Friday, December 11, 2020

Dua Nama Besar dalam Perpuisian Melayu Dijadikan Judul Puisi Agus R. Sarjono



Abdulkadir Munsyi

Satu hikayat dan ingatan padamu
alangkah malam rasanya rindu
Hatiku hotel dan sprei membeku
lengang membentang jajaran lampu

Di Orchard Road, toko-toko gelisah
kuingat lembaran silam Abdullah
bin Abdulkadir Munsyi dimakan api
Singapura dan aku dibakar sunyi

Setelah didera pasar dan pialang
kota mendengkur mengigaukan uang
setelah mengembara menyusur siang
kenangan tersungkur tak bisa pulang

di ruang seminar kudengar melayu
ratapi beribu tahun yang hilang
dalam lembar-lembar makalah kelu
dari sebuah diskusi yang gamang

Didaraskan juga nusantara yang gemilang
dari dongeng silam nenek moyang
juga sajak dan syair yang tertidur
dari sebuah generasi yang uzur

Pada kisah lama yang dimakan api
kupahami Abdullaah bin Abdulkadir Munsyi
tak Melayu hilang di dunia
andai tak ragu menjelma Sinta
membakar diri di kobaran api
biar bercahaya terlahir kembali

Dua pengarang dan ingatan padamu
Alangkah malam rasanya rindu
Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dilamun api
Singapura dan Aku termangu dibakar sunyi

(Agus R. Sarjono, Lumbung Perjumpaan, 2011: 25--26)


Ali Haji

Seorang bangsawan menggores kalam
di ombak lautan di tanah sulaman
Bingkisan berharga berbilang zaman
serangkum gurindam pegangan insan

Lirih sangat nyanyian balam
Lirih sejarah berkelindan barah
Gerangan ke manakah kejayaan silam
Ke lubuk sengketa berebut maruah

Bugis Melayu keris perahu
menanam selendang sejarah pilu
Tangis berlagu duka bertalu
tinggal Melayu di gamang kalbu

Menanam selendang sejarah pilu
suluh pegawai tuan yang baru
Dengan penjajah berbagi guru
ikat-ikatan penguat kalbu

Suluh pegawai tuan yang baru
fi intizam raja dan ratu
Duabelas pasal cintaku padamu
Bulang cahaya berlayar rindu

Inderasakti ke mana pergi
Ke pusat kalam pengganti pedang
Akankah Melayu hilang di bumi
Saat sang kalam bertukar uang

Fi intizam raja dan ratu
rakyat menunggu di balik pintu
Bukalah pintu bukalah kalbu
biar Melayu kembali melagu

(Agus R. Sarjono, Lumbung Perjumpaan, 2011:29--30)


Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Munshi) (Malaka, 1796 - Mekkah, 1854 (dahulu Turki sekarang Arab Saudi) adalah seorang sastrawan Melayu. Abdullah merupakan peranakan Arab dan Tamil, tetapi dibesarkan di tengah budaya Melayu di Melaka, yang pada saat itu baru saja dijajah Britania. Abdullah terkenal karena menulis hikayat-hikayat yang bersifat realistis dan kontemporer.Abdullah Munsyi dianggap seorang pemikir yang melampaui abadnya.


Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau cukup dengan nama penanya Raja Ali Haji (lahir di Selangor, ca. 1808 - meninggal di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca. 1873, masih diperdebatkan) adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu. Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. 


Sekilas tentang Agus R. Sarjono



Agus R. Sarjono (lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 Juli 1962; umur 58 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai penyair, novelis, dan penulis esai sastra yang dimuat di berbagai media massa. Agus telah mementas karya-karyanya di berbagai negara

Sumber: makalah Jejak Puisi Melayu dalam Puisi Indonesia Modern: Bagaimana Melacaknya karya Suminto A. Sayuti dalam buku Mengangkat Batang Terendam dan Wikipedia


0 comments: