan blok Timur. Ya, mulai dari tenaga kerja hingga urusan utang. Seakan Indonesia adalah negara koloni mereka. 

Setelah dua periodenya purna, Prabowo Subianto naik tahta. Tapi, masih terkesan masih di bawah kekuatan RRC dan sebagian pihak khawatir kekuasaannya akan tumbang sebelum masa jabatammya berakhir. Dari hari ke hari, Prabowo terkesan lebih mendekatkan diri kepada Barat. Terakahir dirinya sangat akrab dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Salah satunya dalam hal perdamaian dunia ala-Trump. 

Tentu saja ini melahirkan sebuah pertanyaan, apakah Prabowo Subianto sedang mencari "bantuan" untuk mengamankan posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia dari cengkeraman RRC? 

Dari sini terasa panasnya persaingan Barat dan Timur dalam penguasaan mereka atas Indonesia. Oh, benarkah itu? Kalau benar, lalu bagaiamana kelanjutannya? Agaknya kata "cermati"menjadi diksi paling ideal untuk menjawabnya. Maka, cermati dan cermati Indonesia dari waktu ke waktu. 


0 comments: